Sunday, Mar 18th

Last update10:00:00 AM GMT

You are here: Fokus Para Pejuang Veteran Prihatin

Para Pejuang Veteran Prihatin

Semangat Kemerdekaan di Kalangan Remaja Mulai Luncur

Tubuhnya sudah renta, rambut sudah memutih semua, begitu pula penglihatannya serta pendengarannya pun sudah tak tajam lagi, namun semangat juangnya tetap membara. Dialah Abas TKR (85) salah seorang pejuang veteran Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang diundang Pemko Batam dalam upacara 17 Agustus di dataran Engku Putri, Rabu (17/8).

Ia mengaku prihatin akan semangat kemerdekaan dikalangan generasi muda sudah mulai luntur. Bahkan acara hari kemerdekaan seperti 17 Agustusan ini, kebanyakan diperingati oleh golongan tua dan dirayakan sealakadarnya saja. Berbeda ketika penyambutan datangnya tahun baru, pasti dirayakan semeriah mungkin.

Saking cintanya terhadap tanah air Abas dibelakang namanya selalu disertakan TKR, karena ia merasa perjuangan merebut kemerdekaan ini tak ternilai harganya dan dibayar dengan jiwa dan raga. Meski demikian ia tidak begitu banyak berharap kepada pemerintah akan jasa-jasanya yang telah ia korbankan itu, namun hanya satu yang ia tekankan menitipkan negeri ini agar tetap utuh terhindar dari segala bentuk penjajahan.

Abas yang kini tinggal di Tanjungsengkuang, untuk mengisi hari tuanya dan membiayai hidupnya ia membuka praktek pengobatan tradisional tepatnya di depan rumah sakit Elisabet. Sesuai keahliannya dalam meracik obat sejak zaman penjajahan dulu, saat itu dialah satu-satunya pejuang yang pandai mengobati rekan seperjuangannya dengan berbagai tumbuh-tumbuhan yang ada disekitarnya.

"Alhamdullilah dari bakat itu kini saya membuka praktek pengobatan tradisional untuk menghidupi sehari-hari, karena tidak ada perhatian dari pemerintah," kata Abas.

Sebagai mantan pejuang Abas merasa miris melihat generasi sekarang ini seakan kurang peduli terhadap kemerdekaan yang diperjuangan hingga titik darah penghabisan. Akibatnya bangsa ini banyak ditimpa permasalahan, seperti ancaman disintegritas bangsa meskipun Indonesia telah 66 tahun merdeka. Hal ini kata dia karena semua generasi muda serta pucuk pimpinan tidak mengedepankan persatuan, dan tidak peduli terhadao semangat para pejuang dan pendiri bangsa Indonesia ini.

Abas terjun berjuang bersama pasukan Pemuda Republik Indonesia (PRI) sejak umur 15 tahun. Ia bersama anggota pasukan TKR lainnya tergerak untuk bergabung bersama tentara Indonesia melawan penjajah. Saat itu kata dia hanya ada satu tujuan Merdeka atau Mati. Maka dengan kondisi saat ini ia berharap generasi muda harus mampu membangun negeri ini.

Sementara itu, Soman juga seorang veteran pejuang TKR yang berusia lebih tua dari Abas sekitar 90 tahun, juga merasa prihatin dengan kondisi para pemuda yang banyak menghabiskan waktu dengan hura-hura. Seharusnya dizaman merdeka saat ini merek punya kesempatan emas untuk belajar dengan baik, yang akhirnya akan menggantikan para pendahulunya dengan sikap nasionalisme yang tinggi.

Di sisi lain, pihaknya juga merasa prihatin karena masih banyak rekannya sesama pejuang dulu yang saat ini kehidupannya justru tertindas kemiskinan kurang perhatian dari pemerintah, seperti dirinya itu yang hidup bergantung dari belas kasian anak-anaknya. "Aku seorang veteran yang hanya sempat mengenyam pendidikan sekolah rakyat, itupun tidak tamat. Karena itu, aku juga terpanggil untuk ikut berjuang melawan penjajah Belanda, menyumbangkan jiwa dan raga untuk Negara. Hartaku satu-satunya yang paling berharga ini lah pakaian kebanggaanku, pakaian veteran perang kalu aku pakai serasa muda lagi kembali mengingat masa - masa perjuangan dulu," kata Soman sambil pamitan pulang diantar cucunya naik sepeda motor. (men)


Newer news items:
Older news items: