| Article Index |
|---|
| Sulitnya Dapatkan Premium di Karimun |
| Puluhan Oplet Berhenti Beroperasi |
| Warga Kundur Ancam Demo ke Dewan |
| Camat dan satpol PP sidak |
| All Pages |
KELANGKAAN bahan bakar minyak (BBM) jenis premium terjadi di Karimun sejak Selasa (6/9) hingga kemarin. Kelangkaan premium sangat menganggu berbagai aktivitas warga yang menggunakan kendaraan. Diduga oknum-oknum tidak bertanggungjawab menimbun dengan tujuan mencari keuntungan memanfaatkan pasokan premium tak kunjung tiba.
Kelangkaan premium menurut sejumlah masyarakat bagai lingkaran setan yang tak pernah putus. Tiap bulan selalu terjadi kelangkaan BBM. Akibatnya, Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang ada di Jalan Poros, satu-satunya SPBU yang ada terpaksa ditutup. Pintu masuknya dipagar menggunakan rantai dan ditulis, Maaf Bensin Habis, Solar Ada.
Ironisnya, kendati SPBU premium kosong, namun kios-kios milik masyarakat yang berada di pinggir jalan tetap dijual premium dengan harga yang lumayan mahal. Mulai dari Rp5 ribu hingga Rp20 ribu per botol. Tergantung besaran botol yang dijualnya. Pertanyaannya, darimana masyarakat tersebut mendapatkan premium meski di SPBU kosong?
Informasi yang dihimpun media ini di lapangan, ada beberapa modus yang dilakukan oknum-oknum tertentu untuk mengumpulkan premium, diantaranya ada membeli premium menggunakan motor besar kemudian menyalinnya ke jerigen yang sengaja di taruhnya di tempat-tempat tertentu. Setelah minyak tadi dipindahkan, pengendara motor kembali masuk ke SPBU dan mengisi lagi motornya hingga beberapa kali. Modus kedua yang dilakukan adalah dengan sengaja memperbesar tanki mobilnya agar lebih leluasa untuk menampung premium dengan jumlah yang banyak.
"Saya pernah lihat ada melakukan cara-cara seperti itu. Saya heran melihat mobil kecil tapi kok lama sekali mengisi minyak. Bahkan sudah Rp 700 ribu belum juga penuh, makanya saya curiga kalau tanki mobil tersebut sengaja diperlebar untuk menampung lebih banyak," kata salah seorang warga kepada Haluan Kepri, Kamis (8/9) kemarin.
Ia berharap kepada aparat terkait agar bisa menyelidiki hal ini karena merugikan masyarakat yang juga sama-sama membutuhkan bensin. Apa yang dilakukan oleh oknum seperti itu sama saja dengan menimbun. Selanjutnya menjual kembali bensin dengan harga tinggi. Perilaku oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab tak boleh dibiarkan.
Ia juga meminta kepada pengelola SPBU agar bisa memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat. Menurutnya, terputusnya pasokan BBM khususnya premium ke Karimun tentu akan melumpuhkan perekonomian masyarakat.
Direktur PT Ology Karimun Bumi Sukses (OKBS) Yuswar Yahya mengatakan, pihaknya tetap berusaha keras untuk memenuhi kebutuhan BBM ke Karimun. Kendala yang dihadapi perusahaan penyuplai bahan bakar minyak yang merupakan unit Perusda Karimun yakni faktor cuaca menyebabkan kapal pengangkut telat masuk.
"Terputusnya premium ke Karimun karena kapal transpoter mengalami kerusakan. Pada Sabtu (3/9) lalu kapal tersebut sudah berangkat ke Tanjunguban, namun dalam perjalanan tiba-tiba mangkok jangkar rusak, sehingga kapal tidak bisa loading. Meski begitu, kami tetap berusaha mencari kapal pengganti agar premium bisa tetap dibawa ke Karimun sembari menunggu kapal diperbaiki," kata Yuswar.
Setelah mengalami perbaikan, ternyata Senin (5/9) lalu kapal bisa jalan dan langsung berangkat ke Tanjunguban. Selasa malam kapal sudah loading di Tanjunguban dan kapal siap berlayar ke Karimun. Ia berharap mudah-mudahan cuaca di laut bersahabat sehingga kapal pengangkut BBM cepat tiba. Namun, hingga Kamis (8/9) siang, premium tak kunjung tiba. Beberapa pengendara sepeda motor yang ingin mengisi bahan bakarnya terpaksa pulang dengan kecewa.
Sekretaris Daerah (Sekda), Karimun Anwar Hasyim, mengatakan, pihak yang paling bertanggungjawab terhadap persoalan itu adalah Perusahaan Daerah (Perusda) Karimun, karena selama ini Perusda berwenang mengelola pendistribusian premium dan solar.
"Kalau terjadi kelangkaan premium seperti yang terjadi saat ini, maka yang paling bertanggungjawab adalah Perusda, karena mereka punya unit perusahaan yang mengelola penyaluran bahan bakar. Selama ini saya lihat kebijakan Perusda itu belum nampak untuk mengelola bahan bakar di daerah ini. Buktinya, persoalan kelangkaan BBM selalu terjadi," kata Anwar di ruangannya, Kamis (8/9) kemarin.
Ketika disinggung apakah ada kebijakan pemerintah daerah untuk menambah satu unit Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) lagi di Karimun, Anwar menyebut tidak ada penambahan SPBU di Karimun. Sebelumnya pernah ada wacana hendak membangun SPBU di Meral namun wacana itu hilang tak terdengar. Sebenarnya, wilayah Meral sudah layak didirikan SPBU baru karena daerah dan kepadatan penduduknya mendukung pendirian SPBU. Semuanya tergantung Perusda yang diberi amanah.
Begitu juga ketika ditanyakan apakah Pemkab Karimun tidak bisa mengambil alih pengelolaan penyaluran BBM di Karimun? Anwar pun menyebut jika ke depan Perusda tidak mampu mengelola penyaluran premium di Karimun maka tidak mungkin akan diambil alih oleh pemerintah daerah. Sampai saat ini masih ditangan Perusda akan tetapi bila tidak mampu maka akan diambil alih Pemkab. Anwar menambahkan, mulai 2011 ini Badan Pengawas Perusda tidak lagi dipegang Sekda melainkan dialihkan kepada Asisten II yang membidangi Ekonomi dan Pembangunan.
"Peraturan itu kan tidak baku, maka mulai 2011 ini Badan Pengawas Perusda dipegang oleh Asisten II. Jadi segala yang menyangkut Perusda diawasi oleh Asisten II," ujar Anwar.
Anggota Komisi B DPRD Karimun, Raja Kamarudin mengatakan, selain faktor teknis yakni keterlambatan pasokan premium, penyebab lain adalah tidak seimbangnya perbandingan antara jumlah kendaraan dengan pasokan premium. Menurut dia, sudah saatnya Karimun memiliki satu unit SPBU lagi yang dikelola pihak swasta.
Cobalah perhatikan, kata Raja Kamarudin, berapa unit penambahan kendaraan di Karimun. Jika dirata-ratakan sekitar 40 unit terjadi penambahan kendaraan baru khususnya sepeda motor di Karimun. Sementara, pengisian bahan bakar tetap segitu juga. "Makanya diminta kepada Pemerintah Daerah agar bisa mendatangkan pihak investor untuk mengelola SPBU di Karimun, agar persoalan kelangkaan premium tidak selalu terjadi di daerah ini," katanya. (ham)
- Korban Jodoh Boulevard (4)
- Menelusuri Peredaran Narkoba di Diskotek Batam (5)
- Menelusuri Peredaran Narkoba di Diskotek Batam (4)
- Menelusuri Peredaran Narkoba di Diskotek Batam (3)
- Menelusuri Peredaran Narkoba di Diskotek Batam (2)
- Menelusuri Peredaran Narkoba di Diskotek Batam (1)
- Nama Aneh Menggoda Lidah
- Pasar Induk Bakal Kembali Telan Uang Negara
- Bintan Mutiara yang Terpendam
- Pencuci Bus Jadi Bupati
- Bayar Zakat di Mal dan Via Rekening
- 32 Pelajar Terbaik Pengibar Bendera Tampil Sempurna
- Para Pejuang Veteran Prihatin
- Basahnya Bisnis Kue Kering
- Waspadai Penimbunan Sembako Jelang Lebaran
- Etalase Indonesia Dinodai Sampah dan Bau Asap
- Project Pesona Lagoi Bakal Gagal Lagi ?
- Dana BOS Mengendap Dulu di Kas Daerah
- Perda Pariwisata Sarat Kepentingan Pengusaha
- LKPI Kepri Bertekad Jadi Teladan Dalam Pengabdian