Sunday, Dec 04th

Last update10:00:00 AM GMT

You are here: Fokus Bintan Mutiara yang Terpendam

Bintan Mutiara yang Terpendam

Ansar Ahmad Majukan Pariwisata dan Bisnis

Keberhasilan Pemerintah Kabupaten Bintan memajukan pariwisata dan budayanya sudah menjadi buah bibir penggiat pariwisata di mana-mana. Bintan yang semula hampir tak dikenal dalam khasanah pariwisata, sejak beberapa tahun terakhir muncul sebagai Bintan baru menjadi tujuan pariwisata nasional dan bahkan dunia.

Bintan ibarat mutiara yang terpendam. Lama tidak dikenal dan terus dilupakan. Padahal sejak awal Bintan hampir sama dengaan kabupaten-kabupaten lain di Kepulauan Riau (kepri) seperti Batam, Karimun, Lingga, Natuna, Anambas dan lainnya. Daerah-daerah itu memiliki keindahan yang sama dan teramat eksotis, serta sama-sama pula menyimpan potensi sumber daya alam yang luar biasa.

Sejak 1990-an, mendadak Bintan dikenal sebagai kawasan wisata yang popularitasnya mulai disejajarkan dengan Batam bahkan Bali. Sejumlah pengamat melihat, potensi pariwisata di Bintan telah menjadi daya tarik karena dikelola dengan baik. Telah berkali-kali menjadi bahan studi banding dari berbagai kalangan pemerintah, swasta, anggota dewan dan perguruan tinggi yang datang, melihat dan mempelajari kemajuan pariwisata Bintan yang fenomental itu.

Keberhasilan ini, kata Bupati Bintan Ansar Ahmad, tak lepas dari kesiapan pemerintah kabupaten Bintan yang disertai dengan kemudahan pemberian izin dalam bidang pariwisata. Dengan kemudahan perizinan minat investor untuk terus mengembangkan potensi bisnis dan pariwisata di Bintan akan semakin tinggi.

Kini pariwisata di Bintan merupakan salah satu andalan pemasukan bagi pendapatan Asli daerah (PAD) Bintan. Lebih dari Rp70 miliar PAD dihasilkan dari kawasan Lagoi setiap tahunnya. Resort di Lagoi, Bintan Utara ini dibangun tanpa menggunakan sedikitpun dana pemerintah. Semuanya dibiayai oleh investor pariwisata dari Singapura. Pemkab Bintan mendapat pajak hotel dan restoran sebagai hasil PAD daerah kabupaten Bintan.

Bintan telah mewarnai dunia pariwisata di Kepri bersama Batam, Natuna, Karimun, Lingga, Tanjungpinang dan Anambas. Bintan menjadikan provinsi Kepri kini dikenal sebagai gerbang wisata kedua setelah Bali. Jumlah wisatawan yang datang tercatat rata-rata setiap tahun 1,7 juta orang dan Bintan sendiri dikunjungi lebih dari 320.000 wisatawan.

Kawasan wisata Lagoi atau Bintan resort misalnya yang dibangun pada 1991 bersama investor dari Singapura. Diresmikan waktu itu oleh Deputy Perdana Menteri Singapura dan Menteri Perdagangan dan Perindustrian RI pada 1 Maret 1991. `

Pada awalnya, kawasan Bintan dibangun hanya pada empat lokasi komersil, Nirwana Garden, Laguna Bintan, Ria Bintan, dan Bintan Lagoon Resort. Kemudian terus dikembangkan dengan berbagai fasilitas pariwisata dan sport seperti beberapa padang golf berkelas dunia.

Dalam pembangunan pariwisata Bintan, Ansar juga melihat pembangunan pariwisata di Bintan harus melibatkan pertimbangan kebudayaan setempat. Sebab masalah kebudayaan sangat multikompleks dan menyangkut seluruh sendi kehidupan manusia pada suatu daerah atau negara.

Pembangunan pariwisata Bintan juga mempertimbangkan budaya dalam dua dimensi, yaitu yang berkaitan dengan nilai-nilai dasar, norma kehidupan, nilai-nilai tradisional, seni budaya serta etika dan pendidikan masyarakat setempat. Bintan adalah daerah yang secara historis pernah menjadi Kesultanan Melayu Riau dan pusat Kesultanan Johor Riau yang sangat diperhitungkan.

Membangun pariwisata Bintan juga dilihat dari sisi budaya dalam dimensi yang lebih populer dan lebih hilir. Yaitu budaya yang direflesikan dalam bentuk ekspresi seni terater, tari-tarian, musik-musik tradisional dan berbagai tradisi keseharian Melayu Bintan. Ini merupakan ekspresi budaya Bintan sebagai kawasan pusat kerajaan dan budaya Melayu.

Pariwisata Bintan harus eksis dengan konsep pariwisata yang berbasis kerakyatan atau dengan kata lain berbasis budaya rakyat atau ekonomi rakyat. Sebagai ekonom, Ansar sependapat bahwa dengan badan pariwisata dunia (PBB) yakni United Nation World Tourism Organization yang menyatakan bahwa pariwisata adalah sektor unggulan masa depan, yang disinergikan dengan peningkatan industri kreatif sebagai budaya rakyat. (adv/ind)

Bangun Pelabuhan Laut dan Bandara


Demi pencapaian kesejahteraan rakyat, Ansar ingin mempercepat pembangunan di Bintan. Untuk itu, dia terus berusaha memancing dan mengundang investasi di daerah tersebut. Dia memerlukan investor-investor yang membawa modalnya untuk ditanamkan di Bintan.

Ansar tetap ingin mengembangkan pariwisata dan bekerja keras mengembangkan kawasan pantai Trikora sebagai salah satu pantai Bintan. Trikora luar biasa indah, strategis dan menjadi tujuan wisata dalam dan luar negeri. Pantai Trikora kelak akan melengkapi dan menyamai Lagoi di Bintan Utara.

Untuk kemajuan Bintan, Ansar juga merancang pembangunan ekonomi dan insfrastruktur. Ada dua sarana penting yang akan dibangun. pertama, insfrastuktur pelabuhan laut, dan kedua, bandara baru di Bintan.

Ansar tetap ingin membangun bandara baru di desa Busung sesegerannya. Dia kurang sependapat dengan alasan Kementerian Perhubungan yang belum setuju jika di Bintan dibangun sebuah bandara lagi. Karena di Tanjungpinang (di Pulau Bintan) sudah ada airport, yakni Bandara Raja Fisabillah.

Dia tidak sepakat dengan alasan Menteri Perhubungan, sebab pembangunan Bandara Busung sudah mendapat dukungan resmi dari Gubernur Kepri. Bandara Busung bukan Kompetitor bandara Raja Haji Fisabillah. Bandara ini dibangun semata-mata untuk kepentingan wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Lagoi karena berdekatan.

Dan lagi, ungkap Ansar, pembangunan bandara Busung tidak menggunakan anggaran daerah. Bandara itu akan dibangun oleh investor dan perusahaan besar yang bergerak di Lagoi, Bintan resort.

"Salim grup siap membiayai pembangunan bandara Busung itu dan kami hanya membantu menyiapkan izin," kata Ketua DPD Partai Golkar Kepri ini.

Dia mengatakan, bandara baru itu dapat meningkatkan kunjungan wisawatawan mancanegara ke Bintan, Lagoi. Karena selama ini mereka mengeluhkan transportasi udara yang hingga sekarang belum memiliki Bintan. Sebagian besar dari turis ke Lagoi masuk lewat Singapura.

Untuk pembangunan pelabuhan feri internasional, Ansar juga mengajak investor Rusia. Mereka segera membangun terminal internasional di Berakit, Bintan Utara. Pelabuhan laut itu juga akan mendukung pengembangan sektor pariwisata Bintan. Pelabuhan Berakit kelak mengutamakan hubungan feri wisata dari Berakit ke Johor, Malaysia.

Selama ini turis-turis asing sebagian besar berasal dari Singapura dan masuk lewat pelabuhan Singapura. Pelabuhan internasional Berakit akan mempermudah jalur transportasi laut dari Malaysia ke Bintan. Investor Rusia itu tergabung dalam National Investment Agency Of Rusia (NIAR) yang lebih fokus dalam mengembangkan resor wisata.

Langkah Ansar mengajak investor asing ke Bintan mulai menunjukkan realisasinya. Sekitar Maret 2010 lalu sudah datang di Bintan delapan Konsultan investor Australia untuk menjajaki peluan investasi. Para konsultan yang tergabung dalam grup Consultant mengunjungi Badan Penguasahaan Kawasan (BPK) Bintan dan juga ke PT Bintan Inti Indutsrial Estate (BIIE) di Lobam. Investor Australia ingin mengetahui tatacara kemudahan perizinan, lokasi, kondisi laut di Bintan. Sebelumnya mereka melihat Batam, Singapura, Thailand, Filipina dan Malaysia. Calon investor yang akan masuk bergerak dalam bidang minyak, gas bumi serta energi dan memerlukan areal lahan seluas 400 hektar.

Bangkitnya iklim invetasi di Bintan tak lepas dari kemudahan yang dirancang Pemkab Bintan dan diterapkannya kawasan Free Trade Zone (FTZ). Investor Singapura juga akan menanamkan modalnya dengan membuka usaha perbaikan kapal di Lobam. Ada juga investor lain dari negara pulau itu yang akan membuka usaha pengolahan kulit. Investor Singapura ingin memindahkan usahanya ke Bintan karena biaya produksi di Singapura sangat tinggi. (adv/ind)

3 Tahun, Siapkan Bandara Tambelan

Tangan dingin Bupati Bintan Ansar Ahmad menarik investor menghasilkan kesediaan minat investor Eropa untuk menanamkan modalnya di Pulau Tambelan, dengan syarat di sana harus ada bandara atau airstrips.

Mereka tertarik membuka usaha dalam bidang pariwisata karena Tambelan kaya dengan beragam hasil laut sehingga kelak bisa mengekspor komoditi ikan berkualitas itu ke luar negeri atau berbagai daerah dengan menggunakan transportassi udara.

Ansar mengatakan, pebisnis Eropa sangat tertarik berinvestasi di Tambelan karena memiliki potensi sumber daya alam yang luar biasa. Alam kepulauan Tambelan sangat indah. Mereka mau berinvestasi kalau disana ada bandar udara.

"Untuk itu, Pemkab Bintan berusaha mewujudkan pembangunan bandara di Tambelan untuk memudahkan akses. Selama ini Tambelan yang terletak jauh dari Pulau Bintan dan berada di tengah-tengah laut Cina Selatan itu, hanya dapat disinggahi kapal-kapal laut yang kapasitasnya terbatas,"kata Suami Hj. Dewi Kumalasari ini.

Menurut Ansar, biaya membangun bandara akan menghabiskan paling sedikit dana Rp60 miliar dan sudah diusulkan ke pemerintah pusat melalui APBN. Selain itu, kata dia, kementerian perhubungan juga sudah memberi izin. Pembangunan bandara Tambelan memerlukan waktu tiga tahun. (adv/ind)

Berbasis Budaya dan Ekonomi Rakyat

Sebagai Bupati dan ekonom yang pro-rakyat dalam membangun pariwisata di Bintan, Ansar Ahmad menekankan pembangunan harus berbasiskan ekonomi rakyat. Dalam konteks kepariwisataan, berarti berbasis budaya yang hidup dalam masyarakat.

Kehidupan pariwisata Bintan sangat terpengaruh oleh perkembangan ekonomi Singapura. Ansar tentu telah mempertimbangkan dan melihat bahwa pemerintah Indonesia dan negara-negara lain, seperti Amerikaa Serikat, Australia, Korea, Inggris, China sedang menggalakkan industri atau ekonomi kreatif yang berbasis pada kreativitas ekonomi dan kekayaan budaya pada setempat.

Semua itu diwujudkan dalam memajukan industri dan seni budaya rakyat seperti pusat-pusat kerajinan, cindera mata, kuliner, oleh-oleh, seni musik ataupun seni pertunjukkan rakyat. Pengembangan ekonomi kreatif pada pusat pariwisata dan bisnis di Bintan akan dapat mendukung program ekonomi rakyat yang sedang dibangkitkan oleh Ansar.

Dengan kebangkitan dan kemajuan ekonomi rakyat, sebagaimana yang dicita-citakan Ansar, sektor pariwisata Bintan tentu akan berkembang lebih maju dan pesat serta dengan basis yang semakin kokoh pula. Sekaligus akan berimbas kepada kemajuan budaya daerah.

Ansar juga mempertimbangkan suatu premis dari pariwisata dunia seperti dinyatakan oleh UN-WTO dan Unesco bahwa "Tourism Is An effective tools to preserve culture". Organisasi kepariwisataan dunia itu ingin menyatakan bahwa pariwisata dan budaya itu akan saling melengkapi dan bermuara kepada kesejahteraan rakyat. (adv/ind)


Newer news items:
Older news items: