Ekstasi Dijual Seperti Kacang
BATAM-Maraknya peredaran dan transaksi jual beli berbagai jenis narkoba secara bebas di berbagai tempat hiburan malam, khususnya diskotek di Kota Batam bukan isapan jempol belaka. Bisnis hitam di bawah remang-remang cahaya dan kerasnya dentuman musik ini tak ubahnya seperti dagang kacang rebus. Sangat enteng mendapatkannya.
Meskipun yang diperdagangkan adalah barang terlarang dan hukuman bagi yang terlibat terbilang berat, namun di diskotek-diskotek di Batam para pelakunya seperti kebal hukum. Mereka seakan-akan tak ada beban dalam melakukan transaksi. Begitu juga dengan pemakai, juga tak takut membeli dan mengkonsumsi barang haram tersebut di dalam diskotek. Mereka merasa aman dalam bertransaksi dan menikmati ilusi dari pengaruh pil ekstasi yang menjadi menu wajib diskotek-diskotek di Batam.
Betulkah mereka kebal hukum? Terlepas dari jawaban yang pas untuk pertanyaan itu, namun yang jelas ketika Kepala Badan Reskrim (Kabareskrim) Komjend Sutarman tengah berkunjung ke Batam 15-18 November 2011 untuk agenda rapat kordinasi antara Polri dan Polisi Diraja Malaysia, ternyata perdagangan ekstasi tetap marak seperti biasanya di semua diskotek yang ada di Batam, baik di Diskotek PC, Diskotek PL, Diskotek NN, maupun di Diskotek SP. Mengapa mereka begitu berani? Tentu saja karena ada membekingi.
"Biasanya kalau ada pejabat Mabes turun, kita akan sulit untuk mendapatkan barang (ekstasi-red) itu. Tetapi sekarang aneh, meskipun Kabareskrim (Komjen Pol Sutarman-red) ada di sini, penjualan tetap berjalan seperti biasa, seakan-akan tidak ada pejabat," ujar seorang sumber yang ditemui di pelataran parkir di Diskotik PC, Jodoh, Rabu (16/11) malam.
Sambil menunggu para tamu yang akan menikmati hiburan malam datang, lelaki itu bergumam dan mengaku terkejut dengan kenekatan managemen Diskotek PC tetap membiarkan kegiatan transaksi narkoba. Padahal biasanya, setiap kedatangan pejabat polisi dari Mabes Polri ke Batam, pihak manajemen Diskotek PC memperketat kegiatan peredaran narkoba di tempat hiburan malam terbesar di wilayah Sumatera tersebut. Pengunjung sangat sulit mendapatkan ekstasi, kecuali orang-orang tertentu yang benar-benar telah dipercaya oleh 'kaki-kaki' penjual ekstasi.
"Pokoknya tidak susah untuk mendapatkannya. Masuk saja, di dalam nanti ada aja yang menawarkan," katanya dengan setengah memaksa lawan bicaranya untuk segera menikmati suguhan di hall Diskotek PC yang bangunannya menyerupai kapal tersebut.
Saat meninggalkan areal parkir itu, jam sudah menunjukkan pukul 00.00 WIB. Berangsur-angsur areal parkir mulai disesaki mobil pengunjung diskotek. Tak terasa, satu jam sudah berbincang-bincang dengan sumber berita yag ada di pelataran parkir Diskotek PC tersebut.
Untuk memasuki ruang hall tempat hiburan malam berbentuk kapal pesiar itu, setiap pengunjung cukup mengeluarkan uang Rp30 ribu pada malam biasa, dan Rp50 ribu untuk malam minggu. Dengan tiket yang dibeli di kasir yang ada digerbang masuk diskotik itu, pengunjung bisa menukarnya dengan sekaleng minuman ringan atau soft drink. Tidak hanya itu, melalui tiket itu juga dijamin bebas untuk membeli, memiliki dan mengkonsumsi narkoba yang merupakan barang terlarang.
"Kita ini tidak ada kawan bang. Jadi harus keluarkan uang untuk beli tiket. Tetapi kalau ada kawan yang menjaga, enak bang. Bisa uang tuk beli tiket untuk nambah belanja itu," ujar Agus warga Nagoya yang ditemui saat akan memasuki ruang hall tersebut.
Begitu melewati pintu penjaga, dan akan memasuki hall pengunjung langsung disambut suara musik dengan voltase tinggi. Dan begitu melewati pintu rasaksa menuju hall tersebut, pengunjung disambut dengan sinar laser warna warni yang menerangi ruangan yang gelap itu. Ada ratusan orang yang ada di dalam ruangan hall ini. Tidak seorangpun yang berdiam diri, semua bergoyang mengikuti house music yang keluar dari pengeras suara yang ada di setiap sudut penjuru hall.
Seirama dengan detak jantung yang berdentum cepat dihantam suara musik yang dimainkan seorang DJ yang berada di atas panggung, datang seorang wanita yang berpenampilan seksi. Tanpa ada rasa sungkan, perempuan muda yang memiliki rambut lurus panjang itu menanyakan ekstasi.'
"Punya barang ga," ujarnya dengan suara setengah berteriak untuk melawan kerasnya suara dentuman musik sambil jari jempol tangan kanannya mencolek-colek ujung jari tengahnya di depan muka. "Belilah. Berapa uang, tapi barang mantap," kata pengunjung ke telinga wanita yang bernama Santi tersebut.
Dengan tangkas Santi mengatakan barang yang tersedia tergantung keinginan saja. Dan ia menyebutkan sejumlah merek inek alias ekstasi yakni Apple, 7 up, love dan pink lady. Dan masing-masing produk yang ditawarkan, katanya, mempunyai kelebihan masing-masing, dan harganyapun bervariasi antara Rp200 ribu hingga Rp250 ribu.
"Biar aja aku yang beli, nanti kita bagi dua aja," ujarnya setengah memaksa. "Kalau tidak ada itu, nanti bisa sakit telinga kita," katanya dengan tersenyum sambil memeluk manja pengunjung tadi.
Kata sepakat antara pengunjung dan Santi "Ada uang, ada barang". Karena sudah sepakat, Santi pun langsung menyalakan dan memainkan mancisnya. Tidak sampai lima detik setelah mancisnya dihidup matikan, datang seorang lelaki bertubuh tegap. "Berapa," ujar lelaki itu kepada pengunjung setelah tangan Santi menunjuk ke arah pengunjung yang dimaksud. "Yang bagus berapa?" tanya pengunjung. "Ini saja, Rp250 ribu perbutir," ujarnya sembari langsung lelaki itu menyodorkan satu butir ekstasi merek Apple. ***
Diskotek Harus Bebas Narkoba
BATAM-Maraknya tempat-tempat hiburan malam di Batam menjadi ladang bagi para mafia untuk mengedarkan narkoba, seperti ekstasi, menjadi perhatian serius Kepala Badan Reserse dan Kriminal (Kabareskrim) Mabes Polri, Komjend Sutarman. Ia menegaskan, tempat hiburan malam di Batam harus bebas dari narkoba.
"Tempat hiburan harus bebas narkoba, apapun jenisnya," tegas Mantan Kapolda Kepri ini usai melakuklan Master of Understanding tentang pengamanan dua negara, yakni Polri dengan Polisi Diraja Malaysia (PDRM) di Hotel Novotel, Batam, Kamis (17/11).
Lanjut Sutarman, Mabes Polri akan memback-up Polda Kepri dan Polresta Barelang dalam rangka pemberantasan peredaran narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba). Perwira tinggi berbintang tiga ini mengendus, tempat-tempat hiburan menjadi sarang peredaran barang haram jenis ekstasi.
Menurut Komjend Sutarman yang juga mantan Kapolda Metro Jaya ini, Batam dan wilayah Indonesia manapun harus terbebas dari peredaran narkoba. Ia mengindikasikan Batam sebuah daerah perbatasan yang berdekatan langsung dengan negara Singapura dan Malaysia menjadi daerah transit perdagagan narkoba yang dipasok dari Malaysia.
"Kita akan terjunkan anggota untuk menginvestigasi peredaran barang haram di sejumlah tempat hiburan malam (diskotek)," ujarnya. Sayangnya Sutarman, tidak memberi tahu kapan waktu razia itu akan dilakukan.
Disinggung ada keterlibatan oknum aparat kepolisian dalam peredaran eksatasi di tempat-tempat hiburan malam, dia tidak mau menuduh. Katanya siapapun yang terlibat akan ditindak tegas. "Kita akan tertibkan peredaran narkoba di wilayah ini, siapapun yang terlibat akan ditindak tegas sesuai mekanisme hukum," tegasnya lagi. Kabareskrim juga sudah mensinyalir, ada tempat-tempat yang diduga kuat mejadi tempat transaksi peredaran ekstasi dan narkotika jenis lainnya.
Di tempat yang sama Commisioner Datok Sri DTO Muhammad Bakri bin Muhammad Zinin, Pengarah Jabatan Siasatan Jenayah Polisi Diraja Malaysia (PDRM) dikonfirmasi terkait, lemahnya pengawasan terhadap peredaran narkoba di negaranya, dia membantah. PDRM terus berkoordinasi dengan lembaga terkait untuk memberantas kejahatan (Crime) termasuk peredaran narkotika.
Bahkan dia membantah, bahwa Narkoba tersebut diproduksi di Malaysia. "Narkotika jenis sabu-sabu tidak diproduksi di Malaysia tapi sebatas transit saja," bantahnya. Dia juga mengelak saat dikonfirmasi soal pengawasan PDRM lemah terkait peredaran narkotika, di Malaysia peredaran narkotika keluar-masuk melalui pelabuhan tikus atau lorong-lorong ilegal. "Untuk wilayah pelabuhan itu kewenangan Custom (Bea Cukai)," ujarnya. (Tim)
- Di Balik Kelangkaan BBM Bersubsidi di Batam (1)
- Akibat Kerusuhan, Batam Menjadi Tak Kondusif
- Menelusuri Peredaran Narkoba di Diskotek Batam (8-Habis)
- Menelusuri Peredaran Narkoba di Diskotek Batam (7)
- Menelusuri Peredaran Narkoba di Diskotek Batam (6)
- Korban Jodoh Boulevard (4)
- Menelusuri Peredaran Narkoba di Diskotek Batam (5)
- Menelusuri Peredaran Narkoba di Diskotek Batam (4)
- Menelusuri Peredaran Narkoba di Diskotek Batam (3)
- Menelusuri Peredaran Narkoba di Diskotek Batam (2)
- Nama Aneh Menggoda Lidah
- Pasar Induk Bakal Kembali Telan Uang Negara
- Bintan Mutiara yang Terpendam
- Pencuci Bus Jadi Bupati
- Sulitnya Dapatkan Premium di Karimun
- Bayar Zakat di Mal dan Via Rekening
- 32 Pelajar Terbaik Pengibar Bendera Tampil Sempurna
- Para Pejuang Veteran Prihatin
- Basahnya Bisnis Kue Kering
- Waspadai Penimbunan Sembako Jelang Lebaran