Tanjung Pantun Ditinggalkan Pengusaha
BATAM-Hidup segan mati tak mau. Kondisi itu yang dialami pedagang dan pengusaha yang masih terus bertahan di kawasan bisnis Tanjung Pantun, Jodoh, Batam saat ini. Kendati terus merugi dan kondisi mereka sungguh memprihatinkan, bertahan adalah sebuah pilihan pahit bagi mereka. Kini hanya tinggal 100 pengusaha saja yang bertahan. Sedangkan 300 pengusaha lainnya telah collapse dan sebagian hijrah ke tempat lain.
Tanjung Pantun Jodoh yang dulunya dikenal sebagai kawasan bisnis tertua di Kota Batam dengan harga sewa toko terbilang tinggi, kini hanya tinggal kenangan. Sebagian besar toko dan ruko-ruko yang ada di kawasan itu, sejak dua tahun belakangan atau sejak dibangunnya Jodoh Boulevard telah berubah menjadi tempat kos-kosan. Sulit mencari orang yang mau menyewa toko-toko di lokasi itu untuk berdagang. Siapa pengusaha yang mau terus merugi? Tentu tidak ada.
Ketua Himpunan Pengusaha Tanjung Pantun Harsono, Senin (21/11) mengatakan pasca pembangunan kawasan Jodoh Boulevard oleh Pemko Batam dua tahun lalu, pengusaha di kawasan Tanjung Pantun dan sekitarnya berbondong-bondong mengalihkan usahanya ke kawasan lain. Akibatnya, jumlah pengusaha yang awalnya 500 lebih, kini hanya tinggal sekitar 100 pengusaha saja. Sebagian pengusaha juga ada yang gulung tikar. Hotel Asean dan Hotel Grand Majesty telah angkat bendera putih. Swalayan Jodoh Center megap-megap. Hal serupa juga dialami pedagang lainnya di sekitar Jodoh Boulevard.
Menurut Harsono, banyak pengusaha yang dulunya membuka usaha di Tanjung Pantun, memilih keluar dari kawasan tersebut karena terus merugi. Akibatnya, ruko yang sebelumnya dijadikan tempat usaha kini berubah menjadi kos-kosan dengan nilai bisnis yang relatif kecil dibandingkan usaha sebelumnya.
Begitu juga pasar Tanjung Pantung yang dulunya sebagai salah satu pasar teramai di Jodoh kini menjadi sepi dan ditinggalkan pedagang. Bahkan, lantai dua pasar tersebut sudah tidak lagi difungsikan untuk toko atau pedagang, karena pengelola terus merugi.
"Yang beroperasi kini hanya lantai satu saja di Pasar Tanjung Pantun, lantai dua sudah tidak dibuka lagi, tak bisa usaha karena tak ada pengunjungnya, akhirnya penyewa menutup usahanya. Bagaimana ada pengunjung, bila akses ke pasar itu sudah tertutup oleh pedagang kaki lima yang memadati kawasan itu," ujar Harsono.
Harsono menyebutkan, pengusaha yang dulunya membuka usaha di kawasan tersebut sudah pindah ke berbagai tempat, namun yang tersisa masih mencoba bertahan dan melobi pemerintah untuk menertibkan pedagang kaki lima dikawasan tersebut.
"Kami sudah berbicara dengan pemerintah. Dan pemerintah sudah berjanji akan menata pedagang, membuatkan kios untuk mereka, sehingga tidak seperti sekarang, semberawut. Akses juga akan dibuka, termasuk akses dua jalur di depan Hotel Panorama hingga ke depan Pasar Induk itu. Karena dengan pedagang berjualan di tepi jalan telah menutup akses," ujar Harsono.
Sebelumnya Walikota Kota Batam Ahmad Dahlan tidak menampik kondisi Jodoh Boulevard sangat semrawut. Keberadaan sejumlah pedagang kaki lima (PK-5) di kawasan tersebut sudah melenceng dari konsep awal pembangunan taman bermain itu. Kondisi tersebut telah berdampak buruk bagi manajemen Hotel Grand Majesty, para pemilik toko dan pedagang di kawasan itu. Bahkan Hotel Grand Majesty mulai empat pekan belakangan telah berhenti beroperasi, karena terus merugi sejak Jodoh Boulevard dibangun.
Walikota Batam, Ahmad Dahlan yang dikonfirmasikan terkait berhentinya pengoperasian Hotel Grand Majesty mengatakan, bahwa Pemko Batam dengan bekerja sama dengan Hiptun untuk menata kembali keberadaan PK-5 yang ada di sekitaran Jodoh Boulevard. Pasalnya, saat ini keberadaan PK-5 di kawasan tersebut sudah lari dari konsep awal pada saat dibangun dulu.
"Kita telah ada kesepakatan dengan Hiptun untuk menata kembali keberadaan Jodoh Bulevard, mudah-mudahan dalam waktu dekat kita bisa lakukan," ujar Ahmad Dahlan usai membuka acara Musyawarah Cabang (Muscab) II Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) Pengurus Kota Batam bertempat di Hotel Golden View Batam, Sabtu (19/11) lalu.
Penataan kembali dilakukan, kata Dahlan, karena keberadaan sejumlah PK-5 di kawasan tersebut tidak sesuai dengan yang diharapkan, sehingga harus dibuat penataan agar kiranya keberadaannya rapi dan memberikan nilai tambah bagi Jodoh dan sekitarnya. "Tidak bermasalah sih, tapi tidak sesuai dengan yang diharapkan sebagaimana konsep awalnya," kata Dahlan.(pti)
- Di balik Kelangkaan BBM Subsidi di Batam (6)
- Di Balik Kelangkaan BBM Subsidi di Batam (4)
- Di Balik Kelangkaan BBM Subsidi di Batam (5)
- Di Balik Kelangkaan BBM Subsidi di Batam (3)
- Di Balik Kelangkaan BBM Bersubsidi di Batam (2)
- Di Balik Kelangkaan BBM Bersubsidi di Batam (1)
- Akibat Kerusuhan, Batam Menjadi Tak Kondusif
- Menelusuri Peredaran Narkoba di Diskotek Batam (8-Habis)
- Menelusuri Peredaran Narkoba di Diskotek Batam (7)
- Menelusuri Peredaran Narkoba di Diskotek Batam (6)
- Menelusuri Peredaran Narkoba di Diskotek Batam (4)
- Menelusuri Peredaran Narkoba di Diskotek Batam (3)
- Menelusuri Peredaran Narkoba di Diskotek Batam (2)
- Menelusuri Peredaran Narkoba di Diskotek Batam (1)
- Nama Aneh Menggoda Lidah
- Pasar Induk Bakal Kembali Telan Uang Negara
- Bintan Mutiara yang Terpendam
- Pencuci Bus Jadi Bupati
- Sulitnya Dapatkan Premium di Karimun
- Bayar Zakat di Mal dan Via Rekening