Friday, May 04th

Last update10:00:00 AM GMT

You are here: Fokus Di Balik Kelangkaan BBM Subsidi di Batam (3)

Di Balik Kelangkaan BBM Subsidi di Batam (3)

'Uang Rokok' Lebih Besar dari Gaji
BATAM-Ketidaktegasan dan kurang ketatnya pengawasan dari lembaga pengawas membuka peluang manajemen dan operator stasiun pengisian bahan bakar (SPBU) melakukan penyelewengan dalam penjualan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Tujuannya untuk menambah keuntungan dari sekadar margin harga yang diperoleh dari Pertamina.
Dari penelusuran di lapangan, permainan manajemen dan operator SPBU ini sudah menggurita. Tidak hanya satu atau dua SPBU saja melakukan aksi yang menjadi pendorong kelangkaan ini, tetapi terjadi menyeluruh di seluruh SPBU yang ada. Berkembang biaknya aksi ini, diakibatkan dari lemahnya pengawasan yang ada di lapangan.

Harus diakui bahwa awalnya tindakan operator pengisi BBM di SPBU dalam melakukan pengisian terhadap konsumen 'khusus' ini hanya sekedar menjalankan tugas dari manajemen. Namun lama-kelamaan, setiap melakukan pengisian yang selalu disisipi 'uang rokok', membuat para operator jadi terlena. Bahkan jika diperhatikan dari segi penghasilan dengan melakukan pengisian itu, uang yang diperoleh melebihi dari gaji yang diterima dari perusahaan tempatnya bekerja.

"Jujur saja awalnya tidak menyangka. Kalau ada sejumlah uang yang diberikan. Karena sering, jadi keenakan. Bahkan bisa melebihi gaji setiap bulan yang diterima," ujar salah seorang operator SPBU di Batam yang tidak ingin ditulis namanya.

Dalam setiap pengisian satu jerigen dengan kapasitas 35 liter, setiap operator mendapatkan uang pengisian sekitar Rp15 ribu hingga Rp20 ribu. Dan para pembeli yang datang dengan menggunakan kekuatan surat izin dari Pemko Batam yang dikeluarkan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) tersebut, sekali datang membawa minimal 2 jerigen. Dan dalam sehari, ada 10 sampai 15 orang yang datang menggunakan surat izin tersebut.

"Sehari kita bisa mengantongi rata-rata Rp150 ribu, bahkan kalau lagi untung bisa dapat lebih. Paling kita harus mengerti dengan atasan. Kalau dilewatkan atasan, bisa gawat kita nanti," ujar pria bertubuh kurus kecil yang tinggal di kawasan Batam Centre ini tertawa lepas.

Praktek pengisian BBM subsidi kepada konsumen yang menggunakan jerigen ataupun mobil yang sudah dimodifikasi ini sudah diketahui oleh manajemen SPBU. Meskipun mengetahui kegiatan ini, manajemen tidak terlalu melarang. Bahkan ada sebagian yang ikut mencicipi dan melakukan aksi itu dengan menunjuk operator tertentu yang melakukan pengisian.

"Kalau manajemen pastinya mengetahui. Bahkan ada juga manajemen yang ikut dalam kegiatan seperti ini," ujarnya.

Saat terjadi kelangkaan BBM seperti saat ini, kata dia, ada SPBU yang berusaha untuk menyisakan sedikit untuk dijual kepada pembeli yang menggunakan surat izin. Namun kepada masyarakat yang akan membeli sesuai dengan kebutuhan, katanya, selalu dikatakan habis. "Itu hanya trik saja. Dikatakannya BBM habis, agar masyarakat tidak bisa membeli. Namun kenyataannya, BBM itu masih ada. Dan sisa yang ada di tangki SPBU ini dialokasikan kepada orang yang membeli dengan uang lebih untuk dijadikan pendapatan tambahan. Siapa masyarakat yang mau memaksa dan melihat tangki yang ada di SPBU. Begitu dikatakan habis, warga langsung pergi," ujarnya menjelaskan.

Apa tidak takut kena sanksi? Dengan tegas ia mengatakan sama sekali tidak takut. Hal yang membuatnya tidak takut karena ada campur tangan manajemen. Selanjutnya, tidak ada pengawasan yang ketat dan secara berkesinambungan yang dilakukan oleh pemerintah dan lembaga yang dipercayakan untuk melakukan pengawasan.

"Sudah barang tentu banyak yang ditutup jika pemerintah tegas. Kenyataannya, meskipun banyak yang bermain dan mendapat keuntungan, SPBU tetap saja bertambah. Dan belum pernah dengar ada SPBU yang ditutup karena melakukan penyelewengan," ujarnya. (tim)


Newer news items:
Older news items: