Saturday, Apr 28th

Last update10:18:18 AM GMT

You are here: Fokus Di Balik Kelangkaan BBM Subsidi di Batam (habis)

Di Balik Kelangkaan BBM Subsidi di Batam (habis)

Izin Penampungan BBM Industri Disalahgunakan

Tingginya disparitas harga antara bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi yang dijual di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) dengan BBM industri menjadi pemicu utama terjadinya penyelewengan BBM bersubsidi. Ironisnya, pengusaha penampungan BBM yang mengantongi izin resmi dari Dinas Perdagangan, Perindustrian, dan Energi Sumber Daya Mineral (Disperindag dan ESDM) Kota Batam ikut bermain. Mereka menerima bahkan ikut membeli BBM subsidi dari SPBU untuk kemudian dijual ke industri.

Dari penelusuran, ada sekitar 20 perusahaan penampungan BBM industri yang mengantongi 20 dari Disperindag dan ESDM Kota Batam. Namun, hanya 16 perusahaan yang beroperasi saat ini.

Dalam melakukan operasional usahanya, mereka mengambil BBM ke perusahaan yang mengantongi izin sebagai distributor oleh negara. Untuk setiap liter yang diambil para pengusaha ini harus mengeluarkan uang sebesar Rp7.900. Dan penampung ini menjual BBM yang dibelinya itu ke industri sekitar Rp8.200 per liter.

Berapa pun BBM yang diminta oleh penampung ini akan dipenuhi oleh perusahaan yang menjadi distributor ini. Namun karena kecilnya keuntungan yang diperoleh dengan memperjualbelikan BBM dari distributor ini, para penampung berusaha untuk mencari cara lain agar mendapat keuntungan yang lebih menggigit.

Para pengusaha pengumpul BBM industri ini tidak lagi hanya membeli BBM dari perusahaan distributor. Siapapun yang ingin menjual BBM sepanjang harganya jauh di bawah harga dari distributor, mereka akan beli. Karena ada pembeli dan untungnya cukup menggiurkan, warga pun berlomba-lomba menjadi pengumpul BBM subsidi untuk dijual ke pengusaha pengumpul BBM industri. Mereka mengaku sebagai nelayan, pengusaha kecil dan alasan lainnya untuk mendapatkan surat izin untuk membeli dengan kuota 70 liter per hari dari SPBU.

Banyaknya warga yang sudah mengumpulkan BBM ini secara perlahan menimbulkan persaingan dari para pengusaha penampung BBM industri. Mereka berusaha memberikan harga tinggi untuk per liternya, dan siap menerima berapa pun banyaknya. Bahkan ada siap untuk menyiapkan fasilitas.

"Ada berapa banyak punya? Kita bisa berikan harga tinggi," ujar salah seorang kaki tangan jaringan penampungan resmi BBM industri kepada wartawan seraya mengatakan
untuk setiap liter itu harga tertinggi sekitar Rp7.000.

Untuk menerima BBM subsidi yang akan dijual industri ini, para penampung ini tidak memiliki rasa takut sedikitpun. Mereka bisa berlindung di balik izin penampungan BBM industri yang dimilikinya. Meskipun modus ini terungkap oleh pihak kepolisian, mereka bisa lepas tangan dan segala kesalahan ditimpakan kepada orang yang menjualnya.

Selain itu, lokasi penampungan BBM industri selalu dibangun tertutup sehingga aktivitas di dalamnya tidak bisa dipantau publik, termasuk warga sekitar. Selain dipagar tinggi-tinggi, lokasi penampungan juga dijaga 24 jam oleh petugas pengamanan (satpam).

Seperti penampungan yang ada di Batu Besar. Ada dua titik penampungan di wilayah ini, yakni di sekitar pasar Hang Tuah dan di pelabuhan rakyat Batu Besar. Kedua titik ini membuat keresahan di kalangan masyarakat di sekitarnya.

"Ada dua titik yang dijadikan penampungan. Namun saat ini kedua titik ini tetap beroperasi tanpa ada disikapi oleh aparat," ujar Tumewu, warga Batu Besar.

Penampungan BBM di dekat pasar Hang Tuah disebut milik pengusaha berinisial A. Lokasi ini dikelilingi oleh tembok setinggi tiga meter. Untuk memasuki ke gudang itu, harus melewati gerbang yang terbuat dari spandek warna biru setinggi tiga meter. Di depan gedung penimbunan itu, ada satu rumah yang depannya dijadikan bengkel.

"Kalau untuk melihat lokasi yang ada di dalam, tunggu ada mobil angkutan BBM industri keluar masuk. Atau nunggu ada mobil angkutan Jodoh-Nongsa yang dimodifikasi untuk keluar masuk yang melansir muatannya," ujarnya.

Begitu juga dengan titik yang ada di lahan yang dikelola oleh Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Batu Besar. Beroperasinya penampungan ini dengan menyewa lahan kepada LPM Rp18 juta pertahunnya. Tidak ada pihak lain yang bisa memasuki lokasi yang berada di pinggir pantai itu. Di depan lokasi yang berpagarkan seng itu tertulis dilarang masuk bagi yang tidak berkepentingan.

Bantahan SPBU Persero


Sementara itu, PT Ganda Tiur selaku pengelola SPBU Persero Batuampar membantah memiliki kerja sama dengan 'kaki tangan' pengusaha penampungan BBM industri. "Tidak ada kerja sama itu. Kita bekerja sesuai dengan prosedur yang berlaku," ujar Sahat Sianturi, pemilik PT Ganda Tiur kepada wartaean, kemarin.

Mantan anggota DPRD Kota Batam ini mengakui SPBU yang dikelolanya memang menerima orang yang membeli BBM dengan menggunakan jerigen. Namun mereka itu, tandas dia, memiliki surat izin resmi yang dikeluarkan oleh Disperindag dan ESDM Kota Batam. "Kita melayani karena mereka bisa menunjukkan surat izin yang dikeluarkan pemerintah. Tanpa izin itu tidak akan dilayani sama sekali," ujar Sahat.

Meski demikian, lanjut Sahat, pihaknya tetap memprioritaskan pemilik kendaraan yang hendak mengisi BBM. Saat antrean kendaraan yang hendak membeli BBM panjang, kata Sahat, pihaknya tidak melayani warga yang membeli BBM dengan menggunakan jerigen sekalipun membawa surat izin resmi. Mereka baru akan dilayani setelah antrean kendaraan tidak terjadi lagi. "Kita prioritaskan warga terlebih dulu. Dan setelah masyarakat selesai baru mereka yang membawa izin pemerintah itu dilayani," ujarnya.

Lebih lanjut Sahat mengungkapkan, kuota pembelian yang diberikan Pertamina kepada pihaknya sangat kecil dan terbatas, yakni hanya 468 ton per bulan yang terdiri dari 260 ton premium dan 208 ton solar. Dengan kuota sebesar itu, kata dia, tidak memungkinkan bagi pihaknya untuk melakukan penyelewengan BBM. "Kalau itu misalnya diselewengkan apa lagi yang mau dijual ke masyarakat. Sekarang saja kita sudah kehabisan premium," pungkas Sahat seraya mengatakan pihaknya telah mengajukan penambahan kuota premium ke Pertamina agar SPBU yang dikelolanya tidak sering kehabisan BBM. (tim)


Newer news items:
Older news items: