Diwarnai Pembunuhan Sadis dan Rampok Bersenpi
BATAM-Sebagai salah satu daerah tujuan investasi ternama di kawasan Asia Pasifik, jaminan keamanan dan situasi yang kondusif di Batam menjadi salah satu persyaratan penting. Namun, karena Batam telah tumbuh sebagai kota metropolis, berbagai tindak kriminalitas tak dapat dihindarkan. Sepanjang tahun 2011, terjadi 2.119 kasus kejahatan di Batam, termasuk kasus pembunuhan sadis dan rampok bersenjata api (senpi).
Selama periode Januari s/d November 2011, kasus kejahatan di Kota Batam mencapai 2.119 kasus. Yang mendominasi adalah kasus kejahatan jalanan, seperti kasus penjambretan dan perampokan atau pencurian disertai kekerasan (curas) serta pencurian dengan pemberatan (curat). Berikut disusul pencurian kendaraan bermotor (curanmor). Selanjutnya kasus berat, seperti pembunuhan dan trafiking.
Dari 2.119 jumlah tindak pidana (JTP) di Kota Batam, hanya 1.224 jumlah penyelesaian perkara (JPP) yang sudah ditangani. Sementara sisanya 894 kasus tindak pidana masih dalam proses penyelesaian dan sedang dalam tahap proses penyidikan.
Kasus tindak pidana curanmor dari Januari hingga November terjadi 272 kasus dan telah diselesaikan perkaranya mencapai 43 kasus, jadi persentasenya mencapai 16 persen saja. Di urutan kedua curas mencapai 107 kasus dan berhasil ditangani sebanyak 32 kasus. Begitu juga dengan kasus curat mencapai 96 kasus dan sudah ditangani sebanyak 54 kasus.
Kasus berat seperti pembunuhan pada tahun 2011 mencapai tujuh kasus dan sudah dalam penyelesaian empat kasus. Sedangkan kasus trafiking sebanyak tujuh kasus dan telah terselesaikan lima kasus.
Kabag Operasional Polresta Barelang, Kompol Mochammad Sholeh mengatakan, kejahatan di Kota Batam terjadi naik-turun dalam setiap bulannya, namun jika dibanding pada Tahun 2010 jumlah kejahatan seperti curat mencapai 431 kasus, dan pada 2011 331 kasus, artinya mengalami penurunan 100 kasus atau 23 persen.
Sedangkan kasus lainnya seperti curanmor pada tahun 2010 sebanyak 175 kasus, di tahun 2011 sebanyak 272 kasus. Untuk kasus curanmor terdapat kenaikan mencapai 97 kasus atau 55 persen.
Selanjutnya, untuk kasus berat seperti pembunuhan masih imbang antara tahun 2010 dan 2011 (hingga data bulan November), yakni sama-sama 10 kasus. Begitu juga dengan kasus trafiking di 2010 lalu mencapai tujuh kasus. Sedangkan tahun 2011 juga mencapai tujuh kasus. "Untuk kasus pembunuhan masih ada beberapa kasus yang penanganannya masih dalam proses, begitu juga dengan trafiking," ujar Sholeh di ruang kerjanya, Jumat (23/12) lalu.
Menurut Sholeh, tindak kejahatan pada tahun 2011 cenderung mengalami peningkatan dibanding tahun 2010. Namun peningkatannya tidak terlalu signifikan. Kejahatan didominasi kasus curas dan curat. Sementara untuk kasus pembunuhan masih seimbang dengan tahun 2010. Selama tahun 2011, kasus pembunuhan dominan terjadi pada bulan April, yakni sebanyak tiga kasus, Juni satu kasus, Oktober satu kasus dan November dua kasus.
"Pada tahun depan (2012-red) curas dan curat diprediksi mendominasi. Upaya kita terus melakukan patroli dan razia rutin atas kejahatan pada tahus 2011 serta mengimbau agar masyarakat tetap waspada pada setiap tindak kejahatan, baik di lingkungan maupun di mana berada," ujar lulusan akpol angkatan 1998 ini.
Lanjut Sholeh, tindak kejahatan pada tahuan 2011 cenderung mengalami peningkatan dibanding tahun 2010, namun peningkatannya tidak terlalu signifikan. Kejahatan didominasi dengan kasus curas dan curat, terkait kasus pembunuhan masih seimbang dengan tahun sebelumnya. Katanya, pada 2011 kasus pembunuhan didominasi pada bulan April sebanyak tiga kasus, Juni satu kasus, Oktober satu kasus dan Nopember dua kasus.
"Terhitung hingga November 2011, kasus pembunuhan mencapai tujuh kasus, belum termasuk Desember. Di tahun sebelumnya mencapai sembilan kasus, jadi tahun ini dengan tahun lalu perbandingan jumlah kasusnya sama," ujarnya.
Kasus Pembunuhan
Terdapat sejumlah kasus pembunuhan yang menjadi perhatian publik, karena sadis dan jumlah korbannya lebih dari satu orang dalam satu peristiwa. Kasus pembunuhan yang terheboh dan mengejutkan warga Batam, bahkan menjadi perhatian masyarakat di tanah air, adalah kasus pembunuhan Putri Mega Umboh, Jumat 24 Juni 2011.
Mengapa peristiwa pembunuhan atas Putri Mega Umboh membuat gempar masyarakat Batam dan sekitarnya? Putri Mega Umboh adalah istri dari AKBP Mindo Tampubolon yang saat itu menjabat sabagai Kasubdit II Ditkrimsus Polda Kepri. Korban yang dibunuh secara keji juga anak kandung dari mantan Kapoltabes Pekanbaru James Umboh yang saat kejadian kabarnya tengah bertugas di Polda Bali.
Mayat Putri Mega Umboh ditemukan Minggu 27 Juni 2011 di pinggiran hutan dekat jalan arah ke Pelabuhan Telaga Punggur, Kecamatan Nongsa Batam. Kondisinya sangat mengenaskan. Mayatnya dimasukan ke dalam tas koper besar warna merah. Terdapat sejumlah tusukan benda tajam di tubuh korban, termasuk jejak jeratan pada leher dan lainnya.
Tak jauh dari lokasi penemuan mayat korban, ditemukan mobil pribadi keluarga Mindo-Putri, jenis Nissan X-Trai BP 24 PM. Kondisi mobil acak-acakan dan terdapat bercakan darah yang berserakan di jok dan lantai. Dari penyidikan pihak kepolisian pembunuhan dilakukan oleh Ujang dan Rosma. Rosma adalah pembantu keluarga Mindo-Putri. Sedangkan Ujang adalah pacar Rosma. Pembunuhan dilakukan di kediaman Mindo-Putri di Perumahan Anggrek Mas III Blok A6 Nomor 2, Batam.
Dalam pemeriksaan Ujang dan Rosma menyeret nama tujuh sekuriti Perumahan Anggrek Mas. Tak pelak lagi, para sekuriti pun ditahan. Dalam proses pemeriksaan ternyata para sekuriti mengalami penyiksaan. Praktik penyiksaan itu pun bocor ke media massa, sehingga bikin heboh. Namun dalam pemeriksaan berikutnya Ujang mencabut keterangannya dan menyatakan para sekuriti tak terlibat sama sekali. Akhirnya tujuh sekuriti itu dibebaskan.
Namun sesudah itu, Ujang mulai mengeluarkan pengakuan yang lebih mengejutkan. Ia menyatakan bahwa otak dari pembunuhan Putri adalah suaminya sendiri, yakni AKBP Mindo Tampubolon. Modusnya karena rasa cemburu dan kesal dengan sikap Putri yang terlalu mengekang kebebasan Mindo. Ujang sengaja diminta bersama-sama dengan Mindo menghabisi Putri. Kesaksian Ujang juga diperkuat dengan bukti-bukti lapangan yang ditemukan pihak kepolisian.
Hingga kini kasus ini masih terus menggelinding di kepolisian dan kejaksaan. Untuk berkas Ujang dan Rosma kabarnya telah di kejaksaan, sedangkan untuk berkas Mindo masih di kepolisian. Mulai Rabu (20/12) lalu AKBP Mindo yang kini bertugas di Mabes Polri telah ditahan. Penahanannya dititipkan di Rutan Bareskrim Polri.
Kasus pembunuhan berikutnya yang menjadi perhatian publik adalah kasus pembunuhan
terhadap bos Event Organizer PT International Management Service (IMS), Dodi (31) dan stafnya Rismandar (25) di Perumahan Anggrek Sari Blok F 7 Nomor 7, Batam Centre, Rabu 17 Agustus 2011.
Pelaku utama pembunuhan sadis itu, Sandy Triady Marpaung (31). Ia membunuh Dodi dan Rismandar karena merasa sakit hati dan dendam. Pertama Sandy membunuh Rismandar. Ia menusuk dan menggorok leher Rismandar dengan pisau dapur. Tak hanya itu, pelaku juga menusukan pisau berulang-ulang kali ke tubuh Rismandar sampai korban dipastikan benar-benar tak bernyawa lagi.
Berikutnya giliran bosnya, Dodi yang dibunuh oleh Sandy dengan pisau yang sama. Setelah kedua korban dipastikan tak bernyawa lagi, pelaku menyeret korban ke lantai dua. Korban membeli pasir dan semen. Selanjutnya mencor tubuh kedua korban dengan adonan semen dan pasir di lantai dua rumah kontrakan tersebut.
Tapi coran itu tak selesai, karena semen dan pasir kurang, sementara Sandy tak punya uang lagi untuk membelinya. ATM korban yang diambil pelaku juga tidak bisa diambil uangnya, karena pelaku tak tahu persis nomor pinnya. Kedua jenazah ditemukan oleh anak pemilik rumah kontrakan yang merasa curiga, karena rumah kontrakan itu terlihat bersepi sejak beberapa hari setelah kejadian. Polisi cukup kerepoton membongkar dua mayat yang dicor tersebut. Kondisi mayat waktu itu telah membusuk.
Sandy kabur ke kampung halamannya tak lama setelah pembunuhan itu. Ia berhasil ditangkap Satuan Reskrim Polresta Barelang di kediaman orangtuanya di Dusun 4 Sidomukti, Buntomane, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara, Senin 22 Agustus 2011.
Kasus pembunuhan lainnya, yang menjadi perhatian publik adalah terbunuhnya pasangan suami istri di gudang besi tua di Legenda Malaka, Kelurahan Baloi Permai, Batam, Rabu 21 September 2011. Pasangan suami istri Padomuan Siregar (45) dan Inggit Hasibuan (44) ditemukan tewas pukul 19.00 WIB.
Saat ditemukan mayat Padomuan Siregar pengusaha besi tua ini posisi miringnya dan istrinya Inggit Hasibuan dengan posisi telungkup di tempat tidur. Kedua korban tewas diduga dibunuh dan polisi menduga ada motif perampokan. Ini terlihat dari bercak darah segar yang bercecaran di tempat tidur dan di lokasi Tempat Kejadian Perkara (TKP).
Pelaku pembunuhan atas suami istri itu adalah Mahadi (19) dan Hendrik (23). Keduanya ditangkap tim Buser gabungan Polresta Barelang dan Polsek Batam Kota saat sedang tidur-tiduran di Terminal Pinang Baris, Medan, Sumatera Utara (Sumut), Minggu 25 September 2011 pukul 18.00 WIB.
Setelah menjadi buronan polisi selama empat hari, kedua pelaku berhasil dibekuk usai sebelumnya sempat terjadi kejar-kejaran dengan petugas di lokasi penangkapan. Selain kedua pelaku, polisi juga menyita barang bukti satu kartu ATM Bank CIMB Niaga dan ATM Bank Danamon milik korban yang berhasil diambil pelaku usai melakukan pembunuhan sadis tersebut.
Motif dari pembunuhan karena pelaku dendam dan ingin menguasai harta milik korban. Mahadi yang merupakan keponakan korban adalah otak pelaku pembunuhan sadis tersebut bersama dengan pelaku Hendrik dan M Adi. Perencanaan dilakukan di kamar kos milik Hendrik di Perumahan Mega Legenda Blok LJ 4 No 3, Batam Centre.
Para pelaku juga ingin merampok uang korban hasil penjualan dua ton tembaga yang nilainya sekitar Rp100 juta. Namun ternyata uang itu belum lagi diterima korban dari rekan bisnisnya, sehingga upaya menguasai harta korban gagal, namun berujung pada pembunuhan, karena aksi mereka keburu diketahui oleh istri korban.
Kasus Perampokan
Sedangkan untuk kasus perampokan ada beberapa peristiwa yang juga menyita perhatian publik. Dalam perampokan itu umumnya para pelaku dilengkapi senjata api (senpi). Kasus perampokan itu di antaranya adalah kasus perampokan di Minimarket King Star, Perumahan Legenda Malaka, Batam, Jumat 15 April 2011 pukul 00.15 WIB. Dalam perampokan itu palaku berhasil menggondol uang korban sekitar Rp15 juta.
Polisi hanya membutuhkan waktu tujuh jam untuk menciduk, Ardiansyah (32) satu dari dua pelaku perampokan tersebut. Pelaku ditangkap di Pelabuhan Telaga Punggur ketika hendak melarikan diri ke Tanjungpinang, sekitar pukul 07.00 WIB.
Pelaku terpaksa menembak kaki pelaku karena berusaha melawan polisi yang memburunya sejak peristiwa perampokan terjadi sekitar pukul 00.15 WIB.
Selanjutnya kasus perampokan yang paling mengejutkan warga adalah kasus perampokan bersenpi di toko sembako Sumber kita, Dotamana, 12 Juni 2011. Pelaku perampokan sebanyak 9 orang. Dari sembilan orang pelaku, Polresta Barelang baru bisa menangkap empat pelaku. Sedangkan otak pelaku, Madon dan lima orang temannya, Sarwan, Feri, Edi dan Yosi barhasil kabur. Madon baru tiga hari yang lalu ditangkap di Malaysia oleh Tim Polisi Diraja Malaysia yang bekerja sama dengan Tim Polresta Barelang.
Empat pelaku yang sudah berhasil ditangkap sengaja diundang ke Batam oleh otak pelaku (Madon-red) untuk melakukan perampokan di toko Sumber Kita. Namun satu dari sembilan pelaku, yakni Jos (tewas) saat terjadi baku tembak dengan anggota buru sergap (Buser) Sat Reskrim Polresta Barelang setelah beraksi.
Saat terjadi baku tembak dengan pelaku, petugas berhasil mengamankan satu pucuk senpi dari tangan tersangka, Jos (tewas). Sedangkan satu pucuk senpi berhasil dibawa kabur oleh otak pelaku (Madon-red).
Empat bulan kasus perampokan toko Sumber Kita berlalu, ternyata diam-diam tim penyidik internal yang dibentuk jajaran Polresta Barelang menemukan kejanggalan di balik kasus perampokan tersebut. Tim internal yang dibentuk Polresta Barelang menemukan kejanggalan dan dugaan rekayasa dalam kasus perampokan tersebut.
Perampokan yang dilakukan sembilan orang itu tidak murni perampokan, tapi ada faktor rekayasa oleh Satreskrim Polresta Barelang untuk mengukir prestasi, demi kenaikan pangkat. Dugaan rekayasa ini pun menggelinding hebat dan sempat terjadi perang statemen antara Kapolresta Barelang saat itu, Kombes Eka Yudha dengan mantan Kasat Reskrim Polresta Barelang Kompol Aries Andhi yang saat dugaan rekayasa muncul telah bertugas Polda Kepri.
Anggota Komisi I DPRD Kota Batam, Nuryanto SH mengatakan, apabila dugaan rekayasa oleh mantan Kasat Reskrim Kompol Aries Andhi pada perampokan di Toko Sumber Kita
terbukti maka itu adalah pukulan hebat bagi jajaran kepolisian. Rasa percaya masyarakat terhadap Polri akan terkikis hebat. Menurut Cak Nur, dugaan rekayasa itu harus dibongkar dan jika terbukti maka pelakunya harus diberikan hukuman setimpal. Hanya dengan metoda itulah kepercayaan masyarakat terhadap Polri bisa kembali pulih.
"Masyarakat tentu bertanya-tanya. Apa betul polisi sampai melakukan hal sejauh itu, dengan merekayasa perampokan. Mengingat polisi sebagai pelindung, pengayom, dan pengaman masyarakat. Kita berharap, akan ada terang-benerang sehingga dapat menjawab semuanya yang kita duga selama ini. Tentu ini akan membuka ruang bagi Polri dalam memulihkan nama baik," kata Nuryanto. (erz/tea/lim)
- Pembangunan Kereta Api Monorel Efektif ?
- Menyambut Imlek di Vihara Duta Maitreya
- Imlek dan Peruntungan Tahun Naga Air 2012
- Pesona Batik Karimun
- Izin Mal dan IMB Diobral
- Pinang Marina, Pelabuhan Tikus Terbesar di Tanjungpinang
- Kebijakan Tak Berpihak pada Pengusaha dan Masyarakat
- Pulau Penyengat Menunggu Wisatawan
- Kilas Balik Batas Wilayah Kepri 2011
- Kilas Balik Ekonomi dan Investasi Kepri 2011
- Di Balik Kelangkaan BBM Subsidi di Batam (habis)
- Mustahil KPUD Tak Tahu Soal Penggunaan Anggaran
- Di balik Kelangkaan BBM Subsidi di Batam (6)
- Di Balik Kelangkaan BBM Subsidi di Batam (5)
- Di Balik Kelangkaan BBM Subsidi di Batam (4)
- Di Balik Kelangkaan BBM Subsidi di Batam (3)
- Di Balik Kelangkaan BBM Bersubsidi di Batam (2)
- Di Balik Kelangkaan BBM Bersubsidi di Batam (1)
- Akibat Kerusuhan, Batam Menjadi Tak Kondusif
- Menelusuri Peredaran Narkoba di Diskotek Batam (8-Habis)