Saturday, Apr 28th

Last update10:18:18 AM GMT

You are here: Fokus Kilas Balik Ekonomi dan Investasi Kepri 2011

Kilas Balik Ekonomi dan Investasi Kepri 2011

Investasi Kepri Capai $400 Juta US
Dibayangi Hengkang dan Demo Rusuh
BATAM - Iklim investasi di Provinsi Kepulauan Riau dibayangi hengkangnya perusahaan dan demo rusuh buruh pada 2011. PT Gimmil Industrial, perusahaan produksi pakaian merek Nike untuk kebutuhan ekspor menutup pabriknya pada 1 April 2011 lalu. Di tengah iklim investasi di Kepri sedikit melambat, Penanam Modal Asing (PMA) juga menerpa perusahaan galangan kapal, McDermott. Isu ini sempat jadi kabar panas kwartal ketiga tahun 2011. Gubernur Kepri, H Muhammad Sani langsung bereaksi dan menegaskan Mc Dermott mempertahankan pabriknya yang berada di Batam, dan tidak akan relokasi ke negara tetangga.

"Mc Dermott tidak akan menutup pabriknya di Batam, hal itu disampaikan langsung orang McDermott Amerika," kata Ketua Dewan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam, Bintan dan Karimun, HM Sani.

Terakhir merebak kabar akan tutupnya PT EXAS dan PT Nutune Muka Kuning. Ini pun langsung dibantah Djoko Wiwoho, Direktur PTSP (Pelayanan Terpadu Satu Pintu) dan Humas BP Batam, 6 Desember lalu.

Joko menyebut, kabar itu tidak benar sebab, sampai saat ini pihaknya belum ada menerima informasi akan tutupnya dua perusahaan tersebut.

Sementara itu, unjuk rasa anarkis ribuan pekerja yang menuntut Upah Minimum Kota (UMK) Batam 23-24 November lalu menambah kekhawatiran dunia usaha di Kepri. Ini terlihat dari pernyataan Ketua Apindo Kepri, Ir Cahya bahwa pihaknya terpaksa menerima UMK Batam Rp1.402.000 paska demo rusuh para buruh.

Cahya juga mengaku kecewa melihat proses revisi UMK Batam yang telah ditetapkan Gubernur Kepri. Dia menilai proses itu cacat hukum. Karena sebelumnya Gubernur Kepri, HM Sani sudah meneken UMK Batam sebesar Rp1.310.000. UMK Batam naik sekitar 18,8 persen dari dari Rp1.180.000 pada tahun 2011 menjadi Rp1.402.000 untuk tahun 2012.

Kecemasan lainnya juga terungkap ketika Direktur Pelayanan Terpadu dan Hubungan Masyarakat BP Batam, Djoko Wiwoho. Dia berharap agar demo buruh tidak berpengaruh terhadap keinginan para investor menanamkan modalnya di Batam dan Kepri pada umumnya.

Di tengah kecemasan hengkangnya para investor dan demo buruh yang berakhir rusuh, PT Saipem, perusahaan galangan kapal terbesar di Karimun menjadi penawar.

Perusahaan ini yang soft opening Sabtu, 3 Desember 2012 lalu. Konsorsium perusahaan Italia itu siap berinvestasi mencapai 450 juta USD atau Rp4 triliun, dengan daya serap sekitar 5.000 tenaga kerja.

Saat ini perusahaan itu sudah mulai menyerap tenaga kerja. Perusahaan ini bahkan sudah membangun kawasan kota kecil yang menambah daya tarik Kabupaten Tanjungbalai Karimum.

Secara umum menurut Sekretaris Dewan Kawasan Free Trade Zone Batam Bintan dan Karimun (DK FTZ BBK) Jon Arizal, total investasi Provinsi Kepri hingga 27 Desember 2011 mencapai $US400 juta. Nilai ini tumbuh mencapai 30,1 persen sejak pemberlakuan FTZ pada 2009 lalu.

"Pergerakan nilai investasi terus naik. Kebetulan saat ini saya tidak pegang detailnya. Tapi yang pasti investasi di Kepri tetap naik," katanya.

Menurut Jon, Kepri tetap menarik bagi investor. Investasi Kepri sendiri banyak didominasi oleh pengusaha dari negara Singapura, India, Malaysia, Inggris, Austria, British Virgin Island, China, Korea Selatan, dan Perancis. Bidang usahanya meliputi perdagangan besar (distributor) ekspor dan impor, konstruksi bangunan pengolahan dan penampungan migas, jasa konsultasi, industri peralatan pancing, Industri pembuatan dan perbaikan kapal, industri boiler dan pengelolaan sampah, industri rokok putih, industri tekstil, jasa konstruksi, pembangunan dan pengusahaan ruko, industri barang logam siap pasang untuk bangunan, jasa rekreasi dan Angkutan.bidang shipyard, manufaktur, pariwisata dan lainnya.

Bahkan Jon optimis pertumbuhan investasi di Kepulauan Riau terus menanjak pada 2012 ini. Apalagi dia sudah memperoleh signal positif dari para investor Jepang bahwa mereka tertarik investasi di Kepri paska banjir di Thailand dan tsunami di Jepang.

"Sekitar bulan Maret nanti, investor Jepang yang berada di Thailand berencana akan ke Kepri. Sekaligus melihat prospek iklim investasi di Kepri," kata Jon.

Bahkan dalam pemaparan outlook Kepri 2012 akhir November lalu, Jon merilis bahwa Batam merupakan daerah tujuan investasi yang menyenangkan bagi para investor shipyard dari Jepang. Pasalnya, kawasan shipyard di Batam berada di tengah kota.

"Ini jadi daya tarik tersendiri para investor Jepang. Sebab di daerah lainnya daerah shipryard posisinya berada di pinggir Kota," katanya.

Kehadiran kawasan shipyard di tengah kota kata Jon, memudahkan para investor untuk mengakses berbagai kebutuhan hidup mereka dan bisa menikmati hiburan kapan saja.

"Ternyata ini nilai plus yang dilihat investor itu. Bahkan salah seorang mereka menilai, Batam merupakan tujuan investasi terbaik di Asia," ujar Jon.

Soal Upah Minimum Kota (UMK) Kota Batam Rp1.402.000, UMK Karimun Rp1.057.000, UMK Tanjungpinang Rp.1.015.000, Lingga Rp1.067.300, Natuna Rp1.115.000. Jon berharap pihak pengusaha bisa menghitung ulang biaya produksi mereka sehingga bisa memproyeksi keuntungan pada 2012 mendatang.

Akankah nilai investasi Kepri akan terus menunjukkan grafik naik? Kembali semua itu tergantung iklim investasi di Batam, Bintan, Karimun dan daerah lainnya di provinsi kepulauan ini.

Ketua Apindo Kepri, Ir Cahya berharap iklim investasi pada 2012 mendatang tidak diganggu oleh aksi-aksi anarkis lagi. Menurutnya, demo rusuh akan merusak citra investasi di Batam, Bintan, Karimun yang selama ini terjaga.

"Pemerintah mesti menjaga iklim investasi itu tetap kondusif. Biar pada investor nyaman untuk berusaha," kata Cahya beberapa waktu lalu. (fur)


Newer news items:
Older news items: