| Article Index |
|---|
| Pembangunan Kereta Api Monorel Efektif ? |
| Pembangunan Moda Monorel Rp 2,4 Triliun |
| Berpengaruh Terhadap Angkutan Kota |
| Harapan Pada Proyek Monorel Kota Batam |
| All Pages |
SEJAK tahun 1971 hingga sat ini , Batam telah tumbuh pesat menjadi sebuah kota industri dan kota metropolitan. Seiring pertumbuhan tersebut pertambahan penduduk serta aktivitas ekonomi terus meningkat sehingga perlu diantisipasi. Untuk itu BP Batam merencanakan pembangunan monorail guna mencegah kemacetan namun dipihak lain rencana pembangunan ini terkesan ambisius.
Fakta perkembangan dan pertumbuhan Batam dapat dilihat dari berbagai sisi. Ratusan perusahaan berbagai bidang, baik dalam maupun luar negeri terus masuk dan berinvestasi di daerah ini. Sering dengan itu Batam pun telah menjadi magnet bagi para pencari kerja. Di Batam ada 26 kawasan industri yang menampung ratusan ribu tenaga kerja dari berbagai daerah di Indonesia.
Ketika Pulau Batam pertama kali dibuka tahun 1971 silam, penduduknya hanya sekitar 6.000 ribu jiwa saja. Sedangkan hasil sensus penduduk tahun 2010 jumlah penduduk Kota Batam telah mencapai 949.775 jiwa. Pertumbuhan industri dan peningkatan jumlah penduduk yang begitu cepat harus diseiringkan dengan pembangunan infrastruktur dan berbagai fasilitas lainnya, sehingga keduanya bisa saling menopang dan bersinergi.
Salah satu hal yang perlu dipersiapkan untuk mengantisipasi pertumbuhan industri dan pertumbuhan penduduk adalah kelancaran transportasi, baik darat, laut dan udara. Bicara transportasi darat, tak lepas dari alat transportasi itu sendiri, jalan dan jembatan. Badan Pengusahaan Batam (BP Batam) yang dulunya bernama Otorita Batam, sejak Pulau Batam dibuka telah membangun jalan dan jembatan secara terencana dan dikerjakan dengan baik.
Karena jalan dan jembatan di Batam dibangun secara terencana dan terprogram dengan baik, sehingga panjang jalan dan jumlah kendaraan tetap seimbang. BP Batam yang kini telah berusia 39 tahun, tak ingin kelak Batam menjadi macet seperti Jakarta. Di Jakarta, penambahan panjang jalan tak seimbang dengan pertambahan jumlah kendaraan. Bahkan penyediaan tranportasi massal pun belum mampu untuk mengatasi kemacetan di ibukota.
Sehubungan dengan itu BP Batam pun dari jauh-jauh hari telah merencanakan dan meneliti kebutuhan transportasi Batam untuk beberapa tahun ke depan. Ada dua rencana utama BP Batam; yakni membangun kereta api, tepatnya monorail dan jalan tol. Dari hasil studi yang dilakukan BP dan telah dikoordinasikan dengan Kementrian Perhubungan, yang lebih cocok untuk diprioritaskan bagi Batam adalah pembangunan monorail. Tahun 2013 rencananya pembangunan monorail mulai dilaksanakan.
Jalur monorel yang akan dibangun ada dua, yakni jalur Tanjunguncang-Batam Centre sepanjang 17,7 kilometer dan Bandara Hang Nadim-Batuampar sepanjang 19,6 kilometer. Sebelumnya, BP Batam mengusulkan pembangunan KA monorail tiga jalur ke Kementrian Perhubungan yakni jalur Batuampar-Batuaji sepanjang 27,55 kilometer, Sekupang-Batam Centre 16,48 kilometer dan Nongsa-Batam Centre sepanjang 16,36 kilometer.
Namun, setelah masuk tahap studi kelayakan oleh Dirjen KA pada 2010, disetujui pembangunan sarana KA monorail dari Tanjunguncang-Batam Centre dan Bandara Hang Nadim-Batuampar.
"Pembangunan sarana KA monorel ini lebih simpel, karena jalannya berada di atas. Jalur untuk KA monorail tetap menggunakan row jalan yang ada sekarang yang lebarnya mencapai 200 meter," kata Direktur Pembangunan BP Batam, Ir Budiman Maskan MM.
Biaya pembangunan jalan beton KA monorail Rp65 miliar per kilometernya. Sementara harga gerbong KA monorel per unit Rp30 miliar. Empat gerbong KA monorel bisa membawa 406 penumpang. Dibutuhkan biaya sebesar Rp1,15 triliun untuk membangun jalur Tanjunguncang-Batam Centre dan Rp1,24 triliun untuk jalur Bandara Hang Nadim-Batuampar. Kecepatan KA monorail ini mencapai 80 kilometer per jam.
Harga tiket KA monorail ini juga telah dihitung Rp6.000 per penumpang. Dibandingkan dengan biaya transportasi saat ini, jelas harga tiket KA monorail itu lebih murah. Apalagi KA monorail bebas macet dan jadwal keberangkatannya terjadwal dengan baik. Terkait dengan kebutuhan transportasi ratusan ribu tenaga kerja serta masyarakat Batam lainnya, jelas KA monorail sebagai solusi tepat
Anggaran yang akan digunakan untuk pembangunan ini bisa berasal dari APBN ditambah anggaran BP Batam dan investor. Proyek ini ditargetkan akan selesai pada 2016 mendatang. Untuk jumlah gerbong yang dioperasikan akan disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi yang ada. Pembangunan sarana KA sistem monorel ini untuk mengantisipasi lonjakan penduduk di Batam yang tumbuh 9 persen lebih per tahun dan juga untuk mendukung investasi di Batam.
Selain membangun KA monorail, BP Batam yang pada 26 Oktober 2010 ini berulang tahun (Hari Bhakti) ke-39, juga telah merencanakan pembangunan jalan tol untuk jalur Batuampar-Mukakuning-Bandara Hang Nadim sepanjang 24 kilometer. Proyek jalan tol ini akan menelan biaya Rp1,6 triliun. Sama dengan pembangunan KA monorail, pembangunan jalan tol ini juga bertujuan untuk mengatasi kemacetan di Kota Batam. Selain itu juga untuk memperlancar tranportasi angkutan kontiner dari perusahaan ke pelabuhan, begitu juga sebaliknya.
"Jalan tol dibangun untuk antisipasi kepadatan jalan di Batam. Sebab, jika jalanan macet, tentunya arus barang dari pelabuhan ke kawasan industri tersendat dan sangat mengganggu," kata Kepala Biro Perencanaan BP Batam, Ir Istono beberapa waktu lalu.
Rencana pembangunan jalan tol ini sudah ada studi kelayakannya dan investor banyak yang berminat untuk membangun. Koordinasi dengan kementrian terkait juga telah dilakukan, bila telah ada arahan maka proyek ini siap untuk dilelang. Namun demikian berkemungkinan, proyek KA monorail yang akan menjadi prioritas. Sebab, kalau KA monorail telah beroperasi dengan stabil, otomatis akan lebih memperlancar lalulintas kendaraan industri di jalan raya. Proyek jalan tol pun tentu akan menjadi prioritas berikutnya.
Selain sarana KA sistem monorel dan jalan tol, BP Batam juga telah menyiapkan rencana pembangun jembatan yang menghubungkan Pulau Batam dan Pulau Bintan atau Babin sepanjang 7 kilometer. Jembatan Babin membutuhkan biaya sebesar Rp3,6 triliun. Jembatan Babin dibangun untuk mendorong pertumbunhan investasi di kawasan FTZ Batam dan Bintan.
Namun demikian Direktur Pusat Kajian Kebijakan Publik FISIP UMRAH dan Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Kebijakan Publik dan Politik Lokal, Suradji menilai, rencana pembangunan Monorail adalah proyek ambisius. Rencana pembangunan monorel tidak mendasarkan pada situasi dan kondisi di lapangan. Apabila alasan kemacetan yang menjadi dasar pembangunan monorail, saat ini menurut dia tingkat kemacetan belum sebanding dengan kota-kota lain dengan jumlah penduduk dan jumlah kendaraan jauh lebih padat dan lebih banyak.
Apalagi biaya yg akan dikeluarkan untuk membiayai proyek tersebut sangat tinggi mencapai triliunan bila a dibandingkan dengan pembuatan moda transportasi laen seperti pembuatan Rel Kereta Api
Pembangunan rel KA tentu akan lebih ekonomis baik dalam pembiayaan pembangunanya maupun dalam hal maintenancenya. Pembangunan rel KA menurut pandangan kami sangat memungkinkan untuk dilakukan di Batam karena ketersediaan lahan yang masih terbentang luas.
Menurut dia, pembangunan Moda KA di Batam haruslah disertai dengan kajian-kajian akademis dan kajian teknis yang mendalam dan komprehensif sehingga moda inilah yang kedepan dapat menjadi solusi atas persoalan transportasi jangka panjang baik transportasi komersial/penumpang maupun untuk angkutan barang. Dengan kajian tersebut maka sangat dimungkinkan pembangunanya akan menghububgkan Batam dan Bintan jika sudah ada jembatan yang menghubungkanya.
Menurut Suradji, dalam kurun waktu 5 tahun kedepan keberadaan monorail belum efektif sementara penyusutan dan biaya perawatan serta biaya operasional tentunya tetap berjalan.***
Rencana Rute Monorel
• Jalur Bandara Hang Nadim – Batuampar
- Panjang rel : 19,6 km
- Biaya pembangunan : Rp1,24 triliun
• Jalur Tanjunguncang – Batam Centre
- Panjang rel : 17,7 km
- Biaya pembangunan : Rp1,15 triliun
• Harga 1 gerbong monorail : Rp30 miliar
• Tarif tiket : Rp6.000 / penumpang
Sumber: BP Batam
Pembangunan Moda Monorel Rp 2,4 Triliun
DIREKTUR Jendral Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, Tundjung Inderawan pada kesempatan acara pendandatangan kesepakatan kerjasama dengan Kepala BP Batam, Mustofa Widjaya di Gedung Bida Marketing, Jumat (27/1) mengatakan, pembangunan transportasi pengangkut massal di Kota Batam dengan moda monorel akan menelan dana Rp2,4 triliun.
Dana sebesar itu untuk pembangunan koridor atau lintasan monorel Batam Centre - Tanjunguncang dengan panjang 17,7 Kilometer (KM) dan Bandara Hang Nadim - Batuampar sepanjang 19,6 KM.
Ia mengatakan, perkiraan dana yang akan dihabiskan Rp2,4 untuk T tersebut, jika pembangunan moda monorel, sedangankan jika menggunakan moda relbus dana yang dibutuhkan mencapai Rp2,11 T.
Jalur tersebut menurut Inderawan merupakan jalur prioritas yang akan dikembangkan. Selain dari jalur yang sudah ada di master plan yakni Batuampar-Batuaji dengan panjang 27,55 KM dan Sekupang - Batam Centre dengan panjang jalur 16,48 KM dan Batam Centre - Nongsa dengan panjang 16,36 KM.
Dana triliunan tersebut kata Tundjung, diperoleh dari para investor baik pemerintah ataupun swasta. Semua bisa berpartisipasi untuk membangun perkeretapian umum di Batam. Mengenai kelayakan bisa tidaknya ada kereta ada di Batam semua tergantung pada investor nantinya.
"Kesepakatan kerja sama ini dimulai dari perencanaan, pembangunan hingga pengoperasian. Tapi, pembiayaan tetap akan dicari dan para investor yang akan menilai kelayakan adanya kereta api di Batam" tambah Tundjung.
Hal ini sesuai dengan UU nomor 23/2007 tentang perkeretapian yang mengamanahkan agar penyelenggaraan perkeretaapian dilaksanakan secara multi operator, yang memberikan kesempatan kepada pemerintah daerah, masyarakat maupun pihak swasta untuk turut berpartisipasi aktif dalam mempercepat pembangunan.
Kalau sebelumya menurut dia, kereta api hanya dikelola satu operator yakni PT.KAI, kini dapat dikelola bersama-sama, baik swasta maupun pemerintah. Oleh karena itu, pembangunan keretaapian harus dibentuk tiga badan usaha pertama badan usaha prasarana seperti pembebasan lahan, kedua badan usaha sarana seperti pembangunan fisik dan ketiga lembaga yang dapat menaungi keduanya.
Kelayakan kereta api di Batam, kata Tundjung dirasa sangat perlu, melihat perkembangan Batam sangat pesat. Dan nantinya bukan hanya sebagai alat pengangkut massal tapi juga sebagai transportasi pengangkut barang.
Hal senada juga disampaikan ketua BP Batam, Mustafa Wijaya, perkembangan Batam harus dilihat jauh kedepan, karena pertumbuhan penduduk setiap tahunnya mencapai 100 ribu orang. Jadi bisa dibayangkan lima tahun kedepan,penduduk Batam sudah mencapai 1,7 juta penduduk.
Kereta api saat ini menjadi pilihan, selain biaya murah, kereta api juga dapat mengantisipasi kemacetan. Oleh karena itu, tujuan dari pembangunan tersebut dapat benar-benar memberikan pelayanan kepada masyarakat khususnya pada transportasi darat. Selain dapat mengatasi kemacetan, juga dapat memberikan nilai tambah pada Batam.
"Kita harus mencontahi singapura, yang wilayahnya lebih kurang sama dengan luas wilayah kita. Disana sudah berkembang, transportasinya," katanya.
Mengenai sumber pembiayaannya, ia mengatakan, akan mencari investor-investor, selain dari pemerintah pusat, provinsi maupun kota," katanya.
Jika semua berjalan lancar, maka kereta api sudah bisa dinikamati masyarakat pada 2017 mendatang, dengan rasio kelayakan finansial 13,94 persen dan rasio kelayakan ekonomi 18,61 persen. Dengan catatan rasio kelayakan tersebut dapat dicapai apabila investasi prasarana ditanggung pemerintah, tutup Tundjung. (cw56)
Berpengaruh Terhadap Angkutan Kota
KEHADIRAN moda monorail di Batam tidak bisa dipungkiri akan berpengaruh terhadap usaha jasa transportasi angkutan kota dan taxi. Namun demikian tuntutan kebutuhan masyarakat secara umum menjadi prioritas pelayanan pemerintah. Demikian dikatakan Hardi Oyong, salah seorang sopir taxi Bandara Hang Nadim.
Menurut Hardi, meski berpengaruh tapi tidak seberapa besar karena baik monorail, taxi dan angkutan kota memiliki market masing-masing. Monorail hanya melalui jalur-jalur yang telah ditetapkan sementara taxi bisa masuk ke setiap sudut kota. Oleh karena itu menurut dia, pengaruh dari kehadiran monorail terhadap taxi tidak terlalu besar. Justru menurut dia, kehadiran monorail akan berdampak terhadap taxi plat hitam. Masyarakat akan cenderung memilih kereta monorail, taxi dan angkutan kota resmi ketimbang menumpang taxi plat hitam.
Sebagai langkah antisipasi perkembangan dan pertumbuhan Kota Batam kedepan kata Hardi, taxi dan angkutan metro trans akan sulit memenuhi tuntutan kebutuhan masyarakat. Apalagi bila aktivitas dunia usaha, bisnis terus berkembang dan pertumbuhan penduduk terus meningkat.
Ia mengakui bahwa saat ini kepadatan arus lalu lintas belum begitu terasa tapi sebagai langkah antisipasi pertumbuhan dan perkembangan kota maka kehadiran monorail akan sangat berarti. Namun ia berharap agar tarif monorel tidak lebih murah dari angkutan kota sehingga tidak terlalu besar pengaruhnya terhadap angkutan kota yang ada.
Menurut Hardi, yang paling penting adalah efektivitas dari kehadiran monorel harus benar-benar dirasakkan sebab anggaran pembuatan monorail sangat besar.
Ia secara pribadi melihat dari sisi positif dari kehadiran monorel sebagai antisipasi terhadap kemacetan yang akan terjadi akibat pesatnya pertumbuhan Batam kedepan. Selain itu.
Dedi, salah seorang sopir angkutan kota jurusan Mukakuning mengatakan, rencana pembangunan kereta api monorel akan berpengaruh besar terhadap usaha jasa angkutan kota khususnya Metro Trans dengan rute Batuampar-Bengkong-Mukakuning.
Menurut dia, belum saatnya Batam memerlukan kereta api monorel sebab saat ini saja angkutan kota pada jam tertentu terpaksa parkir karena tidak ada penumpang. Mereka hanya beroperasi pada saat pagi, siang dan sore hari. Menurut dia, pembangunan monorel secara tidak langsung mematikan usaha jasa angkutan metro trans secara perlahan.(nic)
Harapan Pada Proyek Monorel Kota Batam
Oleh : Ade P. Nasution
MENDENGAR rencana BP Batam untuk membangun system transportasi Monorail, bagi saya merupakan suatu kejutan sekaligus harapan. Betapa tidak, belum ada satu pun kota di Indonesia yang memliki system transportasi monorail. Di Jakarta, sebagai ibu kota Negara, pelaksanaan proyek monorail ini belum terlaksana walaupun telah sejak tahun 2003 proyek tersebut diluncurkan dimana pemerintah Provinsi DKI Jakarta bekerjasama dengan PT. Jakarta Monorail.
Memang, terdapat perbedaan karakteristik antara Batam dan Jakarta dalam hal transportasi. Di Jakarta, persoalan terbesarnya adalah kemacetan lalu lintas. Persoalan kemacetan lalu lintas di Jakarta menurut SITRAMP (The Study on Integrated Transportation Master Plan) pada tahun 2004 menyebutkan bahwa kerugian ekonomi di wilayah Jabotabek akibat kemacetan mencapai Rp. 3 Trilliun pertahun untuk biaya operasional kenderaan, Rp. 2,5 Trilyun untuk kehilangan waktu dan Rp. 2,8 Trilyun untuk dampak kesehatan.
Sedangkan di Batam, secara umum belum terjadi kemacetan lalu lintas, kalaupun ada hanya insidentil. Hal ini disebabkan rasio antara panjang ruas jalan dan jumlah kenderaan bermotor masih dalam tahap wajar. Kondisi ini juga disebabkan penyebaran pusat bisnis dan pariwisata yang cukup merata di sepanjang kecamatan di Kota Batam.
Persoalan di Batam dalam transportasi adalah masalah kualitas, baik tariff maupun kenyamanan moda transportasinya. Menurut hasil penelitian, tariff transportasi di Batam tergolong cukup mahal dan pelayanan yang kurang nyaman.
Dikaitkan dengan status Kota Batam sebagai kota Industri dan pariwasata, keberadaan moda transportasi yang ada saat ini dirasakan jauh dari harapan, baik tariff maupun kenyamanannya. Bagi Pekerja Industri dan pariwisata, tariff transportasi jelas terasa memberatkan dan menggerogoti upah yang mereka terima
Sedangkan untuk dunia pariwisata, para pelancong seringkali merasa tidak nyaman dengan system transportasi yang ada di Batam saat ini. Mereka sering dihadapkan pada mahalnya tariff dan perlakuan kasar dari pelaku jasa transportasi darat. Memang, untuk Batam, proyek monorail ini bagi saya sudah sangat cukup dan luar biasa, yang dapat memudahkan penduduk Batam dan wisatawan dalam beraktivitas. Walaupun masih banyak solusi lain system transportasi, sebut saja penambahan jumlah bus Kota Batam dan perluasan jalur asal tujuan sehingga bisa menjangkau bahkan sampai ke pelosok-pelosok Kota Batam.
Kami berharap, agar proyek Monorail yang akan dilaksanakan ini, dapat melayani destinasi para pekerja dan destinasi para wisatawan sehingga dapat lebih bermanfaat, apalagi melihat data kependudukan bahwa kurang lebih dari separuh penduduk Kota Batam ini dalah pekerja Industri.***





