Friday, Apr 20th

Last update10:00:00 AM GMT

You are here: Fokus Korban HIV/AIDS Terus Berjatuhan

Korban HIV/AIDS Terus Berjatuhan

PENYEBARAN virus Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) di wilayah Kota Batam terus meluas dan memakan korban.

NIKOLAUS
Liputan Batam

Dari tahun ke tahun angka yang dirilis Komisi penanggulangan AIDS Kota Batam terus bertambah. Selain menyerang pekerja seks berisiko tinggi maupun masyarakat biasa akibat penularan.

Datang KPA Kota Batam mengurai secara kumulatif dari tahun 1192 hingga 2008 silam terdapat 1066 terkan virus HIV, 464 mengidap AIDS dan 177 orang meninggal dunia. Tahun 2009 HIV 273, AIDS 77 dan meningal dunia 36 orang. Tahun 2010 sedikitnya 317 tertular virus HIV, 134 AIDS dan 74 orang meninggal dunia. Dan tahun 2011 terdapat 397 teridentifikasi HIV, 151 orang mengidap AIDS, dan 59 orang meninggal. Total keseluruhan terdapat 2053 HIV, 726orang mengidap AIDS dan 346 orang meninggal.

Jumlah orang yang terkena HIV/AIDS dan meninggal menurut Ketua Yayasan Komunikasi Informasi Edukasi Batam YKIEB),Sibuan Abdurahman akan bertambah pada tahun-tahun mendatang dan kondisi akan semakin memprihatinkan.

Penularan dan penyebaran HIV/AIDS serta korban terus meningkat menurut Sibuan menyusul kesadaran seluruh elemen masyarakat terutama pekerja beresiko tinggi sangat rendah.

Sibuan mengaku hal ini menjadi tantangan terbesar bagi para pegiat dibidang pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS. Meski sejumlah LSM yang bergerak dibidang ini bekerja keras bersama Komisi Penanggulangan AIDS Kota Batam namun demikian tidak akan mampu menanggulangani ancaman HIV/AIDS.

Elemen masyarakat terkesan pasif dan tidak menyadari akan ancaman HIV/AIDS yang terus meluas. Masyarakat tidak termotivasi untuk mengetahui dan turut dalam upaya mencegah dan menanggulangi ancaman penyakit yang mematikan tersebut.

Selain masalah kesadaran kata Sibuan, akses pelayanan terhadap pekerja berisiko tinggi dan masyarakat luas berupa conseling dan tes masih sangat minim. Sejauh ini kegiatan conseling dan tes baru dilayani pada beberapa tempat saja seperti di Rumah Sakit Budi Kemuliaan, RS Elisabeth, RSUD.

Hendaknya akses pelayanan conseling dan test dapat berlangsung di setiap kecamatan melalui pelayanan di puskesmas. Selain itu harus diiringi dengan penyebaran informasi lebih luas kepada masyarakat mengenai ancaman penularan HIV/AID serta akses pelayanan yang dapat dimanfaatkan.

Tantangan lain yang cukup menyulitkan para pegiat kemanusiaan dalam pencegahan dan penaggulangan HIV/AIDS adalah penggunaan alat kontrasepsi masih ditentang. Alasan klasik yakni dikhuatirkan akan terjadi seks bebas padahal penggunaan alat kontrasepsi bagi pekerja beresiko tinggi bisa mencegah penularan HIV.

Sibuan bahkan memperkirakan pada tahun 2015 mendatang jumlah pengidap HIV/AIDS dan korban sangat tinggi. Sebab penularan HIV/AIDS sudah merambah masyarakat biasa diantaranya ibu rumah tangga, anak dan remaja.

Menurut Sibuan, yayasan yang dipimpinnya dan sejumlah LSM lain serta KPA Kota Batam telah memiliki program yang cukup baik. Selain itu kerjasama dengan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait sudah mulai berjalan baik namun tidak akan berarti maksimal, apabila tidak didukung kesadaran masyarakat akan ancaman bahaya HIV/AIDS yang telah merenggut ratusan nyawa, dan penggunaan alat kontrasepsi masih ditentang.

Kornelis Balawanga, Pengelola Program KPA Kota Batam mengungkapkan, kesadaran pemakaian kondom sebagai alat pencegahan HIV pada hubungan seks beresiko di kalangan wanita pekerja seks (WPS) dan pelanggannya masih sangat rendah sehingga memicu peningkatan infeksi menular seksual (IMS) yang tinggi antara 70–80 persen.

Realita penularan serta penyebaran HIV/AIDS terus meluas disatu sisi, kesulitan pegiat kemanusiaan dalam melaksanakan berbagai program pencegahan dan penanggulangan serta tantangan dihadapi maka diperkirakan korban meninggal akibat HIV/AIDS terus berjatuhan.***





Tanggung jawab Bersama

PROGRAM HIV & AIDS di Kota Batam yang didukung lembaga donor Global Fund melibatkan tiga komponen sebagai pelaksana program di lapangan yakni Komisi Penanggulangan AIDS (KPA), LSM Mitra PKBI (Yayasan Lintas Nusa), serta Dinas Kesehatan Kota Batam. Demikian dikatakan Kornelis Balawanga, Pengelola Program KPA Kota Batam.

Kornelis menjelaskan, pada tahun 2011, secara umum ada dua program besar yang dilaksanakan di lapangan yakni Program Pencegahan HIV/AIDS Melalui Transmisi Seksual (PMTS) dan Harm Reduction (HR), yaitu pengurangan dampak buruk akibat penggunaan narkoba suntik dalam kaitannya dengan penularan HIV.

PMTS dilakukan di lokalisasi atau kawasan beresiko tinggi lainnya, memiliki empat komponen yang menjadi tolok ukur program. Pertama, peningkatan peran positif pemangku kepentingan di lokasi PMTS. Kedua, komunikasi perubahan perilaku untuk pemberdayaan pekerja seks. Ketiga, Pengelolaan serta ketersediaan kondom dan pelicin. Keempat, pengelolaan infeksi menular seksual (IMS).

Dalam pelaksanaannya komponen 1 dan 3 dilakukan oleh KPA, komponen 2 dilakukan oleh LSM Lintas Nusa, dan komponen 4 dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan melalui puskesmas di area PMTS. Kota Batam memiliki dua area PMTS yakni di Teluk Pandan dan Teluk Bakau.

Untuk Program Harm Reduction di Propinsi Kepri hanya ada di Kota Batam. Sasaran utamanya adalah para pengguna narkoba suntik (penasun) atau biasa disebut IDU,s (injection drugs user). Data pemetaan populasi kunci beresiko tinggi terhadap penularan HIV di Kota Batam pada tahun 2011 menyebutkan jumlah IDU,s di Batam sebanyak 113 orang.

Untuk itu menurut Kornelis, selain program komunikasi perubahan perilaku melalui Outrecah (penjangkauan) yang dilakukan oleh LSM untuk mendampingi para penasun, telah dibuka program Layanan Jarum dan Alat Suntik Steril (LJASS) di Pusksesmas Belakang Padang dan Lubuk Baja.

Implementasi program ini berupa penyediaan layanan jarum suntik steril kepada penasun agar mereka tidak menggunakan jarum suntik bekas atau memakai jarum suntik secara bersama sama karena berpotensi menularkan virus HIV kepada yang lainnya jika salah satu di antara mereka postif.

Kornelis mengatakan, program ini tidak bermaksud meninabobokan penasun dan tidak berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Tujuannya hanya untuk menemukan penasun baru yang selanjutnya didorong untuk mengikuti program terapi rumatan metadon (PTRM), sebuah terapi subsitusi oral sehingga penasun tidak lagi menggunakan narkoba suntik heroin tetapi menggunakan metadon dengan pengawasan ketat dan diminum di depan dokter yang telah ditunjuk.

Secara bertahap menurut dia, pasien akan mengalami penyesuaian dan penurunan dosis, dan diusahkan putus dan bebas dari narkoba. Layanan PTRM ini hanya tersedia di RSUD Embung Fatimah. Sejak beroperasi pada bulan Oktober tahun 2010, layanan ini sekarang memberikan terapi kepada 24 orang penasun yang sebelumnya mengikuti program LJASS.

Sementara itu data kasus HIV & AIDS KPA Kota Batam menunjukan sepanjang tahun 2011 ditemukan 397 kasus HIV, 151 kasu AIDS dan sebanyak 59 orang telah meninggal dunia. Dari data yang ada program Harm Reduction cukup efektif untuk menekan infeksi baru HIV dan kematian di kalangan penasun. Data kasus tahun 2011 menunjukan kasus HIV pada kelompok penasun di Kota Batam sebayak 5 kasus (1 %) dari total 397 kasus HIV. Terapi metadon mampu meningkatan kestabilan psikis dan stamina penasun sehingga semua peserta terapi bisa bekerja secara normal.

Sedangkan program PMTS dengan 4 pilar dinilai belum mampu menekan kasus HIV baru. Dari 4 komponen PMTS, komponen 3 tentang meningkatkan pengelolaan dan ketersedian kondom dan pelicin dinilai belum optimal.

Kesadaran pemakaian kondom sebagai alat pencegahan HIV pada hubungan seks beresiko di kalangan wanita pekerja seks (WPS) dan pelanggannya masih sangat rendah sehingga memicu peningkatan infeksi menular seksual (IMS) yang tinggi antara 70–80 persen.

Demikian juga dengan infeksi baru HIV pada WPS sebanyak 81 kasus atau 21 %. Pelanggan atau orang yang membeli jasa seks sebanyak 102 kasus atau 26 % dan kelompok “lain-lain” yakni ibu rumah tangga dan anak-anak sebanyak 128 kasus atau 32 %. Terjadi korelasi penularan HIV antar WPS, klien, dan ibu rumah tangga yakni jika infeksi HIV pada WPS tinggi maka ada kecenderungan infeksi HIV yang tinggi pada pelanggan atau klien. Secara nasional 60 % pelanggan adalah orang yang beristri maka kelompok lain yang rentan terhadap penularan HIV adalah ibu rumah tangga dan anak-anak.

Refleksi program pada tahun 2011 mendorong KPA Batam selaku leading sector program HIV & AIDS di Batam melakukan pendekatan baru pada tahun 2012 melalui program PMTS Paripurna. Artinya program pencegahan transmisi HIV melalui hubungan seksual tidak hanya dilakukan di lokalisasi tetapi juga dilakukan di berbagai tempat dengan konsentrasi laki-laki terbanyak misalanya di perusahan-perusahan, galangan kapal, pelabuhan bongkar muat kapal kargo, kapal-kapal nelayan, terminal angkot dan pangkalan taxi.

Hasil pemetaan KPA Batam tahun 2011 menunjukan ada sebanyak 3.676 WPS yang ada di lokasi, bar, panti pijat dan kos-kosan di Kota Batam. Ada 26.748 High Risk Men (HRM) atau laki-laki beresiko tinggi tertular HIV di Batam . Tentunya program ini akan melibatkan multi sektor seperti Dinas Tenaga Kerja dan Dinas Perhubungan. Ada paradigma baru dalam program PMTS paripurna ini yakni “ laki-laki harus bertanggung jawab untuk tidak menularkan HIV kepada orang lain”. Dengan demikian, jika kita mampu menekan infeksi HIV menjadi zero pada laki-laki, maka kita juga mampu menekan infeksi HIV menjadi zero pada perempuan dan anak-anak.(nic)




Penanggulangan HIV/AIDS Batam, Optimiskah Kita
Oleh: Pieter P Pureklolong
Wakil Sekretaris I / Kepala Sekretariat Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Batam

ADA alasan yang sangat mendasar ketika seluruh dunia termasuk kita di Indonesia gencar mengkampanyekan program aksi penanggulangan HIV/AIDS. Bukan sekedar kampanye melainkan HIV/AIDS harus mendapat perhatian khusus dari semua pihak terutama para pengambil keputusan di semua tingkat. Alasannya, belum ada obat untuk menyembuhkan, dan belum ada vaksin yang bisa mencegah. Selain itu pengidap HIV dapat menularkan virus itu seumur hidupnya walaupun tidak merasa sakit dan tampak sehat. Biaya pengobatan juga mahal dan seumur hidup.


HIV/AIDS terbukti menurunkan mutu SDM dan produktifitas. Virus tersebut menyebar dengan sangat cepat ke seluruh dunia tanpa disadari jika tidak dicegah. Seperti diketahui, Human Immuno Deficiency Virus (HIV) itu sendiri adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia yang kemudian menyebabkan AIDS. Sedangkan Acquired Immne Deviciency Syndrome (AIDS) adalah sekumpulan gejala penyakit yang menyerang tubuh manusia sesudah sistim kekebalannya dirusak oleh virus HIV itu.

Virus itu sendiri hanya dapat hidup dalam tiga jenis cairan tubuh manusia yaitu darah, cairan kelamin pria dan wanita (cairan sperma dan cairan vagina), serta air susu ibu. Sehingga cara penularannya melalui transfusi darah yang sudah tercemar HIV, penggunaan narkoba suntik secara bergantian dengan orang yang sudah terinfeksi HIV, penggunaan alat suntik, tindik, yang sudah terinfeksi virus tersebut.

Selain itu melalui hubungan sex yang tidak aman dengan orang yang sudah terinfeksi virus itu, baik melalui vagina, mulut, maupun anus. Juga penularan dari seorang ibu yang sudah tertular HIV kepada janin yang dikandungnya selama kehamilan, dan pada saat melahirkan, juga pada anaknya saat menyusui.
Oleh karena itu virus tersebut tidak dapat menular dengan cara lain dalam semua jenis kontak sosial dengan orang yang sudah terinfeksi tersebut, ataupun gigitan nyamuk dan serangga, semuanya tidak menularkan.

Kampanye pencegahan selalu berkisar pada menghindari perilaku hidup yang tidak sehat. Kita diwajibkan untuk abstinance - absen atau berpuasa sex jika belum menikah. Bagi yang telah menikah diminta untuk be faithful – bersikap setia dengan pasangannya. Mengunakan kondom jika berhubungan sex dengan orang beresiko tinggi terinfeksi. Menghindari penggunaan narkoba terutama narkoba suntik merupakan anjuran berikutnya, selain selalu saling memberikan edukasi kepada orang-orang tersayang di sekitar kita.

Memang program penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia baru berjalan sekitar dua puluh tahun, sehingga respon pemerintah maupun kalangan masyarakat belum begitu serius. Sementara itu kerja virus ini begitu silent namun dahsyat penyebarannya, sehingga dalam waktu singkat di Batam saja misalnya, sejak tahun 1992 saat pertama kali kasus HIV ditemukan sampai dengan 2011 ini, sudah lebih dari dua ribu orang terinfeksi virus tersebut, dan saat ini terus mengancam kehidupan sosial, ekonomi, politik, keamanan, dan budaya kita.
Sudah sedemikian kasus HIV/AIDS di Batam, belum banyak masyarakat yang terlibat dalam penanggulangannya.

Justru orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA) bahkan sama saudara yang hidupnya beresiko (pekerja sex, pengguna narkoba suntik, gay, waria) mengalami stigma dan diskriminasi yang kuat oleh masyarakat, bahkan oleh sebagian petugas layanan kesehatan. Para pengambil kebijakan terkesan masih “lip service” karena masih tergantung pada bantuan luar negeri.
LSM Peduli AIDS berjalan tersendat dengan masalah klasik yakni dana. Belum ada gerakan yang terpadu dan seirama untuk itu. Masih terbaca ada “ego sektoral” yang menghantui semua komitmen bersama di ruang rapat untuk mengimplementasikan program-program yang telah disepakati bersama bagi masyarakat.

Optimisme Kita

Kita dapat optimis ketika belakangan ini melihat dan mengalami bahwa berbagai instansi pemerintah mulai “melek” program dengan adanya tujuan pembangunan millennium (Millennium Development Goals = MDGs) yang gencar disebut di mana-mana. Dengan adanya MDGs yang meliputi delapan komponen, di mana HIV/AIDS merupakan komponen keenam, telah membuat pemerintah semakin terfokus untuk meng”gol”kan tujuan-tujuan millennium tersebut agar masyarakatnya menjadi lebih sehat, sejahtera. MDGs telah menjadi sebuah “a bridge of care” – jembatan kepedulian pemerintah akan berbagai masalah masyarakat seperti kemiskinan, lingkungan hidup, pendidikan, kesehatan, termasuk HIV/AIDS.

Jika gerakan penanggulangan HIV/AIDS di Batam tidak didukung pemerintah kota dan DPRD dengan irama yang sesuai melalui komitmen dan bebijakan anggaran yang memadai maka hal ini dapat menghambat Strategi dan Rencana Aksi Nasional (SRAN). Seperti diketahui bahwa SRAN Penanggulangan HIV/AIDS 2010 – 2014 telah menetapkan empat tujuan khusus yakni pertama, meningkatkan upaya pencegahan HIV/AIDS pada semua populasi kunci.

Kedua, menyediakan dan meningkatkan pelayanan, perawatan, dukungan dan pengobatan bermutu, terjangkau dan bersahabat bagi Orang Dengan HIV AIDS (ODHA). Ketiga, meningkatkan akses dan dukungan sosial ekonomi bagi anak dan keluarga terdampak serta ODHA yang miskin. Dan keempat, menciptakan dan memperluas lingkungan kondusif yang memberdayakan masyarakat sipil untuk berperan secara bermakna, sehingga stigma dan diskriminasi terhadap populasi kunci, ODHA dan orang yang terdampak HIV dan AIDS berkurang. Apakah ini sebuah optimisme, atau sebaliknya sebuah sikap pesimistis yang mungkin dapat berjalan sukses? Adalah tanggungjawab bersama, dengan ujung tombaknya adalah kepemimpinan yang berpihak pada yang lemah. ***