Ada pemandangan menarik saat menyaksikan UN dilaksanakan di Sekolah Menengah Atas Luar Biasa (SMALB) Kartini Batam. Biasanya peserta UN sering mencarai berbagai cara untuk mendapatkan celah agar bisa menyontek sesama temannya. Namun berbeda dengan peserta UN SMALB Kartini Batam, mereka serius mengerjakan soal tanpa melihat kekiri dan kekanan, bahkan soal yang dikerjakan mereka lebih cepat dari waktu yang disediakan.
Peserta UN SMALB Kartini Batam tahun ini hanya diikuti sekitar 5 orang peserta, mereka merupakan siswa yang masuk golongan C (tuna grahita). Namun dari sisi pengamanan tak kalah ketatnya dengan peserta UN dilakukan pada SLTA umum, menggunakan pengawas UN memakai silang murni, dijaga ketat pihak kepolisian dan tim independen. Dan soalnyapun sama dijemput pagi hari di kantor Polsek setempat.
"Iya ada yang lebih cepat mengerjakan soal UN, padahal waktu yang kami sediakan cukup banyak. Malah dikasih dispensasi kelebihan waktu 45 menit lagi. Tapi saya sarankan agar mereka meneliti lagi soal UN yang dikerjakan," ujar Rio Nur Iwan pengawas UN dari MAN 1 Batam yang ditugaskan mengawas UN di SMALB Kartini.
Dari pengakuan kelima peserta UN bernama M Galih Utomo, Agus Subiyanto, Safa Rudin Acmad, Vindy Duanda Gira, dan Setiawan Bayu Santoso. Soal yang dikerjakan sebanyak 40 soal itu tidak begitu sulit baik bahasa Indonesia, Matematika maupun bahasa Inggris, mereka mengaku mengusai semua soal. Malah diantara mereka bernama Vindy berharap bisa lulusa dan mendapat nilai terbaik.
"Saya juga ingin lulus UN, makanya soal yang dikerjakan harus benar, meski hanya 30 soal yang dianggap saya benar," ujar Vindy sambil menggunakan bahasa insyarat dengan muka yang ceria. Bagi Vindy dan kawan-kawannya tidak mengerti istilah nyontek, mereka lebih percaya diri meski soal yang dibuat dari pusat karena materi yang disampaikan benar-benar sesuai dengan SKL UN diajarkan oleh gurunya.
Vindy tidak ingin orang mendiskriminasikan dirinya disebabkan cacat fisik, karena kemampuan dan keinginan sama dengan manusia normal. Vindy juga ingin punya masa depan yang baik. Meski mengaku masih bingung mau melanjutkan keperguruan tinggi mana yang cocok untuknya, atau kerja apa yang sesuai dengan skill dimilikinya.
"Pinginanya bekerja di kantor, tapi jarang perusahaan yang bisa menerima orang seperti saya. Begitu pula kalau kuliah bingung diteruskan kemana," kata Vindy dengan nama gagap terpatah-patah sambil tangannya melikuk-likuk dengan bahasa isyarat.
Keinginan yang sama juga disampaikan M Galih Utomo, ia ingin menjadi seorang fotografer handal dan ahli desain grafis. Maklum Galih mendalami ekskul fotografi dan desain di sekolahnya.
Sementara Kepala Sekolah SMALB Kartini Batam, Abu Lesi, menyatakan materi soal UN yang dikerjakan para siswa sesuai SKKD dipola lebih mudah dibanding soal UN SMA umum. Namun demikian persiapan UN di sekolahnya telah dilakukan awal Desember 2011 lalu. Mulai dari pendalaman materi soal hingga try out.
Dijelaskan Abu, SMALB menyelenggarakan UN sudah keempat kalinya dengan perolehan lulus 100 persen. Dan lulusan nanti akan memperoleh dua ijazah, yakni ijazah leguler dan ijazah kompetensi (skill). "Persoalannya sekarang ini, perusahaan terkadang kurang respon terhadap lulusan dari SMALB ini, padahal dari skill jauh lebih bagus dari pada yang normal," katanya. (men)
- PP Back to Zero
- Wujudkan SMKN 1 Go Internasional
- Semarak Sambut MTQ Kepri di Bintan
- Tamat SMA Hanya Jadi Nelayan
- "Mutu Baik, Pendidikan Akan Meningkat"
- IKSB Membawa Harapan Baru
- Forki Batam Sukses Gelar Turnamen
- TKA Launching Kapal TB Adara
- Oknum Anggota Dewan Rebutan STS
- Pendidikan Bermutu Bukan Karena Nilai UN Bagus
- Pertahankan RSBI Orentasi Sosial
- Marak Penambangan Pasir Darat di Bintan
- Memahami Trafiking dan Seks Komersial
- Ekonomi Batam Makin Lesu
- KPK Harus Selidiki Coastal Area
- Korban HIV/AIDS Terus Berjatuhan