Padahal mereka masih bersemangat untuk melanjutkan pendidikan, namun orang tua tak mampu membiayai. Begitupula halnya untuk mencari pekerjaan hanya tamatan SMA terbentur pengalaman kerja. Memang tidak semua tamatan SMA di pulau menjadi nelayan, malah ada beberapa orang yang melanjutkan kuliah. Itupun mereka jatuh bangun banting tulang sekuat tenaga mencari uang untuk biaya sekolah anaknya dari hasil tangkapan ikan, berternak dan bercocok tanam.
Salah seorang warga dari Pulau Air Raja mengaku kewalahan membiayai anak kuliah. "Pusing tujuh keliling deh mas (wartawan-red) saya membiaya anak agar bisa kuliah, satu bulan saja bisa Rp 400 ribu untuk biaya hidup dia, belum lagi biaya untuk sekolahnya persemester cukup tinggi," ujar Jamain yang anaknya sekarang kuliah di Universiatas Batam.
Tim Fokus Pendidikan saat itu ikut bersama rombongan siswa yang berkunjung ke pulau Air Raja dan pulau Rempang memberikan pelatihan IT bagi siswa SMP dan SMA. Bagi kedua pulau ini, pendidikan merupakan hal yang sangat mahal, terlebih lagi untuk melanjutkan pada pergurun tinggi. Meski ada beberapa siswa mendapat beasiswa belajar dari pemerintah, akan tetapi yang mendapatkannya hanya orang tertentu saja yang memang kerabat dari pihak Kelurahan atau Kecamatan. Beasiswa itu juga hanya diberikan satu tahun sekali, selebihnya ditanggung sendiri.
Sempat Tim Fokus Pendidikan Haluan Kepri mewawancarai beberapa pemuda lulusan SMA yang tidak melanjukan pendidikan kepergutuan tinggi dan kini membantu orang tuanya menjadi nelayanan. "Keinginan kuat untuk sekolah, tapi masuk PT cukup mahal. Sedangkan mata pencaharian orang tua saja hanya sebagai nelayan," jawab Galih yang mengaku tamatan dari SMAN 6 Batam itu.
Galih memang sangat menginginkan bisa kuliah, karena ia bercita-cita pingin jadi seorang insinyur kelautan biar dirinya bisa mngabdi bagi daerahnya. "Dari awal memang pingin saya jadi ahli bidang kelautan, biar bisa memberdayakan sumber daya alam (SDA) di daerah saya ini. Tapi sayang orang tua tidak mampu, lagian beasiswa dari pemerintah terbatas paling dijatah cuma dua orang. Itupun diperuntukan bagi kerabat yang kerja di Pemko Batam," kata Galih lagi.
Hampir sama dengan keinginan Imron dan pemuda lainnya yang ada di pulau itu. Rata-rata mereka selain ada yang jadi nelayan, malah ada juga yang menganggur. "Sekolah tinggi-tinggi, kalau hanya jadi nelayan buat apa, ilmunya juga tidak dipakai. Kalau hanya nelayan itu cukup tamat SD< biasa baca tulis juga sudah lumayan," kata dengan nada pesimis. (tim)
Newer news items:
- Kaleidoskop Kepri 2012
- Kaleidoskop Batam 2012
- 10 Tokoh Batam Dapat Penghargaan
- Wawancara dengan Kabid Disbudpar Syafaruddin, S.Sn, MM
- Kembangkan Potensi Alam Lingga Melalui KSCT
- 'Nasib' UMK di Tangan Gubernur
- Perjuangan Buruh Belum Usai
- PP Back to Zero
- Wujudkan SMKN 1 Go Internasional
- Semarak Sambut MTQ Kepri di Bintan
Older news items:
- "Mutu Baik, Pendidikan Akan Meningkat"
- IKSB Membawa Harapan Baru
- 'Kami Juga Ingin Lulus UN' UN SMALB Kartini
- Forki Batam Sukses Gelar Turnamen
- TKA Launching Kapal TB Adara
- Oknum Anggota Dewan Rebutan STS
- Pendidikan Bermutu Bukan Karena Nilai UN Bagus
- Pertahankan RSBI Orentasi Sosial
- Marak Penambangan Pasir Darat di Bintan
- Memahami Trafiking dan Seks Komersial


