Banyaknya ketidakpahaman masyarakat akan pentingnya membangun adat budaya daerah agaknya perlu sebuah penalaran terhadap pola pikir. Artinya, harus ditelusuri mengapa adat budaya daerah perlu dilestarikan.
Beberapa tahun ini, Kota Tanjungpinang telah memperlihatkan kesungguhannya dalam membangun budaya daerah. Melalui budaya, Kota Tanjungpinang telah dapat berbicara sampai ke tingkat Nasional. Untuk itulah, wartawan Haluan Kepri Rudi Yandri menggali informasi dari Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Tanjungpinang Syafaruddin, S.Sn, MM. Berikut petikan wawancaranya.
Assalamualaikum wak, eh maaf Pak Syafar.
Waalaikumsalam, ape hal ni?
Begini Pak, kan masyarakat selalu melihat pembangunan dari sudut fisik dan manfaat yang mereka rasakan secara langsung. Sementara pembangunan budaya tidak seperti yang mereka bayangkan. Bagaimana bapak menyikapi ini ?
Begini ya, pertama saya berbicara atas nama pribadi.
Jika itu baik maka baik untuk diri saya pribadi dan juga instansi saya, jika salah maka sayalah yang salah. Yang perlu dipahami adalah pengertian budaya itu sendiri. Budaya itu mudah diucapkan tapi sulit digambarkan. Budaya itu sebuah system. Semua yang menyangkut kehidupan kita adalah budaya. Yang telah mendarah daging lalu kita berbuat dengan tulang empat kerat ini, kemudian hasilnya adalah kebudayaan itu.
Kaitannya dengan pendapat masyarakat tadi Pak.
Nah…masyarakat hanya melihat di bagian ujung sebuah system kebudayaan. Kebudayaan itu kan terdiri dari system kebahasaan, system adat, system pemerintahan, system mata pencahariaan, perkakas, religi, dan kesenian. Empat system sudah digarap oleh berbagai lembaga. Dinas Kebudayaan kebagian system yang tidak menyangkut masalah fisik seperti kebahasaan, religi dan kesenian. Jadi ini dulu dipahami jika dinas Kebudayaan dan Pariwisata tidak menampakkan pembangunan fisik.
Oh begitu ya Pak,
Dan kalau ada yang mengatakan pembangunan budaya non fisik tidak ada manfaatnya adalah keliru. Kita lihat bangsa yang maju saat ini, semua melestarikan budayanya. Jepang, Korea, Cina, dan semua negara bangsa kembali kepada budayanya. Dan Negara yang tidak memiliki akar budaya, berusaha membuat budaya baru. Misalnya Amerika Serikat, Malaysia, mereka berusaha mengambil hasil kebudayaan lain, dipoles diperbaharui sesuai dengan selera mereka.
Tapi terbukti apa yang dilakukan Amerika dan Malaysia dapat memajukan negaranya.
Ya betul karena mereka dapat kuncinya. Ada kuncinya ya Pak? Ya ada,…. kreativitas. Budaya Korea, Jepang, Cina memberi kesempatan masyarakatnya untuk berkreativitas. Amerika Serikat membuka peluang masyarakatnya yang majemuk untuk berkreativitas. Contohnya Pak.? Tari Hula-hula dari Hawaii, awalnya hanya satu saja sebagai tari penyambutan tamu, tapi sekarang berbagai macam hula-hula.
Ada hula-hula di atas rakit, hula-hula pantai dan lain-lainnya. Malaysia juga begitu, mereka memberikan kesempatan kepada rakyatnya untuk berkreativitas. Mereka mengembangkan budaya leluhurnya. Karena akar budayanya ada di Indonesia, makanya orang Indonesia seperti kebakaran jenggot. Mengapa? Karena pembangunan budaya kita tidak memberikan kesempatan masyarakatnya berkreativitas. Masyarakat kita sudah menganggap hasil budaya nenek moyang sudah selesai dan tidak boleh diganggu lagi. Mereka pun terlena dan menjadi masyarakat yang tidak kreatif.
Saya mungkin salah seorang yang berdosa karena pernah mengajar tari pada anak dari Malaka dan menjelaskan kiat-kiat kreatifitas dalam tari.
Atau budaya kita tidak menunjang untuk kreatif Pak?
Siapa bilang? Buktinya budaya melayu di Malaysia berkembang pesat. Melayu itu kan kita. Kita yang ada di kepulauan Riau ini. Cuma permasalahannya selalu ada saja yang menghalangi. Selah-olah kebudayaan yang ada itu sebuah kitab suci yang tidak boleh dirubah.
Lihat Tari Zapin Penyengat. Dari dulu sampai sekarang tidak ada perubahan, sementara orang Johor sudah jauh meninggalkan kita. Saya bersyukur ya, perkembangan dunia tari melayu di Kepulauan Riau berkembang dengan pesat. Tidak bisa dipungkiri bahwa perubahan besar itu terjadi sejak tahun 1997. Dan Sanggar Sanggam adalah penggeraknya yang telah menyadari pentingnya kreativitas. Sehingga negeri kita ini tidak memalukan di kancah Nasional dan Internasional. Meskipun tahun-tahun sebelumnya sudah ada sanggar Bintan Telani, pimpinan Ayah Yim, Sanggar Kamboja pimpinan Amiruddin, tapi mereka masih berpegang pada pakem tari melayu lama.
Lantas apa upaya Bapak dalam meningkatkan kreativitas ini Pak?
Secara pribadi saya telah berbuat. Tahun 1993 saya telah memberanikan diri untuk membuat tari massal pembukaan PORSENI tingkat Kabupaten Kepulauan Riau. Pada tahun 2003 saya menghidupkan Kelompok Teater. Mulailah tumbuh grup teater dimana-mana. Saya berhenti, maka hilanglah kelompok yang tadinya mencoba berkiprah.
Mungkin tidak ada contoh kali ya. Setelah saya menangani budaya, saya bertekat untuk tidak membentuk sebuah grup, apapun itu namanya. Tujuannya agar tidak mengganggu netralitas saya. Tahun 2006 saya turut membidani lahirnya kegiatan GAWAI SENI, waktu itu Kepala Bidang Kebudayaan bapak Abdu Kadir Ibrahim. Secara kedinasan kami telah melahirkan kegiatan baru seperti Pentas Seni, Midyear Culture Parade, Gempita Fantasi Anak, serta mengangkat beberapa kesenian yang hampir punah seperti Makyong, Boria. Semua itu memberi peluang berkreativitas.
Tapi itukan hanya berlaku untuk para peminatnya saja Pak, sementara masyarakat yang lain kan tidak.
Masyarakat lain itu siapa? Kan orangnya itu-itu juga. Disana kan ada seniman, tukang ojek, penyiar radio, guru, pegawai, pedagang, buruh, nelayan. Yang merasa tidak tersentuh itu ya mereka yang tidak mau berkreativitas. Anda sendirikan sekarang menjadi kreatif dengan mewawancarai saya. (kami tertawa). Sekarang ada permainan gasing yang kami angkat. Orang yang kreatif tidak hanya memandang gasing sebagai sebuah permainan. Gasing itu sendiri sarat dengan kreativitas. Dia bisa dijadikan souvenir. Bisa dibuat tempat pena, bisa dibuat hiasan.
Tapi kan tidak menarik Pak ?
Ya diberi sentuhanlah. Nah untuk memberi sentuhan ini bukan tugas saya lagi. Itu tugas dari pengembang usaha kecil. Lha kalau kami juga yang harus melakukannya, nanti dibilang merebut kerja orang. Kalau saya yang mengusahakannya nanti dibilang rakus, tak puas dengan gaji pegawai. serba salah. Kemudian kami mengangkat makyong, yang dulu katanya sulit untuk dikembangkan. Ternyata anak kecil mampu memainkannya. Dan ternyata sentuhan kami tersebut mampu menggugah orang yang selama ini menekuni makyong untuk kembali berbuat. Hasilnya ternyata bagus. Saya merasa bersukur juga karena diakhir tugas pada dinas Kebudayaan dan Pariwisata, kami telah mampu membangkitkan kretivitas dikalangan generasi muda.
Oh,…. Sudah ada hasilnya ya Pak ?
Ya , walau hanya setitik air di lautan tapi telah member pencerahan. Misalnya dalam bidang kebahasaan, sudah banyak melahirkan sastrawan muda berbakat. Kalau dulu kan hanya sebelah tangan saja jumlahnya. Tapi sekarang tidak terkira lagi. Kita telah membangkitkan kepercayaan diri para piñata tari, sampai sukses ke tingkat Nasional. Ternyata apa yang dilakukan ternyata mampu membangkitkan kreativitas.
Jadi budaya melayu itu sangat mungkin untuk dikembangkan ya Pak ?
Kata kuncinya bukan “mungkin” tapi “dapat” dikembangkan. Sekarang kita racuni dulu masyarakat dengan berbagai kegiatan yang memacu adrenalin untuk berkreativitas. Sekarang kebudayaan akan dikembalikan ke rumah lamanya di Dinas Pendidikan. Kesempatan merasuki anak-anak dengan kegiatan budaya terbuka lebar melalui sekolah. Anak kita selama ini sudah seperti robot. Seolah-olah angka nol sampai sembilan itulah yang akan menghidupi mereka. Katanya supaya tidak ketinggalan dengan bangsa lain.
Kita tidak sadar bahwa bangsa lain itu memiliki kreativitas yang tinggi. Sementara kita mematikan kreativitas. Ini masalahnya. Jadi itu program bapak di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan? Ngacau kamu! Tapi saya akan menyokong siapa saja yang menakhodai Kebudayaan nantinya. Kami akan memberi masukan berbagai program seperti Aktualisasi Adat Budaya Daerah yang kegiatannya mengangkat beberapa bentuk budaya. Saat ini kami sudah mengangkat Makyong, Gasing, Layang-layang, tarian, music gazal, boria, yang terbukti telah mampu member nilai ekonomis pada pelakunya.
Apa hubungan dengan karakter bangsa nya Pak ?
Haaa, belum masuk ya? Saya teringat dengan cerita anak elang yang telurnya ditetas oleh induk ayam. Elang tersebut sampai dewasa bertingkah laku seperti ayam. Mengais untuk makan, berkotek dan tidak berani terbang. Padahal dia memiliki potensi untuk itu. Karakter kita saat ini seperti elang tersebut. Tidak berani mencoba, takut kualat. Padahal pengetahuan kita melebihi nenek moyang kita dahulu.
Nenek moyang kita memiliki tingkat kreativitas yang tinggi. Siapa yang menggunakan hurup arab menjadi tulisan jawi untuk menterjemahkan bahasa melayu dalam tulisan. Apa mungkin orang Cina, jepang? Tidak, itu pasti kerja orang Melayu. Siapa yang membuat sampan ceper untuk daerah berlumpur? Siapa yang membuat tata cara pernikahan seperti sekarang ini? Itu kerja nenek moyang kita orang Melayu. Potensi itu sudah ada. Lantas mengapa kita sekarang tidak sekreatif mereka sesuai dengan zamannya? Bangsa yang tidak memiliki akar budaya ternyata mampu memanfaatkannya. Kita harus menyadarkan diri kita untuk menggali kembali karakter bangsa kita yang kreatif tersebut.
Mengapa kita seolah-olah terlambat Pak ?
Bukan seolah-olah. Kita orang Melayu di Kepulauan ini telah mencapai puncak kejayaan budaya yang disebut Tamadun Melayu. Kesannya seperti tidak boleh diganggu gugat lagi. Saya teringat dengan seorang teman saya yang merobah kebiasaan penggunaan warna pada pelamin. Biasanyakan selalu menggunakan warna merah, hijau dan kuning. Nah teman saya ini merubah menjadi warna biru semuanya dengan diberi tekat manik-manik yang kontras serta kombinasi warna putih.
Ternyata modivikasinya itu disenangi orang dan laris sampai sekarang. Kemudian saya dengar Tamadun Melayu mau difestivalkan. Ini benar-benar keliru. Yang mau difestivalkan itu apa? Tamadun Melayu itu harus dikaji, dipelajari lalu dikembangkan. Bahasa orang putih civilization, atau peradaban. Mengapa harus dikaji dan dikembangkan Pak, untuk apa? Wah pertanyaannya ini menjebak saya. Nanti kalau saya banyak cakap kena cap pula. Tak apalah.
Peradaban itu bagaikan sebuah energy yang terus bergerak. Lalu sampai pada batas-batas tertentu akan terjadi keseimbangan, lalu vakum. Namun energy ini sesuai dengan hukum kekekalan energy dia tidak hilang, dia akan berubah dalam bentuk lain. Nah untuk menggerakkannya kembali perlu sentuhan dari sisi lain. Sekarang kita pada posisi vakum. Kita tidak berani merubah, persis seperti elang tadi. Kita memerlukan seorang creator yang berani memberi sentuhan itu.
Kita harus mampu menciptakan tamadun baru yang seratus tahun lagi akan menjadi kebanggaan cucu-cucu kita. Jangan sampai kita mewariskan “rumah kotak” seperti saat ini. Mengapa? Karena kita tidak pernah mengkaji peradaban orang melayu tentang rumah. Jangan kita wariskan budaya jahiliah kepada anak cucu kita. Mengapa karena kita tidak mengkaji Tamadun Melayu yang telah dicapai. Kita bangga dengan tamadun bangsa asing.
Kita lihat Jogjakarta dan Bandung. Dua daerah ini terkenal dengan tingkat kreativitas yang tinggi. Jangan kita kira pelaku kretivitas itu masyarakat setempat. Belum tentu. Justru pelakunya banyak orang yang berasal dari luar, mengapa? Karena mereka tidak dibatasi oleh peradaban yang Adi Luhung tersebut. Untuk memacu masyarakat setempat dibangunlah Perguruan tinggi seni. Dari sinilah kreativitas masyarakatnya dibangun kembali. Kita di Kepulauan Riau juga harus begitu. Harus ada lembaga pendidikan tinggi budaya untuk merubah pola pikir dan karakter masyarakatnya.
Menurut Bapak, apa yang harus dilakukan pada Festival Tamadun Melayu ?
Sudah, sudah, saya tidak mau berpolemik. Yang jelas apa yang saya dengar sepertinya harus didefinisikan kembali. Kalau tidak ingin kita ditertawakan orang. Itu saja ya sudah ya. Satu lagi pak.Tidak,tidak . Sudah cukup ya. Lain kali saja kita bicarakan tentang Tamadun Melayu yang mau di Festivalkan itu. Assalamualaikum.Share
Newer news items:
- Suka Duka Petugas Pemadam Kebakaran
- Jelang Imlek, Berburu Benda yang Mendatangkan Hoki
- Vihara Budhi Bhakti Tua Pek Kong Bao
- Polemik 'Blue Bird' Berakhir
- Menyusuri Sisa Kemegahan Istana Kota Rebah
- Kaleidoskop Politik Penuh Kejutan dan Kegaduhan
- Kaleidoskop Kepri 2012
- Kaleidoskop Batam 2012
- 10 Tokoh Batam Dapat Penghargaan
Older news items:
- Kembangkan Potensi Alam Lingga Melalui KSCT
- Perjuangan Buruh Belum Usai
- 'Nasib' UMK di Tangan Gubernur
- PP Back to Zero
- Wujudkan SMKN 1 Go Internasional
- Semarak Sambut MTQ Kepri di Bintan
- Tamat SMA Hanya Jadi Nelayan
- "Mutu Baik, Pendidikan Akan Meningkat"
- IKSB Membawa Harapan Baru
- 'Kami Juga Ingin Lulus UN' UN SMALB Kartini



