Jumlah wisatawan yang berkunjung ke tempat tersebut sejak bulan Juni hingga akhir Desember 2012 ini misalnya, sudah tercatat sebanyak 2.972 orang pengunjung.
"Itu yang tercatat, sedangkan yang tidak tercatat jumlahnya cukup banyak juga," ujar Said Parman Kepala Dinas Kebudayaan dan pariwisata (Disbudpar) Kota Tanjungpinang, kemarin.
Walikota Tanjungpinang bersama Kepala Disbudpar dan Kepala BUMD Kota Tanjungpinang melakukan kunjungan ketempat tersebut, Rabu (26/12) pagi. Ketika baru sampai di tempat itu, udara terasa sejuk dan segar. Ada empat unit rumah tradisional yang terbuat dari kulit kayu dilengkapi anak tangga seperti rumah kampung tempo dulu berjejer di pinggirnya.
Di ujung rumah terdapat pohon besar yang berusia sudah ratusan tahun, tapi tampak berdiri kokoh dan unik dengan kulit kayu berwarna putih. Di tempat ini pula sering dijadikan tempat berfoto oleh pasangan calon pengantin sebelum melangsungkan pernikahan (foto pra wedding), sedangkan kelilingnya tampak pohon enau dengan buah bulat berwarna hijau yang cukup lebat.
Di sana juga ada sebuah istana yang tinggal dindingnya saja. Istana tersebut saat ini diberi tiang penyangga agar tidak roboh dan juga terdapat beberapa buah makam. Walikota dan rombongan melanjutkan penulusuran ke hutan mangrove. Untuk mengelilingi mangrove sudah ada pelantar. Bila kita berjalan diatas pelantar tidak terasa sengatan matahari karena diselimuti hutan mangrove yang cukup lebat.
Kota Rebah selain bisa ditempuh dengan jalur darat juga bisa melalui jalur laut. Bila kita memandang ke bawah pelantar, akan tanpak air jernih nan tenang. Kedamaian alam dan kesejukan udara seputarnya menjadi pemikat pengunjung melangkahkan kaki ke objek wisata alam ini.
Suryatati tampak sangat menikmati perjalanan. Dia pun menginginkan agar objek wisata ini juga nantinya dilengkapi dengan taman bunga, dengan aneka warna bunga yang berasal dari setiap daerah di Provinsi Kepri. Selain itu juga harus ada mushalla, toilet dan tempat makan yang ditata dengan baik yang menunjukkan ciri khas Tanjungpinang.
Menurut petugas penjaga objek wisata mangrove Hulu Sungai Riau, objek wisata ini hampir setiap hari dikunjungi wisatawan. Semakin sore semakin banyak yang datang untuk sekedar duduk-duduk dan melihat matahari terbenam.
Selain dari Tanjungpinang, Kijang dan Uban, wisatawan domestik asal Daek, Dumai juga ada, bahkan wisatawan asal Singapura, Malaysia juga banyak yang datang. ***/Rudi Yendri. TanjungpinangShare
Newer news items:
- Suka Duka Petugas Pemadam Kebakaran
- Jelang Imlek, Berburu Benda yang Mendatangkan Hoki
- Vihara Budhi Bhakti Tua Pek Kong Bao
- Polemik 'Blue Bird' Berakhir
Older news items:
- Kaleidoskop Politik Penuh Kejutan dan Kegaduhan
- Kaleidoskop Kepri 2012
- Kaleidoskop Batam 2012
- 10 Tokoh Batam Dapat Penghargaan




