Imlek, Ramai Dikunjungi Warga Asing
Vihara Budhi Bhakti "Tua Pek Kong Bao" yang berada di Penuin, Batam merupakan salah satu vihara yang banyak dikunjungi oleh warga Tionghoa menjelang perayaan Imlek. Pengujung vihara ini tidak hanya masyarakat lokal tapi warga asing dari Singapura dan Korea.
Sudah Ramai Pengunjung (2/2), pasalnya vihara yang telah 20 tahun ini berdiri, akan mengadakan sejumlah acara keagamaan, untuk menyambut hari raya imlek, yang jatuh pada tanggal 10 Februari mendatang.
Andris sebagai staf vihara kepada Haluan Kepri mengatakan, 10 hari menjelang Tahun Baru Imlek, Vihara Budhi Bahkti telah ramai dikunjungi oleh masyarakat yang ingin merayakan Imlek.
Menurut Andris, perayaan sembahyang untuk melapas dewa, akan di gelar pada minggu malam (03/2) dan akan dihadiri oleh sejumlah warga Tionghoa.
"Acara sembahyang akan diadakan nanti malam, untuk memulangkan dewa, ketempat asalnya mereka yang ingin merayakan Imlek. Kami akan sembahyang mulai pada jam 20.00 wiba nanti malam," ujar Adris.
Sedangkan untuk pengunjung, setiap harinya vihara ini dikunjungi 30 orang warga lokal. Sedangkan warga negara asing, yang datang setiap hari mencapai 70 orang, yang terdiri dari warga Singapura dan Korea," tutur Andris.
Andris juga menjelaskan tentang asal-usul Hari Raya Imlek atau Sin Cia yang berasal dari negara Tiongkok. Tradisi ini kata Andris sudah dimulai jauh sebelum ajaran Tao, Khonghucu ataupun agama Buddha muncul dan berkembang di sana.
Dikatakan, di Tiongkok, dikenal empat musim, yakni musim semi (Chun), musim panas (He), musim gugur (Shiu) dan musim dingin (Tang). Siklus keempat musim tersebut secara indah diilustrasikan sebagai perjalanan hidup umat manusia yang diawali dengan lahir (semi), tumbuh menjadi dewasa (panas), usia lanjut (gugur) dan meninggal (dingin), yang pada hakikatnya menunjukkan kepada penganutnya bahwa kehidupan di dunia ini tidak kekal adanya. Untuk itu, seharusnya manusia yang hidup berdampingan, saling menghormati dan saling mengasihi.
Sedangkan untuk hidangan Imlek seperti kue-kue yang dihidangkan, kata Andris biasanya lebih manis daripada biasanya. Diharapkan, kehidupan di tahun mendatang menjadi lebih manis. Di samping itu, dihidangkan pula kue lapis sebagai perlambang rezeki yang berlapis-lapis.Kue mangkok dan kue keranjang juga merupakan makanan yang wajib dihidangkan pada waktu sembahyang menyambut datangnya Tahun Baru Imlek.
Biasanya kue keranjang disusun ke atas, dengan kue mangkok berwarna merah di bagian atasnya. Ini sebagai simbol kehidupan manis yang kian menanjak dan mekar seperti kue mangkok. Ada juga makanan yang dihindari dan tidak dihidangkan, misalnya bubur. Bubur tidak dihidangkan, karena makanan ini melambangkan kemiskinan.
"Tradisi menyambut Sin Cia biasanya sudah dimulai 15 hari sebelum Sin Cia, di mana ibu-ibu rumah tangga sudah mempersiapkan diri dengan membersihkan/mengecat rumahnya, sedangkan ritualnya dimulai seminggu sebelum jatuh hari raya imlek, dengan mengadakan upacara sembahyang di hadapan altar Dewa Dapur (Caokun Kong).
Andris mengatakan, Dewa akan naik ke surga untuk melaporkan baik dan buruknya perbuatan dari keluarga pemilik altar dan kepada yang sembahyang, dan bermohon agar seisi keluarganya dilaporkan hal-hal yang baik saja. Untuk itu kata Andris, biasanya dalam sembahyang tersebut disajikan makanan berupa manisan-manisan yang lebih istimewa dari hari-hari sebelumnya.Kemudian terang Andris, satu hari menjelang Sin Cia pada pagi hari, diadakan upacara sembahyang kepada para leluhur di hadapan altar sembahyang di setiap rumah.
Jika tidak memiliki altar leluhur, maka akan disediakan satu meja di pintu muka rumah sebagai altar untuk upacara. Dan pada malam harinya, seluruh anggota keluarga biasanya akan berkumpul di rumah orangtua, ataupun yang dituakan atau juga di rumah makan untuk makan malam bersama. Setelah makan malam, berbagai acara dilakukan untuk menyambut detik-detik tahun baru, seperti bakar petasan, atraksi barongsai serta sembahyang di kelenteng-kelenteng (vihara).
"Nah setelah itu pada esok hari(Imlek), akan berkumandang salam “Sin Chun Kiong Hi, Thiam Hok Thiam Siu, Ban Shu Ju I” yang disampaikan ketika menjumpai sanak keluarga dan handai tolan. Salam di atas (dialek Hokkian) artinya “Salam bahagia di musim semi yang baru, semoga bertambah rezeki dan panjang usia, semoga segala yang dicita-citakan dapat tercapai.” beber Andris.
"Kami juga menyediakan untuk upacara sembahyang Keng Thi Kong ini,seperangkat meja yang bentuknya tinggi, yang melambangkan menjunjung tinggi kepada Tuhan. Sajiannya berupa buah-buahan, manisan dan sayur-sayuran (tidak boleh disajikan makanan berupa daging dari barang bernyawa/hewan sembelihan). Buah-buahan yang umumnya disajikan adalah pisang mas (melambangkan hati yang jujur untuk mencapai keberhasilan), jeruk bali (melambangkan upaya untuk mencapai kesuksesan) dan sepasang tebu yang melambangkan keluarga yang hidup di dalam keharmonisan lahir dan batin. Demikian pula kue yang disajikan, biasanya kue mangkok yang berarti mekar rezekinya dan kue kura panjang usianya bagaikan kura-kura," tambah Andris.
Selain itu Andris juga mengatakan, pihak mereka setiap tahun mengadakan sumbangan sosial, untuk menambah berkah rezeki, yanb telah di berikan Dewa kepada mereka. Dan tentunya dengan menambahpernak-pernik dengan ciri chas warna merah, karena melambangkan keberanian dan kesejahtraan.
"Bagi yang berminat untuk ikut sembahyangbersama-sama dengan kami di Vihara Budhi Bhakti "Tua Pek Kong Bao" minggu malam akan diadakan sembahyang memeulangkan Dewa, siloahkan datang berkiwar mulainya pukul 20. 00 wib, yang akan di pandu oleh beberapa Lochu, yang berada di Jl Pembangunan blok 6 Winsor Batam," pungkas Andris. ***/Abdul Qodir. Batam
Share
- Melayu Square Bersolek
- Even KTA 2013 Diharapkan Tingkatkan Kunjungan Wisman
- Tutup Imlek dengan Cap Go Meh
- Suka Duka Petugas Pemadam Kebakaran
- Polemik 'Blue Bird' Berakhir
- Menyusuri Sisa Kemegahan Istana Kota Rebah
- Kaleidoskop Politik Penuh Kejutan dan Kegaduhan
- Kaleidoskop Kepri 2012



