Minggu05052013

Last update12:00:00 AM

Back Fokus Suka Duka Petugas Pemadam Kebakaran

Suka Duka Petugas Pemadam Kebakaran

Sering Dicaci, Bangga bisa Bantu Masyarakat

Menjadi petugas pemadam kebakaran lebih banyak duka ketimbang sukanya. Begitulah yang dirasakan petugas pemadam kebakaran di Kabupaten Karimun. Bahkan, tak jarang para petugas ini mendapat caci maki dari masyarakat jika dinilai terlambat datang ke lokasi kebakaran.


Begitulah ungkapan perasaan yang disampaikan Kepala Seksi Pemadam Kebakaran Kantor Satpol PP Karimun, Hendra Hidayat didampingi anggotanya Nanang dan Amir saat dijambangi Haluan Kepri di Kantor Pemadam Kebakaran Jalan Pertambangan, Tanjungbalai Karimun, Sabtu (16/2) kemarin.

Menurut Hendra, bekerja sebagai petugas pemadam kebakaran harus dengan sepenuh hati dan kesabaran yang tinggi. Kalau tidak, bisa tiap hari terjadi bentrok dengan masyarakat. Pasalnya, saat berada di lapangan para petugas terjerat dengan beban, emosi dan fikiran untuk membagi antara kondisi kebakaran dengan luapan emosi masyarakat yang kadang tak terkendali.

"Bekerja di bagian pemadam kebakaran itu memang banyak dukanya. Makanya, kami sudah dilatih untuk selalu bersikap sabar untuk menghadapi berbagai kondisi yang terjadi di lapangan. Mulai dari ketepatan waktu sampai ke lokasi kebakaran, hingga menghadapi kondisi masyarakat yang panik melihat rumahnya terbakar," kata Hendra.

Namun, bukan berarti tak ada sukanya, kata Hendra lagi, rasa suka yang dirasakan petugas pemadam kebakaran adalah ketika kembali dari tugas atau saat berada diatas mobil bersama tim satu kerja. "Nah, saat-saat itu kami merasa puas dan bangga sekali bisa membantu orang yang dalam kesusahan, tak jarang kami berteriak kegirangan dan bernyanyi bersama. Pokoknya, ada suatu kepuasan bathin," ungkapnya.

Amir anggota petugas kebakaran juga menyebut, begitu ada panggilan adanya kebakaran maka dalam kondisi apapun atau sedang melakukan kegiatan apapun saat itu harus segera ditinggalkan. Saat itu, yang ada dalam benak petugas hanyalah bagaimana mengedepankan tugas.

"Makanya, petugas pemadam kebakaran jarang yang memenuhi undangan pesta pernikahan karena mereka dituntut untuk selalu berada dalam tugas. Artinya, jika sewaktu-waktu ada panggilan terjadinya kebakaran, maka semua petugas harus selalu siap untuk berangkat ke lokasi kebakaran," ungkap Nanang anggota pemadam kebakaran lain menambahkan.

Apa yang disampaikan dua anggotanya itu diperjelas lagi oleh Hendra, menurutnya setiap anggota pemadam kebakaran sudah didoktrin untuk selalu berada di kantor. Tidak ada alasan bagi mereka meninggalkan kantor, kecuali betul-betul dengan alasan yang tidak bisa dihindarkan. Namun, harus ada petugas penggantinya.

"Saat ini, jumlah personil petugas pemadam kebakaran sebanyak 30 orang. Mereka dibagi dalam dua shift selama dua jam. Satu shift berjumlah 7-8 orang. Sisanya ada yang kebagian off. Nah, bagi anggota yang off bukan berarti bebas dari tugas, jika sewaktu-waktu diperlukan maka mereka siap diluncurkan ke lokasi kejadian," terang Hendra lagi.

Dirinya juga berusaha untuk memenuhi respontime standar nasional jarak waktu antara kantor dengan lokasi kejadian yang hanya memakan waktu 15 menit, namun itu harus dilakukan secara bertahap-tahap. Saat ini, pihaknya baru mampu menggunakan waktu tempuh 30 menit tapi perlahan-lahan akan terus dikurangi per menit.

"Kalau untuk di Karimun, respontime 15 menit itu masih belum bisa diterapkan, karena kondisi jalan di Karimun yang sempit, belum lagi kendala di masyarakat yang kerap mendahului mobil pemadam kebakaran, selain itu masih ada kurangnya kesadaran pengguna jalan untuk memberikan jalan bagi mobil pemadam kebakaran yang tengah melaju kencang ke lokasi kebakaran itu. Namun, perlahan-lahan respontime itu akan kami upayakan untuk tercapai," tegasnya.

Hendra juga menjelaskan, setiap pekerjaan memang penuh dengan resiko, begitu juga dengan bekerja di bagian pemadam kebakaran, namun selaku pimpinan dirinya berusaha meminimalisir resiko tersebut, baik resiko terhadap anggota dengan melengkapi semua anggota menggunakan safety (pengaman) saat bekerja.

Begitu juga dirinya berusaha mengurangi resiko dari dampak kebakaran. Maksudnya, jika terjadi kebakaran di suatu lokasi, maka pihaknya berusaha mengantisipasi agar kebakaran tersebut tidak sampai melebar ke lokasi lainnya. "Bukan berarti rumah yang sudah terlanjur terbakar tidak kita padamkan, tapi kita harus berusaha mencegah agar kebakaran tidak sampai melebar," jelas Hendra.

Menurut pria jebolan Universitas Bung Hatta Padang ini, kasus kebakaran yang paling banyak terjadi di Karimun adalah kebakaran lahan, bahkan lebih dari 60 persen dari total kasus kebakaran didominasi oleh kebakaran lahan. Dirinya menilai kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan masih rendah. Masyarakat seenaknya saja meninggalkan lahan yang mereka bakar.

"Untuk itulah, saya menghimbau kepada masyarakat Karimun untuk selalu menjaga lingkungan sekitar, kalau memang ada masyarakat membakar sampah atau membakar semak-semak, ya harus ditunggui sampai selesai, kalau memang rasanya membahayakan kepada lingkungan sekitar, harus cepat-cepat dipadamkan," ujarnya.

Hendra menjelaskan, data-data kasus kebakaran yang terjadi di Karimun selama rentang waktu lima tahun belakangan, mulai dari tahun 2008 terdapat 20 kasus, 2009 sebanyak 18 kasus, 2010 terdapat 72 kasus, 2011 terdapat 53 kasus, 2012 terdapat 64 kasus. Dan selama Januari 2013 terdapat 14 kasus, sementara selama Februari ditemukan 8 kasus. **/ Ilham,Karimun


Utamakan Tugas daripada Keluarga

TUGAS berat petugas pemadam yang kadang mempertaruhkan nyawanya dalam kobaran api sering kali tidak mendapat apresiasi yang baik oleh masyarakat. Keterlambatan petugas datang ke lokasi acap kali dijadikan alasan.

Meski sering tidak mendapat simpati dari masyarakat namun tidak menyurutkan semangat petugas pemadam kebakaran untuk membantu memadamkan api saat terjadi peristiwa kebakaran.

Firman, salah seorang petugas pemadam kebakaran di Tanjungpinang mengatakan, masyarakat sering menilai petugas pemadam selalu datang terlambat. Padahal, petugas telah berusaha secepat mungkin menuju lokasi namun berbagai kendala di lapangan membuat upaya penyelamatkan terlambat.

"Tidak jarang ketika mobil pemadam tiba di lokasi dengan suara sirine disoraki warga karena mereka menilai petugas terlambat sampai di lokasi," kenang Firman.

Menurut Firman, keterlambatan sampai di lokasi bukan disengaja tapi terlambatnya petugas mendapatkan informasi ditambah lagi kurangnya kesadaran masyarakat untuk memberikan jalan bagi mobil petugas pemadam kebakaran.

"Kami selalu siap siaga di pos untuk menanti laporan adanya peristiwa kebakaran. Ketika bertugas selalu mengedepankan keselamatan masyarakat dan berniat tulus membantu masyarakat meski resiko yang dihadapi cukup berat," ujar Firman.

Anggota pemadam kebakaran lain Suherman, juga menuturkan hal yang sama. Banyak suka duka yang dialaminya selama menjalankan tugas sebagai petugas pemadam kebakaran. Namun yang lebih banyak pengalaman dukanya.

"Pernah suatu kali saat terjadi kebakaran, setiba di lokasi kami malah dipukul warga karena datang terlambat. Namun kami menerima hal itu dan tetap melakukan upaya pemadaman," ceritanya.

Dikatakan Suherman, jika terjadi kebakaran, kerja si jago merah dalam menghanguskan sebuah rumah tipe standar 36hanya butuh waktu sekitar 15 menit. Sementara petugas datang ke lokasi harus menunggu informasi dengan jarak tempuh dan kondisi jalan yang kadang kala menyulitkan untuk dilalui.

"Namun hal itu tidak menjadi alasan bagi kami malah membuat kami menjadi sigap. Bila terjadi keterlambatan sampai di lokasi bukan kami sengaja. Namanya juga petugas Pemadam Kebakaran yang kerjanya untuk memadamkan api bukan petugas pencegahan kebakaran," canda Suherman.

Menurutnya, informasi kejadian kebakaran yang diperoleh petugas terkadang tidak lengkap ditambah lagi dengan kondisi jalan Kota yang sempit. "Kami juga menjaga keselamatan pengendara lain ketika mobil pemadam lewat menuju ke TKP dan menjaga keselamatan anggota yang berada di belakang," papar Suherman.

Suherman bercerita, banyak pengorbanan yang telah Ia lakukan dalam menunaikan tugas seperti meninggalkan anak yang sedang diOpname di Rumah Sakit. Padahal sesampai di lokasi kebakaran nyawa menjadi taruhan karena kalau tidak hati-hati beresiko terkena bangunan yang ambruk atau tabung gas meledak.

"Kami juga pernah mengalami kejadian unik usai melaksanakan tugas. Ketika itu pernah salah alamat akibatnya mobil pemadam mutar-mutar. Ada juga informasi palsu ketika sampai di lokasi ternyata tidak ada kejadian apa-apa. Kami juga pernah ditelpon untuk membantu kucing warga yang terjebak di atas pelapon rumah," cerita Suherman.

Di balik suka duka itu, imbuh Suherman, dirinya bangga dengan pekerjaan sebagai petugas pemadam kebakaran karena dapat menolong masyarakat yang sedang dalam musibah.

"Kami utamakan untuk masyarakat dari pada keluarga bila ada bencana karena kami dididik semi militer untuk masyarakat," tutup Suherman. ***

Telah Ada Sejak Zaman Romawi

Sejarah berdirinya dinas pemadam kebakaran ini ternyata sudah dilakukan sejak dulu, yaitu sejak zaman Romawi kuno. Ternyata orang-orang pada zaman Romawi ini sudah mulai berfikir tentang perlunya usaha pencegahan kebakaran, maka didirikanlah suatu departemen untuk memadamkan kebakaran oleh Enatius Rufus.

Mungkin karena pekerjaan ini terlalu berisiko, maka orang-orang Romawi mengambil budak-budak untuk dijadikan pekerja untuk memadamkan api yang membakar bangunan-bangunan di Romawi.

Tidak seperti zaman sekarang yang sudah menggunakan peralatan canggih untuk memadamkan api, pada zaman Romawi kuno peralatannya hanya menggunakan ember yang diestafetkan dari satu orang ke orang lainnya. Selain memadamkan api, ternyata departemen kebakaran pada zaman ini bertugas untuk menjatuhkan hukuman kepada orang-orang yang melanggar aturan negara. Jenis hukuman tersebut, apalagi kalau bukan hukum bakar.

Dinas pemadam kebakaran pertama kali di bentuk di dunia modern atau tepatnya di Amerika Serikat, yaitu pada 1736 sekitar abad ke-18 dan sebagai pendirinya yaitu Benjamin Franklin yang juga Presiden Amerika Serikat.

Lalu pada akhirnya dinas pemadam kebakaran ini berkembang menjadi suatu organisasi yang sangat penting di dalam suatu negara. Masyarakat terkadang sering kali mengesampingkan para petugas pemadam kebakaran, padahal segala penyelamatan yang mereka lakukan sangatlah berisiko bagi diri mereka. Terkadang mereka harus mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkan orang atau harta benda.

Sampai saat ini, dinas pemadam kebakaran sudah sangat maju baik dalam pelaksanaan tugasnya maupun dalam pengadaan peralatannya yang semakin canggih. Dengan ditunjang segala peralatan canggih tersebut, sangat dimungkinkan meminimalisir kecelakaan kerja yang terkadang menghantui mereka dalam menyelamatkan orang sebanyak-banyaknya.

Kemajuan dinas pemadam kebakaran yang berkembang di dunia saat ini, khususnya di negara maju, ternyata tidak terlalu diikuti oleh pemerintah Indonesia. Bahkan bisa dibilang sangat memprihatinkan.

Hal itu bisa dilihat dari segi kesejahteraan para anggota maupun peralatan untuk menunjang aksi mereka dalam menghadapi bahaya. Sudah seharusnya pemerintah memperhatikan kesejahteraan para anggota pemadam kebakaran ini, entah itu kesejahteraannya atau pun segala peralatan untuk penunjangnya.

Indonesia sebagai negara yang mulai berkembang baik dari segi pembangunannya maupun bidang lainnya harus sudah bisa mengembangkan dinas yang satu ini. Apalagi Indonesia berada di antara zona bencana yang pastinya membutuhkan segala bantuan dari dinas pemadam kebakaran.

Terlepas dari peran pemerintah mengenai dinas pemadam kebakaran ini, maka sudah sepatutnya kita menghargai segala jerih payah para anggota pemadam kebakaran tersebut. Karena merekalah yang akan berada di garis depan jika ada suatu bencana; khususnya kebakaran dan bencana lainnya. (dsb)

Share