Cap Go Meh melambangkan hari kelima belas dan hari terakhir dari rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek bagi komunitas kaum migran Tionghoa yang tinggal di luar China. Istilah Cap Go Meh berasal dari dialek Hokkien yang bila diartikan secara harafiah bermakna 15 hari atau malam setelah Imlek.
Menurut Wiliam yang merupakan tokoh Muda Tionghoa Tanjungpinang menerangkan, bila di penggal per kata dari kata cap go meh adalah, Cap yang mempunyai arti sepuluh, Go adalah lima, dan Meh berarti malam. Cap Go Meh juga sering disebut Yuan Hsiao Cieh atau Shang Yuan Cieh dalam bahasa Mandarin.
"Perayaan Cap Go Meh tidak hanya dirayakan di Indonesia saja. Beberapa negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura, dan juga tentunya Negara Cina sendiri juga merayakan hari raya ini dengan berbagai kegaitan," jelas Wiliam Sabtu (23/2).
Dijelaskan Wiliam, di negara China, festival Cap Go Meh dikenal dengan nama Festival Yuan xiao atau Festival Shangyuan. Sedangkan di Hong Kong dan Vietnam, di kenal dengan nama Festival Yuen Siu dan Nguyên Tiêu. Bahkan di beberapa negara, perayaan ini sering kali disamakan dengan hari raya Valentine versi China.
"Perayaan ini awalnya dirayakan sebagai hari penghormatan kepada Dewa Thai-yi. Dewa Thai-yi sendiri dianggap sebagai dewa tertinggi di langit oleh Dinasti Han (206 SM – 221 M). Upacara ini dirayakan secara rutin setiap tahunnya pada tanggal 15 bulan pertama menurut penanggalan bulan yang merupakan bulan pertama dalam setahun. Upacara ini dahulu tertutup hanya untuk kalangan istana dan belum dikenal secara umum oleh masyarakat China," jelas Wiliam yang aktif dikeorganisasian kepemudaan Tionghoa di Tanjungpinang.
Dia juga menjelaskan, upacara ini harus dilakukan pada malam hari, maka harus disiapkan penerangan dengan lampu-lampu dari senja hari hingga keesokan harinya. Inilah yang kemudian menjadi lampion-lampion dan lampu-lampu berwarna-warni yang menjadi pelengkap utama dalam perayaan Cap Go Meh.
"Ketika pemerintahan Dinasti Han berakhir, perayaan ini menjadi lebih terbuka untuk umum. Saat China dalam masa pemerintahan Dinasti Tang, perayaan ini juga dirayakan oleh masyarakat umum secara luas," beber Wiliam
Wiliam juga mengatakan, festival ini adalah sebuah festival dimana masyarakat diperbolehkan untuk bersenang-senang. Saat malam tiba, masyarakat akan turun ke jalan dengan berbagai lampion berbagai bentuk yang telah diberi variasi.
"Di malam yang disinari bulan purnama sempurna, masyarakat akan menyaksikan tarian naga (masyarakat Indonesia mengenalnya dengan sebutan Liong) dan tarian Barongsai. Mereka juga akan berkumpul untuk memainkan sebuah permainan teka-teki dan berbagai macam permainan lainnya, sambil menyantap sebuah makanan khas bernama Yuan Xiao. Tentu saja, malam tidak akan menjadi meriah tanpa kehadiran kembang api dan petasan. Pada malam itu, para tua dan muda seolah “diwajibkan” untuk bersenang-senang," ungkap Wiliam.
Yuan Xiao sendiri terang Wiliam, adalah sebuah makanan yang menjadi bagian penting dalam festival tersebut. Yuan Xiao, atau juga kerap disebut Tang Yuan, adalah sebuah makanan berbentuk bola-bola yang terbuat dari tepung beras. Selain makan tersebut biasanya orang Tionghoa menyiapkan makanan nasi pulut kuning dan disantap setelah melakukan sembahyang dan dimakan seluruh keluarga besar bersam-sama.
"Bila di tilik dari namanya, Yuan Xiao mempunyai arti “malam di hari pertama”. Makanan ini melambangkan kebersatuannya sebuah keluarga besar yang memang menjadi tema utama dari perayaan hari raya Imlek," tutup Wiliam. ***/ Sutana, Tanjungpinang.
--
Ajang Berkumpul dengan Kelurga
Sepekan setelah perayaan Tahun Baru Imlek 2564/2013, warga Tionghoa yang berada di Tanjungpinang sudah mulai melakukan persiapan perayaan lainnya, yaitu Cap Go Meh. Ritual untuk menolak bala dan sebagai ajang berkumpulnya sanak saudara dan sebagai mempererat tali silaturahmi. Berbagai hiasan baik di kelenteng maupun rumah-rumah masing warga Tionghoa akan semarak.
Jhon Anton, salah seorang tokoh Tionghoa mengatakan bahwa Cap Go Meh adalah ritual membersihkan diri dari berbagai dosa dan kesalahan setahun yang lalu. Diharapkan dengan ritual ini, usaha di tahun ular air bisa berjalan lancar.
"Cap Go Meh melambangkan hari ke-15 dan hari terakhir dari masa perayaan Imlek yang sudah dilaksanakan turun temurun sejak 200 tahun yang lalu. Biasanya perayaan Cap Go Meh selalu diisi dengan berbagai kegiatan, seperti pesta lampion dan sebagainya. Itu adalah ungkapan kegembiraan dan kebahagiaan dalam menyambut tahun yang baru," ungkap Jhon belum lama ini.
Ritual yang dilakukan, lanjutnya, sekaligus sebagai ucapan terima kasih atas segala rahmat sepanjang tahun dari Sang Maha Pencipta. Bisanya saat sejak imlek dan terakhir cap go meh seluruh keluarga akan kumpul, baik yang berada jauh diperantauan akan menyempatkan diri untuk pulang kampung.
"Sebelumnya keluarga besar akan melakukan sembahyang terlebih dahulu baik di vihara, kelenteng bahkan dirumah masing-masing, dengan tujuan untuk meminta kepada Tuhan Yang Maha Esa agar di Tahun Ular Air ini, seluruh keluarga dapat diberikan kesehatan dan rezeki yang berlimpah," ungkapnya.
Hal yang sama disampaikan oleh Merry warga KM 8 Tanjungpinang, perayaan cap go meh semoga membawa kebaikan bagi seluruh keluarga baik dalam usaha maupun sekolah anak-anak, dan sekaligus saya juga memohon dibersihkan dari dosa yang telah dilakukan selama setahun lalu.
"Cap go meh juga merupakan ajang berkumpulnya seluruh keluarga baik yang jauh di perantauan bila sempat datang, begitu juga keluarga yang dekat," jelas Merry.
Di juga menjelaskan, cap Go Meh menjadi ritual penutup setelah Tahun Baru Imlek. Berbeda dengan ritual kebanyakan, saat menyambut Cap Go Meh, warga etnis Tionghoa hanya mengisi kegiatannya dengan sembahyang biasa dan tentunya berbagai makanan khas menjelang cap go meh telah disiapkan.
"Kami jauh hari telah menyiapkan berbagai makanan khas menjelang cap gomeh, tentunya yang lebih penting lagi yakni alat sembahayang juga tidak ketinggalan untuk memanjatkan doa bersama," tutup Merry.
Sementara itu Beni, salah seorang tokoh Tionghoa yang juga sebagai anggota DPRD Kota Tanjungpinang mengatakan, menyambut Cap Go Meh di hari ke-15 setelah Imlek nanti, hanya dijadikan sebagai momen untuk membersihkan diri dengan cara memanjatkan doa sambil berkumpul dengan keluarga besar.
"Biasanya saya hanya melakukan sembahyang untuk berdoa buat penghapusan dosa-dosa tahun lalu, dan juga berdoa buat penolak bala di masa yang akan datang," kata Beni ditanya tentang persiapannya menyambut Cap Go Meh belum lama ini.
Beni juga menuturkan, selain melakukan sembahyang sebagai penghapus dosa di masa lalu, ajang cap go meh juga merupakan ajang kumpul bersama keluarga yang paling diutamakan. Karena, setelah habis malam Cap Go Meh, keluarga yang merantau akan kembali ke kota rantaunya.
"Pada Cap Go Meh tahun ini, keluarga kami pada kumpul semuanya di satu tempat pada malam hari. Acara itu menjadi malam perpisahan sebelum setiap dari kami kembali ke kota rantaunya masing- masing," ujar Beni lagi. ****
Sejarah Perayaan Cap Go Meh
Cap Go Meh adalah perayaan malam ke-15 setelah Tahun Baru Imlek, yang di tahun ini jatuh pada 17 Februari 2011. Cap Go Meh mulai dirayakan di Indonesia sejak abad ke 17, ketika terjadi migrasi besar dari Tiongkok Selatan.
Cap-Go-Meh sebenarnya adalah istilah Hokkian, yang artinya “malam 15.” Di daratan Tiongkok sendiri, dinamakan Yuan Xiau Jie dalam bahasa Mandarin, yang artinya festival malam bulan pertama. Pada zaman dinasti Han dahulu (202 SM - 220 M), pada malam Cap Go Meh tersebut, biasanya sang kaisar sendiri khusus keluar istana untuk turut merayakan bersama dengan rakyatnya.
Setiap tradisi budaya selalu memiliki asal- usul. Salah satu versi asal muasal Cap Go Meh terjadi pada zaman dinasti Zhou (770 - 256 SM). Setiap tanggal 15 malam bulan pertama setelah Imlek, para petani memasang lampion-lampion yang dinamakan Chau Tian Can di sekeliling ladang untuk mengusir hama dan menakuti binatang-binatang perusak tanaman.
Ketika itu tujuan memasang lampion-lampion tersebut adalah untuk mengusir hama. Namun di masa kini justru menjadi suatu tradisi yang menampilkan pemandangan yang indah di malam hari tanggal 15 bulan pertama.
Ketika itu untuk menakuti atau mengusir binatang-binatang perusak tanaman, selain memasang lampion, mereka menambah segala bunyi-bunyian serta bermain barongsai, agar lebih ramai dan bermanfaat bagi petani. Kepercayaan dan tradisi budaya ini terus berlanjut secara turun menurun, baik di daratan Tiongkok maupun di perantauan di seluruh dunia.
Sedangkan di Indonesia, selain terdapat acara pawai arak-arakan keliling, terdapat ciri khas lain, yaitu makanan lontong cap go meh, yang terutama banyak terdapat di masyarakat Jawa. Lontong cap go meh terdiri dari berbagai jenis makanan, yaitu lodeh, opor, sate abing, ditambah lontong dan bubuk kedelai.
Sebutan Cap Go Meh sendiri lebih dikenal di Indonesia daripada di tempat mana pun di dunia. Cap Go Meh sendiri sebenarnya adalah penamaan yang salah kaprah yang mungkin sudah beratus tahun sehingga menjadi benar karena tradisi. Cap go meh artinya adalah “malam ke 15” yaitu tanggal 15 bulan pertama, yang disebut dalam dialek Hokkian “cia gwee cap go”.
Perayaan ini merupakan puncak perayaan sekaligus penutup dari serangkaian perayaan Imlek. Di Indonesia sendiri, sejak dulu orang lebih kenal dengan sebutan Cap Go Meh daripada sebutan lain walaupun dalam versi aslinya.
Perayaan Cap Go Meh di kota-kota besar di Indonesia kembali marak sejak era keterbukaan 10 tahun belakangan ini. Perayaan Cap Go Meh pernah mencapai masa keemasan yang dirayakan segenap lapisan masyarakat, suku dan agama terjadi di tahun 1950-1960.
Masing-masing kota di Indonesia memiliki ciri khas masing-masing dalam merayakan Cap Go Meh ini. Di Jawa terutama, dikenal dengan menyajikan hidangan khas lontong cap go meh. Di Medan juga lain lagi, sembahyang di kelenteng mendominasi kegiatan di malam Cap Go Meh ini. (jof/net)





