Kamis04252013

Last update12:00:00 AM

Back Fokus wanita-Wanita Perkasa, Saliah Nenek Yang Tidak Pernah Menyerah

wanita-Wanita Perkasa, Saliah Nenek Yang Tidak Pernah Menyerah

TANJUNGPINANG (HK) - Pajar pagi baru saja beranjak dari peraduannya, suara kokok ayam terdengar dari kejauhan saling bersahutan untuk membangunkan orang-orang yang terlelap tidur dalam istirahatnya, begitu juga nyayian burung mulai terdengar dari rimbunan pepohonan menandakan pagi telah datang.
Sementara Saliah (80) yang merupakan warga Jalan Usman Harun Teluk Keriting Tanjungpinang, menjelang sholat subuh telah bangun untuk mandi dan menunaikan sholat subuh, usai sholat saliah yang terlihat masih sehat diusianya yang tidak lagi muda ini menyiapkan sarapan dan keperluan lainnya itulah yang dilakukan setiap harinya.

Menjelang pukul 5.30 WIB nenek yang mengaku memiliki 12 anak sedangkan cucu sekitar 30 anak dan cicit 10 anak ini bergegas mempersiapkan perlengkapan keperluan untuk menangkap udang di laut dengan cara di sondong disekitar laut teluk keriting. Hampir seluruh masyarakat di sana telah mengenalinya seabagi wanita penyondong udang.

Diusianya yang sudah berumur 80 tahun ini Saliah terlihat masih sehat dan kuat, pendengaran masih baik penglihatannya juga baik serta tuturkatanya masih normal dan juga saat jalan kaki masih terlihat kuat.

Saat dijumpai dirumahnya yang sederhana di Teluk Keriting, Jumat sore (19/4). Saliah tengah menunggui warung yang tidak seberapa besar, menurutnya pekerjaanya menyondong udang sudah dilakukan semenjak suaminya telah tiada, hal itu demi menutupi kebutuhan kelauarag yang saat itu harus menanggung 12 anak.

"Pada saat itu, untuk menutupi kebutuhan sehari-hari selain menyondong udang pada pagi hari dan siangnya melakukan pekerjaan apa yang disuruh oleh tetangga seperti mencuci dan lainnya. Saat itu sekitar umur 45 tahun sangat susah sekali karena banyaknya anak yang harus diurus dan bapak sudah tidak ada," kenangnya.

Saliah juga menceritakan, selain menyondong serta mengerjakan apa yang disuruh oleh tetangganya untuk mendapatkan uang, juga berjulan kue tradisional dengan cara dijual sendiri dengan kelililng dan juga ada yang dititipkan kewarung-warung.

"Memang tidak seberapa penghasilan dari membuat kue tradisional saat itu, tapi lumayan bisa untuk menambah keperluan keseharian. Memang pada saat itu dibantu oleh anak-anak yang sudah beranjak dewasa, tetapi mereka harus sekolah sehingga tidak penuh membantu dirinya," ujarnya dengan suara lirih.

Dia juga mengatakan, hasil dari menyondong udang pada saat itu langusng dijual baik kepada tetangga dan juga kalu tangkapannya lumanyan banyak pergi menjual kepasar dan tentunya menyisakan untuk makan dirumah untuk anak-anak.

"Dari menjual tangkpan udang tersebut, bisa untuk membeli beras dan keperluan lain anak-anak, dan tentunya bila ada sisa disimpan untuk keperluan anak sekolah, saat itu harus benar-benar prihatin dan menghemat," bebernya.

lanjut Saliah, kadang pada musim hujan atau gelombang laut sedang tinggi sama sekali tidak meyondong udang. Kadang seminggu hanya berapa hari saja menyondong. Makanya saat itu bekerja sama tetangga untuk mendapatkan uang untuk keprluan sehari-hari.

"Dulu susah, harus banting tulang betul-betul agar bisa mencukupi kebutuhan. Memang suaminya dulu kerja di Kantor Bupati Bintan dulu masih bergabung di Provinsi Riau dan mendapatkan uang pensiun pada tahun 82 hanya Rp70 ribu, mangkanya untuk menghidupi keluarga harus bekeraja giat, dan saya bersyukur anak-anak bisa menamatkan sekolah semuanya walau hanya tamatan SMA" ungkapnya lagi.

Menyondong udang tutur Saliah masih dilakukan hingga saat ini, dan dilakukan tidak seperti dulu pagi-pagi buta, sekarang menyondong dilakukan hanya dua atau tiga jam saja dan turun kelaut sekitar pukul 6 pagi.

"Hasil tangkapan dari menyondong sekarang tidak seperti dulu, bila dulu tangkapan menyondong bisa dapat sampai 3 kilo, tapi sekarang bila hari baik dan cuacanya bagus paling banyak hanya dapat 1 kilo atau 1,5 kilo. Malah tadi pagi saat turun sudah berjalan 1 jam lebih hanya dapat 5 ons saja makanya cepat pulang," ungkapnya.

Ia juga mengatakan, memang anak-anak sudah melarang turun kelaut untuk meyondong karena sudah tua. Tapi bila tidak bergerak badan ini rasaya gimana seperti sakit, mangkanya setiap hari turun kelaut untuk meyondong.

"Anak-anak sudah melarang, agar saya tidak usah melaut lagi, tetapi mungkin ini sudah biasa dilakukan sejak muda, bila tidak menyondong ada yang kurang dan pekerjaan ini akan dilakukan sampai sudah tidak kuat lagi," ucapnya. (Sut)

Permpuan Tangguh Bekerja Di Percetakan Batu Bata

TANJUNGPINANG (HK) - Sejak pagi tangan-tangan terampil dan tangguh ini melakukan pekerjaanya kesehariannya. Para kaum hawa tak canggung dalam melakukan pekerjaan yang sejatinya dikerjakan kaum pria. Dengan menggunakan gerobak para wanita tangguh ini terasa tidak merasa canggung mendorongnya begitu juga saat menyusun batu bata merah tersebut untuk dibakar dan juga saat akan menaikan dalam truk-truk.

Ada sekitar 20 pekerja kaum hawa bekerja di sebuah percetakan batu bata merah di Kampung Lembah Rantau KM 9 Tanjungpinang. Mereka begitu cekatan saat mengangkut dan menyusun batu bata tersebut baik saat akan melakukan pembakaran dan juga saat menaikan bata merah yang sudah siap kedalam truk pengangkut.

Mereka bekerja dari mulai pukul 7.30 hingga pukul 17.00 dan bila ada leburan maka mereka akan mengerjakan dengan sistim borongan dan dilakukan hingga pukul 18.00 kadang sampi lebih untuk mengisi bata yang mentah kedalam tungku pembakaran (biasa orang Tanjungpinang memanggilnya tobong bata).

Salah satunya Maryamah yang telah bekerja di percetakan batu bata merah tersebut sekitar tiga tahun dan sudah sangat hapal dan juga terbisa. Maryani mengatakan, memang ini satu-satunya pekerjaan yang bisa dilakukan sekarang ini sebagai mata pencaharian serta untuk membantu suami yang juga bekerja disini.

"Dengan bekerja disini, tentunya dapat membantu penghasilan suami untuk mencukupi kebutuhan keluarga, karena anak-anak masih sekolah yang memerlukan biaya dan juga kebutuhan keseharian lainnya," terangnya disela pekerjaannya yang tenagh mengangkut bata mentah yang siap untuk dibakar belum lama ini.

Lumayan dari pada nganggur ucap Maryamah, habis bagaimana lagi penghasilan suami untuk menutupi keluarga masih kurang karena biaya kebutuhan sekarang bukannya rendah. Malah semakin hair harga-harga kebutuhan pokok semakin tinggi belum lagi biaya anak untuk sekolah.

"Namun pekerjaan ini, saya terima dan terimakasih kepada pemilik pabrik ini yang telah meneriamanya bekerja disini. Dari bekerja disini bisa menutupi kebutuhan keluarga dan juga tentunya bisa menabung walau sedikit," ucap Maryamah yang merupakan warga Madura dan telah lama tinggal di Tanjungpinang.

Sementara itu pekerja yang sama Asih mengatakan, dengan bekerja begini tentunya dapat membantu suami dan juga kebutuhan kelauarga dapat terpenuhi. Dan hanya ini yang bisa dilakukan dalam melakukan pekerjaan selain ibu rumah tangga.

"Alhamdulillah, dengan bekeraja begini bisa membantu bapak untuk menutupi kebutuhan anak-anak dan juga kebutuhan keseharaian. setidaknya dengan bekerja begini bisa menyekolahkan anak dikampung, dan juga bisa menyimpan untuk biaya sekolah anak yang lebih tinggi lagi nantinya," ungkap Asih yang terlihat begitu semangat dalam bekerjanya.

Asih juga mengatakan, dari penghasilan bekerja disini seharinya bisa dapat upah Rp52 ribu sehari belum lagi ditambah bila kerja lembur bisa mengantongi uang kerumah Rp65 ribu sampai Rp70 ribu dan ini sangat bersyukur sekali.

"Lumayan sekali dengan penghasilan ini, namun terkadang tidak bisa bekerja bila mana musim penghujan, karena bata yang sudah dicetak lama keringnya sehingga kami-kami pekerja disini menganggur sementara. Namun bila cuaca panas tentunya bata yang dicetak cepat kering dan kami lancar bekerja dan tentunya dapat penghasilan yang rutin," ungkapnya lagi.

Dia juga menambahakan, karyawan disini tinggal di mes sehingga tidak begitu merisaukan tempat tinggal, dan tentunya tidak perlu tambahan biaya untuk menyewa rumah karena telah disiapkan oleh pemilik perusahaan ini.

"Saya juga, membawa anak yang paling besar untuk bekerja disini, karena anak yang paling besar hanya lulusan SMP karena tidak bisa melanjutkan sekolah karena tidak ada biaya. Tetapi adik-adiknya yang lain harus tetap sekolah agar tidak seperti bapaknya dan saya," ungkapnya.

Sementara itu pemilik percetakan batu bata merah Acang mengatakan, ada sekitar 20 perempuan yang bekerja disini, dan mereka adalah perantauan yang telah lama tinggal di Tanjungpinang dan juga dari daerah lain.

"Mereka sangat membutuhkan pekerjaan dan pekerjaan yang bisa dilakukan hanya ini, dan ini bisa meningkatkan perekonomian keluarga meraka. Kita perdayakan masyarakat disekitar lingungan ini agar mengurangi pengangguran tentunya. Selain itu juga dapat membantu tambahan dari penghasilan suami sehingga meraka lebih sejahtera dan bisa melanjutkan sekolah anak-anaknya," ucapnya singkat. (Sut)


Share