PERJUANGAN 31 orang eks Tenaga Harian Lepas (THL) Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Batam (pasukan kuning) menuntut hak mereka belum berakhir. Namun di balik kegundahan hati mereka terhadap pemerintah, terselip perjuangan tak kenal lelah membersihkan Batam dari sampah-sampah yang bertebaran di sepanjang jalan.
Apa jadinya Kota Batam jika tidak ada petugas kebersihan. Sudah pasti kota ini bakal disesaki sampah. Keberadaan petugas kebersihan atau yang dikenal dengan julukan pasukan kuning sangat berarti sekali dalam menciptakan suasana kota yang bersih, teduh dan nyaman.
Mereka jugalah yang salah satunya sangat berjasa dalam mengantarkan kota untuk dapat meraih adipura. Penghargaan tertinggi ini yang diberikan Presiden RI kepada Bupati ataupun Walikota yang telah berhasil melaksanakan pengelolaan lingkungan perkotaan dengan baik.
Siang itu sekitar pukul 13.30 WIB. Siti (28) mencoba beristirahat di bawah sebuah pohon di pinggir jalan Terminal Ferry Internasional Batam Centre, di seberang Mega Mall. Dari kejauhan, Siti tampak termenung sendiri. Sesekali ia memperhatikan mobil yang berlalu lalang di depannya.
Saat disambangi Haluan Kepri, Siti mengaku sedikit capek. Ia memilih beristirahat sejenak. "Panas bu, tapi cukup lumayan sampahnya tak terlalu banyak," tutur Siti ramah. Siti baru 1,5 jam bekerja. Kebetulan, kemarin dia bertugas siang. Siti memulai aktifitasnya pukul 12.00.
Sejak 5 tahun bekerja sebagai penyapu jalan, Siti ditugaskan menjaga kebersihan jalan di sepanjang Kantor Bank Indonesia hingga lampu merah Simpang Masjid Agung. Siti memiliki dua anak. Yang paling besar usia 7 tahun dan yang kecil 4 tahun. Untuk kebutuhan berempat, gajinya sebesar Rp1 juta lebih cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Untuk sedikit menabung, Siti terkadang mengumpulkan botol dan menjualnya ke pengumpul. Hasil botol dan barang bekas yang dikumpulkan selama seminggu hanya bisa menghasilkan Rp50 ribu saja.
"Uang dari mengumpulkan barang bekas tidak banyak, seminggu paling dapat Rp50 ribu, itu sambilan aja pak. Utamanyakan tetap menyapu," imbuhnya.
Uang hasil menjual barang bekas itu, menurut Siti digunakan untuk membeli bahan makanan selama dua hari. Setiap hari, ia dan keluarganya harus makan nasi dengan lauk ikan asin, sesekali telur.
Seandainya ada pekerjaan lain, Teti mungkin akan meninggalkan pekerjaan sebagai penyapu jalan yang sudah ia lakoni sejak empat tahun lalu. Alasan, menghidupi tiga anaknya yang masih butuh perhatian menguatkan kaki dan tangan wanita berusia 41 tahun ini untuk mengayunkan tangkai sapu lidi, membersihkan sampah-sampah yang bertebaran di sepanjang jalan.
"Alhamdulillah saya masih diberi kesehatan oleh Allah sehingga bisa menyapu jalan walau di usia yang tidak muda lagi," ujar Teti kepada Haluan Kepri di rumah sederhannya ruli Kampung Belian, akhir pekan ini.
Sejak bercerai dengan suaminya tahun 2008 lalu, Teti memang harus banting tulang untuk menghidupi tiga anaknya yang masih kecil-kecil. Apalagi, di Batam wanita asal Bugis ini tidak memiliki sanak keluarga sehingga dirinya harus mandiri agar asap dapurnya tetap mengepul.
Meskipun pilihan hidup harus bekerja sebagai penyapu jalan. Setiap hari Teti bercengkrama dengan sampah dan debu jalan. Bergelut dengan cuaca panas, hujan dan angin kencang tak meluluhkan semangatnya untuk bekerja.
"Saya menyapu jalan setiap hari. Dimana sekali seminggu jam masuknya ditukar. Satu minggu masuk pagi hingga siang, minggu berikutnya diganti lagi masuk siang sampai sore." kata Teti yang hari itu bekerja shif siang.
Selama ini, Teti mendapat tugas membersihkan jalan di samping Mesjid Agung, Batam Centre hingga Simpang Franki. Ketika bertugas, Teti memakai baju seragam dan topi kain untuk melindungi kepala dari matahari. Tak ketinggalan sapu lidi dan skop kecil.
Selama bekerja sebagai penyapu jalan, ada pengalaman yang berbekas bagi Teti.Ketika dirinya mengalami kecelakaan dan hanya mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit. Kejadinya berlangsung saat Teti hendak menyebrang jalan mengambil sampah tiba-tiba dari belakang datang mobil dan menabraknya. Akibatnya muka dan tangan Teti mengalami luka dan mendapat beberapa jahitan.
"Saya bersyukur di tempat di jalan dekat mesjid sehingga pada jam istirahat bisa melaksanakan sholat. Dulu pernah di jalan dekat bandara, sholat saya jadi keteteran karena lokasinya yang jauh dari pemukiman masyarakat," ulas Teti yang mengaku datang ke Batam sejak tahun 2004.
Beruntung Teti masih terbantu dengan anak sulungnya yang putus sekolah dan kini bekerja sebagai pemotong rumput. "Saya tinggal bedua sama anak laki-laki yang paling besar yang dulu sekolahnya tidak bisa sampai lulus SMP," cerita wanita tamatan MTsN ini.
Berbekal gaji yang tak seberapa, Teti mendirikan rumah di kawasan ruli, Kampung Belian. Teti membeli material rumah berupa potongan-potongan kayu bekas dari tempat proyek pembangunan. Meski hanya berukuran 4x5 meter dan dibangun dengan pondasi seadanya, Teti merasa bahagia karena ada tempat berteduh. ***/Johni FShare
Semangat Hidup Penyapu Jalan
- Minggu, 02 June 2013 00:00




