Rabu06192013

Last update12:00:00 AM

Back Fokus Memecah Batu Raksasa Menjadi Rupiah

Memecah Batu Raksasa Menjadi Rupiah

Kabupaten Natuna memiliki banyak sekali bebatuan berukuran raksasa sehingga batu-batu tersebut dijadikan sebagai objek wisata alam. Namun belakangan batu-batu tersebut juga bisa menjadi 'ladang' mata pencaharian masyarakat.


Seiring perkembangan zaman, bahan bangunan yang semulanya berbahan dasar kayu dan tanah, kini perlahan-lahan berubah menggunakan bahan beton yang bermaterial dasar pasir, semen dan batu krikil.

Sejak bahan pembangunan beralih ke beton para pemegang proyek dan pembangunan membutuhkan batu krikil yang dipergunakan sebagai bahan dasar bangunan baik gedung, rumah jalan, pelabuhan hingga bandar udara.

Sehingga, masyarakat Natuna, khususnya masyarakat kurang mampu berlomba-lomba memecah batu raksasa tersebut hingga menjadi krikil yang bisa menjadi bahan dasar beton. Onggokan batu raksasa yang banyak tersebat di sekitar kepulauan Natuna kini bukan lagi sekedar batu biasa. Namun sudah menjadi penopang ekonomi bagi keluarga.

Awalnya, pekerjaan memecah batu tersebut dikerjakan oleh ibu-ibu rumah tangga yang hasilnya untuk membantu perekonomian keluarga. Namun karena batu tersebut berukuran besar dan permintaan semakin banyak, maka kaum pria pun juga ikut turun tangan memecah batu besar menjadi ukuran yang lebih kecil sehingga tidak terlalu susah untuk dijadikan krikil oleh para kaum ibu.

“Ya kalau batunya besar kita minta tolong kepada suami untuk mengceilkannya, karan kami tidak kuat mecah batu yang besar-besar ini,” kata Azizah salah seorang warga Natuna yang berprofesi sebagai pemecah batu.

Penghasilan memecah batu ini cukup membantu pendapatan keluarga miskin di Kabupaten Natuna. Biasanya satu rit batu krikil tersebut dijual dengan harga Rp500.000 per reit, dan per reit berisi 50 kaleng (ember ukuran 30-40 kg). Dan hasil pekerjaan memecah batu tersebut juga sangat tergantung dengan pembangunan di daerah Natuna. “Ya kalau pembangunan rame, pasti kami juga dapat sering menjual batu bang,” uajrnya.

Terkait hal ini Pemerintah Kabupaten Natuna juga menyadari akan manfaat pekerjaan memecah batu karenanya pemerintah mentolerir kegiatan masyarakat yang mencari nafkah melalui pekerjaan memecah batu itu.

“Memang kita belum bisa memberikan izin kepada kegiatan pertambangan galian C, karena ada beberapa pertimbangan termasuk pertimbangan dampak lingkungannya. Namun bagi masyarakat pemecah batu ini kami beri kebijakan, sebab pekerjaan ini sebagai penunjang pendapatan rumah tangga dan memang sudah sejak lama dilakukan secara turun temurun, ” kata Bupati Natuna, Drs H Ilyas Sabli beberapa waktu lalu.

Dan terkait hal di atas, Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) Kabupaten Natuna memberikan perharian khusus bagi para ibu-ibu yang menggantungkan sebagian kehidupan dari upaya memecah batu itu.

BPPKB memberikan semacam sefety first (pengamanan pertama) kepada ibu-ibu yang bekerja memecah batu yang notaben memiliki resiko yang dapat membahayakan anggota tubuh mereka.

"kacamata dan sapu tangan ini kami maksudkan untuk meberikan pelindung utama bagi mereka yang menjalani pekerjaan beresiko ini, ini merupakan bagian dari tugas kami," kata Kepala BPPKB Kabupaten Natuna, Tina Riauwita.

Ditambahkan Tina, BPPKB juga senantiasa memberikan dukung spirit bagi ibu-ibu yang bekerja memesah batu itu, "dan kami datang kemari juga guna memberikan semangat kepada mereka - mereka ini, ini juga bagian dari tugas kami," pungkasnya. ***/Fahturahman.Natuna

Share