Minggu06302013

Last update12:36:32 AM

Back Fokus Harga BBM Naik,Rakyat Menjerit

Harga BBM Naik,Rakyat Menjerit

BEBAN yang harus dipikul masyarakat kecil semakin berat. Menyusul kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) mereka juga dihadapkan dengan naiknya sejumlah kebutuhan pokok ditambah lagi meningkatnya kebutuhan jelas bulan puasa dan hari raya.

Keputusan pemerintah menaikan harga BBM terhitung, Sabtu (22/6) membuat seluruh lapisan masyarakat baik pengusaha, pegawai, pedagang, pengejok dan lainnya menjerit. Bahkan jauh sebelum harga BBM dinaikan seleruh harga kebutuhan masyarakat sudah merangkak naik.

Seperti pantuan di pasar Baru Tanjungpinang, Jumat (21/6) harga sembako sudah lebih dulu mengalami kenaikan walau tidak signifikan. Kenaikan ini sangat dirasakan oleh lapisan masyarakat. Sudah dipastikan harga sembako dan barang kebutuhan masyarakat akan naik juga setelah BBM dinaikan.

Seperti yang dialami oleh Pedagang sayuran di Pasar Baru Tanjungpinang bernama Ata. Menurutnya, harga sayuran di agen atau petani sudah naik, terpaksa sebagai pedagang dipasar yang langusng berhadapan dengan pembeli yang merupakan masyarakat umum harus menerima berbagai keluhan dari pemebeli.

"Banyak masyarakat yang mengeluhkan dengan kenaikan beberapa sayuran seperti, harga cabe rawit, cabe merah dan cabe hijau, bawang merah lokal dan bawang putih semua mengalami kenaikan, belum lagi harga tomat, wortel dan jenis komoditi sayuran lainnya. Padahal sebelum harga BBM dinaikan namun sebagi pedagang yang juga membeli dari agen dengan harga yang sudah naik terpaksa kami menikan juga bila tidak mengikuti harga ya bisa gulung tikar," jelasnya.

Ata juga mengatakan, harga sayuran seperti cabe, bawang merah, bawang putih, tomat, wortel dan beberapa jenis sayuran untuk datang ke pasar didatangkan dari luar Kota Tanjungpinang, dan rata-rata selain menggunakan pesawat juga menggunakan kapal.

"Dengan kenaikan BBM jelas petani dari Jawa dan sumatera untuk mengirim ke daerah terpaksa menaikan haraga menjelang kenaikan BBM. Selain ongkos pengiriman yang naik juga ongkos produksi juga naik. Biasanya masyarakat tidak begitu protes bila barang ada walau harga naik, terkadang harga naik barang langka itu yang membuat masyarakat susah,"ungkapnya lagi.http://haluankepri.com/administrator/index.php?option=com_content

Sementara itu, pedagang daging ayam potong di Pasar Baru Tanjungpinang, Maizan mengaku kenaikan harga daging ayam tidak begitu tinggi menjelang kenaikan harga BBM. Ia mengaku, kenaikan berkisar dari Rp28 ribu perkilo menjadi Rp29 ribu.

"Saya tidak bisa memastikan bila harga BBM sudah dinaikan nanti, karena jelas semua biaya pasti naik baik dari harga pakan ayam, ongkos transfortasi dan biaya perawatan dan pekerjanya. Mana mau peternak menjual harga ayam dengan menanggung kerugian," ungkapnya.

Maizan menambahkan, banyak masyarakat yang mengeluh, kenapa harga BBM belum naik tetapi harga daging ayam sudah naik. Menurutnya, memang ada sebagian masyarakat yang mengerti dengan kenaikan harga ini, tetapi banyak juga yang tidak mengerti.

"Masyarakat maunya jangan ada kenaikan sebelum dinaikan harga BBM, namun bagaimana lagi, kita sebagai pedagang yang juga membeli dari peternak juga mengalami kenaikan terpaksa menjual dengan harga yang dinakan. Bisa rugi kalau tidak dinaikan harganya," bebernya.

Sementara di tempat terpisah, Ruben warga Tanjung Unggat, Tanjungpinang yang kesehariannya bekerja sebagai pengemudi pompong apolo di pelabuhan Laut Jaya mengatakan, sudah susah tambah lagi susah dengan kenaikan harga BBM ini.

"Hidup semakin sulit saja sekarang ini, harga sembako sudah pada naik belum lagi anak mau masuk sekolah, banyak yang stres masyarakat dibuat pemerintah. Lihat saja nanti mungkin akan banyak masyarakat miskin yang putus asa dan nekat bunuh diri karena menghadapi kesulitan ekonomi ini," papar bapak yang mengaku mempunyai tiga orang anak yang masih sekolah ini.

Dikatakan, pompong apolo ini menggunakan mesin yang bahan bakarnya memakai bensin atau solar. Biasa mengisi BBM hanya dua botol sehari dengan harga perbotolnya Rp10 ribu, sekarang tidak tau berapa sebotol harganya karena belum beli.

"Bila ramai penumpang bisa habis dua botol bensin, namun bila sepi sebotol saja tidak habis kadang, karena sepinya penumpang. Sehari bisa mmendapatkan hanya Rp50 ribu bila ramai, belum dipotong bensin dan lainnya, kadang ke rumah hanya sisa Rp15 ribu. Terpaksa dicukup-cukupi untuk makan sekeluarga. Kenaikan harga BBM ini selain akan menambah susah masyarakat kecil juga akan semakin banyak penganguran,"imbuhnya.***

Sebelum Harga BBM Naik Hidup Kami Sudah Susah...'


Lain lagi yang dialami pengojek yang bisa mangkal di Pelabuhan Sri Bintan Pura Tanjungpinang, Sabtu (22/6) Sihono mengatakan, pengojek di sini berjumlah 40 orang, dan hanya menggantungkan hidupnya sebagai pengojek, sangat keberatan sekali dengan kenaikan harga BBM ini.

"Sebelum kenaikan harga BBM saja pengojek di sini sudah merasakan susah, apalagi sudah naik seperti sekarang ini tambah susah hidup kami, dari hasil mengojek seharian bisa mendapatkan bila ramai Rp70 ribu, tapi bila sepi hanya mendapatkan Rp40 ribu sehari, itu dipotong bensin Rp10 ribu dipotong makan bila tidak sempat pulang kerumah Rp10 ribu. Jadi yang dibawa kerumah berapa untuk biaya makan keluarga," jelas bapak tiga anak ini.

Ia juga mengatakan, bagaimana dirinya bisa menabung, untuk mencukupi kebutuhan hidup seharihari saja dirinya sudah susah. Belum lagi biaya untuk anak-anak sekolah. Kenaikan harga BBM ini membuat dirinya pusing karena harga sembako sudah dipastikan naik dan juga seragam anak-anak sekolah.

"Padahal sebentar lagi akan menghadapi bulan suci Ramadhan selain itu anak harus masuk sekolah makin pusing dibuatnya. Seharusnya Pemerintah turun langusng ketengah masyarakat dan melihat serta mendengar keluhan kami-kami ini, berapa ribu pengojek yang ada di Tanjungpinang saja yang akan merasa kesulitan menghadapi ini," jelasnya.

Semua pengojek di pelabuhan ini ujar Sihono sama sekali tidak ada yang menerima Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) yang akan dibagikan oleh pemerintah kepada masyarkat miskin yang berhak mendapatkan dana itu.

"Dari 40 tukang ojek di sini, mana ada satupun yang menerima dana BLSM itu, padahal seharusnya kami-kami ini yang berhak menerimannya. Selain itu bantuan itu bukan cara mengatasi masalah ini, seharusnya pemerintah memperbanyak saja lowongan keraja. Dana sebesar itu berikan dalam bentuk pendidikan jadi semua anak dapat sekolah geratis. Selain itu salurkan dibidang kesehatan seperti saqya ini bila berobat mana berani kedokter atau rumah saki, paling hanya minum obat warung bila sakit," bebernya lagi.

Hal senada disampaikan oleh Joko yang juga mengojek di pelabuhan, kenaikan harga BBM membuat masyarakat jadi susah, sudah sebelum harga naik juga sudah sulit ditambah kenaikan harga BBM makin susah masyarakat miskin.

"Terus terang anak saya yang baru lulus sekolah di SMAN 4 Tanjungpinang tahun 2012 terpaksa tidak bisa melanjutkan kuliah, padahal anak saya bersemangat sekali ingin kuliah, namun karena keadaan keuangan kami yang susah terpaksa untuk sementara menganggur dulu, sekalin mencari pekerjaan dulu, bila sudah ada rezeki bisa meneruskan kuliah. Habis bagaimana lagi adik-adiknya masih sekolah juga di SD dan SMP mana sanggup membiayai semuannya," jelasnya.

Joko juga menambahkan, kenaikan harga BBM ini membuat susah, sebelum harga BBM naik saja sudah prihati apalagi setelah kenaikan harga BBM ini makin memperihatinkan. Kenaikan tidak jadi masalah bila secara bertahap.

"Kenaikan BBM tidak masalah, tetapi harusnya secara bertahap jangan seperi sekarang ini naik sekaligus sangat besar kan membertakan masyarakat. Kalau mau naikan jangan besar-besar misalnya setahun naik Rp500 atau Rp1000 kan tidak terasa, dan masyarakat akan menerimanya bahkan tidak menerima bantuan langsung juga tidak mengapa. Sekarang saja bantuan uang tunai itu kami-kami tidak menerimannya," jelasnya. (sut)

Share