Sabtu06292013

Last update12:00:00 AM

Back Fokus Harga Sembako Bergejolak

Harga Sembako Bergejolak

KEPUTUSAN pemerintah menaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) berimbas kepada kenaikan sejumlah kebutuhan pokok di pasar-pasar tradisional.

Dua pekan menjelang pengumuman kenaikan harga BBM harga kebutuhan pokok di sejumlah pasar tradisional di Batam dan daerah lain telah bergejolak. Seperti di pasar Tos 3000, harga telur ayam buras naik yang biasanya Rp27 ribu per papan kini Rp35 ribu. Begitu juga dengan harga
gula pasir dari harga Rp8 ribu per kilogram naik menjadi Rp9 ribu.

"Kenaikan sudah berlangsung sejak dua pekan lalu. Kami tidak tahu juga penyebabnya bisa jadi dipicu dengan rencana kenaikan harga BBM," kata Butet, salah seorang pedagang sembako kepada Haluan Kepri.

Selain dua komuditi di atas, kenaikan juga terjadi pada mie instan yang biasanya per kotak Rp58 ribu naik menjadi Rp68 ribu. Cabai merah keriting dari Rp 4000 per ons kini naik menjadi Rp5000 per ons.

“Saya pribadi gak setuju BBM dinaikkan. Ya ini akibatnya, sembako melambung. Mau makan apa kalau harganya seperti sekarang,” keluh Rina, warga Batam Centre.

Warga lainnya Nurmi, mengaku pusing karena kebutuhan keluarganya menjelang bulan Ramadhan meningkat tajam sementara harga sembako telah naik. Padahal, penghasilan suaminya sebagai buruh kasar tidak mengalami peningkatan bahkan belakangan berkurang.

"Uang belanja yang biasa saya bawa ke pasar tidak cukup lagi untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Belum lagi anak-anak mau sekolah. Duh..pusing mengatur keuangan," keluh ibu dua anak yang tinggal di Tiban ini.

Sementara kenaikan harga sembako juga terpantau di Kota Tanjungpinang seperti di Pasar Bincent Km 9, harga gula Rp9.000 per Kg, terigu Rp7.500 per Kg, telur ayam Rp31 ribu per papan atau Rp1.100 per butir, beras gajah merah Rp245 per karung isi 25 Kg atau Rp10 ribu per Kg, beras Padang Raya Rp10 ribu per Kg, Burung Merak Rp10 ribu per Kg atau Rp240 ribu per karung isi 25 Kg.

Osman, pedagang di Blok A no7-9 Pasar Bincent, mengatakan, pasokan kebutuhan pokok ke kedainya relatif aman hingga puasa. "Sembako di sini dipasok dari Aseng, distributor yang di Jl Panjaitan Km7. Sejauh ini aman, mencukupi sampai puasa," ujar Osman.

Sementara, di toko Budiman, di Pelantar Pasar Baru beberapa kebutuhan mengalami kenaikan harga, seperti terigu cap segitiga Rp173 ribu per sak atau Rp8 ribu per Kg, harga eceran ini telah naik Rp500 dari biasanya. Minyak goreng curah naik dari Rp9.500 menjadi Rp10 ribu per Kg.

Masih di toko Budiman, harga sayur mayur seperti kol Rp7 ribu per Kg, sawi Rp8 ribu per Kg, sawi minyak Rp14 ribu per Kg, timun Rp8 ribu per Kg, bayam Rp7 ribu per Kg, dan kentang Rp8 ribu per Kg.

Djasmin pedagang cabai di pasar yang sama mengatakan harga cabai merah Rp48 ribu per Kg, cabai rawit Rp10 ribu per Kg, dan bawang putih Rp20 ribu/Kg. Harga relatif stabil sejak seminggu terakhir dibandingkan minggu sebelumnya.

Operasi Pasar

Untuk menekan kenaikan harga-harga kebutuhan pokok, Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Energi Sumber Daya Mineral (Disperindag ESDM) Kota Batam mulai menggelar operasi pasar.

Menurut Kepala Disperindag ESDM Kota Batam Amsakar Achmad, kenaikan sejumlah harga-harga kebutuhan pokok di Batam tidak semuanya dikarenakan faktor rencana kenaikan Bahan Bakar Minya (BBM), tapi juga dipengaruhi oleh kondisi cuaca dan juga stok barang.

"Ada peningkatan harga-harga kebutuhan di pasar Batam tidak sepenuhnya dikarenakan faktor BBM, tapi juga faktor ketersedian barang yang menipis, sedangkan permintaan banyak, cuaca dan juga momentum libur sekolah pada saat sekarang ini," terangnya.

Menurutnya, Dinas Perindustrian Perdagangan Energi Sumber Daya Mineral Kota Batam telah melakukan survei ke tiga pasar yang ada di Batam yaitu di antaranya Mega Legenda, dan Pasar Botania. Dari 48 komponen yang dipantau di pasar tersebut, ada beberapa yang mengalami kenaikan harga.

"Kita telah adakan survei ke tiga pasar di Batam, untuk 48 komponen kebutuhan harian ada yang naik dan ada juga yang masih stabil," terangnya.

Dia menjelaskan, secara umum ada empat komponen kebutuhan pokok yang mengalami kenaikan harga yaitu Ayam Ras dari Rp30 ribu menjadi Rp35 ribu, daging Sapi Impor dari Rp58 ribu menjadi Rp60 ribu, Ikan Tongkol dari Rp24 ribu menjadi Rp28 rinbu dan Ikan Selar dari Rp28 ribu menjadi Rp35 ribu. Kenaikan ke empat komponen tersebut lebih kepada faktor alam dan stok," ujarnya.

Namun dia tidak memungkiri apabilan nantinya BBM mengalami kenaikan, angka inflasi di Kota Batam akan mengalami peningkatan dari bulan-bulan sebelumnya.

Masih Amsakar Achmad, guna menekan laju inflasi dan tetap menjaga daya beli, Pemko Batam menggelar operasi pasar, di luar bazar sembako yang kini berlangsung.

"2-3 hari ke depan kita akan menggelar operasi pasar. Di luar bazar sembako yang telah dibuka oleh bapak Wakil Walikota beberapa waktu lalu," terangnya.

Menurutnya, Pemko Batam telah melakukan rapat koordinasi lintas SKPD guna mempersiapkan segala sesuatu apa bila BBM nantinya dinaikkan. "Kita telah melakukan rapat koordinasi di tingkat SKPD terkait dengan rencana kenaikan BBM," terangnya.

Dan juga Amsakar Achmad telah melakukan koordinasi dengan Pertamina untuk tetap menjaga ketersedian BBM hingga kenaikan nanti. "Kita telah berkoordinasi dengan Pertamina agar stok BBM di tengah-tengah masyarakat tidak sampai langka," ungkapnya.

Secara terpisah, Wakil Bupati Karimun HAunur Rafiq mengajak kepada seluruh elemen masyarakat untuk memantau situasi dan kondisi bahan pokok di lingkungan masing-masing.

"Kami mengharapkan camat, lurah, kepala desa di lingkungan pemerintah Kabupaten Karimun untuk dapat memantau situasi dan kondisi yang ada di wilayahnya. Terutama kemungkinan terjadinya kenakalan-kenakalan sekelompok tertentu tentang penimbunan minyak," ujar Rafiq.

Rafiq mengaku, pihaknya akan menggelar operasi pasar jika terjadi kelangkaan sembako dan tidak terdapat di pasaran, atau harga yang melambung tinggi akibat distribusi yang terganggu.

"Jika terjadi demikian maka akan ada upaya pemerintah untuk melakukan operasi pasar dengan penyediaan sembako. Tetapi kalau memang kenaikan tersebut masih dalam batas kewajaran akibat kenaikan biaya produksi atau pengiriman, itu mungkin masih dalam toleransi kita," katanya. (timhk)

Share