Tahun ajaran baru bagi anak-anak sekolah segera tiba. Menjelang musim sekolah dimulai, para produsen seragam sekolah menuai banyak order. Seperti siklus tahunan, jelang tahun baru seperti sekarang, permintaan seragam sekolah melesat.Berkah tahun ajaran baru ini setidaknya dirasakan oleh AR. Muslimin Nganro,SE., pengusaha konveksi seragam sekolah dengan merek Rijiki Indah Sari yang beralamat di Komplek Pondok Asri Blok C II No.7 Sei Panas, Batam.
Hampir setiap tahun ajaran baru, setiap hari aktivitas di rumah konveksi ini terlihat meningkat. Banyaknya orderan yang datang dari sekolah-sekolah membuat Muslim dan 10 karyawannya harus bekerja lembur.
"Selain mempekerjakan sepuluh karyawan ini saya juga dibantu oleh pekerja freelance agar target penyelesaian yang diminta customer sesuai waktu," ujar Muslim kepada Haluan Kepri, akhir pekan kemarin.
Menurut bapak dua anak ini, permintaan seragam sekolah umumnya mulai banyak datang pada awal bulan Maret sampai menjelang tahun ajaran berakhir. Pengorder kebanyakan adalah, sekolah-sekolah yang selama ini sudah menjadi customer tetap. Sampai saat ini, Muslim sudah bekerjasama dengan 25 sekolah dari TK hingga SMA untuk pengadaan seragam sekolah.
"Untuk marketing, awalnya saya langsung mendatangi sekolah-sekolah. Setelah kerjasama berjalan, sekolah tersebut memberikan informasi ke sekolah lain melalui kepala sekolah sehingga customer saya selalu bertambah," papar pria berkacamata ini.
Bila pada hari biasa Mulim mengaku hanya melayani permintaan 200 hingga 300 pasang seragam. Menjelang tahun ajaran baru permintaan bisa sampai 500 pasang. Untuk satu sekolah TK saja minimal memesan 150 stel pakaian dengan harga per stelnya Rp80 ribu. Rata-rata sekolah memesan seragam di atas 100 stel pakaian.
Sayangnya, di tengah panen raya ini order baju seragam ini, ada yang mengganjal. Para pengusaha seragam sekolah ini menghadapi kenaikan harga kain setiap tahun.
"Harga kain terus naik setiap tahun, saya juga terpaksa menaikan harga jual untuk menutupi biaya produksi. Biasanya satu stel pakaian hanya Rp80 ribu tapi sekarang sudah Rp100 ribu," jelas pengusaha kelahiran Sulawesi 39 tahun silam ini.
Dijelaskan Muslim, kain untuk membuat seragam sekolah dibeli ke Bandung dan Jakarta bahkan ada juga ke Singapura sesuai dengan keinginan customer. Muslim mengaku sering terkendala dengan jadwal keberangkatan pesawat yang akan membawa kain pesananya yang sering tidak tepat waktu. Kondisi ini tentu akan berpengaruh terhadap jadwal penyelesaian orderan konsumen. Untuk mengatasi hal ini, Muslim harus mengecek dan memastikan terlebih dahulu jadwal pesawat yang akan berangkat ke Batam.
"Jika bahan dasar untuk membuat seragam terlambat sampai tentu hal ini akan berdampak pada proses produksi. Saya sangat menjaga hal ini agar konsumen tidak merasa kecewa lantaran baju yang dipesan tidak selesai tepat waktu," katanya.
Modal Awal Rp25 Juta
Berdiri sejak 13 tahun lalu, CV. Rijiki Indah Sari mampu bertahan di tengah persaingan bisnis konvenksi yang semakin ketat di Batam. "Alhamdulillah kami sudah memiliki pelanggan tetap sehingga orderan selalu ada meski saat ini usaha konveksi ada di mana-mana," ujar alumni Institut Manajemen Koperasi Indonesia tahun 1990 ini.
Untuk memulai bisnis konveksi ini, Muslim ternyata telah melewati fase yang penuh perjuangan. Karena sebelum terjun ke bisnis ini, Ia pernah bekerja sebagai accounting manager di sebuah hotel serta mencicipi pekerjaan sebagai kontraktor. Ketika, krisis moneter menerpa tahun 1997, Muslim mulai berfikir bagaimana bisa memiliki usaha yang maju seperti orang lain yang ditemui. "Saya lihat orang maju. Ketika itu saya berfikir bagaimana bisa maju. Sampai saya bertanya kepada atasan saya, gimana caraya menjadi orang sukses seperti bapak ?," cerita Muslim.
Muslim melanjutkan ceritanya, bos itu menjawab, jika kamu ingin punya apa saja, jadilah seorang pengusaha, jika kamu ingin hidup tenang, jadilah guru. Jika kamu ingin banyak waktu santai, jadilah PNS. Mendengar jawaban bos tersebut, Muslim merasa mendapatkan motivasi yang luar biasa untuk bisa menjadi orang sukses, sebagaimana yang Ia inginkan.
Langkah pertama yang dilakukan Muslim adalah, membuka dua usaha sekaligus yakni usaha sablon dan usaha peternakan ayam. Namun baru beberapa bulan berjalan, usaha tersebut gagal terutama peternakan ayam. Dari kegagalan ini, Muslim tidak patah semangat, melakukan evaluasi dan Ia mendapatkan jawaban, ternyata selama ini Ia tidak menjalankan fungsi manajemen yang baik.
"Fungsi controling ternyata saya lepas. Saya sadari usaha harus fokus. Makanya saya memutuskan fokus pada satu usaha saja yakni konveksi dan sablon," paparnya.
Muslim mengaku, pertama membuka usaha konveksi ini Ia mengucurkan modal Rp25 juta untuk membeli mesin jahit, mesin pemotong kain dan alat-alat sablon. Bahkan, Muslim sedikit terbantu dengan pinjaman lunak sebesar Rp10 juta dari Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo).
"Waktu itu, pesaing belum banyak sementara pangsa pasar cukup tinggi. Dengan menjalankan fungsi-fungsi manajemen yang baik, Alhamdulillah usaha saya ini bisa berkembang sampai saat ini," katanya.
Suami dari Marlini ini melihat, banyaknya usaha konveksi saat ini bukanlah sebagai pesaing justru Ia menjadikan sebagai partner bisnis. Muslim punya prinsip, bahwa reski yang sudah diberikan oleh Tuhan tidak pernah tertukar oleh orang lain. "Tak jarang saya terbantu dengan konveksi-konveksi lain dalam hal mengerjakan orderan customer. Karena ada kalanya kita tidak sanggub menyelesaikan sendiri orderan yang masuk," ujar Muslim yang saat ini telah memiliki asset sebesar Rp1 milyar.
Ada tiga hal yang selalu dijaga oleh Muslim dalam menjalankan bisnisnya ini. Pertama adalah, menjaga kualitas dari produk yang dihasilkan, kemudian menanggapi komplen dari konsumen dengan baik dan terakhir konsisten dengan waktu penyelesaian. "Dengan menjaga kepercayaan konsumen, InsyaAllah usaha yang kita jalannya bisa berhasil," tutup Muslim yang sedang mencari tempat untuk galery konveksi. ***
Membeli Jauh-jauh Hari Lebih Murah
BATAM (HK)-- Untuk mendapatkan harga baju seragam yang lebih murah, sejumlah orang tua punya strategi membeli lebih awal. Karena, dengan membeli jauh-jauh hari di saat permintaan pasar belum meningkat harga jauh lebih murah.
Seperti yang dilakukan Ibu Sri yang mengaku telah membeli dua stel seragam sekolah baru buat anaknya yang tahun ini duduk di kelas 1 SD. Menurut Sri, saat ini harga seragam masih bisa ditawar karena pembeli belum terlalu ramai sehingga uang bisa dibagi untuk membeli kebutuhan alat-alat tulis.
"Lumayan bisa kurang 20 ribu setelah ditawar-tawar mungkin harga nya akan lebih mahal lagi sepekan menjelang tahun ajaran baru dimulai," ujar wanita yang tinggal di Tiban ini.
Sri memprediksi harga seragam dipastikan naik karena ongkos kirim juga membengkak setelah pemerintah menaikan harga BBM. Karena itu, keputusannya untuk membeli lebih awal sudah sangat tepat.
"Kita beli lebih awal biar tak mahal, kalau pun naik hanya sedikit masih bisa kita tawar harganya,” ujar Netty, orang tua lainnya saat membeli pakaian seragam di kawasan Jodoh.
Salah seorang pedagang baju seragam di Pasar Jodoh, Zulfahmi mengatakan, biasanya pengunjung untuk membeli baju seragam memang mulai meningkat dibandingkan hari biasa. Hal ini dikarenakan penerimaan siswa baru mulai di buka di sejumlah sekolah. Tapi lonjakan permintaan biasanya terjadi akhir Juni nanti.
"Untuk pakaian seragam SMA harganya per stel Rp200 ribu, seragam SMP Rp175 ribu, dan seragam SD Rp125 ribu," katanya.
Melonjaknya harga seragam sekolah, juga dikeluhkan oleh sejumlah orang tua. Seperti yang dituturkan Mirwan, yang memiliki dua anak yang masih duduk dibangku SMP dan SMK. "Anak saya yang SMP akan masuk SMA tentunya butuh seragam baru dan kebutuhan lain meski uang sekolah gratis,"keluhnya.
Setiap memasuki tahun ajaran baru, Mirwan mengaku selalu membeli seragam baru, sepatu dan alat-alat tulis. Minimal untuk kebutuhan dua anaknya, Ia mengeluarkan uang sekitar Rp3 jutaan.
Sebagai pekerja pabrik di salah satu perusahaan di Batu Ampar, Mirwan harus berusaha mencukupi kebutuhan anak-anak meski gajinya hanya cukup makan sehari-hari.;
"Gaji saya hanya sebesar UMK cukup untuk makan sehari-hari. Terpaksa untuk menambah masukan saya pulang kerja harus kerja sambilan sebagai tukang ojek,"katanya.
Keluhan yang sama juga dilontarkan Imron yang anaknya akan masuk SMK. Menurutnya, biaya masuk SMK lebih mahal dari pada di SMA, karena ada pungutan biaya praktik dan lainnya. Belum lagi seragam jas dan batik yang mesti dibeli oleh orang tua. (jof)




