Aksi mogok berproduksi yang dilakukan pengrajin tahu tempe pada 2 sampai 3 September lalu mengakibatkan tahu tempe di kota Tanjungpinang kosong di pasaran. Namun setelah disepakati dengan penyesuaian harga tahu tempe, pengrajin mulai produksi kembali.
Sebelumnya, asosiasi pengrajin tahu tempe di Kota Tanjungpinang, menggelar pertemuan dan membahas rencana kenaikan harga tahu tempe. Bila dipaksakan terus memproduksi tahu tempe sementara harganya tidak ada kenaikan maka pengrajin akan gulung tikar, karena harga kedelainya naik.
Dalam pertemuan tersebut disepakati, kenaikan harga tahu yang biasa dijual Rp600 akan dinaikan menjadi Rp800 sedangkan harga tahu yang tadinya Rp800 akan dinaikan menjadi Rp1000. Sementra harga tempe yang tadinya Rp8 ribu dinaikan menjadi Rp10 ribu per batang.
Tingginya harga kedelai yang merupakan bahan baku pembuatan tahu dan tempe, sejak melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, harga kedelai turut melambung, saat ini mencapai Rp440 ribu per karung (berat 50 kg) dari biasanya Rp310 ribu per karung.
Mengatasi permasalahan yang saat ini terjadi, pengrajin terpaksa membatasi produksi, karena tak mampu membeli kedelai dengan harga tinggi, sementara harga tahu dan tempe yang diproduksi tidak naik.
Saat dikunjungi Haluan Kepri salah satu pengrajin tempe di Kampung Baru, Tanjungpinang, Sabtu (7/9). Bahar mengatakan, saat ini harga kedelai sudah menembus Rp460 ribu per karungnya, dengan beratnya 50 kg. Tapi ada juga yang menjual kedelai dengan harga Rp440 ribu per karungnya.
"Setelah menggelar pertemuan dengan seluruh perkumpulan pengrajin tempe dan tahu di kota Tanjungpinang dan sempat melakukan aksi mogok masal, disepakati harga tempe yang tadinya Rp8 ribu naik menjadi Rp10 ribu per batangnya, begitu juga harga tahu dinaikan," jelas Bahar.
Bila harga kedelai tinggi tapi ada barangnya tambah Bahar, masih bisa diterima, namun sudah harga tinggi kedelai di pasaran kosong, itu yang membuat bingung para pengrajin tempe dan tahu.
"Kalu pengrajin tempe yang mempunyai modal banyak, masih bisa membeli stok kedelai sedikit lebih bannyak. Tetapi macam saya ini yang modal pas-pasan paling membeli lima atau enam karung paling banyak. Itupun kalau barangnya ada, kadang barangnya tidak ada dipasaran," keluhnya.
Ia juga menambahakan, para pengrajin untuk saat ini bisa bertahan produksi saja sudah bersyukur betul, karena ada pengrajin yang sudah tidak membuat tempe lagi. Namun mau kerja apa lagi, inilah mata pencaharian untuk menghidupi keluarga.
"Bila pengrajin yang pas-pasan modalnya sangat memberatkan sekali. Kami para pengrajin tempe memngharapkan perhatian pemerintah daerah, agar dapat membantu memberikan modal usaha ini, dan kalau bisa memberikan subsidi kepada pengrajin tahu tempe sama seperti dulu," harapnya.
"Saya juga saat ini mengurangi produksi tempe, biasanya memproduksi tempe dalam sehari bisa tiga atau empat karung. Namun saat ini hanya memproduksi dua karung dalam sehari, bahkan kadang kurang," keluhnya.
Sementara itu Sohirin, pengrajin tahu di Pantai Indah, Kelurahan Kampung Baru, Tanjungpinang ditemui beberapa waktu lalu mengatakan, ia mengurangi produksi dari tiga atau empat karung per hari menjadi dua karung.
"Saya membuat tahu biasanya tiga sampai empat karung per hari, sejak harga kedelai melejit, saya mengurangi produksi. Kondisi ini tidak hanya terjadi pada saya, tetapi juga teman-teman pengrajin tahu di sekitar sini. Ditambah lagi di pasaran pembeli tahu dan tempe sepi, permintaan dari pedagang di sini berkurang," ujar Sohirin sambil mengaduk adonan tahunya di tungku.
Dikatakan Sohirin, ia membeli kedelai di Tanjunguban, Bintan. Hampir semua pengrajin tahu dan tempe menggunakan kedelai yang sama. Tulisan di karung kedelai tersebut berasal dari Malaysia.
"Kedelai yang saya gunakan kedelai impor, di karungnya tertulis dari Malaysia. Sudah lama saya tidak menggunakan kedelai lokal. Selain hasilnya kurang bagus juga banyak sampah. Tetapi bila menggunakan kedelai luar hasilnya bagus dan juga bersih. Kalau yang lokal harus kerja dua kali karena harus membersihkan sampahnya dulu baru bisa diolah, itu pun ukurannya kecil,lebih repot lah," ungkap Sohirin.
Saat ini, tambah Sohirin harga tahu dan tempe di pasaran baik di kota Tanjungpinang sudah disepakatai untuk naik harganya, karena harga bahan dasarnya telah naik. Sementara harga kayu untuk memproses tahu tidak naik.
"Kenaikan harga tahu yang biasa dijual Rp600 menjadi Rp800 sedangkan harga tahu yang tadinya Rp800 dinaikan menjadi Rp1000. Untungnya harga kayu yang juga merupakan penunjang pembuatan tahu ini tidak naik masih Rp250 ribu per lorinya. Kami memnggunakan kayu bakar untuk proses pembuatan tahu ini untuk memasaknya, bila menggunakan gas tidak sanggup," jelas Sohirin.
Semua pengrajin tahu ujar Sohirin masih menggunakan kayu bakar dalam proses pembuatannya. Bila menggunakan gas atau yang lainnya hasilnya kurang maksimal dan dihitung-hitung lebih besar biayanya.
"Bila menggunakan gas dalam proses pembuatan tahu ini, tidak sesuai, karena pembuatan tahu ini memakan waktu lama dalam memasaknya. Bila digunakan gas malah lebih rugi, tapi dengan menggunakan kayu bakar dalam proses pembuatan bisa lebih hemat. Selain itu hasilnya belum tentu sebagus dengan menggunakan kayu bakar" bebernya lagi.
Ia berharap pemerintah dapat memberi subsidi kedelai seperti dulu. Pengrajin sangat terbantu sekali dengan adanya subsidi kedelai ini. Terutama pengusaha yang memiliki modal yang pas-pasan.
"Dulu kedelai disubsidi, sudah lama kedelai tidak disubsidi oleh pemerintah. Pengrajin tahu seperti saya ini sangat terbantu sekali dengan adanya subsidi kedelai ini, dan tentunya berimbas pada pembeli yakni masyarakat karena harga lebih murah," ujar Sohirin.
Sementara itu pedagang tahu dan tempe di Pasar Baru Tanjungpinang, Ata membenarkan bahwa harga jual tahu dan tempe saat ini sudah naik. Namun beberapa hari terakhir ini menurut Ata, pembeli tahu dan tempe berkurang.
"Pedagang saat ini telah menaikan harga tahu dan tempe untuk perpotongnya, karena dari pembuat tahu sudah menaikan harganya, kita sesuaikan dengan harga dipasaran. Saat ini harga tahu yang bisa dijual Rp850 dijual dengan harga Rp1000 sementra harga yang bisa Rp1000 dijual Rp1250. Sementara tempe untuk satu bungkusnya biasa di jual Rp2000 saat ini dijual Rp1500 per bungkusnya," jelas Ata.
Ditambahkan, saat ini masyarakat lebih memilih membeli ikan atau yang lainnya dari pada membeli tahu atau tempe. Hanya pedagang pedagang pecel lele dan warung makan saja yang masih tetap membeli tahu dan tempe untuk kebutuhan usaha mereka. "Kita malumi juga dengan harga kedelai yang naik, tapi terkadang masyarakat yang membeli di kita ini yang mengeluh," ujarnya menambahkan. Oleh: Sutana
Pengrajin Ancam Mogok Nasional
Mogok.Begitulah langkah yang akan ditempuh oleh pengrajin tahu dan tempe di Indonesia menyusul belum adanya tanda-tanda penurunan harga kacang kadelai. Mereka menduga permainan kartel dalam kenaikan harga kedelai.
Seperti diberitakan, sejak tiga pekan terakhir pengrajin tahu dan tempe dibuat pusing dengan meroketnya harga kedelai naik dari Rp7.700 menjadi Rp9.300 per kilogram. Pengrajin tahu dan tempe pun terpaksa mengurangi produksi mereka serta merumahkan karyawan. Bahkan, banyak di antara mereka terancam bangkrut.
Dampak kenaikan kedelai ini juga dirasakan oleh pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) Kota Batam, sebagian dari mereka memilih tutup sementara karena tingginya harga kedelai.
Seperti yang disampaikan Obos Bastaman, pengrajin tahu dan tempe mengaku saat ini harga kedelai satu karung sudah mencapai Rp460 ribu. Kondisi ini sangat memukul usaha tahu dan tempe karena itu jalan satu-satunya
"Tolong kami diperhatikan, kalau kondisi harga masih seperti ini akan makin banyak orang yang kelaparan di Batam. Sudah banyak pengrajin tahu tempe yang tidak jalan karena tak sanggup membeli kedelai," keluhnya.
Menurutnya, kenaikan kedelai yang sudah berlangsung hampir satu bulan ini harus cepat segera diatasi agar pengrajin tahu dan tempe tetap bisa berproduksi. Kini, sebagian besar pengrajin bertahan dengan mengurangi jumlah produksi dan ukuran tahu dan tempe. Sementara permintaan pasar sangat tinggi.
Obos berharap agar Gubernur Kepulauan Riau bisa memberikan kebijakan agar pelaku UKM di Batam bisa tetap eksis dan bisa menunjang perekonomian Kepulauan Riau, khususnya Batam.
Senada dengan Obos, pengrajin tahu dan tempe di Kota Ranai, Natuna, Bambang menuturkan, jika harga kedelai terus mengalami kenaikan maka usaha yang sudah ditekuninya selama puluhan tahun terancam gulung tikar. Sebab, dengan kenaikan harga kedelai, pendapatan dari hasil penjualan tahu tempe sangat tipis.
“Tentunya kami sebagai pengrajin tahu tempe sangat khawatir sekali dengan kenaikan harga kedelai ini. Sebab, biaya produksi tinggi sedangkan penjualan masih tetap tidak ada kenaikan. Hanya saja kami agak memperkecil ukuran tahu tempe,” katanya
Persoalan yang dihadapi di Ranai, lanjut Bambang tidak hanya masalah kenaikan harga kedelai tetapi juga pasokan kedelai ke Natuna juga sering tersendat. Karena itu, Ia berharap pemerintah segera mencari solusi agar pasokan kedelai ke Natuna lancar. (jof)




