Rabu09252013

Last update12:00:00 AM

Back Fokus Peternak Sapi Siap Menikmati Keuntungan Jelang Idul Adha

Peternak Sapi Siap Menikmati Keuntungan Jelang Idul Adha

Peternak sapi dan kambing di Kota Tanjungpinang dipastikan menikmati keuntungan berlipat dalam penjualan ternak mendekati Idul Adha yang jatuh pada 15 Oktober mendatang.
Tiga minggu menjelang hari raya Idul Adha, pedagang hewan kurban telah banyak mendapatkan pesanan hewan, baik dari perorangan maupun kelompok masyarakat dan pengurus masjid. Naiknya harga bahan bakar minyak dan kebutuhan pokok ternyata juga membawa dampak pada harga hewan ternak.

"Saat ini harga sapi Bali dari 55 kg sampai dengan 60 kg seharga Rp11,5 juta, untuk berat 60 kg sampai dengan 70 kg seharga Rp12,5 juta. Selain itu, sapi Bali yang berat 70 kg sampai dengan 80 kg seharga Rp14 juta dan dari 80 kg sampai dengan 90 kg seharga Rp15,5 juta," menurut data dari Biro Kesra Kota Tanjungpinang dari, Thamrin salah satu peternak di Tanjungpinang.

Selain itu, masih menurut data, untuk sapi Simental dengan berat 180 sampai dengan 200 kg seharga Rp24 juta. Sedangkan untuk berat 200 sampai dengan 220 kg dihargai Rp25 juta, dan untuk seberat 220 sampai dengan 250 kg seharga Rp26,5 juta.

"Data di atas merupakan hasil resmi yang dikeluarkan Pemerintah Kota Tanjungpinang, dan disosialisasikan kepada peternak dan pedagang di Kota Tanjungpinang," jelas Thamrin kembali.

Sejumlah peternak sapi dan kambing di Kota Tanjungpinang, mengaku sejak dua pekan terkahir sudah mendapatkan order pembelian dari beberapa pembeli, terutama untuk di Mesjid. Namun begitu, penjualan tetap terkontrol.

"Pemkab terus melakukan pembinaan, agar pengiriman sapi tetap terkontrol. Bulan Oktober yang semakin mendekati Idul Adha, dipastikan penjualan akan lebih besar, karena harga diyakini mencapai titik terbaik. Mudah-mudahan tidak tertekan, sehingga peternak ke depannya akan lebih semangat mengelola sapi," ungkap Thamrin kembali.

Sementara itu, salah seorang peternak di Km 5 atas Kota Tanjungpinang mengaku, mulai banyak menerima orderan hewan ternak. Pria yang biasa dipanggil "pak de lembu" ini saat ini terus merawat sapi-sapi ternaknya sehingga jelang hari raya Idul Adha hewan ternaknya banyak diminati.

"Hingga saat ini memang sudah banyak yang tanya-tanya harga sapi. Mungkin karena dampak belum lama ini masalah BBM naik, jadi harga sapi bahkan yang lainnya juga ikut naik. Kedepan harga sapi akan berubah-ubah sesuai permintaan dan kesehatan sapi itu sendiri," kata Pakde Lembu.

Menurutnya, pembeli lebih banyak dari kalangan pengurus masjid dan juga ada dari pengusaha dan pejabat di Kota Tanjungpinang. "Sampai saat ini, para pembeli dari perorangan mungkin pengusaha dan pejabat juga ada. Selain itu, dari pengurus mesjid juga ada, tetapi masih dalam batas mempertanyakan harga sapi untuk berkurban nanti," ungkapnya.


Stok Hewan Kurban di Kepri Aman

Ketersediaan hewan kurban untuk menghdapi hari raya Idul Adha 10 Dzuihijjah 1434 H, untuk Kota Tanjungpinang dan Provinsi Kepri umumnya dinyatakan aman. Semua hewan kurban baik sapi dan kambing didatangkan dari luar Kepri, karena Kepri bukan penghasil ternak hewan kurban.

Hal tersebut dikatakan oleh Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kepulauan Riau (Disperindag Kepri) Syed M Taufik, namun meskipun Kepri bukan penghasil ternak sapi dan kambing, tetapi saat ini stok masih aman.

"Kebutuhan akan daging bagi warga kita baik daging sapi maupun daging kambing, bukan makanan favoritnya. Warga kita masih memilih makan ikan dari pada daging. Kebutuhan daging lebarah idul adha nanti mencukupi," kata Syed M Taufik.

Menurut Syed M Taufik, sesuai dengan laporan yang diterima, hewan untuk kurban yang masuk ke Kepri nanti, kebanyakan dari Jakarta, Jambi, Lampung dan Riau dan Madura.

"Memang di kepri sendiri ada hasil ternak yakni dari pulau Tujuh, namun tidak banyak namun cukup membantu dalam menyuplai hewan persiapan untuk kurban di Kepri. Tetapi jumlahnya sangat terbatas," tegasnya.

Tambah dia, semua hewan kurban yang masuk ke Ibukota Provinsi Kepri, yang mulai masuk sudah mendapatkan pemeriksaan kesehatan dari karantina. Dan dibantu oleh Dinas Kesehatan.

"Bila petugas kita menemukan hewan kurban yang sakit atau terindikasi mengandung penyakit lainnya, maka kita melarang untuk diperjualbelikan. Hal ini sudah disepakati dengan para peternak yang ada di kepri," jelasnya lagi.

Kebutuhan hewan kurban di Kepri dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan, meskipun peningkatanya tidak terlau besar. Karena hal ini sudah menjadi tradisi bagi umat Muslim yang ada di Singapura atau Malaysia yang melaksanakan pemotongan hewan kurban di Kepri.

"Warga tersebut memang memiliki keluarga baik di Tanjungpinang atau didaerah lainnya memilih melaksanakan kurban di kepri. Dan ini dilakukan setiap tahun pada saat raya Idul Adha yang sengaja berkurban di kepri," tutupnya. (cw72)

Share