HARI Raya Idul Adha 10 Dzuihijjah 1434 H tinggal menghitung hari. Umat muslim yang ingin beribadah kurban mulai sibuk memilih-milih hewan kurban yang akan disembelih. Selain harga, perlu juga diperhatikan kesehatan dari hewan yang akan dibeli.
Penyakit jembrana merupakan penyakit vital pada sapi, yang biasanya ditemukan pada sapi Bali. Penyakit ini ditandai dengan berbagai gejala seperti depresi, anoreksia, demam, pendarahan ekstensif di bawah kulit, dan kebengkakan kelenjar limfa.
Selain itu adanya diare berdarah. Kemudian ditemukan juga pada banyak kasus penyakit yang disertai perdarahan kulit sehingga penyakit yang disebut penyakit keringat darah.
Kepala Dinas Pertanian, Pertenakan dan Kehutanan (KP2K) Provinsi Kepulauan Riau, Said Jafar, mengatakan, saat ini pihaknya telah membentuk tam gerak cepat Pronvinsi Kepri yang terdiri dari seluruh Kabupaten/Kota dan karantina.
"Karena saat ini perlu diwaspadai sapi yang masuk ke Kepri dari luar. Khususnya sapi Bali yang bisa terkena panyakit jembrana itu yang harus diwaspadai," kata Said Jafar, Sabtu (5/9).
Menurut Said, dalam beberapa hari terakhir, tim gerak capat telah menemukan beberapa sapi Bali yang terinfeksi penyakit jambrana.
"Sejauh ini sudah ada ditemukan sapi Bali yang terkena penyakit jembrana di daerah Batam. Maka sapi Bali yang masuk harus ada surat karantina," jelasnya kembali.
Selain itu, Said Jafar juga menghimbau kepada umumnya masyarakat Kepri, untuk tidak khawatir dengan penyakit jembrana pada sapi Bali yang masuk ke Kepri, jika masyarakat hendak membeli untuk berqurban nanti.
"Masyarakat jangan khawatir jika pemasok sapi Bali disiplin dan petugas juga disiplin tentunya tidak ada sapi yang terindikasi penyakit itu masuk ke Kepri. Karena penyakit jembrana sudah banyak membunuh sapi di daerah Kabupaten Jembrana di Bali," imbuhnya.
Sementara itu, pihaknya juga mengimbau kepada peternak sapi di daerah untuk mewaspadai penyebaran virus jembrana yang sangat membahayakan sapi. Penyakit jembrana yang disebabkan virus jembrana bersifat menular dari satu sapi ke sapi lainnya melalui gigitan lalat kandang. Untuk itu, para peternak harus mencegah perkembangbiakan lalat tersebut dengan menjaga kebersihan lingkungan di sekitar kandang.
"Penularan penyakit ini sangat cepat karena lalat kandang yang sebelumnya menggigit sapi terinfeksi virus jembrana dan kemudian lalat tersebut menggigit sapi lainnya, maka virus jembrana akan langsung masuk ke tubuh sapi sehat dan akhirnya sapi itu juga terancam keselamatannya," ujarnya.
Peternak di daerah Kabupaten/Kota hendaknya selalu memperhatikan kandang dan makanan ternaknya. "Saya juga berharap seluruh pihak terkait dapat saling bersinergi dengan pemerintahan dalam menjaga kesehatan hewan ternak melalui pembersihan kandang, memenuhi angka kecukupan gizi dan lainnya sehingga menghasilkan sapi sehat dan berkualitas," tutupnya.
Didatangkan dari Luar Kepri
Hewan kurban untuk menghdapi hari raya Idul Adha yang jatuh pada, Selasa 15 September 2013 mendatang didatangkan dari luar Kepri. Pasalnya, Kepri bukan penghasil ternak hewan kurban baik sapi maupun kambing.
Hal tersebut dikatakan oleh Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kepulauan Riau (Disperindag Kepri) Syed M Taufik kepada Haluan Kepri baru-baru ini. Meski Kepri bukan penghasil hewan ternak tegas Taufik namun stok hewan kurban masih aman.
"Kebutuhan akan daging bagi warga kita baik daging sapi maupun daging kambing, bukan makanan favoritnya. Warga kita masih memilih makan ikan dari pada daging. Kebutuhan daging lebarah idul adha nanti mencukupi," kata Syed M Taufik.
Menurut Syed M Taufik, sesuai dengan laporan yang diterima, hewan untuk kurban yang masuk ke Kepri nanti, kebanyakan dari Jakarta, Jambi, Lampung, Riau, Madura dan Bali.
"Memang di Kepri sendiri ada hasil ternak yakni dari pulau Tujuh, namun tidak banyak namun cukup membantu dalam menyuplai hewan persiapan untuk kurban di Kepri. Tetapi jumlahnya sangat terbatas," tegasnya.
Pantauan dilapangan, kalangan peternak sapi di sejumlah daerah Kota Tanjungpinang, sejak terakhir sudah mendapatkan order pembelian dari beberapa pembeli, terutama dari pengurus masjid. Namun begitu, penjualan tetap terkontrol.
Sementara itu, salah satu peternak di Km5 atas Kota Tanjungpinang mengaku, masyarakat sudah banyak menawar hewan ternaknya. Biasa dipanggil (pakde lembu) hingga saat ini dirinya terus merawat sapi-sapi ternaknya sehingga jelang hari raya Idul Adha sapi-sapinya banyak diminati.
"Hingga saat ini memang sudah banyak yang tanya-tanya harga sapi. Mungkin karena dampak belum lama ini masalah BBM naik, jadi harga sapi bahkan yang lainnya juga ikut naik. Kedepan harga sapi akan berubah-ubah sesuai permintaan dan kesehatan sapi itu sendiri," kata Pakde Lembu.
Bayak pembeli saat ini dari kalangan pengurus Mesjid dan juga ada dari pengusaha dan pejabat di Kota Tanjungpinang. "Sampai saat ini, para pembeli dari perorangan mungkin pengusaha dan pejabat juga ada. Selain itu, dari pengurus mesjid juga ada, tetapi masih dalam batas mempertanyakan harga sapi untuk berkurban nanti," ungkapnya kembali.
Gejala Umum Penyakit Jembrana Pada Sapi
Ternak yang terserang penyakit jembrana menunjukkan kenaikan suhu badan yang tinggi, berkisar antara 40-42 derajat Celcius, disertai dengan kelesuan dan kehilangan nafsu makan.
Tanda tersebut disusul dengan pengeluaran ingus yang berlebihan, lakrimasi dan hipersalivasi. Pada awalnya ingus bersifat encer dan bening, akan tetapi lambat laun ingus tersebut berubah menjadi kental seperti cairan mukosa. Gejala selanjutnya adalah pembengkakan dan pembesaran kelenjar limfe superfisial.
Salah satu gejala yang mencolok pada hewan yang menderita penyakit ini adalah berkeringat darah. Keadaan ini biasanya terlihat sewaktu dan setelah demam, dan berlangsung 2-3 hari lamanya.
Kira-kira 7 persen hewan yang bersuhu badan 41 derajat Celcius menunjukkan gejala tersebut. Gejala ini terutama ditemukan di daerah panggul, pungung, perut dan skrotum.
Keringat yang encer, seperti air dan berwarna merah seperti darah masih segar, dan menetes dari permukaan kulit melalui sepanjang bulu rambut, bila keringat menempel pada batang rambut sebagai kerak berbintil bintil dan tidak lepas bila diusap dengan tangan.
Ciri-ciri sapi yang terkena penyakit ini adalah keluarnya lender dari hidung dalam jumlah berlebihan. Pada awalnya lender encer, tetapi lama kelamaan mengental.
Penyakit ini disebabkan virus, sehingga bisa menular dan jika tidak ditangani dengan cepat bisa menyebabkan kematian. Penyakit ini umumnya menyerang sapi –sapi yang kondisi tubuhnya yang lemah. Pada sapi-sapi yang kondisinya baik, penyakit ini akan sembuh dengan sendirinya. Untuk pencegahannya, bisa dilakukan vaksinasi.
Sapi Cacingan
Penyebab sapi cacingan antara lain yang mengkonsumsi hijauan yang masih berembun dan yang tercemar siput sebagai vrktor (pembawa) cacing hati. Ciri-ciri sapi yang terkena cacingan adalah rendahnya tingkat pertumbuhan. Karena sebagian zat makanan di dalam tubuhnya juga dikonsumsi oleh cacing. Pencegahan dengan mencuci hijauan atau mengain-anginkannya sebelum diberikan pada sapi.
Penyakit Anthrax pada hewan ternak (sapi) disebabkan oleh bakteri berbentuk batang yang disebut Bacillus antbracis, tergolong berbahaya, dan menatikan, tidak hanya pada sapi, tetapi juga pada ternak lain dan manusia. Bakteri ini dapat hidup dalam waktu yang lama di dalam tanahdan masuk ke dalam tubuh sapi melalui berbagai vertor (pembawa) seperti, udara, air minum, gigitan serangga, dan pakan.
Penyakit Baliziekte pertama kali ditemukan di Bali. Penyebabnya adalah sejenis tumbuhan seperti kirinju (daun tanh), sibentar bunga (Eupotorium inufolium), rumput embun (Drymaria cordata). Sapi yang terserang penyakit ini mengalami perlukaan (erosi) di beberapa bagian tubuh, yang umumnya bersifat simetris. Artinya, jika menyerang kaki kiri, kaki kanan akan terserang pula. Penyakit ini tidak menyebabkan kematian, bahkan terkadangsembuh dengan sendirinya. Secara tidak langsung akan mengurangi tingkat pertumbuhan karena nafsu makannya menurun. Pengobatan bisa dilakukan dengan olesan salep atau antibiotika yang mengandung vitamin A dan B yang berfungsi mempercepat kesembuhan.
Bloat atau kembung, penyakit ini timbul karena ada gas di dalam perut yang tidak bisa di keluarkan, sehingga mengganggu proses pencernaan. Tanpa penanganan yang baik, penyakit ini bisa menyebabkan kematian. Upaya pengobatan sementara adalah dengan mencampur minyak kelapa dengan air hangat dan kemudian diminumkan pada sapi penderita. (Riko)
Share



