Jumat11082013

Last update12:00:00 AM

Back Fokus Nama SMRS Telah Lama Diusulkan

Nama SMRS Telah Lama Diusulkan

PERJUANGAN tokoh masyarakat Kepri untuk menjadikan Sultan Mahmud Riayat Syah (SMRS) menjadi pahlawan nasional belum selesai. Bahkan nama SMRS telah lama diusulkan ke pemerintah pusat.


Selangkah lagi Provinsi Kepuluan Riau (Kepri) kembali akan memiliki pahlawan nasional. Adalah, Sultan Mahmud Riayat Syah (SMRS) atau dikenal dengan nama Sultan Mahmud Syah III telah diusulkan sebagai pahlawan nasional dari Kabupaten Lingga. Sebelumnya, Kepri telah memiliki dua nama besar pahlawan nasional, yakni Raja Ali Haji dan Raja Haji Fisabilillah.

Sultan Riayat Syah bergelar Yang Dipertuan Besar Kerajaan Riau- Lingga akan diangkat menjadi pahlawan nasional ini disampaikan Direktorat Kepahlawanan, Keperintisan dan Kesetiakawanan Sosial Kementrian Sosial, Drs Andi Hanindito, MSi dalam seminar pengusulan Sultan Riayat menjadi pahlawan nasional di Aula Kantor Gubernur Kepri, beberapa waktu lalu.

Menurut Andi Hanindito, pengangkatan Sultan Mahmud Riayat Syah yang diusulkan menjadi pahlawan nasional dilihat dari dua faktor. Pertama Sultan merupakan tokoh pergerakan melawan penjajah sebelum terbentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (RI). Selain itu Sultan juga merupakan pelopor untuk melakukan perlawanan pada saat penjajahan.

Kedua, Sultan merupakan pembangun spirit nasionalisme dalam hal perjuangan pada masa kepemimpinannya di Kerajaan Riau Lingga-Johor-Pahang (1761-1812), membawahi tiga negara diantaranya Indonesia, Singapura dan Malaysia. Ini sangat luar biasa dan patut dibanggakan," beber Hanindito.

Namun dalam proses pengajuan tersebut ke Presiden RI tambah Hanindito, ada sedikit kendala karena masih ada data yang harus dilengkapi. Salah satunya yang harus dilengkapi adalah melalui opini.

"Kita bisa menciptakan opini melalui media untuk mengangkat tokoh tersebut menjadi pahlawan nasional. Dan untuk menguatkan data dan fakta itu juga harus melalui riwayat dan artibut dari Sultan Mahmud Riayat Syah. Bukti dan fakta itu tidak semestinya berupa bentuk tertulis atau foto saja," katanya.

Ia mengatakan, semua elemen masyarakat Kepri, terutama pemerintah setempat juga harus mendapatkan data-data pendukung lainnya. Misalnya ada barang-barang dan atribut kebesaran Sultan dan lainnya yang tersimpan baik di daerah kekuasaannya dulu maupun di negara Belanda harus dilengkapi.

"Kita harus menegejar waktu karena pengangkatan pahlawan nasional tersebut pada November mendatang, bertepatan dengan hari pahlawan," katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Kepri, Edi Rofiano mengatakan Pemprov Kepri akan melengkapi data Sultan tersebut.

"Kita terus berusaha untuk melengkapi data-data yang belum ada dan diusahakan pada Juni-Juli data dan fakta bisa dilengkapi seluruhnya. Kami bersama tim yang telah terbentuk akan bekerja keras dan pada saatnya nanti Sultan Mahmud Riayat Syah bisa menjadi pahlawan nasional," janjinya.

Sebelumnya pihak Pemerintah Kabupaten Lingga melalui Dinas Budaya dan Pariwisata terus berupaya menyusun langkah dan pemenuhan syarat pengangkatan tokoh Kerajaan Malayu Riau-Lingga-Johor- Pahang sebagai pahlawan nasional. Pemkab Lingga telah membentuk tim perumus dan membuat buku sejarah dan perjuangan kepahlawanan Sultan Mahmud Riayat Syah.

Buku ini ditulis oleh tujuh tim penulis yang dilindungi Bupati Lingga H Daria. Sementara sebagai penasehat Drs Abu Hasyim, Drs Kamaruddin dan penanggung jawab bersama Drs Junaidi. Penulis buku ini diketuai oleh Drs Haji Abdul Malik, MPd dan Wakil Ketua Drs Haji Abdul Kadir Ibrahim, MT.

Sekedar diketahui, Sultan Mahmud Syah III merupakan putra dari Tengku Abdul Jalil Bin Sultan Sulaiman Badrul dan Tengku Putih Binti Opu Daeng Celak (Yang Dipertuan Muda Riau ke-2). Sultan Mahmud dilantik menjadi Sultan tahun 1761 M pada usia belia, saat masih berusia dua tahun.

Pusat pemerintahannya berada di Hulu Riau (Kota Raja) selama 26 tahun (dari tahun 1761-1787 M). Demi taktik perang melawan Belanda, Sultan Mahmud Syah III kemudian memindahkan Ibukota kerajaan di Lingga hingga akhir hayatnya, tahun 1812 M.

Sebagai pemimpin tertinggi Kerajaan Johor-Riau-Lingga dan Pahang, banyak kebijakan Sultan Mahmud Syah III yang strategis dan monumental. Salah satunya dengan memerintahkan perjuangan melawan penjajah dalam perang di Teluk Riau dan Teluk Ketapang Melaka pada tahun 1784. Dalam peperangan ini, panglima perang Raja Haji Fisabillillah, tewas sebagai syahid.

Meski mengalami kekalahan, tidak menyurutkan perjuangan Sultan Mahmud Syah III melawan penjajah. Beliau justru semakin memperkuat armada perangnya, menyusun strategi dan membangun pusat-pusat ekonomi.

Sultan Mahmud Syah III juga mempererat kerajaan Riau-Lingga-Johor dan Pahang dengan beberapa kerajaan lainnya seperti Jambi, Mempawah, Indragiri, Asahan, Selangor, Kedah dan Trenggano.

Sultan Mahmud Syah III, menguatkan persaudaraan antara Melayu dan Bugis melalui ‘sumpah setia’ dan pernikahan antara kedua belah pihak. Kebijakan Sultan ini terbukti mampu menjadi senjata ampuh, melawan penjajah yang terkenal dengan politik adu dombanya.

Pada masanya juga, Lingga dirintis menjadi pusat tamaddun Melayu. Diantaranya menggalakan dunia tulis (mengarang) dalam kitab-kitab ajaran agama Islam dan bahasa (sastra) Melayu. Kelak, bahasa Melayu menjadi cikal bakal bahasa pemersatu nusantara, yakni bahasa Indonesia.

Sultan Mahmud Syah III, menjadikan pulau penyengat sebagai maskawin pernikahannya dengan Engku Puteri Raja Hamidah binti Raja Haji. Berkat perjuangan Sultan pula, akhirnya Lingga dan pulau Penyengat menjadi kota yang hebat. Lingga kemudian dikenal sebagai Bunda Tanah Melayu dan Pulau Penyengat sebagai Pulau Indera Sakti.

"Sultan Mahmud bukan hanya tokoh bagi nusantara, tapi kejayaannya dikenang oleh Johor, Malaysia dan Singapura. Dia adalah Sultan besar yang pernah berkuasa di kawasan nusantara bahkan ASEAN,” kata zuriat Sultan Mahmud, Tengku Husein kepada wartawan beberapa waktu lalu.

Keturunan ketujuh Sultan Mahmud Syah III ini mengatakan, sudah banyak pihak-pihak yang datang menemuinya dari Malaysia dan Johor. Mereka menggali sejarah dan peran Sultan Mahmud Syah III bagi sejarah negara mereka.

“Saya terharu akhirnya Sultan Mahmud akan diusulkan menjadi pahlawan nasional Indonesia. Semoga saja bisa terealisasi, sebelum diklaim menjadi pahlawan oleh Malaysia atau Singapura,” kata Tengku Husein.

Dalam catatan sejarah, Sultan Mahmud Syah III memiliki dua anak yakni Tengku Husin dan Tengku Abdur Rahman. Tengku Husin kemudian ditunjuk menjadi Sultan Johor dan Singapura. Sedangkan Tengku Abdur Rahman menjadi Sultan Riau-Lingga-Johor dan Pahang dalam (tahun 1812-1819). ***
(sut)

Share