Perahu Jong merupakan permainan rakyat pesisir yang masih bertahan hingga saat ini. Permainan ini banyak dilakukan oleh pemuda-pemuda di pulau-pulau di Kepulauan Riau.
Perahu Jong berupa replika miniatur perahu layar tetapi tidak dikemudikan oleh manusia, melainkan berlayar dengan mengandalkan terpaan angin. Permainan rakyat ini biasanya dilakukan di pantai dengan beberapa orang, biasanya masyarakat melakukan perlombaan Perahu Jong dengan cara siapa yang tercepat sampai di pantai atau di darat maka itulah yang menjadi pemenangnya.
Untuk membuat sebuah perahu Jong harus mempunyai keahlian tersendiri, karena bahan baku pembuatan Jong ini harus dari kayu yang memiliki struktur kayu yang baik dan mempunyai bobot yang ringan. Biasanya, jenis kayu pulai kering, menjadi bahan baku utama pembuatan Jong. Karena kayu pulai sangat ringan dan tahan terhadap air laut.
Pak Sambas salah seorang pembuat Perahu Jong di Desa Teluk Bakau Bintan mengatakan, membuat Perahu Jong kelihatan senang tetapi sebenarnya memerlukan keahlian dan ketelatenan.
"Dalam membuat Jong itu seseorang perlu benar-benar tahu apa yang dilakukan sebab jika tidak, kayu yang ditakik (dipahat,red) akan pecah dan hancur. Jong tak jadi,
malah rugi yang dapat, karena bukan senang nak mendapatkan bahan kayu untuk membuat Jong.,"ujarnya, Sabtu (16/11).
Pak Sambas kemudian menjelaskan bahan utama untuk membuat Jong adalah kayu pulai. jenis kayu ini biasa juga digunakan untuk membuat sampan. Karena menurutnya kayu ini ringan dan tahan serta tidak mudah diserap air. Kayu yang biasa diambil untuk membuat Jong diambil dari bagian batang pohon pulai.
"Inilah yang membuat bahan baku kayu untuk membuat Jong ini sedikit susah didapat. Sebab, bagian batang yang biasa diapaki untuk membuat Jong. Sehingga, terpaksalah
ditebang satu pohin dan inilah yang mengakibatkan pohon pulai sekarang susah didapatkan. Kalaupun kayu pulai tidak ada bisa juga diganti dengan kayu mentangoh tapi
jenis kayu ini tidak seringan kayu pulai," ujarnya.
Pak Sambas menjelaskan proses pembuatan Jong pertama kayu pulai diambil dan diukur sesuai keinginan yang mau dibuat. Ukuran Jong mulai dari 50 Cm hingga 2 meter.
Kemudian kayu dipahat kulitnya setelah itu membuat dua garis lurus di tengah-tengah kayu. Baru kemudian kayu dibentuk menjadi 4 segi dengan menggunakan siku.
Setelah itu kayu dipahat lagi, baru ditambahkan lunas Kiri dan kanan supaya Jong itu seimbang.
Proses selanjutnya adalah membuat sauk. Sauk merupakan seni dan ciri khas tradisi Melayu. "Jika tiada sauk, jong tidak akan kelihatan menarik," ucapnya.
ukuran sauk harus sama dengan kayu yang telah dipahat tadi. Dalam pembuatan Jong ini biasanya tidak menggunakan paku. Karena paku cepat berkarat dan memberatkan Jong. Fungsi sauk adalah untuk meluruskan atau menyeimbangkan Jong.
Setelah itu kayu jong tersebut baru dipahat seolah-olah membuat sampan. Jika kayu itu sudah melengkung ke dalam, bentuk kayu itu seolah-olah sudah boleh menampung orang. Kemudian baru dibuat yang jongo yang berfungsi memberi imbangan pada jong ini. Bentuk jongo lurus memanjang di depan jong yang bentuknya seperti muncung ikan todak. Fungsi jongo juga adalah untuk kestabilan jong apabila ditiup angin. Jongo merupakan bahagian depan jong atau kemudi jong.
Kemudian ada juga Ganda kate yaitu sebatang kayu lurus yang digunakan untuk memberi imbangan kepada Jong. Ganda kate ini di masukkan ke dalam lubang yang disediakan di tengah jong. Mengikut arah angin, jika angin dari arah selatan, gada kate akan dimasukkan dari kiri. Jika angin dari arah utara, ganda kate akan dimasukkan dari kanan jong.
Untuk layar Jong itu sendiri. Pak Sambas mengakui saat ini bahan parasut merupakan bahan yang paling bagus digunakan untuk layar. Namun, bahan baku tersebut sulit
didapat. Untuk menggantinya biasa digunakan kain jenis yang ringan untuk dibuat layar. Pada bagian layar ini terdapat 2 bahagian yaitu layar besar, dan layar kecil.
Ada juga namanya anak panah yang berfungsi untuk menunjukkan lubang untuk memasukkan kayu layar. Ada satu lagi lubang di tebuk di buritan Jong untuk mengeluarkan air yang masuk melalui lubang layar. Layar di Jong merupakan "mesin" dari Jong itu sendiri. Sebab, permainan Jong ini sangat mengandalkan kekuatan angin. Fungsi layar dan jeep adalah untuk merubah putaran angin supaya jong menjadi terarah. "Setelah semua selesai barulah Jong itu dicat sesuai dengan selera," ucapnya.
Selain membuat Jong dengan bentuk yang standar. Pak Sambas juga biasanya membuat Jong dengan variasi yang berbeda. Seperti Jong dengan jenis ikan todak dan jerung
tumbuk.
Menurutnya, modal untuk membuat Jong ini bervariasi antara 100-300 ribu rupiah. "Itu tergantung besar kecilnya Jong yang nak dibuat," ujarnya.
Pak Sambas juga mengungkapkan saat ini Pemerintah Kabupaten Bintan juga telah memberikan bantuan kepada para pengrajin Jong di Bintan berupa alat-alat untuk membuat Jong. Selain itu Pemkab Bintan juga menyediakan akomodasi bagi para tim Jong yang ada di Bintan jika ingin berlomba ke luar Kepulan Riau. ***
Pemerintah Rangkul Pengrajin Perahu Jong
Perkembangan Jong di Kota Tanjungpinang juga hampir sama dengan di Kabupaten Bintan. Saat ini Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kota Tanjungpinang juga telah melakukan pembinaan kepada para pengrajin Jomg yang ada di Kota Gurindam ini.
Menurut Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kota Tanjungpinang,Effiyar M Amin setelah diadakannya Festival Laut tahun 2013 minggu lalu, Disparekraf berencana akan membina para pembuat Perahu Jong yang ada di Kota Gurindam.
Menurut Effiyar saat ini ada sekitar 30 grup Jong yang berada di Tanjungpinang.
"Saat ini disparekraf dalam tahap pembinaan para pengrajin Jong itu dengan membantu para pengrajin tersebut menyediakan peralatannya. Mungkin kedepannya kita akan mencantumkan logo Kota Tanjungpinang di setiap perahu Jong yang ada di KOta ini," ujarnya.
Sementara itu Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tanjungpinang, Dadang AG menyampaikan saat ini bentuk pengembangan untuk melestarikan permainan Jong dengan selalu mengadakan perlombaan Jong disetiap hari-hari besar.
"Jong ini merupakan permainan masyarakat asli Melayu. Untuk itulah kita akan terus melestarikan permainan rakyat ini. Maka dari itu sekarang ini permainan Jong akan terus diperlombakan bukan hanya setahun sekali. Tapi setiap ada hari-hari besar seperti Mari Muharram, ulang tahun kota, dan lain sebagainya," ujar Dadang.*** Zulfikar
Sejarah Jong
Dosen Tradisi Melayu FKIP UMRAH, Muharroni menyampaikan dalam beberapa literatur dikatakan bahwa jong milik masyarakat pesisir pantai. Artinya jong merupakan permainan tepi pantai yang dilakukan masyarakat nelayan. Menurutnya, hampir tidak diketahui asal mula jong berasal. Terutama jika dikaitkan dengan wilayah melayu serumpun (malaysia, singapura, kepulauan riau, thailand, brunai, filipina) yang pada dasarnya merupakan masyarakat pesisir. Namun jika dilihat secara seksama, tentulah terdapat perbedaan antara jong disatu tempat dengan tempat lainnya, terutama bahan yang digunakan untuk membuatnya.
Dalam pembuatan jong zaman dahulu, memang terdapat berbagai pantang larang sesuai dengan budaya waktu itu yang mengamalkan fahaman aminisme. Orang yang membuat jong akan menentukan hari yang sesuai untuk masuk ke hutan mencari dan menebang pokok pulai. "Biasa pada zaman dahulu orang tersbut terlebih dahulu menyemah pantai dengan harapan tidak roh-roh jahat yang akan mengganggu Jong mereka dan mengakibatkan jong karam atau malapetaka ke atas pemiliknya," ujarnya.
Muharroni juga menyampaikan dalam permainan Jong ini bukan memainkannya yang sulit. Tapi membuat Jong itu sendiri yang masih sangat susah. Hal inilah sekarang yang menyebabkan Jong itu tekesan sebagai barang mewah. Mahasis di Universitas peradaban Melayu ini juga mengutarakan diharapkan kedepannya pemerintah bisa memberikan pembinaan kepada para pengrajin Jong. Sehingga Jong tersebut bisa diproduksi secara massal.(cw77)
Share





