Rabu11202013

Last update12:00:00 AM

Back Fokus Mengisi Waktu Saat Cuaca Buruk

Mengisi Waktu Saat Cuaca Buruk

MASYARAKAT yang masih mempertahankan tradisi membuat perahu jong masih banyak ditemui di Tanjungpinang yakni di sekitar daerah Penyengat, Dompak Laut, Dompak Darat, Madong dan di sekitar pulau-pulau yang ada di Kota Gurindam.
Dan tidak setiap saat masyarakat di daerah pesisir yang membuat Perahu Jong, hanya pada waktu tertentu saja. Biasanya pada musim angin barat yang sebagian nelayan tidak bisa melaut karena cuaca buruk.

Pada musim penghujan atau angin kencang biasanya para nelayan tidak melaut dan tidak ada kegiatan selain memperbaiki jaring atau memperbaiki perahu yang bocor biasanya nelayan tradisional mengisi waktu dengan membuat perahu jong.

Dan pada saat cuaca sedang baik, biasanya para nelayan mempermainkan Perahu Jong ini setelah pulang melaut, dan permainnanya juga dilakukan pada sore hari. Bersama dengan beberapa nelayan lainnya serta membawa serta anak-anak untuk menghilangkan penat setelah melaut seharian,dan dimainkan pada saat cuaca cerah dan setelah pulang melaut sore hari.

Pemerintah Kota Tanjungpinang, terus berupanya untuk mempertahankan atau melestarikan salah satu tadisi kebudayaan melayu ini. Salah satu upaya dari Pemko Tanjungpinang yakni permainan rakyat pesisir berupa perlombaan Perahu Jong, diikutsertakan untuk memeriahkan event wisata tahunan yang digelar Pemko Tanjungpinang.

Untuk memeriahkan event Dragon Boat Race yang dilaksanakan oleh Pemko Tanjungpinang setiap tahunnya, Pemko Tanjungpinang selalu mengikutsertakan lomba Perahu Jong yang pesertanya berasal dari berbagai daerah di Kepri maupun peserta dari luar daerah Kepri.

Seperti baru-baru digelar ini Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kota Tanjungpinang menggelar Festival Laut Tanjungpinang 2013 di Pulau Penyengat. Acara yang berlangsung selama tiga hari mulai Sabtu (9/11) hingga Senin (11/11) tersebut diikuti oleh 260 peserta yang berasal dari Kota Tanjungpinang, Batam, Bengkalis, Tanjung Balai, dan Kabupaten Bintan.

Menurut Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kota Tanjungpinang Effiyar M Amin, acara ini bertujuan melestarikan tradisi masyarakat Melayu khususnya di Kepulauan Riau. Ke depan pihaknya akan bekerjasama dengan agen-agen perjalanan untuk menarik wisatawan berkunjung ke Tanjungpinang dan melihat tradisi budaya Melayu.

"Kita mengharapkan bisa melestarikan budaya Melayu seperti lomba sampan dayung, kebiasaan orang Melayu zaman dahulu. Permainan Jong yang dahulunya permainan anak raja. Lomba menambat itik, melepas itik ke tengah laut dan peserta beramai-ramai menangkap itik tersebut. Ini merupakan suatu permainan yang telah lama dilakukan oleh orang zaman dahulu," ungkapnya kepada Haluan Kepri, Minggu (10/11).

Festival tersebut diikuti oleh 18 peserta lomba sampan layar dan 32 peserta lomba sampan dayung. Mereka berasal dari Kota Tanjungpinang, Kabupaten Bintan dan Kota Batam diantaranya dari Dompak, Air Klubi, Kelong, Pangkil, Bintan Pesisir dan Belakang Padang. Lomba perahu jong masih menjadi favorit dengan antusiasnya warga menyaksikan perlombaan. ***Zulfikar.


Bernilai Seni, Jadi Cenderamata Wisatawan

Kemajuan teknologi tidak harus membuat tradisi dan karya seni digilas kemajuan zaman yang semakin canggih. Seperti tradisi seni pembuatan perahu kecil atau yang disebut perahu Jong. Tidak hanya di Tanjungpinang, perahu khas Kepri ini juga masih eksis di masyarakat Kabuptaen Karimun.

Bukan merupakan keterampilan yang mudah, hal itulah yang terlihat dalam pembuatan perahu Jong. Dalam pembuatan kerajinan ini diperlukan keterampilan khusus, ketelitian dan kesabaran yang cukup tinggi. Karena tidak tidak banyak masyarakat yang bisa membuat perahu jong.

Salah seorang warga pengrajin Perahu Jong di Kabupaten Karimun, Muhammad Sami (56), warga Desa Parit I Kecamatan Karimun, Kabupaten Karimun, mengatakan, kerajinan membuat perahu jong ini sudah lebih kurang dua puluh tahun ditekuninya yang awalnya dari melihat orang lain membuat perahu jong.

Namun ternyata hanya dengan belajar dan melihat cara pembuatan perahu Jong dari orang tua terdahulu, Muhamad Sami mampu menciptakan perahu jong sendiri.

"Dari situlah timbul bakat akan seni ini dan selanjutnya dengan bakat inilah saya mampu menghasilkan karya seni kerajinan tangan perahu jong ini ditengah masyarakat Karimun. Kerajinan tangan ini masih banyak digemari masyarakat baik itu untuk permintaan dari instansi pemerintah maupun masyrakat yang ada dan bahkan ada pula pesanan pembuatan perahu tradisional ini juga diminati warga negara asing,"ujar M Sami.

Bahkan dari buah karya tanganya ini tidak sedikit orang minta dibuatkan perahu kecil yang berlayar dengan berdasarkan arah angin. Bukan hanya dari dalam negeri atau daerah yang memesan perahu jong ini. Justru dari negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura juga tertarik memasan perahu tersebut.

"Belum lama ini ada warga Malaysia yang tidak tanggung-tanggung memesan hasil kerajinan ini sebanyak tiga puluh unit dimana ketika itu warga Malaysia tadi sedang berkunjung ke Karimun," ucap Sami.

Harga jualnya lumayan tinggi, menurutnya harga jual hasil kerajinan ini biasanya dijual dengan beraneka harga tergantung dari besar dan jumlah hasil karya perahu Jong yang dihasilkan dan nilai kualitasnya, dan untuk yang termurah biasanya dijual berkisar hingga Rp 300 Ribu per satu perahu.

"Sedangkan untuk harga paling mahal biasanya dijual seharga Rp1 juta," tambahnya.

Dikatakan, Perahu Jong ini bukan hanya sebagai perhiasan yang dipajang di rumah-rumah pecinta perahu unik. Namun juga sering diperlombakan dalam moment tujuh belasan setiap tahunnya yang menjadi tontonan warga dan telah menjadi budaya yang dapat menarik perhatian banyak orang baik lokal maupun warga negara tetangga.

Bahkan perahu Jong buatan tangan Sami ini dapat menjadi oleh-oleh bagi wisatawan yang berkunjung ke Karimun. (jof/dsb)

Share