Minggu12222013

Last update12:00:00 AM

Back Fokus Rawan Kebakaran tapi Minim Peralatan

Rawan Kebakaran tapi Minim Peralatan

TANJUNGPINANG (HK)-- Musibah kebakaran yang melanda Pelantar KUD beberapa hari lalu sebenarnya sudah lama disadari warga. Pasalnya, lokasi tersebut memang rawan kebakaran dan sudah beberapa kali musibah yang sama terjadi. Ironisnya, di lokasi ini tidak ada memiliki alat pencegah pemadam kebakaran termasuk hidrant

"Lokasi ini sudah beberapa kali terjadi kebakaran namun pemerintah tidak cepat tanggap dengan menyediakan alat pencegah pemadam kebakaran termasuk hidrant," tutur Ati, salah seorang korban.

Dalam peristiwa kebakaran tersebut, pria yang berusia 41 tahun ini, harus merelakan semua barang-barang yang ada di tokonya. Dan yang tersisa hanya onggokkan barang yang menghitam.

"Seharusnya pemerintah belajar dari peristiwa kebakaran yang sudah empat kali terjadi," tandasnya.

Kata Ati, sampai saat ini alat pencegah kebakaran tidak ada terpasang di kawasan ini. Apalagi, wilayah di Pelantar KUD ini susah dimasuki oleh mobil kebakaran. Selain jalan yang sempit juga sudah padat dengan bangunan penduduk.

"Seharusnya pemerintah mencari alternatif lain untuk mengatasi bila terjadi kebakaran seperti ini. Sangat disayangkan dengan kejadian berulang namun tidak ada solusi atau niatan untuk melakukan pemasangan alat pencegah kebakaran," ucapnya dengan sedih.

Ati mengaku, untuk tempat tinggal, saat ini ia terpaksa harus menumpang ke tempat saudaranya karena rumah sekaligus tokonya sudah hancur.

Ketua RW 07 Pelantar KUD Kelurahan Kota Tanjungpiang, Tan Sun Tek mengakui, sampai saat ini di sekitar pelantar KUD memang belum ada hidrant yang dipasang oleh pemerintah atau intansi yang terkait.

"Memang saya mendengar akan ada pemasangan hidrant tersebut, dan itu sudah didengar sejak dua tahun lalu. Baru-baru ini juga mendengar lagi akan dilakukan pemasangan, tapi sampai sekarang tak jelas," katanya.

menurut Tan Sun Tek, bila hidrant tersebut dipasang juga akan sia-sia. Sebabnya, hidrant itu harus tersedia terus air yang dihubungkan dengan pipa PDAM. Sementara masyarakat di sekitar sini mendapat air untuk kebutuhan mandi saja susah.

"Air hanya hidup pada malam hari dan itupun mengalir tiga hari sekali. Bagaimana bila dipasang alat itu, namun ketersediaan air minim, kan sia-sia saja dipasang alat itu?. Terkecuali disiapkan juga bak air ukuran besar di beberapa lokasi, sehingga bila akan diperlukan bisa digunakannya," katanya.

Masyarakat di sini, kata Tan Sun Tek, berharap pemerintah segera mencari jalan keluar agar musibah kebakaran tidak terulang kembali. "Jelas masyarakat sangat mengharapkan dengan adanya semacam alat dan sarana untuk mengatasi kebakaran. Tentu saja, pemasangan alat itu harus disesuaikan dengan keadaan di lapangan," katanya.

"Rumah dan toko di sini rata-rata berada di atas laut dan jaraknya sangat rapat. Kita mengharapkan solusi dari pemerintah untuk mencari alternatif lain untuk mencegah kebakaran. Sehingga tidak akan terulang lagi seperti ini," sambungnya lagi.

Penjaga Pasar Baru II Tanjungpinang, Muhammad Pengah (55) menuturkan, api yang pertama muncul diperkirakan sekitar pukul 19.30 WIB. Menurutnya, sumber api berasal dari sekitar toko alat-alat elektronik. Meski awalnya kecil, namun karena karena bangunan di lokasi hampir 80 persen terbuat dari kayu maka api cepat membesar.

"Saat kejadian, saya usai mandi dan akan melaksanakan sholat isya. Saat akan naik ke pos jaga di lantai dua, saya melihat api di tengah pasar. Saya langusng mendekat untuk mengetahuinya. Ternyata api di dalam pasar tersebut telah membesar," katanya.

Tak butuh waktu lama, api terus membesar dan langsung melalap bangunan di Pasar KUD. Mobil kebakaran yang datang, tidak bisa masuk ke dalam pasar karena akses jalan menuju pasar hanya bisa dilalui oleh sepeda motor.

"Karena pemadam kebakaran tak bisa masuk, warga pun terpaksa berjibaku memadamkan api dengan cara manual. Pakai ember dan pompa air seadanya," katanya. ***

Dewan Anggarkan Pengadaan Alat Pemadam Kebakaran

Minimnya peralatan pemadam kebakaran di lokasi-lokasi yang rawan kebakaran ditanggapi langsung oleh anggota DPRD Kota Tanjungpinang, Benny. Menurut Benny, DPRD Kota Tanjungpinang telah menganggarkan pada tahun ini untuk pengadaan alat pemadam kebakaran yang dikhususkan di sekitar wilayah pelantar-pelantar di Tanjungpinang.

"Di wilayah pelantar ini sudah diyakini bahwa mobil kebakaran tidak bisa masuk dan itu sudah diketahui oleh semuanya. Hal ini dikarenakan di wilayah pelantar sudah sangat padat dan akses jalan hanya bisa dimasuki sepeda motor dan pejalan kaki saja,"katanya.

Benny berharap DPRD Provinsi Kepri ikut memperhatikan dan mengusulkan alat pencegah kebakaran yang dikhususkan bagi daerah-daerah pelantar di Tanjungpinang yang merupakan pusat perekonomian di ibukota Provinsi Kepri ini karena pelantar sangat rawan terbakar.

Tahun 2013 ini, kata dia, DPRD Tanjungpinang telah menganggarkan pengadaan hidrant serta pompa air laut di pelantar untuk mengatasi bila terjadi kebakaran ini.

"Pada tahun 2014 juga akan menganggarkan lagi alat yang sama. Dengan demikian, bila terjadi kebakaran, bisa segera ditanggulangi agar tidak sampai merembet kemana-mana," ujar Benny.

"Pada kejadian ini, masyarakat yang berusaha memadamkan api, sementara petugas kebakaran tidak dapat banyak berbuat karena mobil pemadam tidak bisa masuk. Ini merupakan pelajaran bagi kita semua untuk melihat ke depannya lebih antisipatif dan mempersiapkan dari segala kemungkinan yang akan terjadi," tutupnya.

Bantuan Kapal

Gubernur Kepri, H Muhammad Sani juga berjanji akan menyiapkan armada kapal pemadam kebakaran guna mengatasi peristiwa kebakaran yang terjadi di daerah-daerah pelantar yang padat penduduk namun susah dimasuki oleh mobil pemadam.

"Kita akan pelajari hal ini (pengadaan kapal pemadam kebakaran) bersama instansi terkait," ujar gubernursaat meninjau lokasi kebakaran, Jumat (6/12) lalu.

Menurut Sani, dengan adanya kapal pemadam kebakaran, bisa memudahkan untuk mencapai akses ke lokasi dari laut bila kebakaran tersebut terjadi di daerah pelantar yang tidak mempunyai akses jalan untuk mobil.

"Langkah pertama adalah menganggarkan penyediaan kapal pemadam kebakaran di laut itu," kata Sani.

"Namun, jika tidak bisa dianggarkan pada APBD murni tahun 2014, akan dianggarkan di APBD Perubahan 2014. Itu karena saat ini APBD tengah dibahas. Tetapi jika masih memungkinkan, akan kita anggarkan tahun ini juga," sambung Sani.

Kata Sani, ketersediaan armada kapal pemadam kebakaran memang sudah sangat dibutuhkan, khususnya untuk daerah Tanjungpinang. Sebabnya, banyak pemukiman dan pusat perdagangan yang berada di sekitar tepi laut.

"Namun pembangunan itu kondisinya tak tertata dengan baik, sangat minimnya akses jalannya yang ada menyebabkan mobil pemadam kebakaran susah untuk masuk. Bila saat ini perumahan warga ditata tetap saja jalan yang ada tak bisa diperlebar. Pemerintah juga akan menyediakan hydrant di pelantar-pelantar," ujarnya.

Rencana pengadaan kapal pemadam langsung disambut positif oleh anggota DPRD Kepri, Rudy Chua yang ikut dengan rombongan gubernur meninjau ke lokasi kebakaran. Kata dia, kapal pemadam kebakaran memang sudah sangat mendesak untuk diadakan, mengingat pusat bisnis di Tanjungpinang mayoritas berada di sekitar tepi laut.

"Bila tidak segera diadakan kapal ini, ditakutkan kebakaran besar akan terjadi lagi dikarenakan terhambat dengan minimnya akses jalan yang ada. Ini merupakan kendala yang dihadapi selama ini dan telah berulang kali," katanya. (sut)

Share