Nelayan Karimun di Musim Utara
MUSIM angin utara memaksa nelayan di Kabupaten Karimun untuk beralih profesi mencari siput ke pulau-pulau guna menyambung hidup sehari-hari.
Setiap musim angin utara masyarakat nelayan tidak bisa melaut. Sementara selama ini kehidupan mereka sangat tergantung dengan hasil laut. Untuk bisa bertahan hidup, para nelayan beralih ke profesi lain diantaranya mencari siput dan gonggong.
Kintan, salah seorang nelayan yang tergabung dalam kelompok nelayan Batu Hitam Sejahtera mengaku sudah hampir satu bulan Ia tidak pergi melaut karena angin kencang.
Karena itu, banyak dari nelayan yang mencari siput dan gonggong ke pulau-pulau agar asap dapur mereka tetap mengepul.
Kondisi cuaca di tengah laut lanjut Kintan saat ini sangat buruk. Meski demikian sebagian nelayan masih ada yang berani melaut dengan alasan pada bulan Desember ini, ikan semakin banyak kendati nyawa mereka terancam.
"masih ada sih nelayan yang berani melaut di bulan Desember ini, sebab banyak ikan, meski angin pancaroba, maksudnya kadang angin barat, kadang angin utara tidak menentu. Jika kami tidak melaut pekerjaan sehari-hari kalau tidak membetulkan kapal dan jaring, kami pergi mencari gongong dan siput ke pulau merak, pulau tembelses dan pulau babi," tutur Kintan.
Hasil pencarian siput dan gonggong tidak dimakan tapi dijual dengan harga Rp9 ribu per kilo," tutur Kintan saat ditemui di kediamannya.
Kintan menambahkan, pada bulan depan ikan susah ditangkap itu menjadi alasan sebagian nelayan tetap melaut. Sedangkan jenis ikan yang selalu mereka tangkap seperti ikan parang, tenggiri, ikan puput dan ikan biang.
"Memang di perairan Karimun ini jika bulan Desember ikan lumayan banyak meski keadaan cuaca tidak menentu. Karena itu banyak nelayan tetap pergi melaut. Namun untuk bulan-bulan dua sampai bulan lima, dan bulan delapan, masyarakat nelayan baru tidak melaut. Bagi yang tidak melaut terpaksa cari siput dan gonggong, atau hanya menjual jasa untuk membetulkan perahu yang rusak," beber Kintan.
Tambah Kintan, pihaknya sudah lebih dari 30 tahun jadi nelayan, jadi waktu-waktu yang tepat pergi melaut sudah mereka hafal. Sedangkan pendapatan sekali melaut bisa mencapai Rp20 juta, jika lagi beruntung. Namun tak jarang juga apes, tidak membawa pulang ikan.
Sedangkan untuk masuk laut biasanya Kintan dan 23 teman yang masuk dalam kelompok nelayan Batu Hitam Sejahtra lainnya mulai pukul 16.00 sore untuk memasang jaring. Sedangkan pengambilan jaring baru pada pukul 22.00 WIB malam.
Berbeda dengan Kintan, Budy nelayan lainnya yang tidak pergi melaut mengaku mencari penghasilan dengan menjual jasa perbaikan kapal nelayan. Hasilnya cukup buat kehidupan keluarganya meski upah yang diterima tidak sebanyak upah ketika melaut.
"Harus bagaimana lagi mas, jika memang tidak melaut terpaksa saya menerima jasa perbaikan kapal, sebab haya di situ skill saya. Kadang jualan udang, sebab cari udang kan sangat berbeda dengan nelayan yang lain. Tapi kebanyakan di tempat ini, jika tidak melaut membetulkan kapal, dan ada juga memang yang cari gongong untuk dijual ke china, yang harganya berkisar Rp8ribu sampai R9ribu perkilogram,"aku Budy.
Tambah Rudy, untuk menghidupi keluarganya yang setiap hari membutuhkan biaya, namun dengan skil yang terbatas dimilikinya dirinya sangat mengandalkan laut, namun itupun penuh resiko.
"Kalau saya sih jika memang tak malaut terpaksa hanya membetulkan kapal yang rusak atau bahkan yang bocor, kadang juga ikut ke pulau mencari siput dan gongong, untuk membutuhi keluarga. Namun di bulan Desember ini masih ada orang yang melaut meski cuaca kadang tidak mendukung, ya terpakasa, sebab ikan bulan ini banyak." pungkas Budy.
Nelayan Tak Melaut, Pasar Ikan Sepi
Pasar ikan di sejumlah pasar di Kabupaten Karimun terlihat sepi sejak beberapa waktu belakangan. Kondisi ini terjadi lantaran banyak nelayan yang tidak berani melaut karena ombak besar.
Wahyu, seorang penjual ikan di pasar Puakang Kabupaten Karimun menuturkan, kelangkaan ikan sudah terjadi sejak beberapa pekan lalu. Meski pasokan ikan hanya sedikit, namun untuk saat ini harga ikan di Pasar Puakang masih normal.
Menurut Wahyu pasokan ikan yang datang dari berbagai pulau hinterland di perairan Karimun sangat sedikit.
"Kenaikan harga ikan sebenarnya musim-musiman, namun untuk saat ini meski ikan sedikit harganya masih normal. Kelangkaan ikan ini dipicu sejak beberapa hari lalu lantaram pasokan yang datang dari berbagai pulau sedikit," beber Wahyu.
Wahyu menambahkan, harga ikan saat ini masih normal, namun diperkirakan jika hal seperti ini terus terjadi, maka tidak menutup kemungkinan harga ikan akan naik, seiring dengan dekatnya hari Natal.
Untuk ikan tongkol sendiri aku wahyu perkilogramnya Rp20 ribu, ikan Mas Rp32 ribu, lele Rp20 ribu perkilogramnya, ikan benggol Rp18 ribu, ikan mata besar Rp20 ribu, udang berkisar Rp30-45 ribu perkilogramnya.
Sedangkan untuk pasokan, Wahyu biasa menjual ikan 100-150 kilogram perhari, namun untuk saat ini aku wahyu hanya berkisar 75 kilogram, sebab kurangnya ikan yang datang dari berbagai pulau di Kabupaten Karimun.
Selain di pasar Puakang, pasokan ikan juga berkurang di pasar Bukit Tembak Meral. Salah seorang pedagang ikan mengaku, saat ini ikan yang datang dari berbagai pulau di Kabupaten Karimun sedikit. Hal ini disebabkan cuaca yang tidak mendukung, banyak nelayan yang tidak melaut.
"Untuk di pasar Meral ini sendiri memang sedikit lebih mahal dibanding dengan tempat lain, jadi jika di pasar lain misalkan perkilogramya hanya Rp20 ribu, kami di tempat bisa mencapai Rp22 ribu. Tapi, untuk saat ini belum naik, masih normal, tapi jika nanti masih berlanjut terus, tidak menutup kemungkinan harga ikan juga naik, terpakasa, itukan sudah hukum pasar," beber lelaki pendek gemuk ini.
Namun tambah lelaki ini, untuk harga sotong mengalami kenaikan yang mencapai Rp30 ribu perkilogramnya yang sebelumnya hanya Rp25 ribu. Ini disebabkan pasokan yang datang sedikit.
"Untuk harga ikan masih normal, namun khusus harga sotong saya jual sotong Rp30 ribu perkilogramnya, yang sebelumnya hanya Rp25 ribu. Hal ini disebabkan sedikit pasokan sama halnya dengan kepiting, untuk harga kepiting sangat mahal. Kendati kualitas udangnya tidak bagus, karena yang bagus-bagus sudah dibawa ke Singapur lewat Batam." pungkas lelaki yang tidak mau disebutkan namnya itu. (abk)
Share
Mencari Siput ke Pulau-pulau
- Minggu, 22 December 2013 00:00





