Senin02242014

Last update12:00:00 AM

Back Fokus Tasik Nambus Menanti Sentuhan

Tasik Nambus Menanti Sentuhan

Kawasan Ekowisata Alam di Meranti

SELATPANJANG (HK)– Kerusakan lingkungan yang sekarang dirisaukan banyak pihak menjadi perhatian dunia. Mitigasi iklim yang disebabkan kerusakan kawasan hutan, menyebabkan berbagai negara berupaya melakukan kampanye penyelamatan dengan melakukan gerakan penanaman diberbagai belahan dunia, karena kawasan hutana terus tergerus untuk kepentingan industri dan pembangunan.


Termasuk di Indoensia, sebagai salah satu negera yang memiliki kawasan hutan hujan tropis terbesar di Asia. Secara nasional pemerintah berupaya melakukan gerakan pelestarian untuk menjaga kelestarian hutan hujan tropis. Dilain pihak, pemeritnah juga berupaya melakukan gerakan penanaman 1 milyar pohon dengan melibatkan masyarakat luas. Konsep pembangunan berkelanjutan yang ramah lingkungan, kini turut menjadi bagian dalam upaya menjaga kelestarian alam untu mempertahankan keutuhan kawasan hutan hujan tropis yang kian menipis.

Seperti di Kabupaten Kepulauan Meranti memiliki sebaran hujan tropis dengan keragaan hayati, berupa flora dan fauna yang khas. Kawasan hutan hujan tropis yang dimiliki Meranti ini kini terus menipis seiring dengan peredaran waktu, akibat dampak perluasan areal pemukiman, pembukan lahan untuk HTI maupun aktifitas pembalakan liar yang marak terjadi belasan tahun yang lalu. Saat ini, kawasan hujan tropis di Meranti yang masih terjaga keragaman hayatinya ada beberapa daerah, diantaranya Tasik Putri Puyu, Tasik Air Putih dan Tasik Nambus.

Untuk melestarikan keragaman hayati di tiga kawasan hutan hujan tropis ini,Pemkab Kepulauan Meranti menjadikanya sebagai lahan konservasi alam yang tidak boleh dijarah. Hutan hujan tropis Tasik Nambus, merupakan salah satu kawasan koservasi yang dimiliki Meranti terletak di desa Lalang Tanjung Kecamatan Tebing Tinggi Barat. Untuk sampai ke lokasi hutan hujantropis Tasik Nambus, harus berkendaraan roda dua lebih kurang 1,5 jam. Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan melintasi sungai Suir dengan menggunakan boat. Sepanang perjalanan melintasi sungai Suir ini, suguhan alam esksotik menjadi daya tarik tersendiri. Dikirin kanan Sungai Suir, tumbuh rimbun hutan mangrove yang menjadi pagar hijau penyangga bagi biota air.

Tasik Nimbus, salah satu kawasan potensial pariwisata di Kepulauan Meranti diyakini memiliki kisah historis yang sedikit berbeda dibanding objek pariwisata potensial lainnya di Kepulauan Meranti. Selain kisah historisnya, Tasik Nimbus juga memiliki kisah-kisah yang cukup menarik untuk disimak. Yudha Bilal, juru kunci Tasik Nimbus mengisahkan, Tasik Nimbus pertama kali ditemukan pada tahun 1936 oleh dua orang pemburu bernama Leman bin Denen dan Lasa. Sejak awal ditemukan, tidak ada orang yang mau memperhatikan dan mengurus tasik ini.Saat itu orang-orang meyakini bahwa Tasik Nimbus merupakan daerah yang angker, sehingga tidak ada yang berminat untuk mengunjungi tasik ini. Tasik Nimbus pun terbiarkan begitu saja.

Pada tahun 1966 lalu, Tasik Nimbus dikunjungi oleh serombongan masyarakat yang berjumlah 42 orang di mana dua orang di antaranya sebagai tukang masak. Rombongan yang dipimpin oleh seorang Penghulu (Kepala Desa) bernama Debo ini berangkat dari Desa Tanjung. Dikisahkan, rombongan berangkat dari Desa Tanjung pada Selasa pagi di bulan Safar, dan tiba di Tasik Nimbus Rabu, sekitar pukul 10.00. “Sehingga itulah ditetapkan Mandi Safar di Tasik Nimbus pada hari Rabu,” kata Yudha.

Masyarakat mempercayai adanya beberapa makhluk penjaga Tasik Nimbus yang berdiam di dasar tasik, di antaranya lumba-lumba, buaya dan ular. Wujud ketiga makhluk ini tidaklah sebagaimana hewan biasa. Makhluk tersebut kata Yudha juga tidak mengganggu orang.
Dahulunya, kata Yudha ketiga makhluk penjaga Tasik Nimbus ini masih terlihat menampakkan wujudnya. Namun sudah puluhan tahun makhluk-makhluk ini tak pernah menunjukkan diri lagi.Selain itu, diyakini juga adanya makhluk halus yang turut menjaga tasik ini. Oleh masyarakat sekitar makhluk halus ini disebut “orang bugian”. Seperti makhluk penjaga Tasik Nimbus lainnya, orang bugian ini juga tidak mengganggu masyarakat yang berkunjung ke tasik tersebut.

Sekitar tahun 2005 lalu seorang warga tewas tenggelam di Tasik Nimbus. Kejadian ini sempat dikaitkan dengan dengan penunggu di tasik ini. Namun oleh Yudha, warga tersebut tenggelam karena kelalaiannya sendiri. “Seingat saya saat itu, begitu sampai ke tasik, warga tersebut langsung terjun mengenakan celana panjang dan baju. Karena berat dan tak kuat berenang ke tepian, warga ini akhirnya tenggelam. Sejak kejadian itu pengunjung ke Tasik Nimbus jumlahnya semakin berkurang,” tutur Yudha.

Menanti Sentuhan Pembangunan

Masyarakat Desa Tanjungkatung, Kecamatan Tebingtinggi Barat, Kabupaten Kepulauan Meranti mengeluhkan minimnya infrastruktur Tasik Nambus, salah satu tempat wisata alam yang terkenal dengan tradisi ‘mandi sapo’ di daerah ini.
"Sejak pemekaran Kepulauan Meranti, sebatang paku pun tidak ada masuk ke sini," sindir Saleh (59), salah seorang warga setempat yang dijumpai di pelabuhan penyeberangan antar Desa Lalangtanjung dan Desa Tanjungkatung, Sabtu (29/12) lalu. Lelaki paroh baya yang bekerja sebagai penakek karet ini, mengeluhkan kondisi Desa Tanjung Katung yang sangat minim infrastruktur. Dari data Kantor Desa Tanjung Katung, tidak ada ruas jalan yang disemenisasi menuju desa yang dihuni 300 Kepala Keluarga (KK) tersebut.

Untuk memudahkan akses menuju jalan desa saat musim hujan agar tak becek, kepingan papan disusun memanjang digunakan untuk melintasi jalan menuju Tanjungkatung dan pintu rimba Tasik Nambus. Padahal seperti diketahui, Tasik ini merupakan tempat wisata alam dan tradisi ‘mandi sapo’ yang dimiliki masyarakat daerah ini, juga sebagai salah satu sumber air bersih.

"Selain itu, kondisi jembatan di Sungai Suir kanan yang memisahkan Desa Tanjung Katung dengan pusat kota Kecamatan Tebing Tinggi Barat di Alai, juga tampak memprihatinkan. Lantai bagian tengah pelabuhan beton itu tampak turun, diakibatkan beberapa tiang penyangganya rusak. Ditambah genangan air laut pasang yang cukup menyulitkan warga dari dan menuju desa mereka.Jembatan ini dibangun oleh Pemkab Bengkalis. Sejak Pemkab Meranti terbentuk, belum ada masuk pembangunan apa pun ke sini, Padahal Tasik ini memilik keindahan pesona alam yang sangat menarik” kata Saleh.

Tidak hanya itu, akses menuju ke Tasik Nambus juga tampak tidak terawat. Badan jalan dengan lebar lebih kurang tiga meter tampak ditutupi semak belukar dan tergenang air. Apalagi saat musim penghujan, debit air Tasik Nambus akan meluap dan mengakibatkan menenggelamkan badan jalan menuju tasik yang memang belum dapat diakses dengan kendaraan roda dua. Untuk menuju Tasik, mau tak mau terpaka harus menempuh jalan setapak, yang di kiri kanannya masih semak."Mandi sapo tidak lama lagi. Biasanya jalan menuju tasik sudah dibersihkan. Tapi sampai sekarang belum ada nampaknya upaya dari pihak terkait untuk itu," keluh Saleh.

Sementara itu, kondisi di sekitar tasik ini juga tampak tidak terawat. Sebuah bangunan tempat persinggahan pengunjung dengan lebar lebih kurang 10x15 meter mulai dijalar oleh semak belukar. Dinding serta atap bangunan juga tampak rusak. Tidak jauh dari sana terlihat beberapa fasilitas perusahaan air minum (PDAM), seperti pipa dan peralatan lainnya yang sudah ditinggalkan dan tidak digunakan lagi. Terlihat juga beberapa tiang listrik yang sudah mulai miring, patah dan tumbang.

Camat Tebing Tinggi Barat Mulyadi mengatakan, Tasik Nambus merupakan salah satu keajaiban yang sangat menarik perhatian. Meskipun tasik Nambus ini berada di sebauah hamparan pulau endapan yang sangat dipengaruhi pergerakan pasang surutnya air laut, justru air tasik nimbus tetap tawar. Keragaman hutan hujan tropis yang mengelilingi tasik ini, mampu menjadi penetralisir intrusi air laut. Tidak heran, bila tasik ini pada saat Meranti masih bergabung dengan Bengkalis pernah berencana untuk menjadikan debit air tasik Nambus ini sebagai sumber air bersih bagi masyarakat Selatpanjang Alai. Namun sayang rencana besar ini gagal tanpa jelas tindak lanjutnya hingga Meranti mekar menjadi sebuah kabupaten sendiri.

“Dengan luas lebih kurang 30 hektar, tempat ini berpotensi untuk dikembangkan menjadi sebuah objek wisata alam yang manariik pesona wisatawan. Kondisi air tasik nimbus yang jernih, dan keragaman hayati hutan hujan tropis Tasik Nambus yang masih perawan, menjadi labor hidup yang pantas untuk dijadikan sebagai kajian bagi dunia pelestarian hutan hujan tropis. Namun, untuk meraih hal tersebut tentunya butuh sentuhan pembangunan sarana dan prasarana infrastrutkur. Upaya pengembangan daerah ini menjadi kawasan ekowisata alam, tentunya degan catatan tidak merubah dan merusakan vegetasi hutan hujan tropis Tasik Nambus” ungkap Camat Mulyadi.

Lukman Idris salah seorang wisatawan asal Malaysia, sempat menyatakan kekagumannya dengan kelestarian hutan tasik Nambus. Keragaman vegetasi hutan hujan tropis yang masih alami, membuktikan betapa masyarakat dan Pemkab Meranti mampu menjaga keutuhan warisan alam ini. Padahal, tidak sedikit kawasan hutan hujan tropis yang rusak akibat perambahan secara illegal yang dilakukan oknum-oknum perambah hutan. Namun, kondisi hutan hujan tropis tasik Nambus, mampu menawarkan keindahan dan keunikan alamnya yang tetap terjaga. Eksotisme hutan hujan tropis dengan berbagai jenis vegetasi kayu hutannya, mampu memposisikan daerah ini untuk dikembangkan menjadi labor alam.

“Sayangnya, untuk sampai ke lokasi hutan tasik nimbus ini masih harus dihadapkan dengan minimnya infrastruktur. Akses jalan yang belum terbangun, dan minimnya berbagai sarana dan prasarana infrastruktur menyebabkan keindahan hutan hujan tropis Tasik Nambus, luput dari perhatian wisatawan. Pesona tasik nimbus, menanti sentuhan pembangunan untuk menjadi objek wisata alam yang menjadi andalan Meranti” ungkap Lukman Idris.

Terus Dikembangkan

Potensi pariwisata di Kabupaten Kepulauan Meranti khususnya lagi Tasik Nimbus di Desa Tanjung Darul Takzim Kecamatan Tebing Tinggi Barat beserta kisah historis asal mula ditemukannya tasik ini, jika dikemas dan ditata dengan baik diyakini akan memberikan kontribusi besar bagi daerah. Sektor pariwisata di Kepulauan Meranti sendiri memang cukup menjanjikan sebagai sektor penting penyumbang PAD.

Sekretaris Dinas Pariwisata Kepulauan Meranti Drs. H. M. Ismail Arsyad mengatakan, Dinas Pariwisata Kepulauan Meranti saat ini telah melakukan peninjauan potensi di beberapa kawasan yang dinilai memiliki potensi pariwisata, khususnya wisata alam. Beberapa kawasan yang dinilai memiliki potensi tersebut di antaranya Tasik Nimbus, Tasik Putri Puyu di Pulau Padang, Tasik Air Putih, Tasik Penyagon serta beberapa tasik lainnya.

“Kita sedang memikirkan cara yang tepat untuk menjadikan beberap tasik di daerah ini,termasuk tasik Nambus untuk dijadikan sebagai objek wisata alam. Upaya pengembangan tasik Nambus sebagai objek wisata alam ini, tentunya harus disusun dengan perencanaan yang matang dan konprehensif. Soalnya, upaya pengembangannya harus memampu menjaga keutuhan dan kelestarian vegetasi hutan hujan tropis yang menjadi penyanggga debit air tasik Nambus ini. Kalau sampai rusak, jelas nilai-nilai esksotis dari tasik ini akan turut hilang. Untuk itu, selain butuh perencanan yang konprehensif, pembanguann dan pengembangannya, jelas harus dilakukan lintas koordinasi yang terkait, tentunay dinas PU dan kehutanan Kabupaten Kepulauan Meranti” ungkap Sekretasi Dinas Pariwisata Pemuda Dan Olah Raga Kabupaten Kepulauan Meranti tersebut. ***

Share