DALAM pekan ini terjadi beberapa kasus kebakaran di wilayah Kepri. Namun yang paling menyedot perhatian masyarakat adalah kebakaran sebuah kios di Tanjungbalai Karimun yang mengkibatkan ibu dan anak tewas terpanggang.
Kejadian yang memilukan itu terjadi pada Minggu (2/2) sekitar pukul 12.00 WIB di Jalan Teuku Umar No 10, atau dekat Simpang BCA Tanjungbalai Karimun. Dua Kedua korban Suburniati (27) dan anaknya, Syahrul (5) tewas dengan kondisi yang mengenaskan.
Selain ibu dan anak, kebakaran di siang bolong itu juga mengakibatkan Hasbullah, suami Suburniayati mengalami luka bakar serius hingga 80 persen.
Menurut Yanti, salah seorang saksi mata, saat kebakaran terjadi, Hasbullah juga tengah berada dalam kios berukuran 3x3 meter tersebut. Dirinya berusaha menolong istri dan anaknya dari amukan si jago merah. Namun, karena api sudah sangat membesar menyulitkan Hasbullah untuk memadamkan api.
"Begitu terdengar terjadinya kebakaran, warga mulai berdatangan untuk berusaha memadamkan api dengan menyirami dengan air menggunakan ember. Namun, kios kayu tersebut sudah mulai habis dilalap api. Hanya saja, saat itu warga masih melihat ada tangan yang tengah menggapai-gapai, rupanya itu tangannya Ullah (Hasbullah, red)," kata Yanti di lokasi kejadian.
Saat itu juga, kata dia, warga menarik Hasbullah dan menariknya keluar dari kepungan api. Ironisnya, begitu sampai di jalan raya, lelaki tersebut terus berlarian ke pelabuhan Titi yang berjarak sekitar 500 meter dari lokasi kebakaran. Saat berlari, Hasbullah hanya mengenakan celana dalam, sementara sekujur tubuhnya sudah terkelupas.
"Pelabuhan Titi merupakan tempat kapalnya Ullah ditambatkan, karena sehari-hari dirinya merupakan tekong kapal ikan. Begitu sampai di pelabuhan dirinya segera mengambil baju dan celana langsung dikenakan. Dirinya terus menjerit kesakitan dan minta diantarkan ke rumah sakit, hingga akhirnya dilarikan ke Puskesmas Tanjungbalai," terangnya.Kapolres Karimun AKBP Dwi Suryo Cahyono ditemui di lokasi kebakaran mengatakan, pihaknya masih melakukan penyelidikan terkait peristiwa kebakaran itu. Polisi, kata dia, masih mengumpulkan sejumlah saksi dan barang bukti.
"Saat ini kami masih mengumpulkan keterangan dari sejumlah saksi, jadi apa penyebab kebakaran ini belum bisa kami jelaskan. Kami juga menunggu hasil labfor Medan soal penyebabnya," kata Dwi.
Hanya berselang dua tiga hari, kebakaran kembali terjadi di Karimun. Tiga unit rumah dan satu gumbang (gudang penyimpanan alat tangkap ikan) di RT 01 RW 01 Meral Tanjung, Kelurahan Sei Pasir, Kecamatan Meral ludes diamuk si jago merah.
Meski tidak ada korban jiwa, namun kebakaran ini menyebabkan kerugian materi sekitar Rp400 juta. Adapun tiga rumah dan satu gumbang di Meral Tanjung yang terbakar, di antaranya rumah permanen milik Tipong (65),seorang karyawan swasta.
Sehari sebelumnya, si jago merah juga mengamuk di Jalan Hanaria, Gang Siliwangi RT 07 RW 05 Kelurahan Air Raja, Kecamatan Tanjungpinang Timur, Tanjungpinang. Kebakaran yang terjadi si siang bolong itu tidak menimbulkan korban jiwa namun kerugian materil diperkirakan puluhan juta rupiah.
Cuaca terik mengakibatkan api berkobar dengan cepat. Beruntung, jarak lokasi titik api dengan rumah lainnya berjauhan sehingga api tidak merembet ke bangunan lain. Mobil pemadam kebakaran datang ke lokasi namun api sudah menghanguskan rumah Mardawati.
Kebakaran ini diketahui oleh anaknya yang baru pulang sekolah. Mendapati rumahnya dilalap api, Ia pun berlari menghampiri warung Mardawati. Kesulitan bertambah ketika air di kawasan itu sulit didapat, dan banyaknya kayu di bangunan mempercepat api menghanguskan rumah.
"Sekitar jam satu anak saya langsung menyusul saya di tempat berjualan. Katanya rumah terbakar, cepat pulang. Tiba di rumah, semua sudah hangus terbakar. Seluruh barang berharga, surat dan dokumen penting tak bisa diselamatkan, ludes dilalap api. "Kerugian ini sekitar Rp35 juta rupiah lah," ucap Mardawati.
Kebakaran membuat panik warga sekitar. Lurah Air Raja, Hafizarli, yang turun ke lokasi menyatakan sedih dengan kejadian tersebut. Pihaknya akan membantu menfasilitasi warganya untuk mendapatkan bantuan. "Kami meminta korban untuk cepat membuat laporan ke Polsek Tanjungpinang Timur. Kita juga akan segera melaporkan ke penanggulangan bencana," jelasnya.
Kemarau PanjangSementara itu, Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Tanjungpinang mengatakan, sepanjang Februari Kota Tanjungpinang dan sekitarnya memasuki bulan kering.
"Sekarang kita memasuki bulan kering. Suhu udara mencapai 31 - 32 derajat celcius," ujar Kepala BMKG Stasiun Tanjungpinang, Hartanto, kemarin.
Cuaca kering yang terjadi di Kota Tanjungpinang dan sekitarnya dikarenakan masa udara sedang terkonsentrasi di daerah khatulistiwa.
"Makanya udara di daerah kita cenderung kering. Hal ini juga yang menyebabkan Tanjungpinang dan sekitarnya tidak turun hujan karena awan yang terbentuk cenderung pupus," paparnya.
Berdasarkan pantauan BMKG, Hartanto memperkirakan Kota Tanjungpinang dan sekitar baru akan turun hujan. dua atau tiga minggu lagi. Saat ini kondisi cuaca Tanjungpinang dalam keadaan cerah berawan.
Ia menambahkan, angin utara yang selama beberapa minggu belakangan melanda Kota Tanjungpinang dan sekitarnya, cenderung melemah. "Angin bertiup dari arah utara ke timur laut dengan kecepatan 0,5-38 kilometer per jam," jelasnya.
Tinggi gelombang di perairan Tanjungpinang, Batam, Bintan, Tambelan, dan Lingga kurang dari 1,5 meter. Sementara di perairan Anambas dan Natuna diperkirakan lebih dari itu.
Hartanto mengimbau warga Kota Tanjungpinang dan sekitarnya, agar lebih cermat menggunakan air dan selalu waspada terhadap potensi kebakaran.
"Mengingat saat ini memasuki musim kering, sangat berpotensi kebakaran. Makanya warga untuk lebih berhati-hati menggunakan api," pesannya. (ham/zul)
Share





