Dua Bulan Tak Turun Hujan
SUDAH dua bulan hujan tidak turun di wilayah Kepri. Kondisi ini tidak saja membuat udara sangat panas tetapi juga menyulitkan warga mendapatkan air bersih. Jalan satu-satunya adalah dengan cara membeli air tangki dengan harga mencekik.
Krisis air bersih sudah terasa di Kota Tanjungpinang dan sekitarnya sejak beberapa pekan terakhir menyusul tidak kunjungnya hujan turun. Warga yang mayoritas bukan pelanggan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) terpaksa harus membeli air tangki yang harganya mahal dan sumber airnya tak jelas.
Masyarakat tanjungpinang kian hari kesulitan air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hampir seluruh sumur milik warga mengalami keringan. Sementara Air PDAM Tirta Kepri pun mengalami krisis air baku, hal ini disebabkan air waduk yang menjadi pasokan untuk pelanggan PDAM juga mengalami penyusutan yang derastis.
Dengan panjangannya musin kemarau ini, membuat masyarakat kesulitan mendapatkan pasokan air dari penjual air tangki. Hal ini disebabkan sumber air tempat pasokan para penjual air tangki itu telah kering padahal masyarakat sangat membutuhkan.
Salah seroang penjual air tangki, Erwin mengaku mengalami kesulitan untuk mendapatkan air dan melayani permintaan pembeli. Selain sumur dan mata air yang sudah kering, banyaknya juga penjual air yang mengantre di lokasi sumber air yang masih ada.
"Saat ini sehari paling banyak menjual air kepada warga hanya dua kali, bahkan cuma satu kali. Habis bagaimana lagi, sumber air sudah susah didapat di Tanjungpinang," jelasnya di sela mengisi air pelanggan di Tanjungpinang, belum lama ini.
Erwin akhirnya terpaksa menolak orderan air dari warga, padahal biasanya dalam satu hari ia bisa mengantar air ke palanggan sampai lima atau enam kali.
"Kasihan juga sih pelanggan yang biasa membeli ke saya. Namun, bagaimana lagi sumber air yang tidak ada. Kadang kita juga mencari sumber air sampai jauh, namun tidak juga dapat air. Semua pangkalan yang memiliki mata air dan sumur bor tidak bisa melayani penjual air tangki. Kadang antre dari pagi sampai pukul 13, lebih baru dapat," ujarnya.
Hal senada disampikan penjual air tengki lainnya, Fadli. Ia menuturkan, sudah sebulan ini, penjualan air ke masyarakat dibatasi, karena air bersih yang dibeli dari pemilik sumur bor sudah menipis.
"Antiran di penjual air sumur bor sangat panjang. Saya harus menunggu dan antri untuk mendapatkan giliran mengisi air sampai lebih dari tiga jam. Sementra permintaan dari masyarakat begitu banyak. Terpaksa membatasi orderan dari warga yang membutuhkan air," jelasnya di Tanjungpinang, Jumat (21/2).
Tarsih, ibu rumah tangga di KM 8 Atas Tanjungpinang, pun sama. Sumurnya telah lama kering, karena dua bulan hujan tak turun. Ia juga terpaksa membeli air tangki. Namun, para penjual air mengatakan air sudah habis.
"Jadi gimana kami mau mandi sore ini dan besok pagi anak mau sekolah dan mau bekerja tetapi air tak ada," tuturnya.
Ia berharap PDAM dapat menyalurkan pipanya agar warga seperti dirinya yang tinggak di KM 8 Atas dapat menikmati air PDAM. Bila membeli air tangki sebanyak 500 liter harganya Rp60 ribu untuk dipakai tiga hari. "Belum untuk cuci pakaian, tidak sampai tiga hari dah habis," katanya.
Pantauan Haluan Kepri hampir di seluruh perumahan di Tanjungpinang mengalami krisis air bersih. Daerah yang mengalami kekeringan seperti di KM 8 Atas dari Jalan Cendrawasih hingga Kampung Sido Mulyo, Perumahan Griya Lestari di Tobong Bata KM 9 hingga keperumahan di Hang Tuah, Ganet serta daerah-daerah perumahan lainnya di Tanjungpinang.
Sementra itu, pelanggan PDAM Tirta Kepri mengaku kalau pasokan air PDAM, sudah beberapa minggu ini tidak mengalir. Bahkan, pelanggan PDAM juga harus membeli di penjual air tengki untuk memenuhi kebutuhan air sehari-harinya.
Salah satunya dialamai oleh pelanggan air PDAM di KM 9 Kawasan Bintan Centre, Tanjungpinang, Agus mengaku air PDAM sudah dua minggu tidak mengalir. Ia terpaksa membeli air dari penjual air tangki meskipun susah.
"Entah kenapa sudah dua minggu ini air PDAM tidak mengalir. Padahal bila mengalir keluarnya sedikit dan sebentar saja. Belum dapat dua ember, eh air sudah mati lagi samapai saat ini," jelasnya.
Air yang dipesan dari penjual air tanki baru tiba dua atau tiga hari. Airnya pun tidak bening seperti biasanya. "Sedikit kemerah-merahan dan berbau. Tapi mau apalagi, air tidak ada. Terpaksa digunakan untuk keperluan sehari-hari," bebernya.
Hal sama diutarakan pemilik kios makan di kawasan Bintan centre, Mail. "Kalau untuk memasak dan keperluan kedai menggunakan air galon. Tapi untuk mandi dan cuci, memakai air yang dibeli dari penjual air tangki. Susah mendapatkan air dari penjual air. Mereka mengaku kesusahan mendapatkan airnya. Kadang dua hari pesan baru diantar,"ungkapnya.
Jalur Baru
Sebelumnya, masyarakat Tanjungpinang meminta Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM) Tirta Kepri untuk membuka jalur pipa air ke daerah pemukiman. Karena warga sudah tidak sanggup lagi untuk membeli air tangki.
Salah seorang warga Perumahan Griya Bintan Asri RT 03 RW 03, Tanjungpinang, Badillah mengungkapkan, hampir satu bulan sumur yang disediakan pihak pengembang kering. Ia terpaksa membeli air untuk memenuhi kebutuhan air keluarganya.
"Saat ini harga air per tangki Rp50 ribu bahkan ada yang menjual Rp60 ribu. Dalam tiga hari, satu tangki habis dan harus membeli lagi. Bayangkan, dalam seminggu bisa membeli air hingga dua kali. Jadi kurang dari satu minggu kami harus mengeluarkan biaya untuk membeli air saja Rp120 ribu. Jadi kalau sebulan sudah berapa," katanya di Tanjungpinang.
Dedy, warga lainnya, meminta agar PDAM Tirta Kepri membuka jalur air hingga ke perumahannya. "Di sekitar Kampung Suka Jaya di KM 8 Atas ini sudah banyak perumahan. Namun, semua menggunakan sumur dan kebanyakan sudah kekeringan. Apalagi perumahan yang berada di bagian atas sudah lama kekeringan," jelasnya.
Terkait peresmian pengolahan air baku di Bintan oleh Pemprov Kepri dan dapat melayani hingga 50 ribu pelanggan, Ia mengatakan masyarakat telah mengetahuinya.
"Tetapi, kami di sekitar sini, jangankan melihat airnya, jalur pipanya saja tidak ada. Padahal masyarakat di sini sudah ada sejak lama. Ada juga yang baru dibangun. Kenapa pihak PDAM tidak membuka jalur ke perumahan," tegasnya.
Hal senada disampaikan warga lainnya, Syaiful. Ia mengatakan, masyarakat sangat membutuhkan air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Air tangki dinilai sangat mahal dan memberatkan bagi warga.
"Pemerintah daerah juga harus memikirkan ini. Bila belum ada jalur pipa air, kami masyarakat yang mengusulkan dan mendaftar ke PDAM, pasti akan ditolak. Namun bila sudah ada jalur pipanya, pasti masyarakat akan mendaftarkan diri," bebernya.
Saat ini, kata dia, PDAM hanya melayani jalur-jalur di sepanjang jalan utama, daerah sekitar Kota Tanjungpinang dan sekitar KM 9 yang merupakan rumah toko (ruko). Sementara daerah perumahan yang jauh dari jalan utama belum tersentuh PDAM.
"Dengan diresmikannya pengolahan air di Bintan dan akan dioperasikan penyulingan air laut menjadi air tawar, PDAM harusnya dapat melayani masyarakat perumahan seperti kami. Jangan hanya mempedulikan masyarakat perkotaan saja," tukasnya. ***
PDAM Tirta Kepri Siapkan Mobil Tengki Air
Direktur Perusahaan Daerah Air Munum (PDAM) Tirta Kepri Abdul Kholik menyatakan telah menyediakan mobil tangki air yang siap melayani masyarakat Kota Tanjungpinang untuk mendapatkan air bersih.
"Sebenarnya pihak PDAM telah mengantisipasi kekeringan dan kelangkaan air bersih bagi masyarakat Tanjungpinang dengan menyediakan dua unit mobil tangki yang siap mengedrop air ke daerah yang kesulitan air bersih," jelas Abdul Kholik di Tanjungpinang, belum lama ini.
Ia mengaku mobil tangki telah disediakan sejak awal musim kemarau, Januari lalu. PDAM Tirta Kepri juga telah mengumumkannya melalui Radio Republik Indonesia (RRI) Tanjungpinang, jauh hari sebelumnya.
"Pengedropan air bersih ke daerah yang kesulitan air telah dilakukan mulai dari wilayah sekitar Kampung Baru, Tanjungunggat dan daerah lainnya. PDAM tidak memungut biaya sepeser pun dalam bantuan pengadaan air bersih melalui mobil tangki ini," terangnya.
Masyarakat yang membutuhkan air, kata dia, cukup memberitahukan pihak RT atau RW masing-masing untuk kemudian ditindaklanjuti dengan menyurati PDAM agar dikirimkan mobil tangki air ke wilayahnya.
"Nantinya mobil tangki akan mengedrop ke lokasi yang diminta warga. Terserah warga yang akan menampung air, apakah dengan ember atau tengki. Intinya, PDAM telah menyiagakan mobil tangki untuk membantu masyarakat yang mengalami kekeringan," tuturnya.
Terkait pembukaan jalur pipa induk baru, Kholik mengatakan bahwa tahun ini PDAM telah mengusulkannya ke Dinas Pekerjaan Umum (PU) Provinsi Kepri.
"Usulan PDAM yang disampaikan kepada PU Kepri sebesar Rp15 miliar. Namun, kepastian berapa besar yang dianggarkan, coba tanyakan ke PU. Kita juga telah merencanakan dan membuat blue print terkait pemasangan jalur baru pipa induk," terangnya.
Jalur baru pipa induk tersebut, lanjut Kholik, akan melalui jalur jalan Kilometer 8 Atas dan masuk ke perumahan-perumahan di sekitarnya. Pipa tersebut juga terhubung ke pusat Pemerintahan Provinsi Kepri di Dompak.
"Jadi (kita) telah buat maketnya terkait jalur baru ini. Insya Allah, pada tahun ini akan dikerjakan. Untuk air bakunya sendiri akan disuplai dari Waduk Sungai Pulai yang selama ini menyuplai air ke Tanjungpinang," tegasnya. (sut)
Share
Krisis Air Bersih Melanda Kepri
- Senin, 24 February 2014 09:18





