Di berbagai dunia Islam, syair berzanji lazim dibacakan pada kesempatan memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW pada bulan Rabiul Awal tahun Hijriah. Dengan mengingat riwayat Sang Nabi serta shalawat serta salam untuk-Nya. Pembacaan syair tersebut diharapkan bisa mendapatkan berkah, keselamatan, dan kesejahteraan serta ketentraman untuk Nabi Muhammad SAW dan juga terhadap si pembaca.
Al-Barzanji dengan untaian nada pembacaan, serta prosa dan terkandung makna tentang untaian mutiara terhadap (maulud) Sang Nabi Muhammad SAW.
Tabloid Kemilau Melayu, Edisi XXIV/Minggu/THN II/Desember 2009, menuliskan bahwa salah satu kitab Al Barzanji ditulis oleh Ja'far Bin Abdul Karim Al-Barzanji, tahun 1100-1179 H, (1690-1766 M). Merupakan salah satu karya Al-Barzanji yang terkenal dan termahsyur di dunia Islam. Di Indonesia, kita lazim menyebutnya Kitab Barzanji.
Secara ringkas, Ja'far Barzanji adalah Qadhi (hakim) dari mazhab Maliki yang bermukim di Madinah. Ia adalah salah seorang keturunan (buyut) dari cendikiawan besar Muhammad bin Abdul Rasul bin Abdul Sayyid al-Alawi al-Husain al- Musawi al Shaharzuri al-Barzanji (1040-1103 H/1630-1691M),mUfti Agung dari Mazhab Syafi'i di Madinah.
Sang Mufti (pemberi fatwa) berasal dari Shaharzur, kota Kaum Kurdi, Iraq, lalu mengembara ke berbagai negeri sebelum bermukim di Kota Sang Nabi. Ia, bersama sejumlah keturunannya, bersemayam di makam Al-Baqi Madinah. Di Indonesia, karyanya di terjemahkan oleh HAA Dahlan atau Ahmad Najieh.
Penyebaran Islam oleh Sultan Mahmud Syah semakin semarak diilhami oleh dari para murid seperguruan Raja Haji Fisabilillah, Raja Ali, ketika menuntut ilmu menpawah ketika Sultan Mahmud Syah berkerajaan Johor- Pahang-Riau, hingga Lingga. Sampai sekarang Islam masih melekat dan identik dengan masyarakat di Daik Lingga yang sudah ditabalkan oleh serumpun penulis dari Asia Tenggara, dan Korea sebagai Negeri Bunda Tanah Melayu.
Selain terdapat masyarakat Tiong Hoa, dan masyarakat dari suku yang ada di Indonesia, hampir seluruh masyarakat tersebut mengikhwalkan akan perkembangan Islam di Daik Lingga. Seperti di Dabo, Singkep, dan Senayang. Hal tersebut tidak lepas dari nenek moyang mereka dahulunya adalah rakyat yang bertuanku kepada Sultan Daik Lingga.
Menariknya, di Daik khususnya dan terutama Kabupaten Lingga umumnya, Al-Barzanji sudah menjadi pembacaan syair yang dibacakan pada empat bulan bernama dalam tahun Islam yakni dari rentang bulan Rabiul Awal, Rabiul Akhir, Jumadil Awal, Jumadil Akhir.
Pembacaan tersebut, dilakukan di surau-surau yang ada di desa-desa. Dan dipimpin oleh seorang khalifah yang tertua, yang ada di masing-masing desa (kampung). Dengan jemaahnya adalah laki-laki baik dari kalangan tokoh agama, tokoh masyarakat, maupun pemuda.
Uniknya, pada pembacaan syair Barzanji di tiap-tiap desa(Kampung) yang ada di Lingga, dilakukan secara bergilir. Biasanya diawali dari Mesjid Sultan Daik Lingga yang berada di tengah Kota Daik Lingga. Setelah itu baru dilakukan di desa-desa yang ada seperti di Kampung Melukap, Kampung Pahang, Kampung Panggak Laut, Kampung Panggak Darat, hingga sampai ke Keton, Pekaka. Dan tidak ketinggalan pula di Desa Merawang, serta desa Mepar dan Kampung Tanda.
Dipulau Singkep pun, tradisi Al Barzanji masih sering di lakukan pada bulan empat bernama tersebut, di Desa Kote, Desa Lanjut, Desa Sedamai, serta desa yang ada di Kecamatan Singkep Barat dan Singkep.
Salah satu tokoh masyarakat serta pemerhati sejarah di Daik Lingga, Lazuardi, menuturkan bahwa Al Barzanji di Daik, Lingga berhubungan dengan do'a-do'a seperti tahlilan, Maulud Nabi, Pembacaan Hikayat Kelahiran Nabi Muhammad SAW, serta hikayat Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW. Serta shalawat yang berisi puji-pujian terhadap Nabi.
"Pembacaan mulai dilakukan setelah bulan Safar. Atau bulan empat bernama yakni Bulan Rabiul Awal, Rabiul Akhir, Jumadil Awal, Jumadil Akhir," ungkapnya.
Dikatakan, pelaksanaan pembacaan Al-Barzanji berbeda dari pembacaan induknya yaitu pembacaan Maulud. Karena pembacaan Maulud Nabi, dilakukan sejak dari jam 07.00 WIB-16.00 wib. Dengan jedanya pada waktu sholat Zuhur. Serta berhentinya pada waktu sebelum sholat Ashar.
Dijelaskan, pembacaan Maulud Nabi lebih panjang dari pada AL Barzanji. Karena pada pembacaan Maulud Nabi, dimulai dari kisah kelahiran Nabi Muhammad SAW, kisah Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW, kisah pengangkatan Nabi Muhammad SAW sebagai Rasulullah, serta sampai kepada akhir riwayat Nabi.
"Dahulu, masing-masing surau yang ada, mengadakan Barzanji bertepatan dengan tanggal 12 Rabiul Awal. Namun, sekarang sudah dilakukan bergantian di masing-masing surau, terserah dilakukan pada hari yang tujuh" ungkapnya.
Hal unik yang menarik pada pembacaan Syair Al- Barzanji di Daik Lingga, adalah adanya hidangan atau juadah-juadah yang diketengahkan bagi jemaah yang melakukan pembacaan Al-Barzanji yang disebut dengan Merampe. Hidangan tersebut berisikan seperti lepat, peranan bakar, tepung pisang. Serta pada hidangan tersebut juga terdapat Kepala Hidang.
Juadah tersebut, dihidangkan dengan paha talang berkaki, yang diatasnya ditutup dengan Tudung Saji yang sudah dibalut dengan Kain Tudung Hidang yang terdiri dari tiga warna yang melambangkan khas Melayu.
"Yakni Warna Kuning, yang melambangkan keagungan, yang disematkan pada kalangan Sultan, warna hijau yang melambangkan kebangsawanan, yang biasanya disematkan untuk Said, sedangkan warna merah, yang melambangkan kesatriaan, atau panglima," ungkapnya.
Lebih jauh, Lazuardi juga mengatakan bahwa Juadah Kepala Hidang itu, untuk pemimpin masyarakat yang dipercaya oleh rakyat. Atau sama halnya dengan bantal kitab pada pembacaan Al-Barzanji hanya dimiliki oleh Khalifah saja yang memimpin dan mengarahkan atau memandu pembacaan Kitab Al Barzanji.
Bukan hanya itu, lanjut Lazuardi, Al barzanji juga biasa dibacakan pada saat sunatan, atau turun mandi bagi anak yang baru lahir. Serta, pada acara adat pernikahan, di mana malam ke dua setelah akad nikah, Kitab Al BArzanji juga dibacakan yang dikuti oleh pemangku hajat.
Menurut Lazuardi, Al Barzanji di Daik Lingga merupakan tradisi yang sudah turun temurun dari Zaman Kerajaan Sultan Daik Lingga. Hingga sekarang masih tetap dilakukan.
Selain itu, Al Barzanji sudah melekat dan mendarah daging bagi warga dan masyarakat melayu di Lingga, maka hal itu merupakan aset untuk pembelajaran etika dalam perkembangan zaman yang semakin maju dan pesat.
Karena, Al Barzanji sendiri mengajarkan bagaimana tata cara dan etika bergaul. Serta mengandung unsur silaturahmi antar warga dan masyarakat. Serta adanya pengaharapan berkah dari pembacaan syair yang berisi puji-pujian terhadap Nabi Besar Muhammad Rasulullah SAW.
"Ini bisa menjadi aset wisata religi, seperti halnya wisata ziarah," ungkapnya.
Diusulkannya, Al Barzanji tersebut ada pelatihan-pelatihan untuk generasi sekarang. Serta ada dalam pelajaran muatan lokal yang ada disekolah.
Wisata Religi Di Daik Lingga.
Banyaknya bukti sejarah dan kebesaran kerajaan Riau-Lingga di Daik Lingga dan beberapa tempat di Lingga, serta berkembangnya ajaran Islam di Daik, Lingga khususnya. Menunjukkan bahwa sejarah kebudayaan dan agama islam di samping ada agama yang lain seperti Kong Hu Cu dan Kristen ,masyarakatnya tetap hidup secara berdampingan.
Bukti-bukti sejarah yang erat kaitannya dengan perkembangan Islam di Daik Lingga, seperti Makam Merah, Makam Bukti Cengkeh, serta Makam Sultan Mahmud Riayat Syah, termasuk juga Mesjid Sultan Daik Lingga, merupakan aset yang dapat menarik minat wisatawan untuk melakukan kunjungan ke Lingga, atau Negeri Bunda Tanah Melayu.
Ada juga makam-makam Tua keturunan Aceh yang terdapat di Kampung Pahang dan Resun.
"Untuk Wisata Religius, Kabupaten Lingga memang sangat memungkinkan karena selain Kabupaten Lingga memiliki makam-makam para Almarhum Sultan, dan Raja Lingga, Juga kaya akan tradisi yang bernuansa Islam seperti Barzanji, Haul Jamak, dan Mandi Syafar," ungkap Ketua LAM I Kabupaten Lingga M Ishak.
Bukan hanya itu, kata M Ishak, wisata religius tersebut dapat dilakukan dengan wisata ziarah, seperti berkunjung ke makam-makam Sultan dan Raja yang ada di Daik Lingga.
Sebagaimana Pemerintah Kabupaten Lingga sendiri, lanjutnya Kegiatan Makam Ziarah Makam Sultan dan Makam Yang Dipertuan Muda digelar pada setiap hari jadi Kabupaten Lingga.
Menurutnya, apabila dipadu dan dikemas lagi dengan kegiatan-kegiatan tradisi yang bernuansa religius serta dipromosikan secara lebih baik tidak tertutup kemungkinan akan menarik wisatawan terutama orang-orang Melayu dari Malaysia dan Singapura, terangnya.
Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata Kabupaten Lingga, Junaidi Adjam, pernah menyebutkan bahwa Lingga wisata di Lingga selain wisata alam,dan wisata maritim juga tedapat lokasi wsaiata sejarah dan religius.
"Wisata religius lebih difokuskan di Daik Lingga," ungkapnya.
Sebelumnya, beberapa hari yang lalu, Wali Kota Batam Ahmad Dahlan, beserta rombongan, melakukan kunjungan sekaligus bersilaturahmi ke Lingga. Ahmad Dahlan melakukan ziarah makam diantaranya ke Makam Sultan Mahmud Riayat Syah di samping Mesjid Sultan Daik Lingga. Serta ke Makam Bukit Cengkih dan juga ke Makam Merah.
Pada kesempatan tersebut, Ahmad Dahlan juga turut hadir pada pelaksanaan Barzanji di Mesjid Baitul Ridha di Kampung Tanda. Dalam kesempatannya, Ahmad Dahlan cukup terksesan dengan tradisi Barzanji yang ada di Daik Lingga.
Menurutnya, Barzanji selain mengandung untaian syair yang berisi pujian terhadap Nabi Muhammad SAW, juga mempunyai keindahan dan kesenian.
"Saya terkesan dengan peringatan Maulud di Lingga. Termasuk Barzanji karena ada seni dan keindahan,' ungkap Dahlan.
Dalam kesempatan tersebut, Dahlan juga mendukung terhadap penabalan Lingga sebagai Negeri Bunda Tanah Melayu yang sebelumnya diberikan oleh beberapa penulis serumpun Melayu dari Asia Tenggara yakni Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, Thailand, Filipina dan juga dari Korea, serta dari Indonesia sendiri. Serta, secara rumpun, Malaysia dan Lingga memiliki historis kekerajaan Lingga-Riau-Johor-Pahang.
Sekilas, tempat-tempat wisata yang mengandung unsur sejarah di Lingga, seperti Situs Bilik 44. Situs Makam Merah, Situs Benteng Bukit Cening, Situs Benteng Lekok (Mepar), Situs Benteng Kuala Daik, Situs Mesjid Sultan Abdurrahman Muazam Syah, Makam Bukit Cengkih. Ditengarai tempat-tempat tersebut merupakan peninggal raja dan Sultan yang pernah jaya di masanya.
Share





