Rabu05212014

Last update12:00:00 AM

Back Fokus Replika Dugong Simbol Kekayaan Bintan

Replika Dugong Simbol Kekayaan Bintan

Cinderamata Penunjang Pariwisata

BINTAN (HK)-- Kabupaten Bintan tidak hanya terkenal dengan panorama alamnya yang indah tapi juga cinderamata yang unik. Replika dugong (Dugong dugon, latin) atau duyung merupakan cinderamata khas yang menjadi oleh-oleh bagi wisatawan.

Setiap daerah memiliki cenderamata sendiri yang menjadi buah tangan bagi wisatawan yang berkunjung ke daerah tersebut. Tak terkecuali di Kabupaten Bintan, yang merupakan salah satu daerah di Kepulauan Riau yang banyak dikunjungi wisatawan lokal dan mancanegara.

Ternyata, pulau yang memiliki pantai yang eksotis ini punya cinderamata bernama replika dong. Dalam setiap kesempatan, Bupati Bintan H Ansar Ahmad maupun Wakil Bupati Bintan H Khazalik selalu menyerahkan cinderamata replika dugong kepada tamu daerah baik dari luar negeri maupun dari daerah lain di dalam negeri.

Replika dugong dijadikan sebagai cinderamata pengingat karena semenjak dahulu sehingga saat ini, dugong hidup dan menempati perairan lautan Bintan. Disamping keindahan wisata alam Bintan merupakan andalan pariwisata, sekaligus menggambarkan keindahan bawah laut yang tergambar melalui cinderamata tersebut.

"Dugong adalah hewan langka yang harus kita lindungi. Hewan langka yang indah ini bisa kita temukan di perairan laut Bintan. Kita melestarikan dan bahkan kita jadikan cinderamata untuk tamu istimewa yang berkunjung ke Bintan agar tamu daerah selalu mengingatnya sebagai simbol keindahan Kabupaten Bintan dengan khas pariwisatanya yang indah, baik keindahan alam maupun keindahan bawah lautnya," kata Ansar dalam setiap kesempatan menemui tamu daerah.

Melimpahnya dugong di perairan Bintan mulai dari pulau terjauh yaitu Tambelan, perairan pulau-pulau di sekitar Kijang, Berakit, hingga Bintan Utara, Busung, maupun perairan Telukbintan.

Kelimpahan tersebut menunjukkan bahwa perairan laut Bintan masih bersih dari polusi, ramah lingkungan, dan kesadaran yang tinggi dari nelayan untuk tidak menangkap dan mengkonsumsi dugong tersebut.

"Ini mengindikasikan bahwa laut Bintan sangat bersih, tidak tercemar. Warganya ramah lingkungan dan nelayannya melindungi hewan tersebut untuk tidak dimakan, tidak ditangkap," ungkapnya.

Wakil Bupati Bintan H Khazalik dalam berbagai kesempatan menjelaskan Duyung atau dugong adalah satu-satunya mamalia laut herbivora, pemakan dedaunan.

Duyung sangat bergantung kepada rumput laut sebagai sumber makanan, sehingga penyebaran hewan ini terbatas pada kawasan pantai tempat ia dilahirkan. Hewan ini membutuhkan kawasan jelajah yang luas, perairan dangkal serta tenang, seperti di kawasan teluk dan hutan bakau. Moncong hewan ini menghadap ke bawah agar dapat menjamah rumput laut yang tumbuh di dasar perairan.

"Berbagai indikator lingkungan yang bagus tergambar dari keberadaan dugong ini. Diantaranya banyaknya rumput laut yang tumbuh subur sebagai makanannya. Karena kalau dugong masih banyak dan melimpah di suatu perairan, berarti sudah pasti rumput laut sebagai makanannya juga melimpah. Apalagi di Desa Malang Rapat sudah ditetapkan sebagai kawasan perlindungan rumput laut, disitu juga terdapat banyak dugong," kata Khazalik.

Ia menambahkan disamping Desa Malang Rapat sebagai kawasan perlindungan rumput laut, juga di Desa Berakit dan Desa Telukbakau juga digalakkan perlindungan rumput laut tersebut. Bahkan di seluruh perairan laut Bintan sangat bagus pertumbuhan rumput lautnya, dikarenakan lautnya bersih, tidak ada pencemaran.

"Kebersihan laut ini sudah terbukti banyaknya turis asing yang menggemari diving, maupun snorkeling di Lagoi, maupun Mapur, juga pariwisata Trikora," jelasnya. ***

Batam punya Cinderamata Batik Serindit Emas

WISATAWAN yang berkunjung ke Batam, kini memiliki banyak pilihan oleh-oleh yang bisa dibawa pulang. Mulai dari makanan, elektronik, tas hingga pakaian. Dan yang tak kalah uniknya adalah, batik khas Batam yang diberi nama batik melayu serindit emas. Batik yang kini telah memiliki lebih dari 50 motif.

"Kami sudah menciptakan lebih dari 50 motif. Semuanya mencermikan kehasan Batam," ujar Owner Batik Melayu Serindit Emas, Martin Baron.

Marti menjelaskan, 50 motif yang telah dihasilkan tersebut terbagi dalam dua motif induk yaitu motif tradisional dan motif kontenporer. Beberapa motif trafdisional seperti kuntum bujang, kuntum berkait, tampuk manggis, bunga tanjung dan sejumlah motif lainnya yang hampir berjumlah 35 motif.

Motif kontemporer seperti burung serindit, kerang gonggong, dan jembatan barelang serta sejumlah motif lainnya yang telah berhasil dibuat.

"Motif ini diambil dari bentuk-bentuk ukiran, songket, yang dimiliki oleh raja-raja melayu Kepri dulu. Serta beberapa kekhasan yang dimiliki oleh Kota Batam tertuang dalam Batik Batam ini," paparnya.

Batik melayu serindit emas memproduksi batik printing, cap dan tulis. Ditawarkan dengan harga yang bervariasi, mulai dari Rp100 ribu hingga Rp1 juta per potong.

Karena keterbatasan sumber daya manusia (SDM), sebagian produksi masih di lakukan di luar Batam, sebagian lagi dilakukan di Batam.

"Beberapa jenis batik masih belum bisa diproduksi di Batam. Seperti batik printing. Namun ke depannya, kita akan memproduksi sendiri di Batam," sebutnya.

Martin berharap, seluruh intansi pemerintah yang ada di Batam setiap hari Sabtu mempergunakan batik khas Batam. Guna mengangkat dan memperkenalkan batik produksi lokal. "Kalau tidak kita yang menggunakan, siapa lagi?" tanyanya.

Sementara itu, Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Kota Batam telah menciptakan banyak motif batik yang akan dipatenkan secara bertahap. Beberapa motif yang telah dipatenkan di antaranya awan larat, bunga sakat, bunga gonggong kuntum berendam, gonggong bunga semayang, bunga hutan, rajung bersusun, bunga kundur, periok kere selor berkait, bunga tanjung dara merajok, dan wajik-wajik.

Harga yang ditawarkan cukup bersaing, untuk batik cap dijual dengan harga Rp150-250 ribu, batik cap tulis Rp200-600 ribu dan untuk batik tulis minimal Rp600 ribu. (ren)

Share