Rabu05212014

Last update12:00:00 AM

Back Fokus Dari Kerang hingga Kerajinan Kaca

Dari Kerang hingga Kerajinan Kaca

Cinderamata Tanjungpinang

TANJUNGPINANG(HK)-- Kota Tanjungpinang yang merupakan daerah kepulauan identik dengan hasil laut. Hasil laut itu tidak hanya diolah menjadi panganan tetapi juga diolah untuk menjadi kerajinan tangan yang bisa sebagai cinderamata bagi wisatawan.

Salah satu hasil laut yang bisa diolah menjadi kerajinan tangan adalah kulit kerang. Berbagai macam kerajinan dapat dibuat dari kulit kerang ini seperti hiasan meja, asbak, kapal, hingga hiasan dinding.

Berbagai kerajinan itu dapat menjadi suatu cinderamata yang dapat dibawa pulang oleh wisatawan ketika mengunjungi Kota Tanjungpinang. Salah satu lokasi penjualan kerajinan kulit kerang terdapat di komplek makam Raja Ali Haji dan Engku Puteri, Pulau Penyengat.

Seperti yang dimiliki oleh Tuminah, warga asli Pulau Penyengat ini. Dengan hanya bermodalkan kios berdinding kayu serta beberapa meja dan rak, kerajinan kulit kerang asli buatannya dipamerkan.

Bermacam jenis kerajinan kulit kerang, yang dijual dikiosnya. Mulai dari hiasan meja, asbak rokok, kapal, dan hiasan dinding, semuanya terbuat dari kulit kerang. Selain, menjual kerajian dari kulit kerang, Tuminah juga menjual kerajinan tangan yang terbuat dari karang.

Diakui oleh Tuminah, kerajinan kulit kerang sudah ditekuninya sejak sembilan tahun yang lalu. Dari usaha dan bakat yang ada, ia mampu menciptakan kerajinan tangan yang indah.

"Semua yang mengerjakan kami sekeluarga saja. Tak ada orang lain," ujarnya, Sabtu (15/3) kemarin.

Memang diakui oleh Tuminah, saat ini kerajinan tangan buatannya masih sebatas dipasarkan secara lokal saja, yakni seputaran Pulau Penyengat. "Memang perlu tenaga lebih kalau nak dipasarkan keluar, selain itu saya juga belum punya mitra usaha di tempat lain," tuturnya.

Dikatakan olehnya, banyak para pengunjung yang apabila datang ke Pulau Penyengat tertarik dengan kerajinan miliknya. Pasalnya, kerajinan ditawarkannya cukup unik dan berbeda.

"Kalau banyak pengunjung yang datang, bisa lebih dari Rp300 ribu, tapi kalau sedikit, paling dapat Rp100 ribu," tuturnya.

Dijelaskan juga olehnya memang untuk membuat kerajinan yang akan dipasarkannya itu membutuhkan waktu yang tidakl sebentar.

"Untuk membuat kapal-kapalan, waktu yang dibutuhkan memang lebih singkat cuma butuh dua hari. Sedangkan untuk kerajinan bunga merak, dibutuhkan waktu satu minggu," ujar Tuminah.

Menurutnya, bahan baku untuk membuat kerajinan kerang itu memang tidak sulit didapatkannya. Biasanya ia mendapatkan kulit kerang dari Pulau Penyengat, dan juga dari pulau Karas, Tanjung Sebauk dan Pangkil.

Selain kerajinan kerang, Kota Gurindam juga terkenal dengan berbagai panganan khas Melayu. Seperti bilis gulung dan batang buruk. Semua jenis panganan tersebut biasanya bisa ditemui di toko-toko kue yang menjual panganan itu, salah satunya di Dapoer Melayoe yang terletak di Jalan Sultan Machmud Nomor 11, Tanjungpinang.

Sementara itu, untuk lebih mengembangkan kerajinan di Kota Tanjungpinang. Saat ini Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Kota Tanjungpinang sedang berusaha untuk mengembangkan kerajinan yang nantinya dapat menjadi ciri khas dari Kota Tanjungpinang.

"Memang kita akui, untuk saat ini belum ada kerajinan yang betul-betul bercirikan khas Kota Tanjungpinang," ujar Kepala Disparekraf Kota Tanjungpinang, Effiyar M Amin, Sabtu (15/3).

Untuk itulah, kata Effiyar saat ini pihaknya tengah berupaya mengembangkan jenis kerajinan dari bahan kaca untuk menghasilkan bentuk kerajinan yang benar-benar bercirikan khas Kota Tanjungpinang.

"Kita kemarin sudah melakukan pelatihan membuat kerajinan dari kaca yang berbentuk Masjid Penyengat," tuturnya.

Namun, lanjut Effiyar pihaknya masih sulit untuk menghasilkan kerajinan tersebut dalam skala besar. Karena lamanya masa produksi. Selain itu disampaikannya juga semangat para pengrajin di Kota Tanjungpinang ini masih terlalu mudah menyerah. Untuk itulah, Disparekraf Kota Tanjungpinang terus menggiatkan semangat kepada kewirausahaan untuk para pengrajin yang ada di Kota Tanjungpinang.***

====

Tanjungpinang Juga Punya Batik Gonggong


MENGUNJUNGI Kota Gurindam yang merupakan Ibu Kota Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) Tanjungpinang belum afdol jika pulang tidak membawa cendera mata berupa batik gonggong lawana khas dari Kota Tanjungpinang.

Bagi masyarakat di luar Kepri tentunya istilah gonggong masih asing. Namun masyarakat Pulau Bintan khususnya Tanjungpinang sudah tidak asing lagi dengan siput laut yang satu ini. Dan bila datang ke Kota Tanjungpinang, maka anda akan melihat reflika gonggong yang sangat besar yang sengaja diletak di pinggir taman tepi laut sebagai penyambut tamu yang baru datang.

Gonggong atau (Strombus Turturella) merupakan salah satu jenis siput laut yang banyak terdapat di sekitar perairan Pulau Bintan Kepri. Gonggong merupakan makanan kuliner khas Kota Tanjungpinang. Dan itu merupakan salah satunya dari sekian banyak makanan khas yang ada di Tanjungpinang, itulah sekelumit tentang gonggong.

Nah, selain makanan gonggong juga menjadi inspirasi bagi pengusaha untuk melahirkan batik bercorak gonggong. Dan sekarang batik gonggong telah menjadi oleh-oleh khas Tanjungpinang. Menurut Onny Kay, pemilik Selaras Group yang merupakan Produsen Batik Gonggong, sejak diluncurkan beberapa tahun lalu, batik gonggong sangat diminati oleh masyarakat luas, seperti dari Jakarta, Surabaya, Bogor, Batam, Pekanbaru, dan daerah lainnya.

"Batik gonggong merupakan hasil dari ide salah seorang seniman Kota Tanjungpinang bapak Efiyar M Amin. Beliaulah yang mempunyai gagasan dan ide untuk membuat batik gonggong, dan sebagai ciri khas Tanjungpinang" ujar pria kelahiran Tarempa ini.

Onny menceritakan, ide membuat batik gonggong terinspirasi oleh banyaknya wisatawan yang berkunjung ke kota Gurindam dan daerah Bintan yang terlebih dahulu menyinggahi Tanjungpinang. Begitu juga saat akan kembali meraka akan singgah terlebih dahulu ke sini sehingga tercetus untuk membuat motif batik gonggong yang merupakan salah satu ciri khas Tanjungpinang untuk buah tangan atau cenderamata.

"Saat merintis batik gonggong yang dimulai dengan membentuk desain awal sebuah duplikasi gonggong kemudian membuat cap dan dilanjutkan dengan belajar membatik. Dan itu memakan waktu yang sangat panjang. Setelah mendapatkan batik gonggong dengan corak dan warna yang inginkan pada 2 Mei 2010 lalu dibukalah toko “SELARAS” sebagai produsen batik gonggong yang beralamat di Jalan Basuki Rahmat Tanjungpinang," ceritanya.

Dalam perkembangannya, batik gonggong diterima dengan baik oleh masyarakat maupun wisatawan yang berkunjung ke Tanjungpinang. Sebagian dari mereka, mengaku mengetahui adanya batik gonggong dari mulut kemulut setelah melihat hasil batik gonggong yang unik.

"Alhamdulillah semakin hari semakin banyak yang datang untuk membeli bahkan ada yang memesan batik gonggong ini dengan jumlah yang cukup banyak, Baik untuk seragam di sekolah, dan juga Organisasi swasta, LSM Nasional dan lain-lainnya, tidak putus-putus, dan permintaan dari masyarakat semakin meningkat," jelasnya.

Onny juga mengatakan, batik gonggong juga ada di daerah luar kepri seperti di Manado yang menjual batik ini, karena disana dikhususkan menjual berbagai macam batik nasional dari seluruh Indonesia, dan peminatnya cukup lumayan sehinga tidak terkenal hanya di Kepri saja namun sudah terkenal di dareah lainnya.

"Yang paling membanggakan bagi kami sebagai produsen batik gonggong ketika hasil karya kami berupa baju batik bunga kemunting pernah dipakai Presiden RI Soesilo Bambang Yudoyono saat membuka acara kewirausahaan nasional beberapa waktu lalu,"ujaranya.

Ia menambahkan, beberapa motif yang telah dibuat hak cipta atau hak patennya oleh kreator motif gonggong ini diantaranya, Kain Batik Gonggong motif julur gonggong, Batik gonggong motif kelopak gonggong, serta motif kain gonggong julur kacang semuanya telah mendapatkan hak ciptaya dan sudah terdaftar di menterian Hukum dan HAM RI berdasarkan UU no 19 tahun 2002.

Seorang pembeli dari Jakarta bernama Krisna mengaku, secara kualitas dan corak, batik gonggong sangat unik dan tidak kalah dengan batik asal jawa.

"Kalau batik yang dijual di supermarket atau di butik-butik coraknya biasa dan umum, tidak seperti ini, dengan corak yang unik dengan menggunakan binatang sebagai motifnya dan banyak lagi motifnya. Banyak yang tidak tahu apa sih gonggong itu sehingga mereka menjadi penasaran," jelasnya.

Menurutnya, selain unik dan menarik batik gonggong ini, bisa dijadikan ikon yang berbeda dari daerah lainnya. Bila di Batam itu terkenal dengan barang-barang elektroniknya, sedangkan di Tanjungpinang sendiri mempunyai batik gonggong sebagai ciri khas sendiri. (sut)

Share