Penjual Bendera dan Umbul-Umbul
BINTAN (HK) -- Hari Kemederkaan yang jatuh setiap tanggal 17 Agustus membawa berkah bagi pedagang musiman bendera dan umbul-umbul.
Menjelang HUT Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 69 pada 17 Agustus mendatang, pedagang musiman yang menjual berbagai atribut seperti bendera dan umbul-umbul sangat mudah dijumpai di pinggiran jalan.
Pedagang pun tidak perlu repot-repot membuat lapak khusus untuk tempat dagangan di pinggir-pinggir jalan. Mereka memanfaatkan deretan pohon sebagai lapak untuk tempat mereka berjualan.
Seperti yang dilakukan Mus (32), salah seorang pedagang atribut HUT RI yang mangkalnya di pinggir jalan persis di depan SPBU di Kijang.
Mus memanfaatkan deretan pepohonan yang ada di lokasi sebagai tempat untuk memajang barang dagangannya itu. Dia sengaja memilih lokasi tersebut karena tempat itu tidak pernah sepi hilir mudik kendaraan warga.
Dia mulai membuka usaha dagangannya itu dari pagi sekitar pukul 09.00 WIB hingga menjelang waktu maghrib sekitar pukul 17.00 WIB. Selain itu juga Mus tidak pernah mengeluh bila barang dagangan itu tidak laku terjual setiap harinya.
"Ya itu lah resikonya berjualan mas, kadang laku kadang juga tidak. Intinya sabar saja lah dalam berdagang itu," akunya saat di tanya omset dagangannya itu.
Mus merupakan satu-satunya pedagang atribut HUT RI yang ada di Kijang Kecamatan Bintan Timur. Kendati demikian barang dagangan itu tidak pernah ramai pembelinya meskipun tidak ada lagi PKL seperti dirinya itu.
Dia menjelaskan untuk harga background sepanjang 9 meter dia membandrol harga sekitar Rp 450 ribu, sedangkan untuk umbul-umbul dia menjualnya sekitar Rp 45 hingga Rp 60 ribu sesuai bentuk dan panjangnya.
Untuk bendera merah putih, Mus memiliki 4 besaran bendera yang ditawarkannya, mulai dari yang kecil hingga yang berukuran mencapai 180 cum. Harganya juga cukup bervariasi mulai dari Rp 20 ribu hingga Rp 100 ribu. "Kalau harga bendera yang ukurannya kecil itu sudah harga pas, namun untuk yang berukuran besar harganya masih bisa nego," kata Mus saat di jumpai kemarin.
Pria asal Jawa itu mengaku baru pertama kali berjualan atribut merah putih ini, sebelumnya ia hanya bekerja sebagai buruh bangunan. Dia juga mengaku hal itu dilakukannya karena ia tidak perlu mengeluarkan modal yang besar, hanya dengan tenaga dan kesabaranlah yang menjadi modal utamanya.
"Semua barang dagangan ini punya orang, saya hanya menjualnya dengan sistem bagi hasil saja sama orang itu saja mas," ujarnya.
Pedagang bendera dan pernak-pernik HUT Kemerdekaan RI juga marak di sepanjang jalan Batuaji dan Sagulung, Batam.
Putra, penjual bendera mengaku, sudah tiga tahun berjualan bendera. Tahun lalu, katanya omset penjualannya sedikit menurun karena berdekatan dengan hari raya idul fitri. " Saat itu Kami harus bersaing dengan pedagang makanan, kue, hingga penjual pakaian," katanya.
Namun tahun ini, pesanan bendera dan atribut kemerdekaan Indonesia sudah banyak yang memesan sejak pekan pertama Agustus.
"Biasanya kalau sudah tanggal 1 sampai tanggal 17 Agustus, bendera merah putih mulai dicari, tapi sekarang malah sepi," ujarnya.
Menurut dia, pembeli bendera di tempatnya umumnya merupakan warga setempat dan pegawai kantoran yang membeli bendera jenis bondir jumbo untuk dipasang di gedung kantor mereka.
"Bendera jenis ini harganya Rp45 ribu per lima meter," katanya.
Ada pula pembeli dari kalangan masyarakat yang umumnya mencari bendera berukuran standar 1x1, 2 meter seharga Rp30 ribu atau bendera mini seharga Rp 5 ribu per lembar.
Pedagang asal Jawa ini mempersiapkan 20 kodi bendera untuk masing-masing sepuluh model berbeda. Bendera-bendera tersebut akan dijajakannya hingga sehari sebelum peringatan HUT RI pada tanggal 17 Agustus. *** Reza
====
Minat Warga Pasang Merah Putih Masih Rendah
Perayaan HUT Kemerdekaan RI setiap tanggal 17 Agutus memang sudah dikenal sebagai hari yang paling bersejarah. Namun, setiap menyambut dan merayakan hari bersejarah itu, minat warga memasang atribut merah putih mulai dari lingkungan terbawah masih rendah.
Bahkan, ada kesan jika warga lebih semangat memasang atribut saat Piala Dunia 2014 yang telah lewat, dibandingkan memasang atribut merah putih di hari 17 Agustus.
Pantauan Haluan Kepri, sepanjang jalan di perkotaan hanya beberapa saja instansi pemerintah dan lembaga suwasta yang telah memasang atribut merah putih seperti bendera, umbul-umbul, dan atribut lain.
Hal yang sama juga terjadi di jalan-jalan komplek perumahan belum banyak terpasang atribut merah putih atau menghias gang untuk menunjukkan kemerihan menyambut HUT Kemerdekaan.
Demikian pula kendaraan bermotor sangat jarang yang terlihat dipasangi bendera merah putih. Padahal pemerintah sudah menghimbau melalui surat edaran yang dibagikan oleh ketua RT masing-masing.
Roni,salah satu masyarakat yang dimintai tanggapan terhadap rendahnya partisipasi masyarakat mengibarkan bendera, mengaku kesibukan masyarakat diduga penyebab mereka kurang peduli dengan hari kemerdekaan.
Namun katanya, saat perayaan HUT Kemerdekaan biasanya masyarakat cukup antusias terlibat. Ini bisa terlihat ketika warga berbondong-bondong menyaksikan lomba gerak jalan, menonton pawai, atau datang ke arena panjat pinang yang biasa digelar warga. (jof)
Share
Berkah di Hari Kemerdekaan
- Minggu, 10 August 2014 00:00




