Jumat10172014

Last update12:00:00 AM

Back Fokus Antara Kesiapan SDM dan Sarana

Antara Kesiapan SDM dan Sarana

Dilema Kurikulum 2013

Tahun ajaran baru 2014/2015 telah berjalan lebih kurang tiga bulan. Sekaligus menandai dilaksanakannya kurikulum 2013 secara nasional. Namun kesiapan SDM dan sarana prasarana menjadi kendala utama.
Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Wamendikbud) Bidang Pendidikan, Musliar Kasim saat ke Batam beberapa waktu lalu menegaskan, pihaknya akan terus mengevaluasi kurikulum 2013 dengan memasukkan pengetahuan tentang sikap dan budi pekerti di semua mata pelajaran (mapel).

"Jangan sampai kurikulum yang sudah baik, justru tidak terlaksana," ujar Musliar.

Pemerintah, kata Musliar, telah mempersiapkan penerapan kurikulum 2013 semaksimal mungkin. Namun, pengadaan buku, skenario, dan pelatihan guru ternyata luput dari target yang seharusnya selesai 30 Juni. Musliar mengaku, karena kesibukan, maka tidak semua persiapan selesai. Padahal, tahun ajaran baru sendiri dimulai pada 14 Juli mendatang.

"Kami targetkan 19 Juli persiapan selesai, karena masih ada waktu satu minggu yang dipakai untuk masa orientasi siswa (MOS). Kami masih optimistis guru bisa dilatih sebelum masa ajar baru," ucapnya.

Menurut Musliar, koordinasi Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) sangat diperlukan dalam melatih ratusan ribu guru Indonesia. Namun, halangan yang mereka hadapi juga bermacam-macam. Akibatnya, pelatihan pun tidak tuntas sesuai target dan harus dijadwalkan ulang.

Kemendikbud juga mencadangkan instruktur. Kemudian, membuat pengadaan baru untuk buku-buku pelajaran yang lelangnya melalui Ekatalog. Lelang ini dikelola Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) agar bisa mendapatkan buku dengan harga murah.

Sementara, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh memastikan Kurikulum 2013 tetap dilanjutkan meski pemerintahan berganti. Menurutnya terdapat tiga alasan mengapa Kurikulum 2013 tetap dilanjutkan.

"Saya yakin pemerintah berikutnya akan menerima Kurikulum 2013 karena rasional. Kalau kurikulum ini tidak rasional, pasti sudah ditarik sejak dulu," kata Nuh.

Kurikulum 2013, menurut Nuh bertujuan untuk meningkatkan daya nalar anak-anak. Sebab pada masa kini dan masa depan, anak-anak itu harus dipersiapkan menjadi orang yang memiliki daya nalar tinggi untuk mengikuti perkembangan zaman. "Kalau hanya mengandalkan memori itu susah. Yang dibutuhkan untuk kemajuan itu pengembangan daya nalar," kata Nuh.

Saat ini, terang Nuh, terdapat 45,93 juta anak-anak usia 0-9 tahun. Terdapat 43,55 juta anak-anak usia 10-19 tahun.

Pada 2045, kata Nuh, mereka inilah yang akan memegang kendali masa depan Indonesia. Makanya mereka harus diberi kurikulum yang mampu mengembangkan daya nalarnya untuk meraih kejayaan Indonesia di masa depan.

Klinik Guru

Masih banyaknya kesulitan yang dihadapi oleh para guru dalam menerapkan K-13, Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Batam, menyarankan guru untuk berkonsultasi ke Klinik Guru (teaching clinic). Klinik ini sengaja diadakan untuk membantu guru yang masih kebingungan dalam menerapkan K-13, terutama para guru swasta yang sekolahnya baru tahun ajaran ini diterapkan.

"Jadi kalau ada guru yang masih bingung jangan malu-malu datang saja ke Lembaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan (LPTK) Kota Batam. Atau bisa juga konsultasi online atau sharing soal kendala selama mengajar.

Karena kata Muslim, untuk bisa mengajarkan materi dengan baik dan benar kepada siswa, maka guru harus memahami K-13 secara mendalam. Maka dari itu, agar guru memahami penerapan Kurikulum, Disdik memberikan pelatihan terhadap guru.

Seperti kasus yang terjadi saat ini pendistribusian buku K-13 banyak sekolah yang masih kurang atau belum menerima, guru mungkin akan menjadi bingung. Namun Muslim menghimbau agar pihak sekolah dan guru tidak terlalu terbebani persoalan keterlambatan distribusi buku ini, apalagi mengurangi semangat belajar.

"Jadi jangan jadi alasan ngajar malas karena buku K-13 Kurang, karena pendistribusian ini adalah masalah teknis. Sebaiknya guru tetap fokus mengajar K-13 dengan cara mengembangkan aspek afektif dan psikomotorik siswa. Kan sudah diberi CD pembelajaran dan di internet juga banyak, apalagi guru juga sudah dibekali pelatihan," ujar Muslim, beberapa hari lalu.

Muslim memaklumi bila guru masih ada yang merasa kebingungan dalam penerapan K-13 ini, namun ditegaskan lagi guru harus banyak belajar kepada guru pendamping terutama ketika proses belajar mengajar. Karena pendidik dan tenaga kependidikan yang berkompeten itu merupakan ujung tombak keberhasilan penerapan kurikulum 2013 ini.

"Yang harus ditingkatkan kompetensi guru agar mencapai tingkat keberhasilan, harus kompetensi pedagogi, kompetensi akademik (keilmuan), kompetensi sosial, dan kompetensi manajerial atau kepemimpinan. Bila semua ini telah dimiliki guru, diyakini pendidikan yang diterapkan akan berhasil dengan baik," kata Muslim. ***

====

Guru Mengajar K-13 Berbasis Teknologi

Agar implementasi Kurikulum 2013 (K-13) berjalan baik, pihak Disdik Kota Batam telah menyiapkan tim pengembangan K-13(TPK) yang nantinya akan mendampingi guru saat mengajar di kelas. Saat ini Disdik telah memiliki 4 orang TPK untuk melatih pendampingi guru SD saat mengajar didalam kelas. Serta 2 orang TPK melatih guru pendamping SMP. Begitu pula untuk TPK SMA dan SMK telah Disiapkan.

Menurut Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Batam, Drs H Muslim Bidin, untuk TPK SD nantinya akan membentuk Tim Pendamping sebanyak 48 orang yang akan ditempatkan pada 12 kecamatan yang terbagi dalam 32 gugus. Untuk setiap gugusnya, akan mendampingi 8-10 sekolah. Begitu pula dengan Tim Pendamping SMP akan terbagi dalam 17 kluster, untuk masing-masing kluster terbagi dalam 7 kelompok.

Sementara Tim Pendamping sistem kluster kata Muslim, nantinya bertugas untuk mendampingi guru mengajar di dalam kelas. Hal ini dilakukan agar pelaksanaan K-13 berjalan sesuai diharapan K-13. Tugas pendamping sendiri, nantinya mengamati guru yang mengajar di sekolah untuk mengetahui tingkat kesesulitan cara mengajar dan pendampingan ini juga dilakukan hingga pengisian rapor semester.

Sementara kata Muslim dari hasil pengamatan dan monotoring para Tim Pendamping ini, nanti akan di evaluasi untuk memetakan guru di sekolah mana yang masih kurang dalam penerapan K-13. Maka langkah selanjutnya dilakukan TPK dengan melakukan pendampingan ulang hingga guru benar-benar paham akan implementasi K-13.

"Mengaja kita bentuk TPK, tiada lain agar anak guru mengerti mengimplentasikan K-13 menjadikan anak didik menjadi lebih cerdas, karena mereka mengerti dengan apa yang menjadi tujuan serta proses belajar-mengajar itu. Nantinya pendamping akan memantau cara guru dalam mengajar K-13 untuk mempraktikan pelatihan K-13 yang telah diberikan, makanya guru diawasi selama mengajar,"ujarnya.

Menurut Muslim, bahwa pelatihan dilakukan guru yang kedua kalinya itu merupakan penajaman saja, karena sebelumnya para guru sudah lebih tahu, bagaimana kurikulum baru itu diimplementasikan, seperti guru mengurangi pembelajaran berceramah atau menerangkan pelajaran kepada siswa, akan tetapi lebih kepada pembinaan dan mendorong kreatifitas siswa untuk mencari sendiri.

Dijelaskan Muslim lagi, bahwa pendampingan guru ini tidak berhenti begitu saja, minimal satu kali tahun ajaran, baik narasumber nasional maupun instruktur nasional atau TPK akan melakukan monitoring dan pengawasan serta pendampingan proses mengajar guru dalam mengimplementasikan k-13 tersebut di sekolah-sekolah hingga tuntas.

Sementara, Kebid Dikdas Dinas Pendidikan Kota Batam, Rustam Efendi mengatakan, guru jangan gagap teknologi (gaptek) dalam menghadapi K-13 ini. Guru harus bisa mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IT) agar lebih inovatif dalam memberikan pelajaran kepada anak didik.

"Sekarang zamannya teknologi maju, jadi pembelajaran juga sudah mengarah pada berbasis IT. Makanya guru jangan gaptek harus meng-upgrade IT terus," ujar Rustam ketika menyikapi penerapan IT pada K-13, beberapa hari lalu.

Kurikulum 2013 kata Rustam, guru dituntut menyampaikan materi ajar lebih variatif berbasis IT agar mudah diterima peserta didik. Hal ini sesuai tuntutan K-13 lebih menekankan pada dimensi pedagogik modern dalam pembelajaran lebih kepada pendekatan scientific appoach, yakni meliputi mengamati, menanya, menalar, mencoba, membentuk jejaring. Tentunya konsep proses pembelajaran menyentuh tiga ranah, berupa sikap, pengetahuan, dan keterampilan, yang kesemua itu bersentuhan dengan IT.

"Sekarang ini penilaian anak didik tidak lagi dengan angka-angka, namun dalam bentuk deskriptif/narasi yang menuntut guru membuat laporan harus lewat komputer. Kalau di cacat pasti akan memerlukan waktu lama, apalagi jumlah siswa perkelas minimal 40 orangan, kapan selesainya bila ditulis tangan, " katanya.

Sementara untuk lebih menguasai betul akan penerapan K-13, selain didapat melalui pelatihan, guru juga dituntut mencari materi diklat lebih detail lewat online. Untuk itulah perlunya guru menguasai IT. "Kalau gaptek bagaimana bisa mengakses informasi lewat IT dan memberikan materi berbasais IT. Begitu pula belajar materi K-13 lewat diklat online akan bingung," jelas Rustam.

Menurut Rustam, diklat K-23 lewat online sangat bermanfaat untuk guru dalam menguasai K-13 sepenuhnya, karena disertakan juga video-video contoh pembelajaran, dan contoh-contoh format penilaian autentik. Maka dari itu, penguasaan IT mutlak bagi guru. (men)

Share