"Pulau Dompak bukan hanya pusat pemerintahan saja, tapi juga dirancang menjadi pusat bisnis. Intinya ada pada penyelesaian Jembatan I Dompak tahun depan, yang kemudian pembangunan pendukung lainnya akan dibangun seperti salah satunya Pelabuhan Internasional Dompak," kata Sani saat meninjau beberapa proyek pembangunan di Puau Penyengat dan Dompak, baru-baru ini.
Sani yakin, pembangunan Jembatan I Dompak akan rampung dikerjakan tahun 2015 nanti.
"Dompak akan menjadi urat nadi yang baru bagi pertumbuhan ekonomi di Tanjungpinang ke depan," ujarnya mantap.
Pusat Pemerintahan Provinsi Kepri di Pulau Dompak, lanjut Sani, terus dibenahi terutama infrastruktur pendukung yang belum selesai sejak 2007 lalu. Di samping itu, Pemprov Kepri juga akan membangun pelabuhan berskala internasional di Dompak.
"Saya sudah memerintahkan Kepala Dinas Perhubungan Kepri untuk membuat perencanaan yang komprehensif dan komplit. Semakin banyak infrasrtuktur pendukung, maka akan semakin cepat dalam melakukan pembangunan. Dan Tanjungpinang akan terus berkembang," tutur Sani.
Sani juga meminta dalam perencanaan tersebut, di Pelabuhan Internasional Dompak nanti, akan dilengkapi dengan bangunan Kantor Dishub Provinsi Kepri serta Kantor Badan Usaha Pelabuhan (BUP).
"Selain itu, juga harus dipikirkan lahan parkirnya dan tempat-tempat bisnisnya. Juga ketersediaan transportasi seperti taksi dan bus di pelabuhan tersebut.
"Jadi nanti pada saatnya menjadi pelabuhan internasional, sudah mempuni dan tidak semrawut lagi seperti di Pelabuhan SBP Tanjungpinang," ucap Sani.
Pembangunan Pelabuhan Internasional Dompak, kata dia, akan dilanjutkan kembali pada tahun 2015. Termasuk merenovasi dermaga Pulau Penyengat yang di depan Balai Adat.
"Agar pembangunan ini memberikan akses kemudahan bagi masyarakat. Kalau untuk dermaga di Pulau Penyengat, kita akan memperpajang dan melebarkan. Saya juga sudah memerintahkan Kepala Dishub Kepri untuk membuat Detailed Engineering Design (DED) di tahun ini," ujar Sani menambahkan.
Lebih lanjut Sani mengatakan, Pelabuhan Internasional Dompak, akan dikelola oleh Badan Usaha Pemerintah (BUP) bernama PT Pelabuhan Kepri. Bila pembangunannya telah siap, Pemprov akan mengundang perusahaan pelayaran swasta untuk mengisi jalur yang akan dioperasikan pelabuhan ini.
"Nantinya pelabuhan ini akan melayani rute Dompak-Malaysia dan Singapura, juga sebaliknya. Saat ini beberapa pihak pelayaran swasta telah berminat mengisinya. Fasilitas pelabuhan akan dilengkapi dengan restoran, agen wisata dan fasilitas pendukung lainnya," pungkas Sani.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Provinsi Kepri, Heru Sukmoro menyampaikan, saat ini pembangunan Jembatan I Dompak mulai masuk pada pemancangan di laut dari sisi Dompak. Tiang pancang laut yang akan mengkokohkan Jembatan I Dompak, di Kota Tanjungpinang diproduksi dari Medan dan Jakarta.
"Tiang berdiameter dengan lingkaran 1 meter ini, sebagian sudah tiba di lokasi. Ada tiga trip pengiriman tiang pancang ini dilakukan. Untuk alat berat pemancangan tiang di laut sudah siap di lokasi," ujar Heru.
"Kita terus mengejar pembangunannya. Semua kebutuhan pembangunan sudah siap di lapangan. Hampir seluruh alat berat juga sudah tiba di lokasi. Berbeda dengan pemancangan di darat. Untuk di laut membutuhkan alat berat khusus dan lebih besar," kata Heru.
Berganti Nama
Kantor Pusat Pemerintahan Provinsi Kepri di Dompak, Tanjungpinang berubah namanya menjadi kawasan Istana Kota Piring. Kenapa demikian, karena nama Istana Kota Piring memiliki nilai historis yang tak bisa dipisahkan dari sejarah sewaktu masih tergabung dalam Kerajaan Riau-Lingga.
Kepala Dinas Kebudayaan (Kadisbd) Kepri, Arifin Nasir memastikan perubahan nama pusat Pemerintah Provinsi Kepri yang berada di Pulau Dompak itu.
"Kami akan lounchingkan pemberian nama pusat Pemerintahan Provinsi Kepri di Dompak nanti menjadi kawasan Istana Kota Piring pada saat HUT (Hari Ulang Tahun) Provinsi Kepri tanggal 24 September 2014," kata Arifin.
Selain pemberian nama baru pusat Pemerintahan Provinsi Kepri di Dompak, Arifin menjelaskan, pihaknya juga akan mengumumkan nama-nama akses jalan baru serta nama perkantoran, baik pemerintahan dan DPRD Kepri di kawasan Dompak.
"Jembatan 1, 2 dan 3 di Dompak juga akan diberi nama serta diumumkan pada hari yang sama nanti," ungkapnya.
Arifin memastikan, bukan hanya di kawasan Dompak saja diberi nama baru, RSUP Provinsi Kepri yang berada di Kilometer 8 Jalan Raya Tanjungpinang-Uban serta RSUD Tanjung Uban, Bintan dan pusat perkantoran pemerintahan di Batam juga akan diberi nama baru.
"Kita juga akan berikan nama-nama di ruang-ruang rapat di perkantoran pemerintahan di lingkungan Provinsi Kepri," ujarnya.
Pemberian nama-nama baru itu sudah dirapatkan bersama dengan tim yang bernama FDG (Forum Diskusi Grup) yang terdiri dari unsur LAM Kepri, Akademisi, Tokoh masyarakat serta pihak Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Biro Hukum dan Dinas Kebudayaan Kepri sendiri.
"Nama-nama baru tersebut nanti diyakini Arifin memiliki filosofi sejarah pada masa keemasan Kepri dahulu kala. Dan nanti kita akan mengumumkan lagu daerah khusus Kepri," terang Arifin.
Terpisah, Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepri, Abdul Razak tak menampik kabar tersebut. Menurutnya, mencuatnya nama Istana Kota Piring, sebelumnya sudah dirapatkan bersama dengan Dinas Kebudayaan (Disbud) Kepri serta disampaikan ke Gubernur Kepri HM Sani.
"Sudah ada nama baru yakni menjadi Kawasan Istana Kota Piring. Nama itu sudah dirapatkan termasuk nama akses jalan di seputaran di Dompak, perkantoran dan nama Jalan Gedung LAM sendiri. Kita tinggal tunggu saran dari pak Gubernur," ungkap Razak.
Razak mengingatkan, sebagai masyarakat Melayu tentu harus saling menghargai, tenggang rasa serta berjalan dalam koridor benang merah sejarah dalam menentukan nama pengganti Dompak ke depan. Sehingga, tercipta suasana yang harmonis antar masyarakat bersama pemerintah.
"Nama Istana Kota Piring belum baku atau belum dapat dipastikan betul. Karena, ini menyangkut aspek luas. Kalau perlu disayembarakan oleh Disbud Kepri. Saran Gubernur harus disambut baik," tegas Razak.
Razak menambahkan, sejarah kenapa nama Dompak tak ada yang jelas. Seumpana ada satu fakta pendukung alias benang merahnya (historis) kemungkinan mudah dalam mencari nama penggantinya nanti.
"Alasan mengambil nama Istana Kota Piring, memang tak bisa dipisahkan dengan sejarah. Jadi kebesarannya itu semasa Kesultanan Riau-Lingga, Istana Kota Piring tak terpisahkan dan sudah bersinar serta memiliki kebesaran tersendiri," tambahnya.(yan/Rico)
====
Banjir Masih Hantui Warga
Di usia 13 tahun menjadi kota otonom, Tanjungpinang masih dihadapkan dengan masalah banjir. Hampir setiap musim hujan sejumlah titik ruas jalan digenangi air setinggi lutut orang dewasa. Sempitnya drainase karena tersumbat sampah menjadi salah satu penyebabnya.
Seperti pantaun Haluan Kepri baru-baru ini, meluapnya volume air dari drainase saat hujan deras membuat beberapa titik seperti Jalan MT Haryono Km 3, Jalan Gatot Subroto Km 5 bawah, Jalan Pemuda dan Perumahan Sei Jang RT01/RW08 mengalami banjir.
Sepanjang pantauan Haluan Kepri, tampak drainase di sisi jalan di lokasi tidak mampu menampung debit air yang datang. Banjir juga turut menutupi akses jalan.
Di Jalan MT Haryono, banjir menutupi jalan sepanjang 100 meter dengan ketinggian paha orang dewasa. Akses jalan utama ini membuat kendaraan yang lewat terpaksa putar balik. Namun, tak sedikit yang nekat menerobos genangan. Akibatnya, beberapa sepeda motor mogok di tengah genangan.
"Saya dari rumah, di Batu 5 mau ke daerah pasar. Ketika melewati jalan depan Gang Anggrek Merah Km 5 bawah kena banjir. Lalu saya mutar lewat atas kemudian turun ke Batu 3 ketemu lagi banjir," keluh Aseng, warga Tanjungpinang.
Kendaraan yang putar balik juga membuat jalan menjadi macet. Para pemilik ruko yang di Jalan MT Haryono menutup jalan dengan meja dan kursi. Mereka kesal dengan perilaku pengemudi kendaraan yang seenaknya berputar hingga cipratan air mengenai rukonya.
Kawasan lain yang juga kerap menjadi langganan banjir adalah Jalan Sukaberenang dan wilayah Jalan Kilometer 5 (Batu Lima Bawah-red) dan Ruas Jalan Pemuda. Ketika banjir, praktis arus lalulintas menjadi macet lantaran pengemudi roda dua dan empat menghentikan laju kendaraannya.
Pengemudi roda empat bernama Risky menuturkan, bahwa sempitnya saluran drainase di sejumlah ruas jalan di kota ini menyebabkan banjir hebat tak dapat dihindari. Ditambah, minimnya kesadaran warga Kota Gurindam membuang sampah pada tempatnya.
"Tadi saya lewat di Jalan Sukaberenang dan di Jalan Batu Lima Bawah, banjir bang. Takut mobil saya kenapa-kenapa, terpaksa saya patah balik. Hujannya lebat sekali," ujar Risky.
Kondisi yang sama juga kerap terjadi di ruas Jalan Pemuda. Setiap musim hujan kawasan ini digenangi air setinggi lutut orang dewasa. Padahal hujan yang turun tidak berlangsung lama.
Penyebabnya, drainase yang ada di lokasi dengan kedalaman hampir satu meter tidak mampu menampung debit air yang datang. Selain itu, banjir juga turut menutupi jalan menuju ke perumnas. Praktis, akibat banjir tersebut membuat beberapa pengguna jalan mengeluhkan kondisi tersebut.
Hendro, salah seorang pengguna jalan, saat ditemui mengatakan, banjir yang terjadi di Jalan Pemuda itu sudah seperti penyakit lama yang tak kunjung sembuh.
"Dari jaman dulu, pasti kalau hujan lebat di sini selalu saja banjir," keluhnya.
Hal yang sama juga dikatakan oleh Antoni. Menurutnya, hujan yang turun tidak terlalu lama langsung menyebabkan banjir menggenanngi lokasi tersebut.
Akibat banjir ini, membuat para pejalan kaki juga terlihat kebingungan ketika akan melintas di jalan itu. Dengan hati-hati mereka berjalan menyusuri tepian jalan. Khawatir terpelosok ke dalam got, dan juga khawatir terhadap lalu lalang kendaraan yang tidak juga melambatkan laju kendaraan. (yan)




