BATAM (HK) - Kain tradisional Nusantara dengan kekayaan motifnya selalu saja mampu menyita perhatian desainer Dee Ong. Bagi Dee, motif kain tradisional Nusantara tidak akan pernah habis untuk dieksplorasi.
Setelah sukses melahirkan batik dengan ciri khas masing-masing provinsi (33 provinsi) yang ada di Indonesia serta mengangkat pamor kain tapis asli Lampung di event Jakarta Fashion Week 2012, Dee kini melirik pesona batik Batam.
"Batik Batam motifnya indah, cantik, serta mudah untuk diolah, para desainer pasti menyukainya," katanya, Jumat (31/10) pada Haluan Kepri.
Ciri khas lain dari batik Batam menurut Dee terletak pada pantun yang melekat pada tiap helai kain. Sedang untuk motif, hewan - hewan laut semacam kerang - kerangan layaknya gonggong mendominasi motif batik Batam.
Belum lama ini, Dee dalam event Duta Pariwisata Encik & Puan Batam 2014 baru saja memamerkan karya rancangan batik Batamnya.
Ia juga mengakui dalam rangkaian acara Duta Pariwisata Encik & Puan Batam 2014 lalu, terhitung dua kali Dee menggelar fashion show batik Batamnya dengan para finalis Encik & Puan sebagai modelnya, pertama berlangsung di BCS Mall dan saat malam final Encik & Puan Batam di Hotel Harmoni One di Batam.
" Saya ingin batik Batam semakin popular, dan yang paling penting, saya ingin masyarakat Batam bangga dengan kekayaan budaya yang mereka miliki, seperti halnya batik Batam, " ujar Dee.
Sekilas tentang seorang pencinta batik tradisional yakni wanita yang akrab disapa Dee Ong dengan nama lengkap Diana Safitri. Sedari kecil Dee gemar melukis, bahkan ia sangat antusias dengan dunia seni. Meski saat memasuki jenjang perguruan tinggi mengambil jurusan Sastra China di Universitas Indonesia (UI), bukan berarti kecintaannya terhadap dunia seni terutama dalam mendesain pakaian ia tinggalkan.
Dengan santai ia menceritakan, Sebenarnya semasa kuliah, tidak hanya sastra China yang ditekuni, Dee juga mengambil jurusan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), dalam waktu yang hampir bersamaan. lulusan Sastra China pada 1994 dengan meraih gelar Sarjana Fisip pada 1995.
" Saya orangnya maruk ilmu. Senang belajar apa saja. Waktu kuliah saya ambil Sastra China dan FISIP di UI. Tapi di waktu-waktu senggang saya tetap membuat desain pakaian. Saya punya setumpuk tebal desain pakaian,jika ada yang ingin meminta informasi desain fashion bisa menghubungi ke nomor 081364043555," kata Dee sembari promosi.***
====
10 Motif Batik Batam Telah Dipatenkan
Batam (HK)-- Sebanyak 10 motif batik Batam telah dipatenkan di Hak Kekayaan Intelektual (HKI).
"Saat ini ada 10 motif batik Batam yang telah dipatenkan di HKI sejak tahun 2008," kata Kepala Seksi Pembinaan Industri, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), Kota Batam, Sugeng Widigdo beberapa waktu lalu.
Ada pun 10 motif batik Batam yang sudah dipatenkan adalah Awan Larat, Bunga Sakat Mayang Terurai, Bunga Sakat Dara Merajok, Siput Gonggong Kuntum Berendam dan Siput Gonggong Bunga Semayang.
Kemudian motif Rajung bersusun, Bunga Kundur Awan Menjulang, Bunga Hutan, Perio Kere Sulor Bekait dan Kasih Bersambut.
"Kebanyakan motif yang telah dipatenkan tersebut dari Daik Lingga nama kerajaan Melayu tertua di Kepri dengan motif dasar wajik-Wajik adalah motif lama," kata Sugeng.
Warna dasar yang utama terdapat pada motif batik Batam adalah merah, hijau dan hitam, katanya.
"Saat ini, kita juga sudah mengembangkan motif batik Batam baru yaitu `Batam Madani` yang terdapat gambar jembatan Barelang (Batam, Rempang dan Galang, red)," kata Sugeng.
Guna mengembangkan motif batik Batam dimasyarakat, maka Disperindag melakukan pembinaan berupa pelatihan kepada para perajin batik di kota tersebut.
"Untuk mengembang Sumber Daya Manusia (SDM) kita sudah memberi pelatihan perajin batik ke Yogya, Solo dan Pekalongan," kata Sugeng.
Sugeng mengharapkan baju dengan motif batik Batam dapat digunakan sebagai baju dinas tiap hari Kamis di Batam, seperti kebiasaan hari Jumat menggunakan baju kurung bagi wanita baik dewasa maupun anak-anak.
Salah satu, batik khas Batam adalah batik Melayu Serindit Emas yang kini telah memiliki lebih dari 50 motif.
"Sudah cukup banyak motif yang kami hasilkan, semuanya mencermikan kehasan Batam," ujar Owner Batik Melayu Serindit Emas, Martin Baron.
Marti menjelaskan, 50 motif yang telah dihasilkan tersebut terbagi dalam dua motif induk yaitu motif tradisional dan motif kontenporer. Beberapa motif trafdisional seperti kuntum bujang, kuntum berkait, tampuk manggis, bunga tanjung dan sejumlah motif lainnya yang hampir berjumlah 35 motif.
Motif kontemporer seperti burung serindit, kerang gonggong, dan jembatan barelang serta sejumlah motif lainnya yang telah berhasil dibuat.
"Motif ini diambil dari bentuk-bentuk ukiran, songket, yang dimiliki oleh raja-raja melayu Kepri dulu. Serta beberapa kekhasan yang dimiliki oleh Kota Batam tertuang dalam Batik Batam ini," paparnya.
Batik melayu serindit emas memproduksi batik printing, cap dan tulis. Ditawarkan dengan harga yang bervariasi, mulai dari Rp100 ribu hingga Rp1 juta per potong.
Karena keterbatasan sumber daya manusia (SDM), sebagian produksi masih di lakukan di luar Batam, sebagian lagi dilakukan di Batam.
"Beberapa jenis batik masih belum bisa diproduksi di Batam. Seperti batik printing. Namun ke depannya, kita akan memproduksi sendiri di Batam," sebutnya.
Martin berharap, seluruh intansi pemerintah yang ada di Batam setiap hari Sabtu mempergunakan batik khas Batam. Guna mengakat dan memperkenalkan batik produksi lokal. "Kalau tidak kita yang menggunakan, siapa lagi?" tanyanya.(ren/ant)Share
Terpesona Motif Batik Batam
- Minggu, 02 November 2014 00:00




