Selasa11252014

Last update12:00:00 AM

Back Fokus Batik Kepri Kian Diminati

Batik Kepri Kian Diminati

BATAM (HK)-- Hari Batam Nasional baru saja berlalu. Kini Batik tidak hanya menjadi warisan budaya yang patut dilestarikan tetapi juga melahirkan kreasi dari anak negeri.
Masyarakat mungkin sudah awam dengan Batik Keris asal Yogya atau Batik Danarhadi asal Solo bahkan batik Pekalongan dari Pekalongan. Namun di Tanjungpinang kini juga ada batik Gonggong dan di Bintan ada batik Dugong (Ikan Duyung).

Kelurahan Kota Baru, Teluk Sebong dipilih sebagai pusat pengembangan batik Dugong, karena letak geografis yang berdampingan dengan pusat pariwisata Bintan, yaitu Lagoi. Kedekatan ini diharapkan lebih memudahkan dalam pemasarannya.

Beberapa warga yang sudah mengikuti pelatihan membatik di Jawa Barat kini sibuk membatik, menciptakan motif-motif batik khas Bintan. Untuk memasarkan batik khas Bintan ini dibantu oleh kelompok menjahit Usaha Rakyat, Karang Taruna, Kube.

Selain Bintan, membatik juga sudah menjadi kerajinan tangan masyarakat di Kabupaten Karimun. Tak heran, para pembatik sudah banyak yang bermunculan di Bumi Berazam ini. Sebut saja Reny Batik dan Mila Batik. Dua industri rumah tangga yang bergelut dalam dunia batik di Karimun.

Zamyatul Siregar, pemilik Mila Batik yang terletak di Jalan MT Haryono, Tebing mengatakan sejarah mulai berdirinya batik di Karimun. Ia menyebut, membatik di Karimun berawal dari program Kantor Pemuda dan Olahraga Kabupaten Karimun terkait Pelatihan Batik tahun 2010 lalu.

"Saat itu, pendirian kelompok kerajinan batik Karimun atas keberadaan dan eksistensi dari pelatihan yang terdiri dari 9 orang perajin batik yang mulai beraktivitas di Kelurahan Tebing, Kecamatan Tebing. Sejak saat itu, ke sembilan orang ini mulai mengembangkan ilmunya hingga mulai menjadi berkembang," ujar Zamyatul.

Menurut Zamyatul, motif dan corak batik di Karimun berbeda dengan yang ada di Solo atau daerah lainnya di Indonesia. Bukan hanya corak, namun gaya pembatikan pun juga tidak sama. Pembuatan batik Karimun melalui sistem tulis atau yang lebih dikenal dengan istilah pencantingan karena menggunakan media yang disebut canting.

Namun, seiring pergeseran waktu dan banyaknya ide yang muncul dari para pebatik, maka pebatik mulai melakukan cara lain yaitu dengan cara cetak dan terakhir cara terbaru yang dilakukan adalah melalui sistem printing.

Sistem printing ini para peminat batik bisa memesan motif, warna dan setelah semua sesuai dengan selera, maka perajin bisa mengerjakannya haya dalam waktu dua hari.

"Jika menyangkut motif, motif batik di Karimun sesuai dengan kondisi daerah Karimun yang terletak di daerah pesisir dan pada umumnya bermata pencaharian sebagai nelayan. Makanya, dalam corak batik pun disesuaikan dengan ritme kehidupan nelayan dan semua ciri khas yang berbau dengan masyarakat pesisir," ujarnya.

Dengan berpijak pada kondisi daerah Karimun itu, maka perajin menciptakan berbagai motif seperti motif gonggong, bunga raya, daun sukun, awan berarak, ikan ampan layar, ikan berenang, siput gonggong terkurung dan sukun bersusun.

Kian lama, corak batik Karimun semakin beragam. Bahkan, trend batik pun disesuaikan dengan trend dunia dan selera pasar. Tahun 2012 ini, batik Karimun memiliki trend 'batik Karimun padu serasi', 'batik Karimun pelangi' dengan kombinasi warna alam.

"Mengenai bahan, selama ini bahan baku batik Karimun memang masih berasal dari Jawa terutama Jogjakarta, namun mulai 2012 ini para perajin batik di Karimun akan memanfaatkan sumber daya alam (SDA) yang ada di Karimun seperti memanfaatkan getah nangka atau cempedak.

Warisan Sultan Riau Lingga

Sementara itu, Batik Lingga yang sudah terkenal sampai ke kancah nasional dengan berbagai ragam coraknya merupakan warisan dari Sultan Riau Lingga. Sekarang batik Lingga mulai digalakkan sebagai usaha warga untuk menopang perekonomian mereka.

Batik yang menjadi khas Lingga terdiri dari 19 corak dan terbaik saat ini, seperti corak tampuk manggis, tanaman bunga, tumbuh-tumbuhan dan corak batik lainnya.

Usaha batik Lingga terus mendapat pelatihan-pelatihan khusus. Setiap pengrajin juga mendapatkan pelatihan ke Bandung dengan tujuan bisa lebih meningkatkan hasil kualitas batik yang dibuatnya. .

Pemerintah Kabupaten Natuna juga tidak mau kalah dengan menggeliatnya usaha batik dengan merancang batik khas yang bermotif bunga cengkeh sebagai produk unggulan daerah ini. Pengambilan motif ini karena kabupaten kepulauan tersebut dulunya merupakan salah satu daerah penghasil cengkeh. Sedikitnya ada 13 motif bunga cengkeh yang menjadi corak batik.

Kenapa cengkeh ? Ternyata dulunya Natuna disebut Pulau Tujuh. Setiap kecamatannya memiliki tanaman cengkeh. Sehingga ketika memberikan nama batik bunga cengkeh, maka akan mengingatkan masyarakat akan tanah kelahiran.

Aneka batik dari berbagai daerah di Kepri itu sudah sering dipamerkan dalam berbagai kegiatan pameran. Ketua TP PKK Provinsi Kepri, Aisyah Sani dalam sebuah acara pergelaran batik menyatakan, dekranasda merupakan wadah untuk menggali kelestarian serta mengembangkan warisan bangsa.

"Semoga di diri masyarakat Kepri khususnya, tertanam kesadaran akan arti pentingnya melestarikan warisan budaya bangsa," katanya.

Aisyah juga mengajak seluruh masyarakat Kepri untuk dapat mengembangkan batik sebagai produk unggulan. Dengan harapan, dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. “Dekranasda seluruh kota dan kabupaten di Kepri diharapkan mampu menciptakan design untuk kekhasan batik di daerahnya agar memperkaya khasanah batik di Kepri,” paparnya.

Dekranasda Provinsi Kepri mencoba menciptakan batik yang sadar budaya daerah di Kepri yaitu motif batik Tikar Serasan, yang saat ini telah dikenal di masyarakat. Motif tikar Serasan mempunyai motif tikar yang unik dengan corak yang menawan sehingga bagus dikembangkan untuk menjadi motif batik khas Kepri. Design baru tersebut merupakan hasil kerjasama Dekranasda Kepri dan Ramli yang memiliki nilai seni tinggi serta dapat membanggakan daerah Kepri.

Secara terpisah, Gubernur Kepri M Sani menyatakan, melalui batik tidak hanya budaya yang dikembangkan namun ekonomi masyarakat juga terangkat.
"Saya mendukung sepenuhnya kegiatan Dekranasda untuk mengembangkanbatik, dalam rangka lestarikan budaya. Tapi semua itu tidak akan terlaksana tanpa dukungan dari seluruh masyarakat. Semoga anak negeri dapat menggunakan produk sendiri wujud dari cinta negeri," ungkap Sani. ***

Share