Minggu12282014

Last update12:00:00 AM

Back Fokus Laut Kepri Zona Waspada

Laut Kepri Zona Waspada

Musim Angin Utara

Batam (HK)-- MEMASUKI musim angin utara, gelombang perairan di Kepri mencapai situasi yang harus diwaspadai. Tinggi gelombang tercatat setinggi 1 meter hingga 4 meter.
Cuaca buruk berupa hujan deras disertai angin kencang yang terjadi di perairan sekitar Provinsi Kepulauan Riau sejak Jumat sekitar pukul 06.00 WIB. Kondisi ini membuat keberangkatan sejumlah kapal feri tertunda hingga sekitar dua jam.

Syahbandar Pelabuhan Domestik Sekupang Yofan Siahaan mengatakan, sempat menunda keberangkatan lima kapal dari pukul 08.00 WIB sampai 10.00 WIB akibat cuaca sangat buruk.

Lima kapal yang berkapasitas hingga 300 penumpang tersebut sedianya berlayar dari Batam-Dumai (dua kapal), Batam-Tanjung Balai Karimun, Batam-Buton, dan Batam-Pekanbaru masing-masing satu kapal.

"Rata-rata penumpang memaklumi penundaan tersebut karena cuaca memang sangat buruk. Mereka bersedia menunggu sampai sekitar pukul 10.00 WIB saat cuaca membaik," kata dia.

Hingga siang ini, kata dia, hujan masih turun meski semua kapal diizinkan untuk berlayar.

"Setelah pukul 10.00 WIB semua diizinkan berlayar. Namun kami memperingatkan agar selalu berhati-hati dan mengamati perubahan cuaca di tengah laut," kata Yofan.

Syahbandar Pelabuhan Telaga Punggur, Erwin Syafrizal mengatakan belum ada penundaan pelayaran dari Punggur Batam ke Tanjungpinang, Tanjung Uban, maupun Dabo Lingga.

"Hingga kini tidak ada penundaan. Semua masih diizinkan berlayar. Hanya saja kami peringatkan pada nakhoda hati-hati mengantisipasi perubahan cuaca di tengah laut," kata dia.

Saat cuaca buruk, kata dia, kondisi di tengah laut cenderung sulit diprediksi dan bisa berubah dalam waktu cepat.

"Untuk tujuan Batam-Dabo, Lingga. Kami minta nakhoda menggunakan alur pelayaran dalam yang dekat dengan pulau-pulau untuk mengindari gelombang tinggi pada alur yang biasa digunakan saat cuaca bagus," kata Erwin.

Dalam cuaca normal, pelayaran Batam-Dabo bisa ditempuh selama sekitar empat jam. Namun saat cuaca buruk bisa sampai 5-6 jam.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Hang Nadim Batam melalui laman resminya memperingatkan pelaku pelayaran agar hati-hati dengan gelombang tinggi. Tinggi gelombang pada perairan Kepri tercatat setinggi 1 meter hingga 3,5 meter.

Senada, Kepala Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kota Tanjungpinang, Hartanto menyampaikan, bahwa kondisi gelombang beberapa daerah perairan di Kepri mencapai situasi yang harus diwaspadai, karena dari perolehan data khususnya di perairan Natuna tinggi gelombang sudah mencapai 4 meter.

"Saat ini tinggi gelombang sudah semakin meningkat, seperti di perairan Natuna, tinggi gelombang maksimum capai 3-4 meter," kata Hartanto.

Selain itu, untuk wilayah perairan Anambas, Tambelan dan Utara Lingga tinggi gelombang maksimum capai 2-3 meter. Sementara di perairan Batam dan Tanjungpinang yang sudah mencapai 1 meter.

"Potensi tinggi gelombang itu dipengaruhi oleh kecepatan angin yang kini sudah mencapai 10-20 km per jam dari barat laut sampai ke utara," tuturnya.

Dari data BMKG terhadap kondisi cuaca di Kepri tersebut, GM Pelni cabang Tanjungpinang, Norkilamami mengakui bahwa pengaruh cuaca buruk berdampak pada pelayaran Pelni di Kepri.

"KM Bukit Raya yang seharusnya berlayar pada pukul 08:00 WIB, terpaksa kami undur 4 jam, sehingga berangkat pada pukul 12:00 WIB," tegasnya.

Meskipun belum ingat pasti tentang waktu kejadiannya, namun diundurnya waktu keberangkatan tersebut ucap Norkilamami selain karena kecepatan angin terlalu tinggi, rute tujuan yang harus dilalui KM Bukit Raya juga melawan angin, sehingga rawan.

Dilanjutkan kembali oleh Hartanto, bahwa waspada terhadap cuaca buruk tidak hanya untuk wilayah perairan, tapi kondisi udara Kepri juga turut diwaspadai.

"Jika dalam cuaca bagus tidak ada masalah karena jarak pandang lebih dari 5 km, sementara dalam kondisi cuaca buruk jarak pandang kurang dari 1 km, hal ini yang harus diwaspadai untuk penerbangan," papar Hartanto.

Capai 4 Meter

Badan Meteorologi, Klimatolgi dan Geofisika (BMKG) stasiun Ranai menyampaikan, bahwa gelombang laut Natuna hingga satu pekan ke depan mencapai 2 hingga 4 meter.

"Gelombang laut setinggi itu sangat membahayakan bagi nelayan dan pengguna transportasi laut," ungkap Prakirawan BMKG Ranai Asrullah di Ranai.

Dari data analis katanya, terdapat daerah bertekanan rendah di perairan Natuna yang menyebabkan angin dari arah utara sedikit berkurang, sehingga menimbulkan gelombang tinggi dari biasanya.

"Hal ini berlangsung tiga hari ke depan. Akan tetapi angin sewaktu-waktu bisa bertiup kencang terutama di waktu malam hingga pagi dan menimbulkan gelombang tinggi saat itu," katanya.

Sedangkan untuk satu minggu ke depan, terutama pada 23 Desember tambahnya, tinggi gelombang sedikit menurun dari 1 hingga 3 meter. Dan arah kecepatan angin lebih cenderung dari arah utara dan timur laut dengan kecepatan maksimum 10 hingga 30 Km/jam.

Untuk suhu udara berkisar rata-rata 26 hingga 31 derajat Celcius. Dan arus permukaan laut untuk satu minggu ke depan berkisar 35 hingga 75 CM.

"Sekarang ini cuaca dalam kondisi buruk. Diharapkan kepada masyarakat terutama bagi nelayan dan pengguna transportasi laut agar berhati-hati dan tetap selalu waspada. Sebab sekarang ini angin kencang bisa terjadi secara tiba-tiba," pungkasnya. (ant/jof)

=====

Cuaca Buruk, Harga Ikan Melambung

Sejak awal Desember hingga pekan ketiga, harga ikan pada sejumlah pasar tradisional di Batam mengalami kenaikan fluktuatif dari 10-50 persen.

"Pasokan berkurang, kadang malah hampir tidak ada ikan masuk. Jadi harganya naik-turun namun masih sekitar 10-50 persen di atas harga normal," ujar pedagang ikan di Botania, Muhajir.

Tingginya harga ikan tersebut mulai dikeluhkan oleh para pembeli di Pasar Tos 3000, Jodoh. Para ibu-ibu banyak mengurungnya niatnya membeli ikan karena harganya sangat mahal. Mereka beralih membeli ayam dan ikan asin. "Sementara tidak makan ikan segar dulu karena mahal, saya beli daging ayam aja," kata Wati, seorang ibu rumah tangga.

Sementara itu, penjual ikan di Anambas, Rahmat mengaku kondisi perairan Anambas seperti sekarang ini, menyebabkan ia juga sulit untuk mendapatkan pasokan ikan dari nelayan yang sudah menjadi langganannya selama ini.

“Banyak nelayan yang tidak turun mencari ikan karena takut tenggelam. Dampaknya ikan juga sulit didapat dan terpaksa dijual sedikit mahal dari harga biasanya” ungkapnya.

Ia berharap kondisi cuaca dan gelombang di perairan seputar Anambas bisa kembali tenang seperti biasanya, sehingga nelayan kembali melaut dengan aman.

Dinas Perikanan Kelautan (DKP) Karimun menghimbau nelayan untuk tidak sendirian melaut tetapi berkelompok karena musim angin utara. Selain itu, nelayan juga diimbau melengkapi kapalnya dengan pelampung, jeriken-jeriken kosong serta alat keselamatan lain yang patut dimiliki, supaya dapat meminimalisir korban jiwa jika terjadi kecelakaan di laut.

"Ketinggian gelombang bisa mencapai satu hingga dua meter. Dan titik perairan yang rawan terjadi kecelakaan di antaranya di sekitar perairan Tokong Hiu dan Perairan di perbatasan Bengkalis. Yang letaknya di utara dan tenggara pulau Karimun," mengingatkan. (ren)

Share