Batam (HK)-- Gelombang tinggi dan angin kencang yang terjadi di wilayah Kepri, memaksa nelayan berhenti mencari ikan. Banyak dari mereka memilih memperbaiki kapal sebagai persiapan melaut jika angin utara berlalu.
"Gelombang laut sangat tinggi dan angin kencang membahayakan bagi kami yang hanya melaut menggunakan perahu-perahu kecil. Apalagi kondisi seperti ini juga membuat ikan sulit didapat," kata nelayan di Telaga Punggur, Batam, Nur Aziz.
Menurutnya, banyak kawan-kawannya memilih memperbaiki kapal sebagai persiapan melaut jika cuaca sudah kembali mendukung setelah angin utara berlalu.
"Mau bagaimana lagi, alam tidak bisa dilawan, apalagi kalau dipaksa juga tidak akan bisa mendapatkan hasil tangkapan yang memuaskan. Ini kesempatan kami untuk kembali mempersiapkan kapal sebelum kembali melaut," kata dia.
Nur menambahkan, musim utara biasanya akan usai setelah perayaan Hari Raya Imlek pada pertengahan Februari mendatang.
Sementara, nelayan lain di kawasan Barelang memilih menjadi pengumpul ganggang (alga laut) yang banyak tersebar di karang-karang pinggir pulau selama musim utara. Ganggang tersebut dijemur, kemudian setelah kering dijual dengan harga Rp1.000-1.500 per kilogram.
"Saat tidak melaut ini yang bisa kami lakukan. Sekedar mendapatkan penghasilan untuk kebutuhan seharri-hari," kata Nurrahman.
Ia mengatakan, walaupun harganya murah namun ganggang sangat mudah diperoleh diperairan Batam.
Nelayan lainnya, Arifin menambahkan, setiap tahun mulai November hingga Februari, nelayan kesulitan melaut mencari ikan karena musim angin utara mengakibatkan gelombang tinggi.
"Selain sulit mendapatkan ikan, gelombang yang tinggi juga membahayakan bagi nelayan tradisional seperti kami yang hanya memakai perahu kecil," kata warga Pulau Semakau yang berjarak sekitar 30 menit perjalanan dengan menggunakan pompong (perahu motor kecil).
Arifin mengatakan, pada hari-hari biasa saat angin dan cuaca bersahabat bisa memperoleh penghasilan sekitar Rp100 ribu setiap kali melaut. Namun jika mengumpulkan ganggang, penghasilannya tidak sampai Rp30 ribu per hari.
Berbeda dengan Arifin, nelayan lainnya Rozali memilih lebih memilih untuk konsentrasi mengurusi kelong miliknya ynag berada di belakang rumah daripada melaut. "Terlalu besar resikonya kalau melaut. Ikan juga sulit didapat," katanya.
Pemandangan serupa juga terlihat di disekitar pelabuhan di pelantar-pelantar antara Kampung Bugis, Senggarang dan Tanjungpinang, dimana banyak kapal tertambat.
Amat (33) nelayan dari Tanjungunggat yang tengah memperbaiki perahunya mengatakan, tidak bisa melaut karena cuaca tidak bersahabat, kadang hujan dari malam sampai sore lagi belum juga berhenti jadi tidak bisa melaut.
Untuk mengisi waktu luang, Amat memperbaiki perahu dan juga jaring tangkap ikan.
"Sengaja menarik perahu kedarat untuk melakukan perbaikan dibagian bawah perahu yang mengalami keropos, dan juga sekalian mengecat ulang perahu, selain itu juga memperbaiki jaring yang putus , mungkin juga da pelampungnya yang lepas dan menambah pemberat juga," paparnya di sela memperbaiki jaring.
Sama halnya dengan Amat, nelayan di Teluk Keriting, Tanjungpinang mengatakan, bila cuaca buruk, mereka tidak bisa menjaring ikan jauh-jauh, melainkan hanya di sekitar perairan Teluk Keriting di depan markas TNI AL dan di belakang Pulau Penyengat Tanjungpinang. Karena itu, hasil tangkapan kurang memuaskan.
"Sejak awal bulan Desember cuaca tidak menentu hujan disertai angin sering terjadi sehingga para nelayan tidak berani untuk melaut. Kalaupun melaut tidak bisa jauh-jauh ke tengah," katanya sambil memperbaiki badan kapalnya yang bocor.
Menurutnya, hasil tangkapan ikan hanya cukup untuk makan keluarga saja, tidak bisa untuk dijual. Dia mengaku tidak bisa berbuat banyak.
Ali Abas, nelayan Teluk Keriting lainnya mengatakan, meski dia turun ke laut dari pukul 04.00 WIB dan pulang sudah pukul 10.00 WIB, tetap saja hasil tangkapan mengecewakan.
"Cuaca seperti ini tidak bisa diharapkan. Padahal membentang jaring sudah cukup. Tadi pagi cuaca baik dan cerah menjaring ikan sedikit ke tengah namun tidak juga mendapatkan ikan yang diharapkan. Hanya cukup untuk lauk makan keluarga saja, tidak bisa menjual di pasar," ujarnya.
Selepas istirahat sebentar, Ali mengaku mengisi waktu sambil memperbaiki sampan yang bocor dan juga memperbaiki jaring. Cuma itu yang bisa dikerjakannya sepanjang cuaca masih tidak menentu.
"Sehari bisa menjaring hingga dua kali, dan itupun susah dapat ikan karena tidak berani menuju ke tengah laut. Cuaca tidak menentu. Kadang pas berangkat cuaca terang namun tiba-tiba mendung dan turun hujan disertai angin. Itu yang membuat takut para nelayan untuk melaut jauh," katanya.
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Hang Nadim Batam, memperkirakan gelombang tinggi dan arus cepat terjadi di beberapa wilayah perairan Kepulauan Riau. Nelayan dan pengguna transportasi laut diminta berhati-hati.Tinggi gelombang pada perairan Kepri tercatat setinggi 1 meter hingga 3,5 meter. ***dok/Haluan Kepri)Share
Ini Kesempatan Kami Memperbaiki Kapal
- Minggu, 21 December 2014 00:00




