Pengolahan Sampah di Tpi
Pemerintah Kota (Pemko) Tanjungpinang berencana menjalin kerja sama pengelolaan sampah dengan Universitas Padjajaran (Unpad) dan PT Bumi Resik Bandung. Hal itu dilakukan untuk mengatasi masalah sampah di Tanjungpinang yang kian memprihatinkan.
Walikota Tanjungpinang, Lis Darmansyah mengatakan, produksi sampah di Tanjungpinang rata-rata mencapai 100-150 ton perhari. Hal tersebut terus mengalami peningkatan seiring bertambahnya jumlah penduduk di Ibu Kota Provinsi Kepulauan Riau itu.
Sampah di Tempat Pembungan Akhir (TPA) Ganet, ungkap Lis, terus menumpuk dan belum diolah. Saat ini masih sebatas memanfaatkan gas metanol dari tumpukan sampah itu.
Untuk itu Lis menilai perlu dicari solusi agar sampah itu tidak menumpuk di TPA tersebut.
Pasalnya saat ini sudah ada 200 ton sampah yang tidak produktif atau tidak menghasilkan gas metanol dan menumpuk. Jika dibiarkan, dapat memungkinkan TPA ganet tidak mampu lagi menampung sampah-sampah di Tanjungpinang.
Untuk itulah, Lis berencana menggandeng Unpad Jatinangor yang bermitra dengan PT Bumi Resik untuk pengolahan sampah. Unpad Jatinangor Bandung dipilih karena telah terbukti berhasil mengelola sampah di kampusnya.
Keberhasilan Unpad melaksanakan konservasi sampah dibuktikan dengan diperolehnya 'Green Campus' dalam ajang Indonesia Green Award 2014 lalu. Penghargaan tersebut disematkan oleh Kementrian Perindustrian dan Kementrian Kehutanan.
Sebelum menjalin kerja sama, Lis terlebih dahulu melihat secara langsung pengolahan sampah di Unpad. Dia mengunjungi Unpad Jatinangor bersama beberapa anggota komisi II dan III DPRD Tanjungpinang. Selain itu beberapa kepala instansi terkait juga ikut mendampingi.
Di antaranya, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Hamalis, Kepala Dinas Pertamanan, Pemakaman Kebersihan dan Tata Kota, Almazuar Amal dan Kepala Badan Lingkungan Hidup, Gunawan Gerounimo.
Lis bersama rombongan yang tiba di Unpad langsung disambut pihak kampus.
Setelah mendengarkan presentasi beberapa saat dari Unpad dan PT Bumi Resik, Walikota beserta rombongan diajak langsung melihat proses pengolahan sampah yang berada di komplek Kampus Jatinangor.
Usai melihat peroses pengolahan yang dikembangkan Unpad, Lis tertarik menerapkan sisitem pengelolaan dengan teknonogi tersebut. Dia berencana akan menerapkan pengolahan sampah dengan teknologi serupa di TPA Ganet Tanjungpinang.
"TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Tanjungpinang sudah sangat parah. Dari pada kita melebarkan tempat untuk TPA, saya fikir mendatangkan alat ini lebih baik. Karena selain mengatasi sampah juga akan menghasilkan pemasukan untuk kita," ujar Lis di Unpad, Selasa (9/12).
Menurut Lis, Pemko secepatnya akan mendatangkan pihak Unpad dan PT Bumi Resik ke Tanjungpinang dalam minggu-mingu depan. Hal itu dilakukan untuk melihat secara langsung kondisi TPA di Ganet Tanjungpinang. Selanjutnya langkah-langkan apa saja yang bisa dilakukan Pemko Tanjungpinang untuk mempersiapkan kerja sama tersebut.
Terkait kesiapan dana, Lis mengatakan pihak pengembang alat tersebut justru mengajak Pemko Tanjungpinang mencari win win solution agar menguntungkan semua pihak.
"Kemungkinan kita tidak mengeluarkan dana, tapi hanya lahan. Namun mereka yang mengelola. Kita serius dan siap," katanya.
Sementara itu, Pencipta alat pengolahan sampah, Djaka Winarso dari PT Bumi Resik mengatakan alat tersebut diciptakan untuk mengatasi masalah persampahan di perkotaan. Selain itu juga alat tersebut cocok digunakan untuk semua kondisi geografis.
"Kita sudah komitmen, menjual alat tersebut itu pilihan nomor dua. Yang pertama adalah menjalin kerja sama. Alat ini baru kita gunakan di Unpad. Namun sudah banyak yang ingin bekerja sama. Mudah-mudahan jadi," jelasnya.
Tepi Pantai
Sebelumnya, Wakil Walikota Tanjungpinang Syahrul mengatakan, pemukiman di bantaran sungai dan tepi pantai menghasilkan sampah yang sangat banyak setiap hari. Namun proses pengomposan sampah tidak berjalan dengan baik.
Padahal, kata Syahrul, selama ini warga telah diberi alat pengomposan oleh Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Tanjungpinang agar bisa mengelola sampah dengan baik.
Untuk itulah, Syahrul mengimbau agar warga terus menjaga kebersihan lingkungan menjelang penilaian Adipura oleh Kementerian Lingkungan Hidup.
Sementara Kepala BLH Tanjuingpinang, Gunawan Grounimo mengatakan, selama ini pihaknya telah memberikan alat pengomposan serta melakukan pembinaan dan pelatihan pembuatan kompos.
Gunawan mengatakan pihaknya akan kembali turun ke kelurahan untuk memantau dan mengefektifkan upaya pengomposan yang seharusnya dilakukan oleh kelurahan.
"Jika kenyataan di lapangan pengomposan tidak berjalan, itu berarti lurah tidak peduli. Pengomposan sangat penting karena masuk dalam salah satu penilaian Adipura," ujarnya. ***
====
Pemko Ciptakan Sampah Tenaga listrik
Walikota Batam Ahmad Dahlan beserta Ketua TPKK, Mariana Dahlan meresmikan koperasi sekaligus launching perdana pelayanan pengelolaan sampah di Kelurahan Tiban Lama baru-baru ini.
Acara yang diprakarsai Lurah Tiban Lama beserta Pengurus PNPM Mandiri Kelurahan Tiban Lama digelar di lapangan bola Tiban Kampung. Tujuannya untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan pemberdayaan masyarakat melalui koperasi dan bank sampah di Tiban Kampung.
Lurah Tiban Lama, Hardi Harnus, mengatakan tujuan dibentuknya koperasi maju bersama disampaikannya adalah implementasi dari proyek perubahan sewaktu beliau mengikuti DiklatPim IV yang di selenggarakan Pemko Batam.
" Selain itu, melihat pelayan sampah oleh dinas kebersihan dan pertamanan kota Batam belum sampai ke dalam Tiban Kampung karena melihat kondisi dan karakteristik perumahannya tidak bisa dijangkau, inilah harapan kami untuk menjadi motor penggerak bagi masyarakat dan menjadi mitra bagi masyarakat dalam pemberdayaan masyarakat, " ucapnya.
Hal ini juga disampaikannya berkat kerjasama dengan PNPM Mandiri dalam pengadaan tong sampah dan prasarana kebersihan. " Acara tadi di awali dengan senam bersama dan gotong royong di sekitar tiban lama, " ujar Mustofa salah satu tokoh Masyarakat Tiban Lama.
" Menurut kami program ini sangat baik, karena sampah di Tiban Kampung ini selalu menjadi persoalan. Dengan hadirnya koperasi ini diharapkan mampu mengurangi beban Pemerintah terutama Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Batam, " ucap Mustofa.
Bahkan Ia menyampaikan, kalau hal tersebut selanjutnya bisa pemberdayakan masyarakat dibidang pertanian. Karena di belakang perumahan tersebut terdapat beberapa warga yang menggarap lahan pertanian yang mengharap bantuan dan pembinaan dinas KP2K.
Dalam acara tersebut, Ahmad Dahlan juga menyampaikan terima kasih
dan memberikan apresiasi kepada Lurah dan seluruh masyaraka Tiban Lama yang pro aktif dalam menjaga kebersihan.
" Ada tiga hal yang menjadi permasalahan Pemerintah Daerah yaknin listrik, air dan tentunya sampah. Pada saat ini Pemerintah Kota Batam tengah mengadakan proses kerjasama pemerintah dan swasta di bidang pengolahan akhir sampah, " ujarnya.
" Sekarang ini Pemerintah sedang merencanakan pengelolaan sampah oleh Swasta di bantu Bappenas. Sampah yang biasa dibuang tidak lagi ditumpuk, digusur lalu dimasukkan ke lobang. Malahan sekarang sampah tersebut dibakar dengan ketinggian panas tertentu, selanjutnya akan menghasilkan energi Listrik dan kalau berhasil ini yang pertama di Indonesia," paparnya.
Peresmian pengelolaan sampah di Tiban Lama tersebut ditandai dengan penyerahan Sertifikat Badan Hukum Koperasi Pengelolaan Sampah yang diberi nama, "Maju Bersama " dari Walikota Batam kepada Ketua Koperasi, Ratno. Sekaligus dilanjutkan dengan pemberian tong sampah kepada pengurus RT beserta dua unit becak motor untuk mengangkut sampah se Kelurahan Tiban Lama. (yus)




