Sabtu05062017

Last update05:00:00 AM

Back Fokus Laporan Khusus Harapan di Hari Buruh

Harapan di Hari Buruh

Buruh dalam Ancaman Globalisasi

BATAM (HK) -- Globalisasi ternyata tidak membawa dampak positif bagi nasib buruh khususnya di Kota Batam. Pengaruh globalisasi ekonomi mengakibatkan buruh terpaksa harus gigit jari karena kehilangan pekerja lantara perusahaan tutup.
Salah satu perusahaan di Batam yang terkena dampak globalisasi ekonomi dunia adalah PT Jasa Prima Mandiri (JPM), subcon dari PT Bintan Shipping Bioteknik yang berada di Kavling Dapur 12, Sagulung.

Ratusan buruh bahkan sempat melakukan aksi mogok lantaran pihak perusahaan tidak membayar gaji mereka selama lima bulan berturut-turut.

"Kami berharap pihak perusahaaan mencarikan jalan keluar soal gaji ini. Kami tak akan melakukan tindakan apa pun di lokasi, sepanjang hak-hak kami itu dibayarkan," ujar Borkat. Selain gaji, kata dia, sejak bulan Agustus 2014 lalu, BPJS pun tidak dibayar oleh perusahaan itu," kata Ketua PUK PT JPM Borkat Rambe.

Nasib yang sama juga dialami ratusan pekerja galangan kapal PT Ekasindo Marine Indonesia (EMI) Tanjung uncang, Batuaji.

Mereka juga menuntut perusahaan supaya membayar gaji mereka. Soal gaji ini sebelumnya sudah pernah dijanjikan untuk dibayarkan.

Dodi, salah seorang pekerja PT Emi yang mendatangi Mapolsek Batuaji mengatakan, kepada petugas SPKT Batuaji, bahwa gaji mereka sejak tiga bulan terakhir tak dibayar pihak perusahaan.

Bahkan, kata dia lagi, Herman Ardiyanto, selaku HRD sudah membuat surat pernyataan diatas materai untuk membayarkan gaji mereka. Namun, setelah dikonfirmasi ulang malah tak ada jawaban dan menyuruh pekerja melapor ke polisi.

"Kapalnya itu sudah siap kami kerjakan, tapi malah gaji kami tak diberikan sampai sekarang ini. Kami datang ke Polsek ini karena pihak perusahaan menyuruh, lagi pula kami sudah membuat surat di atas materai. Kan kalau sudah diatas materai itu berarti sudah mempunyai kekuaatan hukum," kata dia menjelaskan.

Pengaruh globalisasi ekonomi yang berdampak pada penutupan perusahaan ini dibenarkan oleh
Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Batam Zarefriadi.

"Yang pasti penyebabnya pengaruh globalisasi ekonomi. Kondisi ini membuat perusahaan banyak yang tutup sehingga menimbulkan banyak pengangguran. Apalagi sekarang jaringan IT sangat luar biasa, jadi setiap saat bisa berubah-ubah," kata Zarefriadi baru-baru ini.

Dia juga mengatakan, sebetulnya di Kota Batam ini sumber daya manusia dan kondisi alam sudah sangat bagus. Namun khusus sumber daya manusia perlu ada peningkatan.

Meski demikian, secara keseluruhan etos kerja bangsa Indonesia sering dikatakan baik, secara skill juga hebat, dan dipakai dimana-mana. Namun atitude harus terus diperbaiki, sehingga keharmonisan terbangun dan pemahanan kedepannya supaya lebih baik lagi.

Hari Buruh

Hari buruh yang jatuh 1 Mei kemarin, menjadi momentum bagiu buruh untuk menyuarakan hak-hak mereka. Seperti yang disampaikan buruh yang bekerja di kawasan Lagoi, Bintan.

Dalam aksinya, para buruh menampilkan treatikal yang menggambarkan buruh di Lagoi selama ini selalu menjadi korban penindasan oleh pihak perusahaan.

Ketua Forum Komunikasi Pekerja Lagoi (FKPL), Kasmirus mengatakan, selama ini pekerja di Lagoi terkesan mendapat perlakuan yang tak semestinya dan dinilai telah melanggar Undang-Undang tentang ketenaga kerjaan. Sebab kontrak kerja yang telah diatur dalam Undang-Undang, tidak pernah sesuai dengan yang diterapkan selama ini.

"Praktek di lapangan ternyata apa yang diatur dalam Undang-Undang Pasal 59 nomor 13 tidak terpenuhi sehingga kami menganggap itu kontrak kerja ilegal," tegas Kopong.

Namun demikian, aksi yang dilakukan secara damai tersebut, mereka berharap agar pihak-pihak terkait baik di legislatif dan eksekutif bisa memahami kondisi yang selama ini terjadi di Lagoi agar jangan ada lagi penindasan terhadap buruh.

Sementara, Masjuri (35), seorang buruh angkut yang bekerja di Pelaburuhan Sri Payung berharap, agar pemerintah memperhatikan nasib para buruh yang berada di pelabuhan dan pasar. Selama ini, penghasilan yang diterima buruh pelabuhan hanya bisa mencukupi untuk kebutuhan keseharian saja, tanpa bisa untuk menabung maupun menyimpan bila akan berobat karena sakit.

"Harapan pada hari buruh tahun ini, agar pengusaha maupun pemerintah dapat memperhatikan nasib dari para buruh, baik yang berada di Pelabuhan, di pasar dan dimana saja. kami tidak menginginkan yang macam-macam, tetapi hanya minta agar upah yang kami terima lebih layak. Dengan menerima upah layak tentunya kami para buruh bisa menyisihkan rezeki untuk disimpan dan bisa hidup layak," harapnya.

Masjuri juga menjelaskan, upah buruh ini tidak menentu pendapatannya, apabila sedang ramai kapal yang datang dan bersandar untuk menurunkan muatannya para buruh bisa bekerja dan mendapatkan uang. Tetapi bila kapal tidak ada terpaksa para buruh menganggur hingga beberapa hari dan tentu tidak ada penghasilan yang didapat.

"Belum lagi bila cuaca tidak mendukung, seperti hujan, walau ada kapal yang bongkar muatan terpaksa tidak bisa bekerja, karena barang yang akan kami anggut bisa basah sehingga tidak melakukan pembongkaran, dan jelas kami tidak dapat uang," kata Masjuri yang diamini oleh rekan-rekan kerjanya.

Dia juga menambahakan, sekarang ini saja para buruh dalam membongkar muatan satu kapal bisa memakan waktu sekitar 5-6 hari dan dapat upah paling besar Rp300 ribu bahkan hanya dapat Rp250 ribu.

"Bagaimana mau menyimpan uang bila penghasilan seminggu Rp250 ribu, untuk kebutuhan makan dan lainnya saja kadang kurang, belum lagi untuk kebutuhan anak sekolah, karena anak-anak sekolah perlu biaya. Jadi sanya berharap agar upah buruh ini dinaikan secara layak," ujarnya yang mengaku memiliki 2 anak yang masih sekolah.

Lain lagi yang dialami pengojek yang bisa mangkal di Pelabuhan Sri Bintan Pura Tanjungpinang, Sihono mengatakan, pengojek di sini berjumlah 40 orang, dan hanya menggantungkan hidupnya sebagai pengojek.

"Dari hasil mengojek seharian bisa mendapatkan bila ramai Rp80 ribu, tapi bila sepi hanya mendapatkan Rp50 ribu sehari, itu dipotong bensin Rp20 ribu dipotong makan bila tidak sempat pulang kerumah Rp10 ribu. Jadi yang dibawa kerumah berapa untuk biaya makan keluarga," jelas bapak tiga anak ini.

Ia juga mengatakan, bagaimana dirinya bisa menabung, untuk mencukupi kebutuhan hidup seharihari saja dirinya sudah susah. Belum lagi biaya untuk anak-anak sekolah. Beberapa waktu lalu ada kenaikan BBM ini membuat dirinya pusing karena harga sembako sudah dipastikan naik dan juga barang kebutuhann lainnya.

"Tukang ojek juga merupakan buruh, sama hal yang dengan buruh di pasar di pelabuhan maupun bekerja sebagai buruh bangunan. Karena, hanya mengandalkan upah dari masyarakat yang membutuhkan jasa kami. Kami-kami ini merupakan buruh, seharusnya pemerintah memperhatikan nasib kami ini, jangan hanya memperhatikan buruh yang bekerja di perusahaan saja," ujarnya. ***

Share