TANJUNGPINANG (HK)--SEBAGI Ibu Kota Provinsi Kepri yang memiliki catatan sejarah melayu, Kota Tanjungpinang layak menjadi ikon pariwisata yang memiliki kekayaan wisata bahari, budaya dan kuliner.
Menurut Kepala Dinas Pariwisata Propinsi Kepri, Guntur Sakti, Kota Tanjungpinang mestinya pantas jadi ikon pariwisata untuk menarik kunjungan wisatawan lokal maupun asing ke Kepri jika dikelola dengan baik.
"Tak hanya wisata alam yang mampu jadi daya tarik pariwiata Kepri, tapi juga wisata budayanya," kata Guntur baru-baru ini.
Guntur menjelaskan, kepariwisataan tak hanya identik dengan wisata alam, tapi juga identik dengan wisata bahari, wisata belanja, wisata kuliner dan wisata budaya.
Dan Kota Tanjungpinang memiliki wisata-wisata yang dimaksud. Beberapa di antaranya seperti wisata budaya dan wisata kuliner.
Selain itu Tanjungpinang juga banyak memiliki tempat-tempat budaya yang mampu dijadikan ikon wisata. Seperti Pulau Penyengat, Vihara Patung Seribu, Makam Belanda, Pulau Rebah dan lainnya.
"Tanjungpinang memiliki tempat-tempat yang memiliki historikal dan budaya khususnya Melayu dapat menjadi ikon atau destinasi wisata bagi wisatawan yang ingin lebih mengenal dan merasakan bagaimana kehidupan masa lalu. Termasuk wisata kuliner yang khas," terang Guntur.
Namun, lanjut Guntur, semua itu dapat terealisasi jika mampu dikelola dengan baik.
"Kepri memiliki banyak potensi pariwisata, termasuk Kota Tanjungpinang. Tergantung bagaimana kita bersama-sama merealisasikannya.Tak hanya dinas pariwisata, namun semua pihak dapat mendukung," ujarnya.
Jika semua jajaran dari pemerintah, swasta, masyarakat dan lainnya bersinergi dalam mengelola potensi yang ada tersebut, ia meyakini, pastinya tak akan ada lagi penghambat kepariwisataaan di Tanjungpinang.
Guntur menambahkan, jika semua sektor mengambil andil dalam mengelola segala bidang kehidupan dengan baik, maka pariwisata akan mengikuti. Infrastruktur jalan bagus, keamanan terjaga, transportasi mudah, akses ke segala sektor mudah, dan sebagainya.
"Jika semua itu telah berjalan baik, maka perkembangan pariwisata akan mengikuti," jelas Guntur.
Guntur juga menjelaskan, pasca direvisinya Surat Edaran Kementrian PAN-RB mengenai larangan melakukan pertemuan dan rapat di hotel, pariwisata di Kepri kembali bergairah.
"Sekarang dengan adanya revisi regulasi itu, industri MICE (Meeting, Incentive, Convention and Exhibition) sudah mulai bergairah. Saya mendengar sudah ada 2 Kementrian yang akan mengelar acara meeting di Batam,” ungkap Guntur.
Tidak hanya 2 kementrian, pihaknya bahkan sudah terlebih dahulu menggelar pertemuan di sebuah hotel ternama di Tanjungpinang.
“ Untuk di Kepri, SKPD saya sudah memulai rapat di hotel. Saya mengundang seluruh komadan-komandan satuan TNI dan Polri di Tanjung Pinang. Kegaitan dilakukan di Hotel Aston Senin kemarin,” ungkapnya.
Guntur menilai, revisi larangan menggelar meeting di hotel mendapat sambutan baik. Pasalnya, beberapa meeting, terutama yang diikuti oleh lembaga lintas sektoral lebih efektif dilakukan di hotel ketimbang ruang pertemuan kantor pemerintahan
.
"Salah satunya adalah kalau kita mau menggelar rapat lintas sektoral dan mengundang banyak pihak. Saya rasa akan lebih efektif dan efisien bila dilaksanakan di hotel,” tukasnya.
Lagipula, larangan mengadakan meeting di hotel secara tidak langsung membuat industri wisata MICE di Kepri sempat terpukul. Tidak hanya hotel, sektor-sektor lain seperti transportasi, akomodasi, F&B; dan souvenir juga ikut terkena dampaknya.
Namun, dengan direvisinya regulasi tersebut, diharapkan wisata MICE di Kota Batam akan kembali bergairah. Dengan demikian, sektor-sektor usaha kecil yang mendukung juga akan kembali didongkrak.
"Kalau ini sudah bergerak, semua akan bergerak. Karena walaupun sasarannya pokok di meeting, tapi sasaran sampingannya juga ikut bergerak. Ya makan, minum, hiburan, oleh-oleh, transportasi, bahkan batu akik (Gemstone) juga ikut bergerak,” tutupnya.
Sementara itu, Kepala Badan Pusat Statistika Provinsi Kepulauan Riau Drs Dumangar Hutauruk,M.Si memaparkan,
sepanjang Januari 2015 perkembangan sektor pariwisata Kepri mengalami penurunan dibandingkan Desember 2014.
"Jumlah Wisatawan Mancanegara (Wisman) yang berkunjung ke Provinsi Kepri pada bulan Januari 2015 mengalami penurunan sebesar 33,30 persen," kata Dumangar.
Pasalnya, jumlah wisman yang berkunjung ke Kepri pada Januari 2015 mencapai 147.641 orang, menurun jika dibandingkan dengan jumlah wisman pada bulan sebelumnya yakni Desember 2014 yang mencapai 221.350 orang.
Dumangar juga menambahkan, penurunan di sektor pariwisata ini disebabkan karena masih minim dan berkurangnya moment-moment kegiatan baik pemerintah provinsi maupun kabupaten kota yang berhubungan dengan pariwisata. Yang mana, program event tersebut secara tidak langsung mampu meningkatkan kedatangan wisman ke Kepri.
Wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Kepri masuk melalui empat pintu masuk yakni Batam, Tanjungpinang, Bintan dan Karimun.
"Dan dari empat pintu tersebut jumlah kedatangan Wisman yang paling terbesar yakni berada pada pintu masuk di Kota Batam yakni sekitar 77,54 persen," ujar Dumangar.
Dan Wisman yang berkebangsaan Singapura masih mendominasi terbanyak yang berkunjung ke Kepulauan Riau.
Selama Januari 2015 wisman berkebangsaan Singapura tercatat 77.001 orang atau sekitar 52,15 persen dari setiap kunjungan. Disusul wisman asal Malaysia dan Korea Selatan.
Selain dari jumlah kunjungan wisman ke Kepri, penurunan pariwisata Kepri juga ditandai dengan penurunan persentase Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di Provinsi Kepri pada Januari 2015 mencapai 40,35 atau turun 10,22 poin dibandingkan TKP Desember 2014 sebesar 50,58 persen.
Untyk mengembangkan pariwisata Kepri, menurut Wakil Gubernur Kepulauan Riau Soerya Respationo, pemerintah berencana mengucurkan dana sebesar Rp 100 miliar.
Kucuran dana itu tidak lepas dari upaya pemerintah menggenjot kunjungan pelancong hingga 2,5 juta orang ke Kepulauan Riau pada 2015.
”Setelah dana tersebut dikucurkan akan dimanfaatkan untuk pengembangan sejumlah tempat tujuan wisata,” ujar Soerya.
Pengembangan tempat tujuan wisata memang tidak dibebankan sepenuhnya dari APBN. Dari APBD tempat tujuan wisata juga harus dialokasikan anggarannya. ”Dana dari pusat (sifatnya) untuk menambah,” ujarnya.
Kepri belum memutuskan dana itu akan dialokasikan ke mana saja. Namun, amat potensial dana tersebut dialirkan lebih banyak ke Batam dan Bintan yang paling mudah dan banyak disinggahi pelancong asing.
Bintan dan Batam merupakan pintu masuk utama pelancong asing ke Kepri. Bahkan, Batam menduduki peringkat tiga dalam daftar pintu masuk pelancong asing secara nasional. Selama ini, pelancong asing ke Batam dan Bintan didominasi wisatawan Singapura dan Malaysia.
Dipulau inilah sebanyak 250.000 pengungsi dari Vietnam, Kamboja dan Thailand ditampung dari kurun waktu 1979 hingga 1996. Sekarang kamp ini menjadi salah satu objek wisata sejarah di Batam.
Beberapa waktu terakhir, sudah terlihat rombongan kecil pelancong dari Tiongkok. Mereka bertandang masuk dan keluar Batam melalui Singapura.
Selama ini Kepri mengandalkan pariwisata alam, budaya, sejarah, olahraga, dan kuliner. Pariwisata alam yang terutama berbasis pada wisata maritim tersebar di tujuh kabupaten/kota di provinsi itu.
Bahkan memancing sampai menyelam bisa dilakukan di banyak tempat di Kepri. Anambas tidak kalah dari Maladewa.
Sementara itu, wisata olahraga terutama golf, triatlon, sepeda, perahu layar, dayung. Bahkan, setiap tahun ada kompetisi internasional untuk golf, sepeda, triatlon, dan perahu layar di Kepri.
Dengan semua potensi itu, pemerintah Kepri optimis target 2,5 juta kunjungan bisa tercapai. ***
==Share
Kota Gurindam Magnet Wisata Kepri
- Minggu, 31 May 2015 00:00

