TANJUNGPINANG (HK)-- Kenaikan sembilan bahan pokok (sembako) menjelang bulan puasa seolah telah menjadi ritual setiap tahun. Masyarakat dihimbau untuk tidak panik karena pemerintah akan melakukan pengawasan dengan menggelar operasi pasar.
Entah, dari mana kebiasaan ini berasal. Hampir setiap tahun sebagian besar masyarakat khususnya umat muslim, setiap mendekati bulan suci Ramadhan berlomba-lomba membeli kebutuhan pokok sebagai persiapan menyambut bulan suci Ramadhan. Hal ini tentu berimbas kepada naiknya beberapa harga kebutuhan pokok tersebut.
Namun dua minggu menjelang bulan puasa, pantauan di pasar Kota Tanjungpinang harga-harga masih bertengger cukup stabil. Sejumlah harga cabai, sayur, minyak goreng, gula, dan beras tidak mengalami kenaikan atau penurunan yang signifikan.
Seperti di pelantar Koperasi Unit Desa (KUD) kawasan pasar Tanjungpinang, harga cabai dan bawang tidak mengalami perubahan harga. Hal serupa juga terjadi di Pasar Bintan Centre.
Salah seorang pedagang di pasar Tanjungpinang Yani, menuturkan, harga cabai merah justru turun Rp4 ribu dari Rp38 ribu per kilogram menjadi Rp34 ribu per kilogram.
Harga cabai lainnya seperti cabai hijau turun Rp2 ribu per kg, sedangkan cabai rawit naik sebesar Rp2 ribu per kg. Namun harga bawang putih mengalami kenaikan dari Rp14 ribu per kg menjadi Rp20 ribu per kg. Sementara harga bawang merah relatif stabil.
“Belum ada yang naik lagi, untuk minyak curah masih Rp11 ribu per kg, gula impor Rp8,5 ribu per kg, dan harga beras juga masih aman,” tutur Pitrus, pedagang yang berjualan di Pasar Bintan Centre.
Lebih lanjut dikatakan, untuk sayuran masih seperti biasa. Seperti kentang turun harga Rp1.000, sawi turun Rp4 ribu, kangkung turun Rp1.000 ribu, bayam turun Rp1.000, sedangkan terong naik Rp1.000.
Tejo, salah seorang penjual daging ayam dan daging sapi mengatakan, harga daging masih normal. “Sejak awal Mei belum ada kenaikan harga daging, harga ayam masih Rp32 ribu per kg, daging sapi impor (beku) masih Rp85ribu per kg dan daging lokal masih Rp130 per kg,” tuturnya.
Wati, seorang ibu rumah tangga mengaku tidak terkejut apabila terjadi kenaikan harga menjelang Ramadhan nanti, karena kenaikan harga tersebut sudah biasa.
“Mahal maupun murah juga harus dibeli kan itu kebutuhan, kalau gak beli mau makan apa,” katanya.
Staff Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Tanjungpinang Roni Pasla mengatakan, pihaknya telah memantau harga sembako seperti di pasar tradisonal Tanjungpinang menjelang Ramadhan.
“Dalam sebulan ini hampir tidak ada perubahan harga yang drastis. Biasanya harga akan berubah jika stok sembako kurang, namun berdasarkan pemantauan kami harga dan persediaan masih aman hingga Ramadhan,” tutur Roni Pasla.
Antisipasi yang akan dilakukan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Tanjungpinang lanjut dia, untuk mengatasi kenaikan harga sembako menjelang Ramadhan yang tak lama lagi akan datang yaitu pihaknya akan terus melakukan pengawasan.
Sedangkan untuk menstabilkan harga, Disperindag Kota Tanjungpinang juga berencana melakukan operasi pasar.
“Kalau untuk operasi pasar kami biasanya blusukan, tidak hanya di satu titik saja. Dalam operasi pasar kami menyediakan minyak curah, tepung, gula, beras, sirup dan susu,” jelasnya.
Sementara, Dinas Koperasi UKM Perindustrian dan Perdagangan (KUPP) Bintan, memanggil pihak distributor sembako dan pengelola swalayan yang ada di Bintan, jelang puasa.
”Kami memanggil distributor dan pengelola swalayan untuk menggelar rapat bersama jelang memasuki bulan Ramadan yang sudah dalam hitungan hari ini,” ujar Kepala Dinas KUPP Bintan, Edi Pribadi.
Edi juga tak memungkiri akan terjadi kenaikan harga pada beberapa kebutuhan sembako. Menurutnya, kenaikan harga jelang Ramadan merupakan ritual para pelaku dagang di hampir seluruh wilayah. Keadaan ini dinilainya lantaran permintaan pasar yang meningkat dibandingkan hari-hari biasa.
Kendati begitu, Edi memastikan, ketersedian kebutuhan sembako di Bintan untuk saat ini masih aman hingga bulan Ramadan mendatang. ”Kami menjamin kebutuhan barang aman hingga bulan puasa nanti,” tegasnya.
Keyakinan Edi ini dikarenakan adanya kerja sama yang baik antara pihak distributor yang ada di wilayah Bintan Utara dengan Kota Tanjungpinang untuk selalu melengkapi jika terjadi kekurangan ketersediaan sembako.
”Kenapa tidak kekurangan, karena ketersediaan kebutuhan di Bintan selalu dibantu dari distributor yang ada di Tanjungpinang sebanyak 13 distributor. Jadi ini akan menjamin ketersedian barang di Bintan,” ungkap Edi.
Sementara itu, Wakil Bupati Bintan, Khazalik menyebutkan, Dinas KUUP Bintan sudah melakukan pemantauan di sejumlah gudang dan pasar yang tersebar di Bintan.
Hal ini dimaksudkan, agar bila terjadi lonjakan kenaikan harga, bisa diantisipasi sejak dini oleh pemerintah. “Kalau bisa dideteksi dan diantisipasi sejak dini, akan lebih cepat untuk dicarikan solusinya,” ungkap Khazalik.
Khazalik juga mengimbau agar masyarakat tak perlu begitu panik menjelang bulan Ramadan. Menurutnya, tak perlu gegabah dan terlalu antusias dalam berbelanja. ”Tetap biasa saja. Masa masuk bulan puasa lebih banyak belanjanya. Harusnya bisa lebih hemat,” ujarnya.
Bentuk Tim Pengawasan
Antisipasi serupa juga dilakukan Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kepri dengan membentuk tim pengawasan dan kewaspadaan pangan untuk mengawasi bahan-bahan pangan atau makanan yang tidak memenuhi standar kesehatan atau layak konsumsi menjelang Bulan Puasa dan Lebaran 2015.
"Tim ini bersama instansi terkait lain, seperti Badan POM dan Dinas Kesehatan di kabupaten/kota akan turun memantau ke lapangan untuk memastikan bahan-bahan pangan yang beredar layak konsumsi," kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kepri Tjetjep Yudiana.
Tjetjep menuturkan, bahan pangan kedaluwarsa dan makanan atau minuman impor tidak memiliki izin edar akan menjadi fokus pengawasan tim tersebut.
"Makanan-makanan impor banyak beredar di kawasan kita, tidak memiliki izin edar dari BPOM yang dikhawatirkan terdapat kandungan yang membahayakan kesehatan masyarakat, seperti zat pewarna dan zat-zat lain," ucapnya.
Menurut dia, tim tersebut akan mengawasi "labeling" setiap produk yang akan membanjiri pasar menjelang Puasa dan Lebaran. Labeling suatu produk harus memenuhi standar untuk mencegah adanya pemalsuan, katanya.
"Labeling yang standar tertulis langsung dalam kemasan suatu produk, bukan ditempel. Labeling yang ditempel pada kemasan bisa saja upaya untuk memperbaharui suatu produk yang sudah kedaluwarsa," ujarnya.
Ia mengharapkan warga masyarakat proaktif memberikan informasi kepada instansi terkait atau dinas kesehatan di kabupaten/kota jika menemukan produk yang tidak memenuhi standar kesehatan atau sudah kedaluwarsa.
"Masyarakat sebagai konsumen harus jeli dalam membeli suatu produk atau makanan, laporkan jika ada kejanggalan kepada instansi terkait. Kita juga sudah membangun jejaring untuk menampung segala informasi dari konsumen, sekecil apapun informasi itu akan kita tindaklanjuti," jelasnya.
Disinggung soal kemungkinan beredarnya beras sintetis, Tjetjep mengatakan, sampai saat ini pihaknya belum menemukan adanya beras plastik tersebut di pasaran.
"Belum ada, dan kita berharap tidak ada ditemukan di pasar saat Puasa," katanya.
Ia menambahkan terus berkoordinasi dengan Majelis Ulama Indonesia setempat untuk mengawasi produk-produk atau pangan yang tidak mengantongi sertifikat halal.
"Sertifikat halal itu dikeluarkan oleh MUI, kita bekerja sama untuk memastikan produk-produk mengantongi label halal, tidak hanya produk besar, tetapi juga produk industri rumah tangga," ujarnya. ***
Share
Lonjakan Harga Seperti Ritual
- Minggu, 07 June 2015 00:00

