TANJUNGPINANG (HK)-- Demam batu akik memang sedang melanda masyarakat Indonesia saat ini. Tak hanya orang besar, pejabat bahkan masyarakat biasa sangat disilaukan dengan batu satu ini.
Sebenarnya, batu akik bukanlah hal baru di masyarakat Indonesia, batu akik sudah ada sejak zaman dahulu. Namun gaungnya begitu booming sejak setahun terakhir.
Hadirnya batu akit sebaagai tren baru berpenampilan bagi masyarakat tak hanya digandrungi kaum adam saja, namun banyak juga kaum hawa dan anak-anak yang memakainya.
Batu akik adalah sebuah batu mineral yang terbentuk secara alami dari proses kimia yang terjadi dialam sehingga memiliki warna-warna yang indah jika di asah dan memiliki nilai jual yang tinggi. Batu akik yang kita kenal saat ini memiliki berbagai jenis batu akik merah delima, kecubung, giok, amber, intan, onix hitam, bacan, zamrud,cempaka, safir, pancawarna dan banyak jenis lainnya.
Dari setiap jenis-jenis batu akik itu sendiri memiliki keunikan serta keunggulan masing-masing yang menarik seseorang untuk memilikinya. Seperti untuk kesehatan, menambah aura, kesaktian, serta memiliki kesan spiritual tersendiri.
Tak heran, jika seseorang yang sudah menjadi pengkoleksi batu akik ini, rela merogoh kocek mereka dalam-dalam untuk mendapatkan batu akik yang mereka inginkan.Untuk kisaran harga, batu akik yang unik serta menarik bisa mencapai miliaran rupiah.
Budi (45) yang merupakan salah satu pencinta batu akik, mengaku rasa kecintaannya kepada batu akik berawal dari hobinya menggunakan batu akik sebagai tersebut. Lama-kelamaan tak hanya cincin saja yang dipunyainya namun juga kalung gelang tangan dari akik.
"Bisa dibilang hobi ya, jadi berapapun jika itu sudah hobi, puas setelah mendapatkannya, " kata Budi
Tak hanya budi yang mengkoleksi dan memakai batu akik sebagai tren masa kini.
Tren batu akik ini, juga melanda kota Tanjungpinang Provinsi Kepri. Sehingga disetiap ajang selalu diwarnai dengan pemasangan stan yang menjual bermacam-macam koleksi batu akik dari berbagai jenis.
Dimulai dari Pameran batu akik yang diadakan pada peresmian bintan expo, Bazar batu akik di Polres serta yang saat ini berlangsung adalah Bazar Fair and Gemston Ekspo 2015 Lantamal IV Tanjungpinang yang diselenggarakan dari tanggal 31 mei hingga 14 Juni 2015 di lapangan mamakden square Tanjungpinang.
Stant-stand batu akik pada bazar fair and Gemstone Expo 2015 ini selalu ramai dikunjungi para pencinta batu akik. Tak hanya dikalangan Pria, namun juga merambah dikalangan wanita serta anak-anak. Batu akik yang dijajakan pun bervariasi dan bermacam-macam model dan bentuk. Baik itu yang masih berbentuk batu hingga yang telah berbentuk cincin yang telah jadi.
Dalam bazar ini juga, ditampilkan juga berbagai macam batu akik yang berasal asli dari provinsi Kepri seperti batu dari Pulau laut, Tarempa, Natuna, Bintan dan daerah lainnya di Kepri.
Dalam gemstone ini juga batu akik yang diperdagangkan dengan harga yang bervariasi dimulai dari puluhan ribu hingga jutaan rupiah. Tak hanya menjual berbagai batu akik yang jadi namun juga batu akik yang masih belum jadi, pemotongan batu, dan pengasahan.***
====
Demi Kepuasan, Harga Mahal Tak Masalah
Dulu batu akik identik dengan perhiasan murah yang dijual di emperan toko dan banyak dipakai kaum marjinal. Namun kini, batu akik diburu dan dikoleksi oleh berbagai kalangan, dari anak-anak hingga orang dewasa.
Tukang batu akik yang membuka lapak di emperan toko pun diburu para penggilan batu akik. Seperti terlihat di kawasan Pertokoan Tanjungpantun, Jodoh, Batam. Para penggemar batu akik tampak berkerumun di sekitar lapak tukang batu akik yang berukuran 1 kali meter tersebut.
Diantara mereka ada yang melihat-lihat koleksi batu akik sembari menawar-nawar. Yopi, salah seorang penggemar batu akik mengaku, sudah lama mengkoleksi batu akik yang diwarisi oleh orang tuanya. Namun selama ini jarang dipakai dan karena sekarang lagi booming Ia pun mulai percaya diri untuk memakai cicin berbatu akik.
"Ini cincin pemberian bapak saya. Saya ga tau nama batunya tapi kata orang ini batu akik asli. Makanya datang ke sini ingin nanya-nanya ke penjual batu akik," ujar pemuda yang mengaku bekerja di kawasan industri Batuampar ini.
Demam batu akik melanda negeri ini konon katanya bermula dari adanya pejabat negara yang memakai batu jenis bacan. "Ya katanya ada pejabat pakai batu terus diberitakan, ramai deh jadi omongan dan semua orang penasaran dengan batu akik," terang Udin, pedagang batu akik.
Berbagai alasan seseorang mengkoleksi batu akik, mulai dari hanya sebagai hiasan atau juga percaya hal-hal yang di luar nalar. Ada saja yang percaya batu anu bisa buat anu atau batu anu bisa buat apa.
Aneka rupa batu akik juga bermacam-macam jenisnya, mulai dari harga puluhan ribu sampai jutaan rupiah. Tapi biasanya masyarakat awam banyak yang membeli batu di kelas batu biasa, bukan yang kelas jutaan rupiah.
Udin mengaku, minat masyarakat terhadap batu akik akhir-akhirnya memang sangat meningkat. Pria separoh baya ini mengaku mendapatkan berkah karena banyak yang membeli batu akiknya.
"Memang minat masyarakat terhadap batu akik mulai meningkat, tidak hanya orang tua tetapi di kalangan anak muda," ujar Udin.
Bapak dua anak ini mengaku sudah cukup lama berjualan batu akik di kawasan Tanjungpantun. Selain menjual batu akik, dirinya juga menyediakan saja penempahan batu akik. Harga batu akik yang dijual bervariasi, mulai dari Rp50 ribu hingga Rp1,5 juta. Namun jika muncul corak unik dan langka dari sebuah batu akik, biasanya harganya bisa melambung tinggi.
"Saya sudah lama membuka lapak di sini. Harga Batu akik yang dijual bervariasi, mulai dari Rp 50.000 sampai Rp 1,5 juta," ungkapnya.
Seperti yang diungkapkan oleh William (40), kolektor akik yang memiliki batu akik bercorak tulisan arab "Allah". Dia tidak berniat menjual koleksi batu berjenis lavender tersebut dengan harga standar. William mengatakan, batu akik tersebut diperolehnya dari Jawa tersebut akan dilepas.
"Tapi kalau ada kolektor yang berani menawar Rp 66.666.000 saya lepas," tandasnya seraya dia mengaku memegang batu akik jenis chalcedony bercorak ikan berwarna putih milik seorang kolektor yang dititipkan kepadanya untuk dipoles.
Berbeda dengan William, bagi Roy dirinya mengoleksi batu akik hanya untuk asesoris, bukan dijual. Bahka, untuk pembuatan gagang cincin dari perak, Roy telah merogoh kocek hingga Rp5 juta.
"Saya tidak tertarik untuk menjual batu akik. Hanya untuk perhiasan saja. Kalaupun sekarang lagi demam batu akik saya tidak menambah koleksi," kata Roy yang mengaku batu akik miliknya pernah ada yang menawar Rp10 juta. (jof)
Share
Kilau Batu Akik Sihir Masyarakat
- Minggu, 14 June 2015 00:00


